Please wait while JT SlideShow is loading images...
Pengumuman Pembayaran Semester Genap 2011-2012Daftar Biaya Semester Genap 2011-2012Agenda Kegiatan SPMB 2012/2013Wisuda Sarjana ke-85Guru Besar UIN JakartaPembacaan Prasetya Sarjana

AGENDA

Home Section Blog
Example of Section Blog layout (FAQ section)
Senang tapi Tak Tenang PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat   
Jumat, 27 Januari 2012 11:23

Saya sering memperoleh peringatan dan pencerahan hidup dari orangorang yang dianggap orang kecil, bawahan, dan awam meskipun bagi saya semua orang sama derajatnya.

Salah satunya dari tukang urut yang kadang saya panggil ke rumah setelah capai bermain golf. Namanya Mas Sabarno.Tipikal seorang Jawa, asli Solo, yang selalu mendambakan hidup tenang, damai, meski tidak kaya-raya.“Sekarang ini banyak orang mengejar kesenangan hidup, tetapi tidak tenang,”katanya.Mengejar kesenangan sesaat, tetapi ujungnya masuk tahanan. Ada tipe orang yang memang selalu ingin hidup damai, harmonis, bebas dari konflik.

Namun ada pula orang yang memandang konflik dan persaingan itu bagian dari hidup yang mengasyikkan.Tak ada kemajuan dan prestasi luar biasa tanpa sebuah risiko yang sangat menggelisahkan.Mereka yang berhasil meraih prestasi di atas rata-rata,perjuangan hidupnya juga di atas rata-rata.Yang kadang terjadi, orang kagum dan iri melihat orang lain sukses,tetapi tidak mau tahu dan meniru kerjakerasuntukmeraihkesuksesan itu.

Para atlet kelas dunia yang sekarang kaya-raya, mereka telah mengorbankan waktunya untuk bersenang-senang. Mereka mengisi waktu dengan latihan keras dan disiplin tinggi.Tapi kita hanya melihat sukses dan senangnya, tidak mau tahu perjuangan mereka sehingga sampai ke sana. Mas Sabarno mungkin mewakili budaya agraris, mental petani desa yang akrab dan damai dengan lingkungan alamnya.

Dia terkesan dengan Pak Harto yang selalu tersenyum dan bersikap kebapakan ketika berdialog dengan petani desa.“Hidup itu yang paling penting tenang dan aman. Bukan berlomba-lomba mengejar kekayaan,tidak peduli halal atau haram,”tandasnya. Untuk apa pangkat tinggi, hartamelimpahkalauyangdikejar- kejar harta haram dan mengorbankan harga diri? Mimpi indah warga desa tentang kehidupan yang tenteram, aman, dan damai tampaknya semakin jauh.

Dulu pasar-pasar tradisional di kota kecil menjadi sarana berkenalan da bersosialisasi para pengunjung dari desa yang berbeda sambil membawa dagangan hasil panennya. Orang pergi ke pasar sambil menambah kenalan.Tapi semua itu sekarang sudah berubah total. Gaya hidup dan ekonomi kota yang justru masuk ke desa. Mainan tradisional anak-anak hasil kerajinan tangan sudah tergeser oleh mainan impor.

Masuknya televisi dan telepon seluler ke desa membawa perubahan drastis dalam pola pikir dan pola hidup warga desa. Sawah kehilangan daya tarik dan keindahannya. Serial sinetron dan gemerlap iklan di televisi telah mengubah mimpi dan imajinasi orang-orang desa untuk bisa hijrah tinggal di kota atau setidaknya berperilaku seperti orang kota yang serbaglamor.Mereka tidak tahu,di kota terdapat kantong kemiskinan dan jaringan kejahatan yang mengerikan.

Ketenangan hidup terasa semakin mahal.Pejalan kaki di kota yang sudah benar mengambil posisi pun bisa tertabrak mobil karena sopirnya ugalugalan atau tengah mabuk.Pelajar yang telah bekerja keras agar lulus ujian bisa tersalip prestasi angkanya oleh mereka yang mencontek dan difasilitasi pengawasnya. Sarjana dengan IPK tinggi tidak ada jaminan lolos seleksi lamaran kerja kalau tidak memiliki koneksi dan uang sogok.

