Bahasa VersionEnglish VersionArabic Version
  • Decrease font size
  • Reset font size to default
  • Increase font size
Please wait while JT SlideShow is loading images...
Selamat Tahun Baru Hijriyah 1436HAgenda Wisuda Ke-94Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat

AGENDA

Home Category Blog
Example of Category Blog layout (FAQs/General category)
Pusat Riset Psikologi Kuantitatif Terdepan di Indonesia PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Apristia Krisna Dewi   
Rabu, 25 Mei 2011 19:29


Fakultas Psikologi UIN Jakarta kini memiliki gedung Pusat Layanan Psikologi (PLP) di Kampus II Jalan Kertamukti, Pisangan, Ciputat Timur. Gedung tiga lantai yang diresmikan Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany pada 19 Mei 2011 itu berdiri di atas lahan seluas 1.080 meter persegi dan luas bangunan 700 meter persegi. Mengapa gedung tersebut dibangun, apa saja fungsi dan fasilitasnya? Untuk mengetahuinya, Apristia Krisna Dewi dari BERITA UIN Online mewawancarai Dekan Fakultas Psikologi Dr Jahja Umar di ruang kerjanya, Kamis (19/5). Berikut petikannya.

Apa fungsi Gedung Pusat Layanan Psikologi (PLP)?

Gedung Pusat Layanan Psikologi (PLP) ini memiliki dua fungsi. Pertama, sebagai fasilitas laboratorium praktikum bagi mahasiswa Fakultas Psikologi. Kedua, sebagai pusat layanan atau semacam badan usaha bagi masyarakat. Misalnya, pusat layanan semacam konseling dan training baik bagi calon pegawai pemerintah daerah, instansi swasta, industri, maupun training  pengembangan budaya.

Fasilitas apa saja yang tersedia?

Fasilitas yang ada di gedung PLP ini tidak berbeda dengan laboratorium psikologi lainnya. Di PLP terdapat bermacam alat-alat percobaan psikologi, misalnya percobaan di bidang psikometri, motivasi, dan persepsi. Selain itu juga ada laboratorium konseling dan laboratorium anak dan perkembangan, khususnya pada anak balita. Pada laboratorium anak, misalnya ada anak atau balita yang memiliki kelainan psikis, terhambat pertumbuhan atau terlambat perkembangannya di sini tempatnya. Di samping itu, ada ruang bermain anak, ruang konseling, ruang training, dan sebagainya. Selain fasilitas yang lengkap, kita juga sediakan beberapa psikolog yang ahli di bidang tersebut.

Apa yang mendasari pendirian Gedung PLP ini?

Ilmu psikologi itu banyak cabangnya. Ada ilmu psikologi faal, psikometri, psikoterapi, bahkan ada yang terkait dengan kedokteran. Semua ilmu tersebut dipelajari di dalam kelas perkuliahan psikologi. Kalau di kelas mahasiswa belajar psikologi secara teoritis, maka di gedung ini mahasiswa mengaplikasikan teori tersebut ke dalam kelas praktikum. Jadi mahasiswa membutuhkan laboratorium  baik untuk praktik maupun riset dan ini tempatnya.

Selain itu, kami juga melihat kebutuhan masyarakat di bidang pelayanan psikologi meningkat. Di gedung ini tersedia layanan konseling di samping layanan training dan motivasi. Layanan konseling misalnya ada yang trauma pasca bercerai, anak yang terlambat perkembangannya, anak yang tidak semangat belajar, atau ada remaja yang stress karena patah hati,  itu bisa dilayani di gedung ini dengan  tarif  yang bervariasi.

Bagaimana agar gedung ini dapat dijadikan penunjang kegiatan riset terutama dalam riset psikologi?

Selain melayani problem seperti di atas, gedung ini juga dapat dijadikan riset untuk mengukur tingkat kecerdasan, kecemasan, kesetiaan, kejujuran, dan lainnya. Semua alat ukurnya sudah tersedia. Riset yang dilakukan umumnya menggunakan analisis kuantitatif yang menggunakan prinsip matematika yaitu statistika serta datanya diolah dengan komputer. Sebab,  riset psikologi pasti selalu berhubungan dengan kuantitatif bukan kualitatif. Karena riset kuantitatif itu ilmiah dan dapat diuji kebenarannya. Dengan riset tersebut, kita akan mengembangkan misi PLP sebagai pusat riset psikologi kuantitatif yang terdepan di Indonesia. Di Indonesia baru ada laboratorium sebesar gedung PLP UIN Jakarta, dan itu hanya UIN Jakarta yang memiliki laboratorium psikologi terbesar dengan alat  penunjang riset terlengkap di Indonesia.

Untuk mencapai misi tersebut, bagaimana kebijakan fakultas terhadap dosen dan mahasiswa?

Para dosen di Fakultas Psikologi kami wajibkan untuk mengikuti kuliah statistik setiap hari Jumat. Pada hari tersebut dosen tidak ada yang mengajar karena wajib mengikuti latihan untuk mempertajam kemampuan statistik mereka. Kalau seandainya dosen tidak latihan statistik sehingga tidak cakap dalam bidang ilmu tersebut, nantinya malah ada mahasiswa yang lebih pintar dari dosennya. Tentunya sangat kacau jika terjadi hal tersebut.

Bagi mahasiswa, selain dituntut untuk belajar serius dan sungguh-sungguh, juga dituntut mengembangkan riset berbasis analisis kuantitatif sejak awal kuliah. Untuk menguasai riset kuantitatif, pendalaman  materi  statistik dilakukan dari level dasar hingga level empat, berbeda dengan jurusan lainnya di UIN Jakarta yang penguasaan statistiknya hanya satu hingga dua level. Selain penguasaan statistik secara mendalam, setiap dua minggu di dalam perkuliahan psikologi juga diadakan kuis atau ujian.

Di samping itu, bagi mahasiswa yang sedang melakukan riset kuantitatif, terutama riset dalam rangka skripsi, variabelnya minimum harus delapan. Variabel bagi mahasiswa S1 ini lebih tinggi daripada S2 atau S3. Mungkin ada yang berpikir bahwa kebijakan tersebut terlalu berat bagi mahasiswa. Sebenarnya kebijakan itu bukan untuk saya, tetapi untuk kebaikan mahasiswa itu sendiri yaitu untuk bekal masa depan kelak. Sebab, yang namanya belajar itu adalah proses perjuangan. Bukan sambil main-main.

Adakah nilai Islami yang terkandung dalam perkuliahan psikologi, terutama sejak diresmikannnya Gedung PLP?

Sesuai dengan salah satu misi Fakultas Psikologi yaitu mencetak sarjana psikologi yang unggul, professional, dan memiliki nilai islami, maka kami integrasikan ilmu Islam dengan ilmu psikologi dalam kegiatan perkuliahan. Salah satu matakuliahnya adalah Psikologi Agama. Psikologi agama adalah ilmu yang mempelajari perilaku orang beragama. Ilmu tersebut mengkaji bagaimana orang beragama agar perilakunya menjadi lebih baik. Tetapi menurut saya yang lebih penting sebagai unsur islami itu bukan ilmunya. Tetapi orangnya. Bagaimana seseorang mempelajari ilmu atau sesuatu yang memiliki nilai-nilai islami tapi dia nyatanya tidak memiliki prinsip Islami. Hal itu sangat berpengaruh pada akhlak dan kehidupannya.

Apa harapan Anda setelah Fakultas Psikologi mempunyai Gedung PLP?

Saya berharap agar gedung pusat layanan psikologi ini dapat mendukung kelancaran kegiatan belajar mengajar, khususnya di bidang praktikum sesuai kurikulum, serta mendukung  Fakultas Psikologi menuju fakultas unggul dan terdepan dalam bidang riset kuantitatif. Selain itu menjadi pusat layanan psikologi komersial terdepan bagi masyarakat. []

 

 
International Office Miliki Posisi Strategis PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Lindah   
Kamis, 19 Mei 2011 18:46

 

International Office (IO) merupakan lembaga yang didirikan untuk menindaklanjuti berbagai capaian kerja sama internasional UIN Jakarta dan mengakselerasi cita-cita UIN Jakarta menjadi world class university (WCU). Meski sudah berdiri sejak empat tahun lalu berdasakan SK Rektor Nomor 109 tahun 2007, namun hingga kini tak sedikit sivitas akademika UIN Jakarta yang belum mengenal IO. Apa dan bagaimana IO? Untuk mengetahuinya, beberapa waktu lalu Lindah dari BERITA UIN Online mewawancarai Ketua IO, Dr Yeni Ratnayuningsih, di ruang kerjanya. Berikut petikannya.

Bisa Anda jelaskan tugas dan fungsi International Office (IO)?