Ketika sudah bekerja, promosi tidak selalu didasarkan prestasi,melainkan pertemanan etnik,agama, partai atau almamater. Demikianlah, secara lahiriah pusat-pusat perbelanjaan di kota besar selalu ramai.Jumlah kendaraan automotif selalu bertambah. Namun ketenangan hidup malah merosot.Orang tua dan pendidik di sekolah semakin berat bebannya karena mendapat imbas kehidupan sosial yang beringas. Belum lagi beredarnya narkoba dan pornografi yang tidak selalu terdeteksi oleh orang tua dan guruguru di sekolah.

Sungguh mencengangkan, Indonesia menjadi pasar terbesar kedua sabu-sabu di dunia setelah Thailand. Adakah semua ini membuat kita pesimistis? Meminjam istilah yang sering digunakan Presiden SBY, kita semua sangat prihatin dengan keadaan ini. Tapi bagi rakyat tentu tidak cukup hanya dengan pernyataan prihatin.Mereka menuntut perbaikan nyata dan terukur. Perlu proyeksi, misalnya, antara angkatan kerja dan lowongan kerja. Perlu perencanaan matang antara jumlah kenaikan mobil dan pembangunan jalan.

Kita salut akhir-akhir ini pemerintah juga menaruh perhatian pada wilayah ”terpinggir” atau ”terdepan”yang terletak di perbatasan RI yang warganya tidak bangga dan percaya diri ketika bertemu dengan warga negara lain yang tinggal di seberang perbatasan. Namun sesungguhnya, sebelum jauh-jauh memperbaiki wilayah ”perbatasan”,yang namanya bandara internasional juga sebuah zona perbatasan yang mesti memperoleh perhatian lebih serius.

Bandara Singapura dan pesawat SQ, misalnya, adalah wajah terdepan negara dan masyarakat Singapura yang akan memberikan kesan pertama orang luar tentang negara itu. Mestinya Bandara Soekarno- Hatta didesain sedemikian rupa keindahan, ketertiban, keamanan, dan kenyamanannya mengingat bandara adalah wajah terdepan Indonesia.

 
Bagaikan Batu Kerikil Ditelan Lautan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat   
Jumat, 20 Januari 2012 05:54

Suatu hari saya berdiri menghadap ke laut lepas. Lalu saya melemparkan sebuah batu kerikil ke tengah lautan. Dari jauh saya amati apa yang terjadi dengan lemparan tadi.

Pertama, terlihat cipratan air dan riak kecil yang berlangsung kurang dari satu menit, kemudian menghilang. Saya tidak tahu lagi ke manabatu kerikil tadi. Orang pun tidak peduli bagaimana nasib batu kerikil yang saya lempar itu. Peristiwa kecil di atas membuat saya tercenung.Bukankah diriku yang terlempar ke dunia ini tak ubahnya seperti batu kerikil tadi?

Saya terlempar ke ruang semesta yang luasnya tak terjangkau nalar. Diperkirakan tidak kurang dari 250 miliar gugusan Bimasakti ada di semesta ini.Bahkan bisa jadi lebih dari itu,nalar manusia tidak sanggup mengukur bentangan ruang dan waktu tempat kita semua terlahir, tumbuh dan kemudian menghilang ditelan kematian. Jangankan diri kita, sedangkan Planet Bumi saja bagaikan sebuah kerikil di tengah taburan planet yang tak terhitung jumlahnya.

Kita terlahir, lalu menciptakan riakriak kecil yang akhirnya lenyap ditelan bumi. Kita tidak sanggup menghitung berapa sudah manusia terlahir, kemudian menghilang. Berapa banyak lagi di masa depan manusia akan singgah sebentar di planet ini,yang kemudian menghilang entah ke mana atau mau jadi apa setelahnya.

Kalau saja hidup hanya diukur dengan sukses materi, atau dengan penampilan fisik yang sehat dan menarik, dengan banyaknya uang dan kekayaan duniawi lain, maka kita perlu merenung, untuk apa semua itu? Untuk apa sesungguhnya manusia sibuk mengumpulkan harta jauh melebihi kebutuhan jika pada akhirnya malah membuat repot dan jadi beban hidup?

Kalaupun suatu saat bebatuan dan gunung berubah menjadi emas, benarkah pemiliknya menjadi lebih bangga dan bermakna untuk hidupnya? Kita tentunya ingat kisah Raja Midas dalam legenda Yunani Kuno yang hidupnya berakhir dengan tragis. Dia ingin sekali menjadi raja yang terkaya di dunia, sehingga tak seorang pun boleh menandingi kekayaannya.

Maka dia bertapa, minta pada sang Dewa agar dianugerahi tangan sakti. Dengan tangan saktinya itu dia membayangkan agar apa pun yang disentuhnya berubah menjadi emas. Pendek cerita, sang Dewa akhirnya mengabulkan permintaannya. Maka Raja Midas kembali ke istananya untuk mewujudkan impiannya memiliki istana emas dan menjadi raja terkaya di muka bumi.

Demikianlah, begitu menginjak halaman istana, pagar istana di sentuhnya sehingga seketika telah berubah menjadi emas. Dia tertawa kegirangan, lalu melangkah masuk, tiangtiang istana pun disentuhnya dan seketika itu juga berubah menjadi emas. Saking gembiranya dan untuk melampiaskan nafsunya, maka diamdiam meja kursi juga disentuh sehingga semuanya berubah menjadi istana emas.

Dia ingin membuat kejutan dan hadiah termahal pada istri tercinta yang juga sangat cinta pada kekuasaan dan kekayaan.Aku adalah raja terkaya di muka bumi,pikirnya dengan bangga. Tak ada seorang pun yang mampu menyaingi kekayaan saya dan istri secantik istri saya. Tak seorang pun yang memiliki tangan sakti seperti saya.

Setelah merasa puas berhasil menyulap istana dan seisinya menjadi emas, Raja Midas memanggil istrinya untuk diperlihatkan keajaiban yang telah diciptakannya.Saking gembira serta kangennya karena sudah lama tidak bertemu dengan istrinya, maka berpelukanlah mereka. Namun apa yang terjadi? Berubahlah istrinya menjadi patung emas. Raja Midas kemudian menangis meraung- raung bagaikan orang gila.

Apa pun yang disentuh berubah menjadi emas, sejak dari makanan,minuman semuanya berubah menjadi emas. Dia kesepian, bingung, sedih merana dan penuh penyesalan.Dia lupa bahwa sumber kehidupan adalah roh dan jiwa yang sehat,yang selalu memancarkan kasih Tuhan untuk sesamanya dan suatu saat kelak ruh itu akan kembali ke haribaan Tuhan.

Andaikan hidup hanya membanggakan kehebatan duniawi dan kekayaan materi, maka manusia bagaikan kelelawar yang terbang siang, dia buta karena tak sanggup menatap cahaya matahari yang begitu menyilaukan mata.Tetapi dengan matahari,seorang yang beriman akan mampu menatap siapa pencipta matahari dan semesta alam ini. Maka dia bertapa, minta pada sang Dewa agar dianugerahi tangan sakti.

Dengan tangan saktinya itu dia membayangkan agar apa pun yang disentuhnya berubah menjadi emas. Pendek cerita, sang Dewa akhirnya mengabulkan permintaannya. Maka Raja Midas kembali ke istananya untuk mewujudkan impiannya memiliki istana emas dan menjadi raja terkaya di muka bumi.

Demikianlah, begitu menginjak halaman istana, pagar istana di sentuhnya sehingga seketika telah berubah menjadi emas. Dia tertawa kegirangan, lalu melangkah masuk, tiangtiang istana pun disentuhnya dan seketika itu juga berubah menjadi emas. Saking gembiranya dan untuk melampiaskan nafsunya, maka diamdiam meja kursi juga disentuh sehingga semuanya berubah menjadi istana emas.

Dia ingin membuat kejutan dan hadiah termahal pada istri tercinta yang juga sangat cinta pada kekuasaan dan kekayaan.Aku adalah raja terkaya di muka bumi,pikirnya dengan bangga. Tak ada seorang pun yang mampu menyaingi kekayaan saya dan istri secantik istri saya. Tak seorang pun yang memiliki tangan sakti seperti saya.

Setelah merasa puas berhasil menyulap istana dan seisinya menjadi emas, Raja Midas memanggil istrinya untuk diperlihatkan keajaiban yang telah diciptakannya.Saking gembira serta kangennya karena sudah lama tidak bertemu dengan istrinya, maka berpelukanlah mereka. Namun apa yang terjadi? Berubahlah istrinya menjadi patung emas.Raja Midas kemudian menangis meraung- raung bagaikan orang gila.