International Office (IO) bertugas untuk mengurus hal-hal yang berkaitan dengan International Student (mahasiswa internasional) dan International Cooperation (kerjasama internasional). Namun, baru-baru ini berdasarkan SK Rektor, IO juga diberikan tanggung jawab untuk mengurus kelas internasional. Sebab, peserta didik kelas internasional berasal dari dalam dan luar negeri, maka kami mempunyai standarisasi sendiri, salah satunya yaitu perkuliahan dilaksanakan dengan pengantar menggunakan bahasa asing.

Berdasarkan SK Rektor tersebut, IO dimandatkan untuk mengurus kelas internasional di sejumlah fakultas, yaitu Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) pada Jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum (Khusus), Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI), Fakultas Sains dan Teknologi pada Jurusan Sistem Informasi dan Teknologi Informasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) pada Jurusan Hubungan Internasional (HI), dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) pada jurusan Manajemen Akuntansi dan Manajemen.

Sebenarnya apa visi dan misi IO?

IO didirikan untuk mendukung penuh visi dan misi UIN Jakarta. Salah satu mimpi UIN Jakarta ke depan yaitu ingin menjadi bagian dari komunitas akademik internasional. Mungkin kita sering mendengar world class university (WCU). Itu merupakan mimpi UIN Jakarta yang layak diwujudkan. Meski membutuhkan waktu yang cukup lama, mimpi ini mampu mendongkrak popularitas UIN Jakarta di kancah internasional. Maka dari itu, kami siap mewujudkannya. Sebab IO yang merupakan salah satu unit di UIN Jakarta yang medukung pencapaian visi UIN Jakarta untuk menuju WCU. Dan juga untuk mempermudah akses informasi. Jadi IO seperti front liner atau garda terdepan untuk pencapaian visi UIN Jakarta.

Program apa saja yang dilaksanakan IO untuk mencapai visi tersebut?

Program yang digarap IO untuk mencapai visi UIN Jakarta dan untuk IO sendiri dapat dilihat dari divisi-divisi yang ada. Di antaranya ketua, wakil, sekretaris, info dan promosi, kerja sama, kemahasiswaan, dan international class. Ada beberapa kegiatan yang cukup produktif. Misalnya saja bagian informasi. mempromosikan UIN Jakarta di luar negeri. Divisi Kemahasiswaan, mempunyai program Orientation Day. Kegiatan ini sebagai masa orientasi atau pengenalan kampus bagi mahasiswa asing. Kemudian bagian lain yaitu bidang akademik. Akademik bertanggung jawab dalam hal penerimaan mahasiswa asing. Kegiatan yang dilakukan sebelum dimulainya perkuliahan yaitu out bond. Hal ini bertujuan untuk membangun moment keakraban, mencairkan suasana dan agar mahasiswa asing merasa semakin nyaman. Untuk itu, setiap kali kegiatan, kami membuka pendaftaran untuk menjadi tutor Student Day. Dan yang kami butuhkan sebanyak 15 orang.

Sejak berdiri hingga kini, sejauh mana peran IO untuk UIN Jakarta?

Peran IO untuk UIN Jakarta dapat dilihat dari tanggung jawab yang diembannya. Tanggung jawab kami hanya kepada kerjasama internasional. Jadi saat ini kami sedang membuat pedoman penyelenggaraan kerjasama internasional. Ketika ada tawaran kerjasama internasional, kita yang membuat MoU-nya. Jadi kita lebih kepada teknis, merumuskan dan memonitor MoU. karena ini merupakan tanggung jawab kami.

Seberapa besar tingkat keterlibatan IO dengan negara-negara luar?

Beberapa Kedutaaan Besar negara sahabat menawarkan kerjasama dengan UIN Jakarta. Misalnya Keduataan Besar Somalia dan Afrika Selatan. Mereka menawarkan kerjasama dengan UIN Jakarta. Unit yang menangani kerjasama luar negeri yaitu IO. Keterlibatan IO yaitu hanya sebagai pelaksana teknis untuk jalinan kerjasama antara kerjasama luar negeri dengan UIN Jakarta. Dalam hal ini adalah Rektor. Rektor membangun kerjasama dengan luar negera. Maka  secara teknis IO yang menindaklanjuti. Mulai dari MoU-nya, sampai kepada hal-hal yang bersifat teknis. Ataupun kita memberikan masukan. Kita menjembatani antara UIN Jakarta dengan beberapa negara yang ingin mengadakan kerjasama dengan UIN Jakarta.

Bagaimana dengan pertukaran mahasiswa dengan negera luar?

Sekarang kami sedang mengadakan seleksi mahasiswa untuk diberangkatkan ke Rusia. Kegiatan ini akan berlangsung pada16-23 Mei mendatang. Di sana kami akan mengadakan dialog One Islam and Culture di Universitas Kazan, Rusia. Kita mengirim lima mahasiswa yang telah diseleksi terlebih dulu. Mereka dijadikan sebagai Duta UIN Jakarta untuk berdialog bagaimana Islam di Indonesia. Begitupun dengan mahasiswa di Rusia. Namun, sebelum para Duta UIN berangkat ke Rusia, mereka diwajibkan untuk mengikuti orientasi. Di samping itu, UIN Jakarta akan mendatangi KBRI Moscow,Wakil Duta Besar RI di Moscow dan Pensosbud.

Kerjasama yang lain yaitu Kementerian Agama bekerja sama dengan KBRI Moscow. Tujuannya yaitu men-set up beberapa program. Program yang dirancang yaitu untuk UIN Jakarta, UIN Malang, dan UIN Yogyakarta. Ketiga UIN ini dilibatkan untuk bekerjasma dengan Rusia. Salah satu bentuk kerjasamanya yaitu menerima mahasiswa Rusia untuk belajar di UIN. Selanjutnya kami akan mengirimkan sebanyak 15 dosen untuk research selama satu bulan di Rusia.

Selain itu?

Ada juga schedule untuk beasiswa ADS, Aminef, DAN beberapa institusi funding. Kami punya kisi-kisi informasi yang berguna untuk menyampaikan informasi berupa beasiswa. Namun, kami harus mempunyai strategi agar semuanya sesuai dengan prosedur. Maka dari itu, langkah terdekat untuk mewujudkannya adalah dengan membuat profil IO. Dan sebagai pelengkap AAIF kami juga akan membuat Information Cessation. Sekarang ini kami sedang membentuk forum komunikasi bersama. Di mana lembanga yang terlibat yaitu seluruh IO yang ada di berbagai UIN.

Apa harapan Anda ke depan?

Harapan saya, adanya mandat yang diberikan tidak akan terlaksana tanpa adanya dukungan dari berbagai pihak, baik pimpinan maupun oleh unit-unit yang terkait di bawah naungan UIN Jakarta. Kami ingin menjadi partner dan bisa saling mendukung. Sekarang ini, kami lebih banyak melibatkan mahasiswa dan bekerjasama dengan kemahasiswaan. Contohnya saja dialog keislaman di Rusia, book fair UIN, memberikan informasi beasiswa luar negeri, dll. Selain itu juga kami berencana membuat kegiatan Internasional Food And Culture Day. Jadi nanti kami membuat acara dalam satu hari dalam bentuk festival. Karena IO sudah mempunyai hubungan baik dengan beberapa kedutaan, maka nanti IO akan undang mereka untuk mempromosikan unit-unitnya. Seperti unit pendidikan, masakan khas, dan unit lainnya. Dan kepanitiaan kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa. Mungkin sekarang ini IO belum terlalu dikenal oleh khalayak UIN Jakarta.  Sebab, memang kami sedang menata diri dan membuat sistem. IO mengubah status karena memang tidak begitu kuat. Maka dari itu sekarang sedang diupayakan agar memiliki posisi yang strategis. Dengan tujuan agar IO bisa berkiprah. []

LAST_UPDATED2
 
Alumni FSH Tersebar Luas PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Nanang Syaikhu   
Kamis, 31 Maret 2011 16:06

Sebagai salah satu fakultas agama di UIN Jakarta, Fakultas Syariah dan Hukum terus mengembangkan diri menjadi fakultas unggul dan kompetitif. Sejumlah upaya dilakukan agar fakultas tersebut mendapat kepercayaan dan ekspetasi tinggi dari masyarakat. Apa saja program unggulan fakultas yang berdiri tahun 1967 tersebut, berikut wawancara Nanang Syaikhu dari BERITA UIN Online dengan Dekan FSH Prof Dr Muhammad Amin Suma di ruang kerjanya, Rabu (30/3).

Apa saja agenda kerja Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) di tahun 2011?