Apa pun yang disentuh berubah menjadi emas, sejak dari makanan,minuman semuanya berubah menjadi emas. Dia kesepian, bingung, sedih merana dan penuh penyesalan.Dia lupa bahwa sumber kehidupan adalah roh dan jiwa yang sehat,yang selalu memancarkan kasih Tuhan untuk sesamanya dan suatu saat kelak ruh itu akan kembali ke haribaan Tuhan.

Andaikan hidup hanya membanggakan kehebatan duniawi dan kekayaan materi, maka manusia bagaikan kelelawar yang terbang siang, dia buta karena tak sanggup menatap cahaya matahari yang begitu menyilaukan mata.Tetapi dengan matahari,seorang yang beriman akan mampu menatap siapa pencipta matahari dan semesta alam ini

 

 
Starts The End PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat   
Jumat, 13 Januari 2012 05:14

Ungkapan di atas, starts from the end, seingat saya keluar dari lisan Pak Habibie ketika merancang pabrik pesawat terbang.

Indonesia sebagai negara kepulauan dengan penduduk di atas 200 juta sangat memerlukan alat transportasi udara. Pak Habibie sangat yakin, putra-putra Indonesia mampu membuat pesawat terbang dan itu telah dibuktikan. Menurutnya, jika berhasil membuat pesawat terbang yang memerlukan high-tech, Indonesia akan dengan mudah membuat kapal laut, kereta api, mobil, dan sepeda motor. Mungkin logika itulah yang dimaksud dengan ungkapan starts from the end. Mulai dari proyek akhir yang paling sulit dan canggih. Pertanyaan yang muncul, mengapa industri pesawat terbang kreasi anak-anak bangsa yang kualitasnya diakui dunia tersendat-sendat perjalanannya?

Masalah utamanya pasti bukan karena kemiskinan sumber daya manusia (SDM), tetapi sudah masuk wilayah kebijakan politik pemerintah. Mungkin ini yang juga dihadapi Iran ketika mengembangkan nuklir yang membuat Israel berusaha dengan berbagai cara untuk menyetopnya dengan menggunakan tangan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. Lagi-lagi kebangkitan teknologi canggih sebuah bangsa tidak pernah lepas dari respons dan kepentingan politik serta bisnis negara-negara lain. Lalu,bagaimana dengan nasib mobil Kiat Esemka?

Saya bukan penggemar mobil, tidak juga pedagang mobil.Tapi cukup terkesan dan tertarik untuk ikut nimbrung memberi apresiasikarya anak-anakSMKyang berhasil merakit mobil Kiat Esemka di Solo. Ini bukan proyek pesawat terbang, bukan pula proyek mobil Timor produk Korea yang dirakit di Indonesia. Ini produk pelajar SMK, sekolah yang kurang diminati keluarga kelas menengah ke atas. Keberhasilan Kiat Esemka pasti menstimulasi SMK se- Indonesia dan membuat mereka percaya diri.Terdapat sekitar 9.400 SMK dengan guru 230.000 orang dan jumlah murid sekitar 4 juta.

Secara tidak langsung ini juga merupakan kritik pada dunia kampus dan pada pemerintah pusat menyangkut kebijakan industri automotif yang sangat memanjakan produk asing. Untunglah respons ITB dan ITS serta pemerintah cukup positif,mau mendukung kreasi anak-anak SMK. Sesungguhnya hal ini tidak mengejutkan mengingat akhir-akhir ini banyak pelajar Indonesia yang menjuarai olimpiade sains tingkat internasional. Kini masyarakat mulai jenuh dengan heboh demokrasi yang hanya menekankan kebebasan berserikat dan berekspresi.

Sekarang masyarakat menagih janji-janji demokrasi berupa pemerintahan yang bersih, pelayanan bagus, dan meningkatnya kesejahteraan rakyat. Dalam suasana batin yang diliputi kekecewaan terhadap situasi bangsa, kemunculan Kiat Esemka bagaikan gula-gula yang sedikit menghibur. Bahwa ada komunitas baru yang tumbuh di luar lingkaran politik, birokrasi, dan kehidupan glamor yang ternyata mampu berkreasi memproduksi mobil di tengah hegemoni produk asing yang mahal yang melekat dengan gaya hidup para politikus.