Pada dasarnya, agenda kerja 2011 di FSH memiliki beberapa kriteria, pertama, menindaklanjuti program-program mendasar yang bisa dikatakan besar bagi fakultas yang belum terselesaikan di 2010. Misalnya, sesuai dengan konsentrasi pada pembenahan Akreditasi Jurusan/Program Studi yang kebetulan habis masanya, antara lain Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum,  Ahwal Syakhsiyyah (Perdata/Peradilan Islam), Jurusan Mu'amalat (Ekonomi Islam), Jurusan Jinayah/Siyasah Syar'iyyah (Pidana/Tata Negara), dan Ilmu Hukum. Kebetulan keempat sampai kelima program di tahun 2011 ini sudah habis masa akreditasinya. Mudah-mudahan bisa dipertahankan dan selalu mendapat peringkat A, kecuali Ilmu Hukum. Hal ini karena ilmu hukum merupakan program yang baru pertama kali walaupun izin operasional dan pengakuan operasionalnya sudah dapat izin dari Kementerian Agama (Kemenag) dan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas).

Kemudian yang akan ditindaklanjuti adalah kebijakan FSH untuk menggelar seminar dosen dalam tiga bahasa yang sudah terlaksana tahun 2010 dan mudah-mudahan dapat terlaksana kembali tahun ini karena acara ini memang diadakan rutin setiap tahun. Bahkan diharapkan, mudah-mudahan paling tidak mengembalikan spirit kemampuan berbahasa seperti awal-awal IAIN Jakarta didirikan. Misalnya pada tahun 1970-an, FSH terbiasa menggunakan soal-soal berbahasa Arab. Walaupun jawabannnya bagi mahasiswa bebas memilih bahasa asing atau bahasa Indonesia, paling tidak dalam tingkatan i’dad kewajibannya supaya siap-siap dulu.

Kemudian kegiatan-kegiatan yang sifatnya internasional insya Allah akan terus ditindaklanjuti, begitu pula kerja sama dengan negara-negara lain. Dalam waktu dekat misalnya, -pada dasarnya kami sudah mulai sejak awal Januari 2011- kami menggelar sosialisasi semua prodi ke berbagai wilayah.  Kemudian pada 3 Februari 2011 FSH bekerja sama dengan Kedutaan Besar Pakistan di bidang persoalan-persoalan yang dihadapi sebagian bangsa di Indonesia terutama tentang Kashmir.

Selain itu, kami akan menggelar workshop bersama dengan berbagai perguruan tinggi Malaysia yang akan digelar di UIN  Jakarta, dan kali keduanya di Kuala Lumpur, Malaysia. Hal ini dalam rangka menindaklanjuti kerja sama program mahasiswa, maksud saya kerjasama antara UIN Jakarta, dalam hal ini FSH, terkait dengan program diploma yang ingin melanjutkan ke jenjang strata 1 (S1) di FSH. Kalau beberapa tahun yang lalu, ada empat perguruan tinggi yang mengikuti, yakni satu dari Turki dan tiga dari Malaysia.

Kemudian tradisi yang sudah dibina misalnya Syariah Event yang akan dilaksanakan kembali pada tahun ini tetapi ada sedikit pergeseran menuju kemajuan. Kalau tahun sebelumnya FSH hanya mengandalkan fakultas saja, sedangkan kali ingin lebih besar lagi pesertanya baik dari FSH sendiri maupun dari berbagai fakultas atau universitas lain.

Selain Syariah Event, kami juga akan mengadakan bulan syariah yang momentum terakhirnya menggelar International Islamic Conference. Tahun lalu kegitan itu sudah dilaksanakan dan syukur-syukur kalau tahun ini negara yang hadir lebih banyak dari tahun yang lalu. Kemudian yang juga menjadi perhatian kami tahun ini adalah peningkatan kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi, baik dari dalam maupun luar negeri, misalnya menggelar diskusi bersama. Kalau  tahun lalu dengan  UIN Bandung saja, tahun sekarang kami ingin mengadakan kerja sama lebih luas lagi, misalnya, dengan perguran tinggi se-Jawa dan se-Lampung. Itu semua masuk dalam program kerja bidang Dikjar FSH.

Apakah di FSH ada Program Double Degree?

Double Degree insya Allah akan kami mulai bulan Juli 2011. Hal ini sangat bergantung tidak hanya tingkat fakultas tetapi juga universitas. Bahkan kami juga akan membuka program S2.

Bagaimana dengan kerja sama Prodi Perbankan Syariah dan Universitas Indonesia?

Kerja sama dengan UI belum sampai pada Double Degree. Tapi kami akan menindaklanjuti kembali. Sekarang, kami akan lebih serius menggarap Double Degree di tingkat internal. Karena ada tiga bidang ilmu yang diamanahkan di FSH yang ketiga prodi ini mempunyai tiga gelar akademik, jadi sangat memungkinkan untuk dibukanya Double Degree internal tersebut.

Dalam hal ini kita mempunyai tiga bidang ilmu; ilmu syariah yang dikelola Ahwal Syakhshiyyah, Ekonomi Syari’ah yang dikelola oleh Muamalat, dan Ilmu Hukum yang dikelola oleh Prodi Ilmu Hukum.  Gelar akademiknya adalah Sarjana Syariah atau S.Sy, Sarjana Ekonomi Syariah atau S.E.Sy, dan Sarjana Hukum atau SH. Jadi, sangat memungkinkan dan jelas bidang keilmuannnya, kalau tidak jelas kami tidak mungkin melakukan. Kalau itu bukan kami menyerahkan persoalan  artinya itu sudah diatur oleh negara. Pada dasarnya kami telah merespon dan mereka kita ajak bicara.

Bagaimana dengan rencana pembukaan Program Pascasarjana di FSH?

Kita tidak bikin program pasca atau S2, akan tetapi hanya membuka program atau  bidang syariah dan ilmu hukum yang kali ini kami akan bekerjama dengan Islamic Finance “Keuangan Islam “  dan ini insya Allah juga kerja sama dengan McGilll Universty, Kanada.

Lantas, apa urgensi membuka program Hukum Bisnis Islam?

Begini, kalau linier ilmunya, jelas di sana ada Magister Ilmu Syariah, kemudian ada Magister Hukum Bisnis Islam. Sekarang ini pertumbuhan dan perkembangan ekonomi syariah bisa dikatakan luar biasa pesat, baik di Indonesia maupun di dunia. Itu hampir dapat dipastikan, sehingga pada akhirnya timbul berbagai kasus atau masalah di institusi-institusi keuangan syariah itu sendiri yang pemecahnya memerlukan pendekatan hukum Islam, dalam hal ini hukum bisnis Islam. Hal itu sebagai akibat dari adanya interaksi inter maupun antarlembaga keuangan syariah. Di Indonesia sangat kecil sekali yang memikirkan tentang keberadaan hukum bisnis tersebut, belum lagi misalnya -terlepas masih ada persoalan atau tidak- Peradilan Agama sesuai Undang-undang No. 3 Tahun 2006 telah diberikan kewenangan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan terkait dengan keungan syariah, sehingga bagi hakim-hakim di Kementerian Agama itu menjadi tantangan tersendiri untuk memiliki ilmu tersebut, di samping beberapa lembaga yang terkait dengan soal-soal keuangan syariah.

Kalau Magister Islamic Finance?

Magister Islamic Finance arahnya lebih kepada penguasaan di bidang keuangan Islam sebagai praktisi. Apakah dia menjadi bankir atau ahli asuransi yang seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan lembaga keuangan syariah. Ke depan saya menduga lebih baik lagi. Setidaknya pemahaman tentang  zakat, infaq, dan sedekah yang sudah puluhan tahun lamanya seakan-akan masih sangat tebal ibadahnya dibanding soal finance-nya. Sekarang ini paling tidak sudah berkembang pemikiran bahwa ibadah yang berdimensikan keuangan atau ekonomilah yang berbasiskan nilai-nilai peribadatan.

Masyarakat sudah menyadari benar tentang posisi keuangan Islam dalam bentuk zakat, infaq, dan shadaqoh. Apalagi dengan kehadiran wakaf  uang tunai yang belakangan, yang perlahan tapi pasti, sudah menempati posisi di hati masyarakat Indonesia walaupun persoalan regulasinya sampai sekarang masih ada perdebatan di kalangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) maupun pemerintah. Tetapi pada akhirnya bisa menyelesaikan masalah dan mengasilkan produk hukum yang dirasakan betul-betul adil, merata dan bernuansakan keberkahan yang menjadi ciri-ciri ekonomi syariah. Hal ini sudah diatur dalam amandemen Undang-undang No. 38 Tahun 1999 tentang Zakat.

Bagaimana dengan rencana pembukaan Program S2 yang Anda sebutkan tadi?

Sulitnya begini, selain menyangkut masalah substansi keilmuan juga kan menyangkut masalah-masalah teknik operasional. Tetapi yang pasti kami tengah instens mengadakan rapat-rapat dengan pihak rektorat untuk menyelesaikan Double Degree internal, baru kemudian diikuti dengan Program S2. Apakah program S2 ini memang sudah mutlak membuka dua-duanya, yakni Ilmu Syariah dan Islamic Finance? Ya ini kan bertahap, kita tidak ingin terburu-buru, apalagi sudah menjanjikan akan membuka program ini tapi ternyata kita belum siap, kan itu jadi kurang enak.

Bagaimana dengan Proposalnya ?

Proposal sudah disiapkan, bahkan kami sudah melakukan semiloka dengan mengundang pihak Kementerian Agama, dalam hal ini Direktorat Pendidikan Islam dan mengundang beberapa IAIN/UIN yang sudah mempunyai program S2, misalnya IAIN Padang dan UIN Malang. Dari UIN Jakarta sendiri antara lain Sekolah Pascasarjana, Rektorat serta Direktur Pengembangan Akademik.

Kalau Program S2 Ilmu Hukum sendiri?

Kalau Ilmu Hukum belum menghasilkan sarjana. Ya itu perlu disiapkan keilmuannya yang linier. Alumni kita sudah banyak yang yang Double Degree. Untuk yang Double Degree itu di satu sisi sarjana syariah di sisi lain sarjana hukum, ya itu nggak ada masalah. Bahkan yang tidak Double Degree pun saya kira tidak ada kesulitan.

Soal legitimasi atau izinnya?

Kalau izin prodi untuk Magister Ilmu Syariah dan Islamic Finance itu dari Kementerian Agama, kecuali Ilmu Hukum dari Kementerian Pendidikan Nasional.

Ada yang menarik tentang penguatan keilmuan, bagaimana bila dikaitkan dengan tradisi hukum Islam?

Dari segi isi masih tetap. Mengapa kita masih menyimpan buku-buku klasik karena di dalam buku tersebut masih tersimpan khazanah Hukum Islam yang harus digali lagi. Dari sisi praktisnya mungkin ada beberapa yang tidak relevan dengan sekarang akan tetapi dari segi subtansi masih tetap memiliki nilai-nilai yang masih diperlukan masa sekarang. Jadi bukan semata-mata nilai sejarah justu dibutuhkan substansinya itu yang diperuntukan.    Apalagi yang sastra, sebagian alumni yang nota bene-nya sebagian alumninya masih sangat layak untuk menjadi calon-calon di Peradilan Agama masih tetap menjadi salah satu syarat untuk menjadi Hakim di Kementerian Agama pengenalan kitab-kitab klasik. Itu artinya sudah sejalan dengan kebijakan negara atau pemerintah yang jelas di Mahkamah Agung masih mempertahankan studi naskah dalam konteks pemahaman. Lalu yang berikutnya, ya sejarahnya juga begitu justru kalau kita menggunkan teori analisis SWOT, kekuatan dan  ciri khas dari UIN  Jakarta dibandingkan perguruan tinggi lainnya ada di situ. Sayang sekali kalau kemampuan bahasa itu tidak dirawat atau jaga.

Seberapa persen penggunaan kitab-kitab klasik atau tradisional di FSH?

Itu relatif jika dibanding dengan masa sebelumnya. Karena ini jelas ilmu syariah ini sudah mulai berkurang dari pondok-podok pesantren. Tetapi kita jangan menyerah begitu saja. Kita harus optimis untuk mengadakan diskusi-diskusi atau halaqah-halaqah seperti yang terpampang dalam spanduk-spanduk. Setelah itu terus kita gencarkan kali ini kalau dulu fakultas yang menyelengarakan tapi sekarang ini mahasiswa yang aktif mengadakan diskusi-diskusi atau klub-klub belajar, misalnya ada “Saung Usul Fiqih”. Mudah-mudahan kesadaran mahasiswa semakin menguat. Terkait dengan itu pada tahun ini kami juga mempunyai program yaitu memperbanyak kamus bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia dalam rangka membantu sivitas akademika dalam kerangka memperkuat bahasa. Jadi untuk berapa persennya masih sulit diukur, tapi  kita bisa katakan sekitar empat puluh persen hingga enam puluh persen masih tetap ada.

Itu semua untuk prodi pada dasarnya sedangkan untuk ilmu hukum dan muamalat relatif tidak seketat tiga prodi yang lainnya. Misalnya dalam ujian komprehensif sama-sama menggunakan kitab kuning, akan tetapi kalau Prodi Muamalat menggunakan buku kontemporer.

Jika untuk memelihara tradisi mengapa tidak diperketat?

Kalau itu dijadikan satu-satunya ada kendala bahasa. Saya kira banyak mengalami kendala karena untuk perbankan saja yang memerlukan pengetahuan matematika yang memadai. Kalau itu semata-mata difokuskan kepada kitab gundulnya atau klasik maka kami akan kerepotan. Cuma alhamdulillah karena muamalat banyak peminatnya sehingga relatif yang terjaring kategorinya bagus-bagus. Di samping itu juga orientasinya berbeda-beda, kalau sekarang mungkin peminatnya di bawah kedokteran kalau dulu mungkin masih di atas, ya kira-kira prodi yang siap pakai.

Walaupun kriteria kelas internasional sebenarnya bisa dikatakan belum ditemukan rumusan secara baku walaupun ciri-cirinya sudah ada, misalnya menggunakan pengantar bahasa asing, Arab maupun Inggris. Kalau untuk Perbandingan Fiqih Khusus itu benar sudah terlaksana termasuk skripsi begitu juga dengan tahfizhnya yang lima sampai sepuluh juz itu jelas dilaksanakan tapi untuk di prodi lain mengalami penurunan. Nah, ini yang ingin kita tingkatkan kembali spiritnya. Minimal dosen kita imbau untuk mencoba  memulai seberapa dapat menggunakan bahasa, bila perlu kita campur aduk dalam arti sekenanya tetapi memperhatikan penggunaan bahasa asing tersebut.

Lantas, respon mahasiswa sendiri seperti apa?

Tadi sudah saya katakan kalau melihat antusias mahasiswa jelas ada indikator-indikator ke arah itu. Setidaknya, saya katakan lagi kalau dulu menggelar halaqoh-halaqoh itu sulit mencari mahasiswa, walaupun yang daftar banyak, namun pelaksanaanya mahasiswa hilang. Sekarang ini dengan adanya pelibatan tersebut di-organized oleh mahasiswa termasuk biaya administrasi di tangan mereka, jadi kita “fakultas” tidak ada beban. Sebagai imbasnya, mudah-mudahan kita memperbanyak kamus pada mereka. Kalau sekarang ini masih terbatas karena kita masih membutuhkan itu. Jadi kami dalam ujian komprehenshif itu betul–betul menguji keterampilan mereka, misalnya menyelusuri ayat al-Qur’an maupun Hadis, penerjemahan itu minimal mereka bisa membuka kamus. Itu semua kan salah satu upaya untuk meningkatkan kecerdasan atau keterampilan mereka.

Apakah di FSH ada studi khusus, misalnya, kitab kuning seperti di pesantren?

Di sini tidak ada, tapi kami sudah serahkan kepada dosen yang mengadakan halaqoh. Di tahun-tahun awal, saya sendiri sempat terjun langsung untuk mengetahui langsung menangani halaqoh-halaqoh itu. Meskipun jumlahnya belum banyak, tapi mahasiswa yang memiliki kemauan untuk itu tetap ada. Nah ini biasanya didominasi oleh mahasiswa-mahasiswa calon hakim, karena mereka tahu akan ada ujian seperti itu. Dan Alhamdulillah hasilnya mengembirakan. Sekarang Mahkamah Agung selalu meminta kami untuk merekomendasikan alumni yang memenuhi syarat. Saya sebagai Dekan yang diminta menandatangi langsung, sehingga saya tahu berapa alumni UIN Jakarta (FSH) yang masuk dan dapat dipastikan kemampuannya. Karena di luar, sekarang ini banyak mahasiswa Fakultas Hukum, yang dengan usaha sendiri ingin memperbanyak itu. Makanya sudah banyak mahasiswa FSH tidak kalah gigih, mereka itu secara umum di Fakultas Hukum tidak ada sama sekali mata kuliah itu. Walaupun dosen-dosen mensyaratkan untuk membuat makalah, itu mutlak harus ada kitab kitab yang berbahasa Arab sebagai referensi.

Beda dengan dulu, kalau zaman dulu ada kitab-kitab tertentu yang diwajibkan kepada mahasiswa, satu per satu disuruh baca, dan menjadi kajian mata kuliah. Sekarang ini susah karena mahasiswanya terlalu banyak dan dituntut tidak ada pemahaman yang sesuai dengan perkembangan karena tidak seimbang. Nah ini gejala-gejala malah dari STAIN/IAIN mengusulkan calon hakim tidak perlu lagi ada ujian-ujian seperti itu.

Kemauannya begitu, makanya kami berencana akan mengundang anggota Senat Fakultas meminta gagasan itu, bagaimana respon Senat sendiri? Karena kita ingin mengembalikan spesifikasi fakultas agama yang kekuatannya di bidang itu, tanpa harus mengurangi semangat kita untuk memahami dalam persoalan-persoalan kekinian. Cuma harus bekerja keras untuk mengembalikan tradisi seperti itu. Kalau semasa IAIN kan mahasiswa fokus dan input-nya juga jelas. Di FSH mana pun ada kurikulum, bahkan mata kuliah bahasa Arab saja kata pengantarnya memakai bahasa Indonesia. Jadi memang kurang menopang atau masih berat.