Mobil Kiat Esemka ini menarik diangkat bukan semata karena merupakan produk anak-anak SMK, tetapi juga sebagai test-case sikap pemerintah, pengusaha, dan mental masyarakat kita dalam mengapresiasi dan mendorong tumbuhnya kreasi anak-anak negeri dalam berbagai sektor. Coba saja amati di toko, pasar, dan lingkungan sekolah serta kerja, hampir semua peralatan dan sarananya didominasi produk asing. Oleh karenanya saya gembira mendengar beberapa kepala daerah yang mewajibkan karyawannya mengenakan sepatu produk lokal.

Kalau sikap politik ini meluas dan dikembangkan lagi tidak sebatas sepatu,pasti dampak positifnya sangat signifikan bagi ekonomi Indonesia dan membiasakan cinta produk-produk dalam negeri. Bukan berita asing, pelajar Indonesia yang memenangi olimpiade sains internasional selalu diincar dan ditawari beasiswa oleh perguruan tinggi asing seperti Singapura, Hong Kong, Jepang. Apakah kita akan membiarkan terjadinya brain drain? Prestasi anak-anak SMK yang telah berhasil memproduksi Kiat Esemka semoga dijadikan momentum untuk memberikan apresiasi dan membina industri dalam negeri sambil dilakukan perbaikan disana-sini.

Yang diperlukan adalah kesadaran dan dukungan masyarakat untuk bangga menggunakan produk dalam negeri. Namun tak kalah pentingnya adalah kebijakan politik pemerintah serta kalangan pengusaha besar yang memihak pada pemberdayaan rakyat kecil, bukannya mengeksploitasi mereka semata sebagai pangsa pasar dan sumber pendulangan suara dalam setiap pilkada atau pemilu.

 

 
Pemimpin Itu Inspirator PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat   
Jumat, 06 Januari 2012 09:09

Banyak teori tentang kepemimpinan dan di sana terdapat berbagai aspek untuk menilai hasil kinerjanya. Salah satu aspek untuk menimbang keberhasilannya adalah seberapa besar memberi inspirasi dan memengaruhi perilaku orang-orang di sekitarnya.

Lebih dari sekadar pengaruh adalah warisan yang ditinggalkannya. Umat beragama biasanya akan menempatkan sosok nabinya sebagai model. Bagi umat Islam, sosok pemimpin yang dianggap paling ideal adalah Nabi Muhammad. Bahkan para sejarawan pun mengakui akan kehebatan sosok Muhammad sebagai penggubah sejarah dunia. Salah satu tolok ukurnya terlihat dalam keberhasilannya memberi inspirasi para sahabat yang tadinya hidup dalam kultur jahiliah, lalu berubah drastis menjadi figurfigur tercerahkan.

Jadi, untuk menimbang kehebatan sosok Muhammad sebagai pemimpin, lihat saja kualitas orang-orang di sekitarnya. Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, dan sekian sahabat lainnya (bukan murid, tetapi sahabat) berubah dari asuhan tradisi jahiliah menjadi pribadi-pribadi cinta ilmu, bersemangat berkurban demi rakyat, dan senantiasa menjunjung tinggi moralitas agung.

Logika berpikir ini mari kita terapkan untuk menimbang sosok pemimpin di Indonesia sejak dari bupati, wali kota, gubernur sampai presiden.Kualitas seorang pemimpin akan terlihat dari kualitas orang-orang di sekitarnya. Jalan pikiran, tutur kata, tingkah laku, dan bahkan gaya pidato seorang pemimpin akan menginspirasi anak buah. Coba perhatikan Bung Karno. Banyak orang terinspirasi dan termotivasi oleh retorika dan semangat nasionalisme yang menggelegar, bahkan getarannya ikut menggerakkan pemimpin negara Asia-Afrika untuk bangkit melawan imperialisme.

Bung Karno membuat para diplomat kita waktu itu bangga dan tampil percaya diri dalam pergaulan dunia. Pendeknya, Bung Karno berhasil menciptakan rasa bangga dan percaya diri bagi warga Indonesia. Lain Bung Karno lain lagi Pak Harto. Pak Harto bisa saja diposisikan sebagai penerus dan penerjemah Bung Karno dalam format teknokratik-operasional dalam membangun ekonomi bangsa.

Oleh karenanya di era Pak Harto bermunculan figur-figur teknokrat yang duduk dalam jajaran kabinet. Mereka memiliki kemampuan teknokratik untuk menerjemahkan garis-garis besar haluan negara dengan hasil yang terukur. Bahkan gagasan dan gerakan modernisasi di bawah Pak Harto telah menginspirasi negara-negara tetangga sehingga Indonesia dijadikan model dan disegani di kalangan negara ASEAN. Baik Bung Karno maupun Pak Harto tentu tidak bebas dari kekurangan.

Namun keduanya akan tetap dikenang sebagai presiden Indonesia yang mewariskan jejak-jejak besar bagi perjalanan bangsa ini. Setelah Pak Harto lengser, muncul presiden dalam waktu yang tidak lama.Lagi-lagi, tiap penerusnya mewariskan jejaklangkah historis, sejak Habibie, Gus Dur hingga Megawati.

Dari semua itu, setelah Pak Harto,yang paling lama adalah Presiden SBY yang diagendakan selama 10 tahun sampai 2014 nanti. Warisan monumental apakah yang diwariskan Presiden SBY, bukan kapasitas saya untuk menilai dalam esai yang amat singkat ini. Juga, inspirasi dan motivasi apa yang ditularkan Pak SBY pada jajaran kabinet dan lingkungan dekatnya, bagi saya tidak mudah untuk mengukurnya, di samping juga belum berakhir mandatnya sebagai presiden.

Keadaan sudah berubah, baik situasi ekonomi, politik maupun undang-undang pemerintahan, sehingga tolok ukur untuk menilainya juga berubah. Namun yang namanya seorang sosok pemimpin besar akan tetap menjadi sumber inspirasi dan motivasi untuk menciptakan perubahan dan kemajuan bagi lingkungannya. Waktu belajar di pesantren dulu kiai pernah memberi nasihat: orang yang takut salah untuk melakukan sesuatu, dia sudah berada dalam kubangan kesalahan.

Orang yang takut salah, jangan berbuat sesuatu. Tapi orang seperti itu tidak pantas jadi imam, kata kiai. Paling pas ya jadi makmum kalau dalam salat jamaah. Jadi, masuk tahun 2012 ini saya merindukan tampilnya sosok-sosok pemimpin yang sekaligus juga sosok negarawan, bukannya sekadar aktivis politik. Jabatan pemimpin itu bukan profesi, tetapi panggilan dan peluang untuk ikut mengukir sejarah bagi kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Kelas Menengah Muslim Indonesia (2) PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Prof Dr Azyumardi Azra MA   
Kamis, 05 Januari 2012 08:46

Pendidikan; tidak ragu lagi bidang ini merupakan prasyarat utama bagi mobilitas intelektual, sosial, ekonomi, dan agama. Berkat pendidikan umum dan agama yang kian universal sejak akhir 1970-an, makin banyak pula anak-anak umat yang mendapatkan akses ilmu pengetahuan dan keterampilan sejak dari tingkat dasar, menengah, sampai tinggi.

Kian banyak pula mereka yang tidak hanya bergelar S1, tetapi juga S2 dan S3, baik dari program pascasarjana dalam negeri (yang mulai tumbuh sejak awal 1980-an) dan luar negeri. Hasilnya, timbullah 'eksplosi' inteligensia dan intelektual yang mengisi berbagai ruang dan lembaga negeri dan swasta. Mereka pun menjadi pakar dan narasumber dalam berbagai bidang akademis, agama, politik, ekonomi, sosial, dan budaya di tingkat nasional ataupun internasional.

Mobilitas pendidikan dan intelektual hampir secara progresif menghasilkan mobilitas ekonomi dan sosial. Mereka yang beroleh pendidikan, khususnya perguruan tinggi, dapat mengisi berbagai lapangan kerja pada beragam sektor, yang sebelumnya tidak pernah diduduki kaum santri. Dengan memiliki pekerjaan formal dan profesional, mereka memperoleh penghasilan tetap yang memungkinkan mereka memenuhi berbagai kebutuhan dasar: pangan, sandang, papan, dan selanjutnya kendaraan bermotor-kemudian juga menikmati liburan dengan keluarga.

Perkembangan baik dalam ekonomi dan keuangan ini menimbulkan berbagai  dampak perubahan yang mungkin tidak pernah terbayangkan. Sekali lagi, lihatlah dalam bidang pendidikan. Berkat kondisi ekonomi dan keuangan keluarga yang kian stabil, mereka dapat menabung untuk pendidikan anak-anak mereka.