Apakah FSH menyediakan beasiswa khusus bagi lulusan pesantren?

Ya. Memang ada beasiswa khusus untuk lulusan pesantren yaitu BIDIK MISI. Sedangkan yang dari Kemenag itu sudah diatur dari universitas ke fakultas-fakultas. Jadi, kami hanya mengatur saja, kecuali dulu belum ada beasiswa dari Kemenag dan Kemendiknas, untuk PMH Khusus itu terpaksa kita beker jasama dengan satu atau dua lembaga perbankan syariah. Tapi jumlahnya sangat terbatas.

Seperti di Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta, itu ada beasiswa intern untuk menjaring lulusan pesantren. Bagaimana dengan FSH sendiri?

Kita juga punya itu. Misalnya bekerj asama dengan bank. Di fakultas sudah berjalan. Artinya walaupun tidak secara penuh, hampir dapat dipastikan dengan janji-janji tetapi faktanya mereka terbantu. Bahkan proses percepatan skripsi, misalnya, tidak hanya untuk PMH Khusus, untuk mahasiswa lainnya juga ada digelontorkan dana bantuan skripsi. Misalnya mahasiswa tidak punya uang untuk mengetik dan menggandakan skripsi. Seperti pada semester-semester sebelunya sudah ada sekitar 47 mahasiwa yang  kita bantu akselarasi penyelesaian skripsi mereka.

Apa solusi Anda terkait menurunnya peminat fakultas agama di UIN Jakarta?

Kalau kami sebenarnya begini, bukan berlindung pada ayat, tapi memang faktualnya begitu. Di al-Quran itu untuk orang–orang yang tafaqquh fiddin itu redaksinya dha’if. Dhaifah dalam kacamata ilmu sosiologi adalah unit masyarakat yang terkecil. Syariah itu sebenarnya ke situ arahnya. Tidak perlu menerima sebanyak mungkin. Kalau penyaringannya saya setuju sebanyak-banyaknya, hanya yang diterima tetap saja sedikit karena fasilitasnya terbatas. Maka contohnya Jurusan Muamalat yang sekian tahun menerima sampai tujuh kelas, kemudian menjadi lima kelas, dan untuk tahun 2011 hanya tiga kelas. Jadi yang saya maksud penyaringannya diperketat lewat bibit-bibit unggul. Dengan begitu mudah-mudahan yang terjaring betul-betul berkualitas, sehingga dalam istilah kami di FSH, “melahirkan seribu Sarjana Syariah” dalam dua atau tiga tahun. Itu akan lebih berbobot dibandingkan dengan lima ribu sarjana tetapi tidak berbobot. Orientasinya kualitas, bukan kuantitas. Lalu bagaimana dengan prodi yang seakan-akan tidak ada peminatnya?

Hemat saya tetap saja diadakan, karena apa? Karena ilmu itu tidak boleh ada yang mati. Bahwa itu peminatnya sedikit, ya tidak boleh dipaksa-paksakan. Ilmu ini  tidak boleh hilang karena tanggungjawab kita. Soal diterapkan atau tidak itu soal lain karena bukan keharusan setiap Fakultas Syariah. Tetapi Fakultas Syariah mempunyai kewajiban untuk merawat khazanah keilmuwan itu. Nah, di sinilah yang sering saya katakan tidak perlu SKS itu disamakan dengan prodi di fakultas lain. Yang jelas tingkat kebutuhannya tidak banyak.  Apalagi di negara kita ini kan masih dibutuhkan. Jadi tidak boleh hilang sama sekali, tetap saja keberadaan orang-orang seperti itu perlu ada. Jadi, kalau saya tidak ada semuanya diperbanyak kecuali kebutuhan pasar juga diperkuat.

Nah, satu contoh lagi, misalnya, ketika beberapa hari yang lalu alumni FSH kami undang, alhamdulillah mereka ada yang menjadi Wakil Gubernur Banten. Kasus ini kan belum banyak periode 2010-2014. Di sana ada pertanyaan dari audiens. Bapak ini menjadi Wagub apakah by design FSH atau karena nasib? Selain Pak Wagub yang menjawab, ya saya merasa terpanggil untuk menjawab juga. Sejauh yang saya tahu tidak ada satu pun perguruan tinggi yang mendesain untuk menjadi seorang Wagub. Kalaupun ada itu semacam IPDN atau STPDN untuk Pamong. Alhamdulillah Pak Wagub menjawab bahwa saya merasa menjadi Wagub bukan karena nasib semata-mata, akan tetapi juga by design fakultas yang tidak disengaja. Artinya ia menggunakan siasat syariah dalam berperpolitik, tidak mengunakan perpolitikan konvensional.

Jika dibandingkan dengan calon lain yang menggunakan modal–modal kapital keuangan, ia tak ada apa-apanya. Tapi modalnya adalah merawat kepercayaan atau trust aundiens. Justru melalui penerapan ilmu syariah ia tidak pernah menolak untuk menjadi khatib, penceramah, dan lama kelamaan ia dikenal di masyarakat. Jadi kalau bahasa agamanya fardlu kifayah-nya. Saya kira itu satu bukti. Bahkan sudah ada Kajari di Kendari Drs. AM. Nasruddin adalah alumni FSH.

Di samping itu, yang jadi Dirjen juga sudah ada. Kalau Dirjen di Kementerian Agama sudah biasa. Tapi ini Dirjen di Kementarian  Hukum dan HAM, itu  alumni FSH. Artinya sudah ada. Lalu ketua–ketua PTA sudah sangat banyak juga alumni FSH. Saya sering mengatakan, sebenarnya alumni FSH ini tidak terungkap karena sudah saking banyaknya. Berbeda dengan fakultas atau alumni perguruan tinggi lain yang belum banyak, itu wajar saja.  Jadi, kami suka mengemukakan alumni kami jelas berada di mana pun. Alumni syariah bila ditanya dengan dunia kerja tidak ada masalah. Jangan kami ditanya berapa yang tidak terserap, justru saya tanya kepada Anda berapa alumni FSH yang tidak diserap oleh pasar?

Bagaimana dengan mahasiswa asing yang studi di FSH, misalnya dari Malaysia, apakah ada kurikulum khusus?

Kurikulum tertentu memang tidak ada. Itulah sebabnya tadi kami katakan, umumnya tidak dari awal, ini kebijkan rektorat. Dulu mereka hanya melanjutkan. Sehingga banya kendala mereka di sini, terutama pengunaaan bahasa ilmiah akademik dengan bahasa Indonesianya. Ini  menjadi persoalan sendiri “mereka sedikit  mengeluh” akselarasi bahasa ini dengan menggunakan pendekatan-pendekatan pembinaan kebahasaan. Kalau sebelumnya diserahkan pada pusat bahasa tapi tidak berjalan sesuai harapan. Untuk itu kami mengunjungi asal perguruan tinggi  mereka. Kami katakana ini harus kita bina bersama-sama sejak dini. Tidak menutup kemungkinan mata kuliah tersebut diasuh oleh dosen dari sana, kalau tidak begitu kami mengalami kesulitan karena input yang diharapkan. Ya, kendala utamanya adalah bahasa, kita perlu ada program atau waktu belajar bahasa Indonesia. Makanya di Malaysia kan diwajibkan mengambil bahasa Melayu. Kalau kita melaksanakan sendiri tidak ada pembiyaannya, digabung dengan universitas tidak jelas kecenderungannya.

Selain dari Malaysia juga ada mahasiswa dari Somalia, dan Afrika. Kalau dari Malaysia itu bisa-bisa saja, karena ada organisasinya, tetapi ada juga oraganisasi mahasiswa luar negeri ini. Saya berharap dari universitas, khususnya Internasional Office (IO), dapat melakukan pembinaan berbahasa Indonesia bagi mahasiswa asing. []

 

LAST_UPDATED2
 
Saya Akan Siapkan Program Khusus PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Muhammad Nurdin   
Senin, 14 Maret 2011 18:54

 

Awal Maret lalu, Prof Dr Moh Matsna MA resmi dikukuhkan sebagai Pembantu Rektor Bidang Akademik periode 2010-2014 oleh Rektor Prof Dr Komaruddin Hidayat. Ia menggantikan Dr Jamhari yang habis masa jabatannya. Meski baru menjabat, ia telah menyiapkan program khusus baik bagi mahasiswa maupun dosen. Bagaimana arah pengembangan akademik di bawah kepemimpinannya ke depan? Untuk mengetahui selengkapnya, berikut petikan wawancara Muhammad Nurdin dari BERITA UIN Online dengan guru besar Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) itu di ruang kerjanya, Rabu (9/3).

Anda baru saja dikukuhkan sebagai Purek Bidang Akademik. Apa saja yang akan Anda lakukan untuk mengembangkan UIN Jakarta ke depan?

Rencana  saya ke depan tidak terlalu muluk-muluk (tinggi) sebab di UIN Jakarta sudah mempunyai suatu acuan atau pedoman yang baku tentang job description (tugas) Pembantu Rektor Bidang Akademik itu apa. Purek Bidang Akademik mempunyai tugas membantu rektor dalam perumusan di bidang pendidikan, pengajaran, dan pengabdian masyarakat. Selain itu, bidang akademik juga berfungsi merencanakan dan mengkoordinasikan yang intnya bagaimana mengembangkan dan menjalankan fungsi-fungsi pendidikan, pengajaran, dan penelitian, serta pengabdian masyarakat. Program-program tersebut sudah saya bagi ke dalam tiga bagian baik jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.

Selain itu, saya melihat ada sesuatu yang sangat urgent, hal ini dapat dilihat dari beberapa fakta di masyarakat. Pertama, masih banyak mahasiswa UIN Jakarta maupun lulusan perguruan tinggi lainnya yang belum lancar membaca al-Quran. Itu bukan berita atau isu masyarakat saja. Tapi sudah fakta yang terjadi di masyarakat. Ini yang menjadi perhatian kita bersama. Solusinya saya menargetkan dalam waktu satu semester itu mereka bisa (action) dengan kegiatan-kegiatan yang konkret yang bisa dirasakan mahasiswa terkait di bidang ini (membaca al-Quran). Oleh karena itu, untuk praktek ibadah dan qiroah jangan hanya mengandalkan prodi atau fakultas  tapi semua unsur. Jadi saya berkeinginan, pada semester pertama mereka dibina sehingga pada semester kedua (genap) mereka sudah benar dan lancar membaca al-Qur’an.

Kedua, kita sudah berangan-angan lama memproklamirkan diri untuk menjadi Word Class University. Walaupun tidak semua prodi harus mencapai Word Class University tapi kami berharap hanya prodi-prodi yang memang bisa diangkat menjadi mercusuar atau unggul. Tapi prodi-prodi yang lain (masih rendah kualitasnya) jangan sampai ketinggalan.

Lantas, syarat mutlak menjadi Word Class University itu apa?

Untuk menjadi Word Class University syarat mutlaknya adalah baik mahasiswa, dosen, maupun civitas akademika harus menguasai bahasa baik bahasa Inggris maupun Arab secara aktif, baik lisan maupun tulisan.  Aktif di sini tidak hanya pada tataran lisan maupun tulisan tapi harus  aktif membaca, memahami teks secara komprehenshif. Kalau kelas atau prodi-prodi umum bahasa Inggrisnya harus aktif atau sebaliknya kalau prodi-prodi agama bahasa Arabnya harus aktif. Selain mahasiswa harus mempunyai kemampun atau keahlian di bidang lainnya misalnya penguasaan Information Technology (IT), desain, dan lain-lain.

Hal ini saya sudah bicarakan kepada pihak pengelola pusat bahasa, sebab yang saya ketahui selama ini pusat bahasa hanya mengukur kemampuan calon mahasiswa atau mahasiswa saja. Di awal masuk UIN atau perkulihan diukur dan di akhir diukur lagi, lantas di mana pelayanannya? Kok hanya menjadi tempat ujian saja?  Pokoknya beberapa hari terakhir ini saya memanggil ketua pusat bahasa untuk merumuskan kurikulum bersama-sama dengan prodi yang lain dan menyusun bahan ajarnya. Sehingga fungsi pusat bahasa benar-benar terlihat dan jelas bagi mahasiswa.

Selain itu, saya juga menemui kepala perpustakaan menanyakan kelayakan dan jumlah buku yang ada di perpustakan. Saat ini,  jumlah buku yang ada sekitar 90 ribu eksemplar. Hal ini tidak sesuai dengan jumlah mahasiswa di UIN Jakarta yang jumlah mahasiswanya kurang lebih 20 ribu orang. Kalau dihitung-hitung setiap mahasiswa bisa membaca atau meminjam buku sekitar tiga sampai empat buku. Buku-buku tersebut tidak semuanya layak atau tidak sesuai dengan kebutuhan mahasiswa, jadi masih sangat jauh sekali kelayakan perpustakaan kita itu. Di samping itu, SDM-nya masih kurang baik pada tingkat penguasaan IT  mapun kinerjanya. Seharusnya perpustakaan harus dibantu dengan sistem online sehingga ketika kita butuh buku atau referensi tinggal mencari saja tanpa harus datang ke perpustakaan atau cari repot-repot referensi tersebut.

Bahkan, kalau kita lihat atau bandingkan di kampus lain  sistem pelayanannya sudah canggih. Misalnya kalau kita tanya kepada seorang pustakawan, pak atau bu saya perlu buku ini, ada dimana? maka pustakwan bisa menjawab letaknya di nomor sekian, lantai sekian atau rak buku sekian.  Lebih dari itu, dia tahu di halaman sekian. Oleh karena itu, kita selalu berusaha meningkatkan SDM pegawai perpustakaan.  Sehingga untuk menjadi Word Class University itu lebih mudah.

Menurut Anda seberapa jauh peran akademik bagi UIN sendiri?

Penting sekali, bahkan paling utama. Kalau yang lainya kan hanya pendukung akademik. Selain itu akademik itu menyangkut semua. Misalnya kemahasiswaan itu bersinergi dengan akademik, dikjar (pendidikan dan pengajaran) menyangkut akademik. Jadi, akdemik itu sangat urgent.

Saat ini,  sistem pelayan selalu berubah dari Simak, Simperti dan belum lama ini beralih ke sistem AIS,  bagaimana menurut Anda?

Ini juga menjadi masalah kita bersama lebih-lebih karyawan di PUSKOM. Sehingga yang menjadi korban adalah mahasiswa sulit untuk mengisi KRS atau mengakses lainya. Di samping itu, sitem blok-blok seperti ini agak sulit juga ketika kita mengerjakan sesuatu. Misalnya ada surat yang masuk ke kantor saya kemudian saya ingin berikan kembali surat tersebut masa saya harus cari orang dulu atau menelpon. Iya kalau saya telpon ada orangnya di kantor kalau tidak ada bagaimana? Seharusnya di seluruh ruangan Purek maupun Kepala Biro ada staf sehingga ketika kita butuh sesuatu ada yang membantu, baik untuk mengirim surat balasan atau ketika ada tamu.

Kalau gedung baru yang dibangun di belakang Auditorium fungsinya sebagai apa?

Rencananya akan dijadikan tempat pelayan-pelayan yang berkaitan dengan mahasiswa. Selama ini pelayan mahasiswa masih bercampur dengan gedung rektorat. Jadi yang di rektorat hanya pimpinan atau orang–orang (pejabat) yang berkepentingan dengan rektor, purek, dan kepala biro saja.

Bagaimana Anda menilai kompetensi dosen UIN Jakarta?

Kompetensi dosen belum merata. Ada yang sudah professional dan pandai dalam penguasaan IT ada yang belum. Hal ini disebabkan karena kebijakan fakultas masing-masing yang tidak merata, banyak prodi-prodi baru, dan mungkin banyak dosen-dosen yang sudah tua. Kami sudah berusaha meningkatkan mutu tersebut dengan cara sitem kontrak. Kami juga tidak serta-merta mengangkat menjadi pegawai sebab pengangkatan dosen atau pegawai itu langsung dari pusat, kita hanya bisa meningkatkan mutu dengan sistem kontrak atau honorer saja.

Apakah kegiatan akademik di fakultas sudah sejalan dengan universitas?

Ada yang sudah sejalan ada juga yang juga belum. Selama ini, saya belum melihat seberapa jauh kinerjanya sebab saya baru menjabat. Sebenarnya  secara teknis di fakultas itu hanya sebagai pelaksana sedangkan di rektorat (universitas) itu sebagai penggagas, pengawas atau controling saja. Tentang kurikulumnya bagaimana, pelaksanaannya seperti apa, itu semua kita sudah serahkan ke fakultas masing-masing.

Mungkin ada kebijakan khusus yang akan Anda terapkan?

Saya sudah mempersiapkan kebijakan atau program-program khusus baik untuk mahasiswa maupun dosen. Misalnya untuk mahasiswa antara lain, mengadakan program intensifikasi membaca al-Qur’an, program khusus tafaquh fiddin yang kita fokuskan ke asrama mahasiswa atau Ma’had Aly sebagai tempat mencetak ulama, program pertukaran antar mahasiswa khususnya ke luar negeri. Selain itu, saya juga telah menyusun program untuk para dosen antara lain, program pembinaan wawasan keislaman yang dikhususkan bagi dosen umum, misalnya diskusi bersama dengan Prof. Dr Qurasih Shihab, Kang Jalal, Dr Dadang Hawari. Sehingga dosen-dosen umum tidak hanya mampu atau berkompeten di bidang umum saja akan tetapi mereka mampu mengklaborasikan antara ilmu umum dan agama. Mungkin program ini kita lakukan setiap dua minggu sekali.

Belum lama ini, Anda ditugaskan di IAIN Cirebon, kalau boleh tahu sebagai apa?

Ya. Saya menjabat sebagai pejabat sementara pengganti rektor. Waktu itu jabatan rektor masih kosong atau belum ada yang menjabat. Selain itu, adanya peralihan dari STAIN ke IAIN, atau mungkin ada sedikit konflik atau masalah internal. Sehingga untuk menstabilkan itu semua akhirnya saya ditugakan di IAIN Cirebon. Dengan alasan saya orang Cirebon dan syarat rektor kan guru besar hingga akhirnya saya terpilih atau mendapat SK dari pusat.

Berapa lama? Lantas bagaimana dengan kegiatan mengajar Anda di UIN?

Kurang lebih satu tahun, kalau mendapat SK dari pusat sekitar tahun 2009 sedangkan menjabatnya sekitar tanggal 8 Januari 2010 sampai akhir tahun 2010. Walaupun ditugaskan di IAIN Cirebon aktifitas mengajar di UIN Jakarta tetap saya laksanakan. Mengajar itu kewajiban sebagai seorang dosen yang tidak boleh ditinggalkan. Jadi kalau saat ini, saya menjabat sebagai Purek di UIN Jakarta itu hanya sementara mungkin hanya beberapa tahun, setelah itu kembali lagi ke tugas utama sebagai dosen. Sesibuk apapun kalau tidak ada rapat penting atau dinas saya tetap mengajar meskiun saya sudah mempunyai beberapa asisten tetap saya datang ke kelas untuk mengajar. Menurut saya, mengajar itu merupakan kebahagian tersendiri  dan hobi yang sudah melekat dalam jati diri saya. []

 

 
Pengembangan AIS Perlu Dukungan Semua Pihak PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Abdullah Suntani   
Rabu, 09 Maret 2011 15:17

Kehadiran sistem informasi akademik di perguruan tinggi merupakan suatu kenicayaan, terlebih di era teknologi informasi dan informasi sekarang ini. Tahun 2006, UIN Jakarta secara efektif telah memiliki dan mengaplikasikan teknologi tersebut melalui sebuah sistem jaringan yang disebut Sistem Informasi Perguruan Tinggi atau Simperti. Namun, dalam perkembangannya, sistem itu belum berjalan optimal. Tahun 2009, Simperti diubah menjadi Sistem Informasi Akademik (Academic Information System/AIS). Sistem ini berada di bawah unit pelaksana teknis (UPT) Pusat Komputer dan Sistem Informasi (PKSI). Untuk mengetahui bagaimana sistem jaringan tersebut, berikut wawancara Abdullah Suntani dari BERITA UIN Online dengan Kepala PKSI Dr Husni Teja Sukmana. Wawancara dilakukan di ruang kerjanya di Gedung Fakultas Syariah dan Hukum, Selasa (24/2). Petikannya:

Simperti telah berubah menjadi AIS. Bisa Anda jelaskan apa itu AIS dan apa yang melatarbelakangi perubahan tersebut?

Terkait dengan kebijakan dibentuknya PKSI, pimpinan UIN Jakarta memiliki niat untuk memperbaiki sistem. Akhirnya dibentuklah lembaga tersebut yang salah satu produknya adalah AIS. Karena akademik merupakan core universitas, maka yang harus kita benahi pertama adalah sistem informasi akademiknya. Secara struktural lembaga tersebut bertanggungjawab langsung kepada rector. Jadi, itu merupakan semangat memotong jalur birokrasi dalam pengembangan sistem. Selama ini kita mempunyai beberapa sitem akademik, seperti Simak, Simpeg dan Simkeu. Namun, dalam pelayanan administrasi, khususnya di bidang akademik, masih banyak hambatan dan kelambanan. Hal ini karena sistem informasi yang ada belum optimal sehingga masih banyak keluhan dari mahasiswa.

Latarbelakang dan tujuannya apa?

Langkah pertama kami menganalisa Simperti dan Simak, kemudian kami mengambil kesimpulan bahwa kita harus membuat sistem baru. Pertama kali kami terjun langsung mewawancarai beberapa fakultas, terutama Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, karena fakultas tersebut telah menggunakan dua system, Simperti dan Simak. Akhirnya kami mengambil kesimpulan bahwa, pertama, kita harus membangun sistem sendiri, tidak bergantung kepada orang lain. Selama ini sistem yang kita miliki masih mengandalkan orang lain, ini yang menjadi kendala. Kami tidak menganggap program itu jelek, program itu bagus tetapi persoalannya kita tidak punya latar belakang pembangunannya. Ibaratnya, jika Anda ingin membangun rumah dan akan mengembangkannya tetapi tidak tahu besi apa di dalammnya, bagaimana Anda akan mengembangkan atau mau menaikkan rumah itu lantai paling atas. Itulah yang menyulitkan. Kita masih bergantung dengan pengembang dari luar sehingga kalau kita mendapat respon dan trouble akan lama, sementara kita menghadapi mahasiswa yang rata-rata menginginkan pelayanan yang cepat, seperti mengisi KRS atau melihat nilai hasil belajar.

Kedua, kita harus memperdayakan para alumni karena mereka tahu, masalah nilai misalnya. Mereka juga sama mengalami persoalan itu, belum lagi jika harus dipimpong dari fakultas ke akademik pusat dan sebaliknya. Akhhirnya kami ‘menantang’ mereka bahwa kita harus sama-sama memperbaiki sistem di UIN Jakarta agar mahassiwa tidak merasakan dipimpong seperti itu. Nah, dari istulah kemudian dibentuk AIS dengan tujuan untuk lebih memenuhi kebutuhan dan pengembangan sistem akademik yang lebih bagus.

Apa kelebihan dari sistem AIS ini?

Kelebihannya banyakh, terutama karena kita develop sendiri, kita tahu persis bagaimana AIS di dalamnya, kita ingin memperdayakan alumni-alumni UIN Jakarta terutama dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) agar ada kontinyuitas dari sistem ini. Secara pribadi saya tidak ingin ada semangat yang sekadar semangat proyek. Jika selesai projeknya, selesailah pekerjaan itu.

Sekarang memang berbeda dan lebih kompleks dibandingkan Simperpti tetapi lebih melengkapi kekuranganya. Di dalam AIS juga sudah banyak modul-modul yang ditambahkan seperti modul e-learning dan kemudian yang baru ini ada sistem host to host, yakni melakukan segala transaksi secara real time antara kita dengan bank. Maksudnya jika kita melakukan transaksi di bank seperti pembayaran kuliah, itu harus seperti bayar rekening listrik, atau seperti membayar telepon. Jadi, pada saat di bank selesai tidak perlu lagi validasi ke bagian keuangan tapi bisa langsung mengisi Kartu Rencana Studi (KRS) karena sudah otomatis.

Di samping itu, AIS sendiri sifatnya seperti awal terbentuknya PKSI bahwa ini sebagai center live operational. Kami yang mengurusi server tetapi aplikas-aplikasinya buat seluruh fakultas, akademik, dan universitas sehingga semuanya saling mengoperasikan masing-masing. Nah, kami menjaga server dan sistemnya biar tetap berjalan tapi yang operasi seluruh fakultas dan tingkat akademik termasuk para dosen yang meng-input nilai.

Ini adalah awal kita menggunakan AIS. Kami menyadari bahwa tidak semua orang suka ngoprek atau coba-coba termasuk mahasiswa. Memang sebagian kalangan masih mengangap komplek dan salah satu jalan pintasnya mereka datang ke PKSI, tapi kami tetap memiliki semangat untuk terus melayani. Motto kami adalah SMILE (Smart, Inovative, Learning, Educatif). Tujuannya kami ingin pada saat seluruh user masuk ke PKSI dengan raut muka cemberut, masam dan sebagainya tapi setelah keluar mereka tersenyum. Di sini kami belajar tapi kami juga ingin mengajari bahwa kita butuh sistem yang bagus untuk kemajuan UIN Jakarta. Sebenarnya kompleksitas ini untuk memudahkan, memang agak krodit karena ada fase dari Simperti ke AIS. Tetapi ke depan kami yakin bahwa keluhan dan sebagainya akan berkurang bahkan tidak ada sama sekali.

Secara pribadi, apa yang Anda rasakan setelah adanya sistem baru ini?

Secara pribadi saya senang, karena sekarang kita memiliki pengembang sendiri. Bahkan sekarang saya sering dapat beberapa sms dan email dari mahasiswa mengucapkan terimakasih karena sudah dapat melihat nilainya dengan cepat. Begitu pula para orang tua, mereka bisa langsung lihat nilainya.

Bagaimana cara mengakses AIS, dan apakah Simperti masih digunakan?

Mengaksesnya sangat sederhana, cukup dengan mengetik http://ais.uinjkt.ac.id akan langsung terhubung dan sudah terpisah antara mahasiswa, dosen, keuangan, akademik, admin dan sebagainya. Untuk informasi selengkapnya bisa klik http://puskom.uinjkt,ac.id.

Lantas, apakah Simperti masih digunakan? Perlu diketahui, mulai semester genap ini seluruh KRS mengunakan AIS baik untuk program reguler maupun non reguler, bahkan beberapa mahasiswa S2 sudah menggunakan sistem ini. Untuk Simperti kita masih ada kendala bagaimana migrasi data simperti ke AIS karena kompleksitasnya jauh antara Simperti dan AIS. Namun, kami sudah mulai mencoba dan akan terus mencoba untuk melakukan migrasi data tersebut. Kesimpulannya memang agak impossile walaupun mungkin kami memindahkan data tersebut. Akhirnya kami menggunakan format migrasi dengan memotong seluruh akses data Simperti sekarang. Nilai-nilai yang lama masih ada di Simperti sedangkan AIS hanya untuk nilai-nilai yang baru dan masih ada waktu untuk migrasi tersebut. Kita berdoa sama-sama semoga migrasi ini berhasil dan kami akan terus mencobanya untuk migrasi dan mem-backup data-datanya.

Sebelumnya, AIS kami ekseklusifkan untuk angkatan 2010 tetapi setelah kami pertimbangkan dengan berbagai pihak, terutama Pembantu Rektor Bidang Akademik, akhirnya seluruh dapat menggunakan AIS karena terlalu lama jika kita memutus perangkatan dan kami juga merasa kesulitan jika harus memelihara tiga sistem secara bersamaan dengan tujuan akademik tapi formatnya berbeda-beda. Simak dan Simperti pun hanya untuk nilai yang lama dan kami mulai fokus untuk mengembangkan sistem ini.

Apa saja keunggulan AIS dari segi teknologi?

Menurut saya, UIN Jakarta memiliki banyak keunggulan, terutama layanan terbaru AIS ini, yakni host to host. Tidak semua universitas menggunakan layanan tersebut yang real time antara bank dengan UIN Jakarta. Jadi, UIN Jakarta dengan bank seperti melakukan transaksi untuk pembayaran listrik dan pembayaran telepon. Tahun 2010 pun kita sudah banyak membuat aplikasi seperti Sistem Informasi Riset (Siri) dan Katalog Perpustakaan yang mengacu pada perpustakaan fakultas bekerja sama dengan perpustakaan pusat. Jadi, informasi mengenai buku perpustakaan ada pada katalog tersebut. Jika misalnya mahasiswa dari fakultas lain ingin mengetahui salah satu buku ada di mana, tidak perlu lagi menjelajahi seluruh fakultas.

Sekali lagi, kami menekankan bahwa pengembangan sistem bukan untuk unuser tetapi terkadang bicaranya salah kaprah. Akibatnya, PKSI seperti rumah sakit. Misalnya, jika sudah tidak bisa ditangani fakultas tanya ke PKSI. Bagian akademik dan bagian keuangan juga begitu. Kita sudah punya tugas masing-masing, kami membantu dan menangani server serta kami juga memantaunya. Sementara penambahan modul adalah pekerjaan kami. Akademik melakukan sendiri bagaimana men-setup bobot penilaian, keuangan dan lain sebagainya. Saya pikir lebih dari itu keunggulannya, belum lagi di setiap gedung sudah bebas akses internet sesuai dengan Internet Protocol-nya (IP). Namun, yang pasti kita sudah melakukan pengembangan dan perubahan sistem agar bisa bersaing sebagai universitas bertaraf internasional. Meski demikian kami akan melakukan survey dan meminta masukan bagaimana cara mengembangkan PKSI dan seperti apa bagusnya karena lembaga dan sistem ini milik kita bersama.

Jika ada dosen yang gaptek seperti apa penanganannya?

Nah, sebenarnya semua itu perlu dukungan dari pimpinan fakultas, jurusan, dan universitas bahwa jika pimpinan fakultas punya ide sangat bagus tetapi tidak bisa melakukannya, sama saja ide tersebut tidak akan terwujud. Untuk menghindari hal itu, kami sedang melakukan langkah-langkah, salah satunya dengan sosialiasasi. Kami sudah mendatangi fakultas lebih dari tiga kali, kecuali Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan enam hingga tujuh kali karena presentasinya tidak hanya ke dosen tetapi ke seluruh mahasiswa per angkatan, mereka memfasilitasi dan kami presentasi.

Selanjutnya, kebijakan dekan itu penting karena nilai. Misalnya, dosen yang tidak mengerti teknologi harus dipaksa, ya kita orang pendidikan kok. Meskipun sudah profesor, ia tetap sebagai profesor yang memiliki sense pendidikan dan harus mau belajar serta mengikuti aturan. Oke di sini sebagai dosen tetapi harus belajar dan mengajar. Kalau dosen tidak mau belajar lagi ilmunya tidak akan bertambah dan mengajar pun terkesan monoton sementara ilmu terus berkembang. Meskipun sudah mengajar tetap harus terus belajar, membaca makalah-makalah, mencari info-info baru dan peka terhadap perubahan sehingga tidak tertinggal. Jadi dekan harus menekankan bahwa dosen yang tidak mengerti meskipun bergelar profesor harus mengikuti aturan. Seperti sekarang misalnya, ada batas waktu untuk penilaian, jika sudah terlambat tidak bisa langsung ke PKSI dan kami pun tidak akan buka, tetapi ia harus menghubungi dekan, tinggal bagaimana ia merasa malu atau tidak seorang profesor meminta dekan untuk membukanya.

Selain itu, kita akan mencari “musuh alami”, yaitu dosen dengan mahasiswa dan seluruh yang berkaitan dengan nilai itu bergantung dosen. Dosen memiliki kuasa untuk meng-input nilai tetapi banyak yang protes karena nilainya tidak ada dan mereka harus cepat-cepat menghubungi dosen atas nilainya yang tidak ada tersebut. Kami akui bahwa sosialisasi itu tidak semua dosen mengikuti, entah itu cuek atau ada alasan lain tetapi harus menanggung konsekuensinya sendiri. Dengan cara seperti itu, kami berharap dosen juga bisa memahami bahwa kita ingin mengubah tradisi ini agar semuanya berjalan. Parahnya, ada dosen yang masih meng-input dengan cara lama. Ada nilai yang sampai 640 hingga 720 sementara di sistem hanya tertera 0-100, sehingga ada beberapa mahasiswa yang protes karena saat diumumkan di AIS nilai tertulis C. Oleh karena itu, dosen harus mengerti dan membuka AIS, jangan menghitung dengan cara manual lalu menyerahkan ke bagian akademik atau ada dosen yang menyuruh orang lain. Terkait penilaian, dosen bertanggung jawab dan tidak bisa berkilah atau beralasan belum memasukkan ke bagian akademik karena sekarang sudah menjadi tugasnya.

Apa harapan Anda ke depan agar sistem AIS berjalan lancar?

Mulai sekarang, semuanya harus menggunakan AIS dan beri kami masukan yang positif. Selain itu, kami juga membutuhkan bantuan serta dukungan dari seluruh pihak, baik universitas, fakultas, maupun akademik untuk menjadikan sistem ini lebih bagus. Mahasiswa harus lebih peka terhadap perubahan sistem ini, kami akan terus memberikan informasi baik yang ditempel maupun melalui website, terlebih sistem ini masih baru. Namun, terkadang masih ada mahasiswa yang miss informasi. Misalnya, saat pembayaran masih menggunakan rekening. Sedangkan sekarang kita sudah mengunakan host to host dan otomatis sekali transaksi kita sudah bisa mengisi KRS. Nah, kalau seperti itu, harus validasi manual ke bagian keuangan tetapi sistemnya sudah kami sediakan dan sebenarnya itu cara lama, kita sudah real time kok.

Kita harus mengangkat sistem ini bersama-sama, kita harus siap capek dan sama-sama mencari solusi demi perkembangan ini. Bagi mahasiswa, jika mata kuliah belum di-input tolong ke jurusan karena jurusan memiliki kuasa untuk meng-input. PKSI menyediakan modul dan caranya sudah ada, jika Tim PKSI meng-input dengan tenaga 12 orang dan yang dilayani 25.000 orang itu tidak mungkin. Kami sebagai center live operation the center live and service. Jadi, jurusanlah yang melakukannya.[]

 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
FacebookTwitter

BlackBerry Ota, BlackBerry Offline, BlackBerry AppWorld, BlackBerry Tools, BlackBerry Repository Apps, Font CJK, Font Cod

BlackBerry Ota, BlackBerry Offline, BlackBerry AppWorld, BlackBerry Tools, BlackBerry Repository Apps, Font CJK, Font Cod