Mereka menjadi mampu mengirim anak-anak mereka ke 'sekolah/madrasah elite' Islam berbiaya mahal, semacam al-Azhar, al-Izhar, atau Madrasah Pembangunan; atau sekolah dan madrasah swasta yang mencakup juga program keislaman yang baik semacam Lab School atau Dwiwarna, atau sekolah negeri bermutu tinggi yang juga mengenakan biaya relatif mahal.

Daftar sekolah/madrasah ini bisa sangat panjang yang kian banyak, tidak hanya di Jakarta dan ibu kota provinsi lain, tetapi juga di kota setingkat kabupaten. Sekolah dan madrasah elite ini segera menjadi 'status simbol' baru kelas menengah Muslim. Ketika nama sebuah sekolah atau madrasah semacam ini disebut sebagai tempat belajar seorang anak, secara instan orang tahu kelas ekonomi keluarga tersebut.

Simbolisme Islam dalam konteks ini menjadi kebanggaan yang tidak harus berarti riya, apalagi takabur. Semua ini berlangsung secara alamiah belaka, tetapi ada dampak lebih jauh. Di tengah bangkitnya sekolah/madrasah elite Islam, praktis kian sedikit orang tua Muslim yang mengirim anak ke sekolah non-Muslim, yang pernah menjadi simbol kualitas dan sekaligus simbol stratifikasi sosial-ekonomi.

Memang perlu survei tentang hal terakhir ini, tetapi terdapat kesan kuat bahwa jumlah pelajar sekolah-sekolah non-Muslim ini merosot secara signifikan sehingga terpaksa tutup atau merger. Apalagi, pada saat yang sama sekolah non-Muslim ini juga tersaingi sekolah 'non-sektarian' yang umumnya menjadi lahan baru bisnis pendidikan warga keturunan semacam sekolah Binus, misalnya.

Lepas dari hal terakhir, sekolah/madrasah elite Islam memunculkan dampak lain yang tidak kurang pentingnya. Dari sinilah juga bermula apa yang saya sebut 'santrinisasi' atau 'resantrinisasi' keluarga Muslim yang menemukan momentum sejak awal 1990-an. Banyak orang tua Muslim yang mengirim anak mereka ke sekolah/madrasah elite bukan dari kalangan santri. Mereka lemah dalam pengetahuan dan praktik keislaman, tetapi ingin anak mereka tidak seperti ayah ibunya yang lemah keislamannya.

Mereka mau anak mereka lebih tahu tentang Islam di samping memiliki ilmu pengetahuan berkualitas sehingga dapat lanjut ke perguruan tinggi papan atas, baik di dalam maupun luar negeri. Anak-anak yang belajar di sekolah dan madrasah elite ini pada gilirannya menjadi 'guru' bagi orang tua masing-masing.

Ketika di sekolah/madrasah, misalnya, belajar dan hafal berbagai macam doa-seperti doa sebelum makan-mereka selanjutnya juga meminta orang tua masing-masing membaca doa. Kalangan orang tua yang merasa 'malu' pada anak mereka sendiri, misalnya, karena tidak bisa menjadi imam shalat dengan baik, tidak bisa memimpin doa, atau tidak bisa membaca Alquran dengan baik. Akhirnya, mereka 'terpaksa' kembali belajar Islam apakah secara sendiri atau mendatangkan guru privat agama. Inilah persisnya 'santrinisasi' atau 'resantrinisasi' keluarga.

Mengingat amat pentingnya peran pendidikan dalam mobilitas intelektual, ekonomi, sosial, dan keagamaan, tantangan dan tuntutan ke depan adalah meningkatkan mutu dan keterjangkauan sekolah/madrasah, khususnya swasta. Hal ini tidak lain karena masih banyak sekolah/madrasah yang bukan hanya bermutu rendah, bahkan prasarana belajarnya saja sangat memprihatinkan.

Akhirnya, anak-anak bangsa yang terpaksa belajar di sekolah/madrasah semacam ini terjebak dalam lingkaran keterbelakangan pendidikan dan kemiskinan yang seolah tidak pernah terpecahkan.

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tulisan dimuat pada Harian Republika, Kamis (5/1).

 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL