Bahasa VersionEnglish VersionArabic Version
  • Decrease font size
  • Reset font size to default
  • Increase font size
Please wait while JT SlideShow is loading images...
Info SPMB Mandiri 2014Info Pascasarjana 2013-2014

AGENDA

Home Category Blog
Example of Category Blog layout (FAQs/General category)
Dr Abd Wahid Hasyim: Mewujudkan FAH sebagai Pusat Keilmuan dan Pemberdayaan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Abdullah Suntani   
Sabtu, 05 Juni 2010 20:17

Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) kini dipimpin dekan baru, Dr Abd Wahid Hasyim namanya. Ia  terpilih sebagai dekan periode 2010-2014 dalam Rapat Senat FAH menggantikan Dr Abdul Chaer yang habis masa baktinya. Wahid Hasyim berjanji akan menjadikan FAH sebagai pusat keilmuan (center of knowledge) dan pusat pemberdayaan (center of empowerment) yang tetap menjaga nilai-nilai religius. Bagaimana orientasi dan program FAH selengkapnya ke depan? Berikut perbincangan Abdullah Suntani dari UIN Online dengan Wahid Hasyim di ruang kerjanya, Gedung FAH, Selasa (1/6) lalu.

 

Apa visi dan misi FAH di bawah kepemimpinan Anda?

Visi FAH tentu agar unggul dalam bidang sastra, khususnya pada Bahasa dan Sastra Arab (BSA), Bahasa dan Sastra Inggris (BSI), dan juga pada jurusan-jurusan lainnya seperti Sejarah Peradaban Islam (SPI), Ilmu Perpustakaan (IP), dan Tarjamah. Semua program tersebut dibungkus dengan melalui keislaman dan keindonesiaan. Hal tersebut agar selaras dengan visi dan misi UIN Jakarta. Adapun misinya sekarang, karena ini Fakultas Adab dalam arti ‘sastra’ bukan ‘budi pekerti’, maka untuk mencapainya BSA dan BSI harus menjadi core fakultas terhadap jurusan-jurusan yang lainnya.

Langkah-langkah apa saja yang akan Anda lakukan untuk mewujudkan visi dan misi tersebut?

Nah, untuk mencapai itu, kegiatan belajar mengajar  dua bahasa menjadi media pengajaran mahasiswa yang di luar (bahasa) juga, agar  bisa memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam bahasa. Karena bagaimanapun jurusan bahasa tersebut menjadi core FAH yang sudah lama memiliki akreditas A.

Selain itu, setiap dosen mempunyai kesempatan untuk melakukan penelitian secara individu dan kolektif, tetapi ketika memberikan laporan tidak seragan. Misalnya kalau alumni Universitas Negeri Jakarta (UNJ) akan menggunakan pola UNJ, jika alumni UIN akan menggunakan pola UIN dan sebagainya. Oleh karena itu, kami akan membuat buku pedoman laporan hasil penelitian agar seragam dan berstandar.

Selanjutnya, agar sumber daya pengajar dapat meningkat, kami mempersilahkan dosen untuk kuliah program doktor, baik di UIN sendiri, UNJ, UI, dan lain sebagainya. Memberikan kesempatan untuk menjadi asesor Badan Akreditasi Nasional - Perguruan Tinggi (BAN PT). Saat ini, ada 3 orang dari FAH yang menjadi asesor, Prof Dr Badri Yatim (alm), Prof Dr Nabila Lubis, dan Dr Sudarnoto Abd Hakim. Kita akan tawarkan dan kita kirimkan melalui FAH dengan prosedur yang diatur dan mengikuti tes potensi akademik yang diadakan BAN PT.

Selain itu apa lagi?

Kita akan jemput bola, artinya mengikat kerja sama dengan masjid-masjid untuk menawarkan program pembinaan Bahasa Arab dan Inggris untuk siswa SMP dan SMA. Seperti bimbingan belajar (Bimbel) dan privat. Dengan demikian, orang tua siswa tidak akan merasa cemas karena lokasi yang dekat dan di tempat peribadatan. Tenaga pengajarnya akan kita kirim dari mahasiswa semester 7 dan 8, dengan saling membagi keuntungan antara masjid, mahasiswa dan juga fakultas.

Selain masjid-masjid, kita juga akan menjalin kerjasama dengan sekolah-sekolah untuk Jurusan Ilmu Perpustakaan. Dalam pengamatan saya, sekolah-sekolah yang ada sekarang, mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) masih banyak yang belum memiliki perpustakaan. Bahkan tidak ada.

Dengan tujuan tersebut diharapkan dapat memberi kesejahteraan dan kemudahan mahasiswa yang menempuh studi akhir, sebagai bekal pengabdiannya. Setelah mahasiswa mendapat pengetahuan teori-teori dalam perkuliahan, maka diharuskan untuk merealisasikan dalam bentuk praktek langsung (magang).

Terkait dengan Akreditas, seperti apa?

Alhamdulillah akreditas FAH sangat baik dengan standar akreditas Badan Akreditasi Nasional - Perguruan Tinggi (BAN PT) yang masa berlakunya sejak 2006 hingga 2011. Untuk akreditasi, hanya pada jurusan Ilmu Perpustakaan yang masih terakreditasnya B, tetapi untuk jurusan yang lain BSA, BSI, BSA, dan SPI itu sudah terakreditas A. Kepada jurusan yang akreditasnya B agar tetap mengejar dan yang akreditasnya A agar tetap bertahan. Untuk meningkatkan dan mempertahankan itu ada kendala, dan urusannya banyak. Baik dari segi sumber daya manusia, sarana-prasarana, dan juga pada jumlah mahasiswa.

Yang menjadi fokus, jurusan tarjamah tidak ada masalah, dosennya cukup banyak, sekitar satu berbanding sepuluh (satu dosen untuk sepuluh mahasiswa), BSA juga tidak ada kendala. Namun untuk BSI dan IP ada kendala, dosennya belum cukup secara proporsional untuk membimbing mahasiswa yang cukup banyak. Oleh karena itu kita mengambil tenaga kontrak dari luar yang berkompeten.

Akreditasi juga bisa mengenai Evaluasi Program Studi Berbasis Evaluasi Diri (EPSBED), Epsbednya bagus akan lebih mudah. Dengan alat Bantu ini tidak ada dosen dan mahasiswa liar, karena semua data yang masuk dapat dideteksi. Misalnya ada sejumlah 300 mahasiswa, itu harus terdaftar semuanya secara menyeluruh dan terperinci. Dengan alat ini, semua data pribadi mahasiswa, dosen, dan juga termasuk pada akreditas jurusan dapat terlihat.  Jika datang jamaah (data) baru, nilai itu yang akan dilaporkan.

Langkah akreditasi juga termasuk dalam lingkup sarana prasarana. Gedung Akademik sudah ok dan bagus. Media pembelajarannya masih harus banyak penyempurnaan, karena masih ada penyampaian materi kuliah menggunakan metode ceramah. Hal ini terkesan klasik dan kurang modern. Untuk menunjang hal itu, harus ada alat-alat modern seperti, pengadaan infokus, LCD, dan Laboratorium. Untuk hal itu sudah ada, tapi masih akan disempurnakan lagi.

Saya sebagai dekan baru harus melanjutkan dekan yang lama, yang lama sudah baik tinggal meningkatkan saja, ya kalau kata orang nahdiyin bahasanya “Memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik,”.

Apakah ada perubahan kurikulum?

Untuk saat ini belum ada revisi kurikulum. Revisi kurikulum idealnya 4, 5 tahun, dan 2 tahun tidak bisa dilakukan, karena hanya akan menyulitkan proses administrasi nilai. Kalupun itu ada, revisi kurikulum yang di keluarkan oleh Fakultas Adab sendiri.

Apakah FAH akan membuka program Magister dan Doktor?

Sebenarnya ada niat yang sangat besar untuk membuka program di Pascasarjana, karena hal itu sudah menjadi amanat rektor. Jurusan-jurusan yang dengan terakreditas A diharapkan membuat Magister seperti,  jurusan SPI, BSA, dan BSI. Untuk jurusan BSA dan SPI itu ada peluang besar, karena memiliki banyak guru besar, jurusan SPI ada 13 dan  BSA ada 16 guru besar, dan jurusan yang lainnya masih banyak keterbatasan. Namun untuk mencapai hal itu, masih banyak hal yang harus dilakukan secara kelembagaan maupun dalam peningkatan sumber daya manusia.

Bagaimana dengan jumlah mahasiswanya?

Sewaktu saya kuliah tahun 1975 itu hanya ada 20-40 mahasiswa. Sekarang sudah menaik secara signifikan dengan jumlah yang amat banyak 1.300-1.500 orang. Bahkan sekarang, kuota untuk mahasiswa baru FAH itu berjumlah, untuk jalur Penelusuran Minat Dan Kemampuan (PMDK) 50 orang, jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) Mandiri 450, jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN) 65, dan jalur Ujian Masuk Bersama (UMB) 65 orang. Dengan demikian, kita akan terus mengatur dengan ekstra teliti mengenai kegiatan belajarnya, dan terkhusus pada ibadahnya. Saya terfikir agar ketika memasuki jam 12, tepat adzan dzuhur masuk perkuliahan harus berhenti (istirahat) untuk melaksanakan sholat berjamaah terlebih dahulu. Hal tersebut akan saya komunikasikan kembali teman-teman setelah pelantikan Pudek, Kamis (3/6).

Dengan demikian semua yang ada di lingkungan FAH akan ada keberkahan, sehingga ibadahnya baik, belajarnya baik, pengelolaanya baik, karyawannya baik, nanti akan ada kemajuan dan keberkahan dari langit. Amin.

Apa harapan Anda ke depan?

Harapan saya adalah agar pimpinan dan staf memiliki semangat yang baik, saling bekerjasama, saling mengisi, menjalin silaturrahmi, dan harmonis. Selain itu juga saya berharap, agar ke depan pimpinan, dekanat, dan jurusan berada dalam satu lantai agar dapat terkontrol. Pimpinan jangan nongkrong saja, harus membuka dan menjalin kerjasama agar bisa dikenal orang, dibicarakan orang, dan menyambung silaturrahmi. Dengan demikian hubungan internal dan eksternalnya baik, dalam bahasa al-Qur’an-nya kan “Man ahabba yufsa solahu fi rizqihi, wa yufsallahu fi asharihi, wal yasir rohimahu,” sehingga realisasi integrasi keilmuan, keislaman dan keindonesiaan bisa terlaksana demi mewujudkan FAH yang unggul sebagai pusat keilmuan dan pemberdayaan. Namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai religius. [] Abdullah Suntani

 
Prof. Yunan Yusuf: Perubahan Gelar Perlu Disosialisasikan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Apristia Krisna Dewi   
Kamis, 27 Mei 2010 19:40

Pemerintah  telah menetapkan Peraturan Menteri Agama (Permenag) RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Penetapan Pembidangan Ilmu dan Gelar Akademik di Lingkungan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) se-Indonesia. Peraturan tersebut menuai kontroversi terutama di kalangan mahasiswa. Sebab peraturan tersebut dianggap merugikan karena gelar yang telah ditetapkan dikhawatirkan tidak mampu bersaing ketika alumni memasuki dunia kerja. Untuk membahas hal tersebut Apristia Krisna Dewi dari UIN Online berbincang dengan Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan  Guru Besar Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDKOM),  Prof Dr Yunan Yusuf, di Gedung Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ) Jakarta, Rabu (26/5). Berikut petikannya.

Bagaimana komentar Anda terhadap kontroversi Permenag RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang pembidangan ilmu dan gelar akademik?
Menurut saya mahasiswa menolak Peraturan tersebut karena perubahan gelar dianggap menimbulkan kerugian bagi para alumni PTAI. Gelar yang lama dianggap masih diakrabi oleh masyarakat dan dunia kerja. Dengan gelar baru, mereka harus memikul gelar yang dianggap memberikan efek beban psiklogis karena mereka menganggap gelar tersebut kurang  familiar dan sulit bersaing dengan alumni perguruan tinggi lainnya. Apalagi saat memasuiki dunia pekerjaan, mereka beranggapan bahwa dengan gelar yang baru akan sulit mnendapatkan pekerjaan karena yang telah disebutkan tadi masyarakat dan dunia kerja masih mengakarabi gelar yang lama. Sehingga dianggap merugikan bagi alumni PTAI. Apalagi saat ini tampaknya peraturan itu kurang disosialisasikan.

Apa penilaian Anda?
Menurut saya, gelar tersebut sebenarnya tergantung mahasiswa sendiri yang menilai, bahwa gelar tersebut menimbulkan kekhawatiran dan beban psikologis bagi mereka. Pada gelar yang lama saja masih terlihat banyaknya pengangguran. Apalagi gelar yang baru. Sebenarnya gelar tidak terlalu berpengaruh meskipun mahasiswa itu sendiri beranggapan bahwa gelar sangat berpengaruh, terutama pada kesempatan dunia kerja.  Tetapi, kompetisilah yang  sangat berpengaruh ketika memasuki dunia kerja, bukan gelar yang disandang. Banyaknya mahasiswa yang menganggur itu bukan hanya karena gelar, tetapi juga kurang kompetitif.

Saya juga melihat sepertinya gelar yang baru ini kurang disosialisasikan. Di Fakultas Dakwah dan Komunikasi misalnya yang jurusannya Komunikasi Penyiaran Islam, Manajemen Dakwah,yang sebelumnya para alumninya bergelar Sarjana Sosial Islam (S. Sos.I) dan sekarang gelar barunya Sarjana Komunikasi Islam (S. Kom.I) itu sudah tepat sasaran karena bidang keilmuannyaa berada di Dakwah dan Komunikasi.

Menurut Anda, apakah gelar-gelar tadi cocok sesuai bidang keilmuan dan keahlian penyandangnya?
Perubahan gelar yang ditetapkan Permenag No. 36 Tahun 2009 sebenarnya sudah tepat dan bedasarkan bidang keilmuan itu sendiri. Bidang keilmuan Ushuluddin misalnya, yang biasanya berdiri bernama Fakultas Ushuluddin yang salah satu gelar sebelumnya S. Th.I untuk jurusan Tafsir Hadits berubah menjadi Sarjana Ushuludin (S.Ud), Di Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDKOM), misalnya, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, Manajemen Dakwah, dan lainnya yang sebelumnya para alumninya bergelar Sarjana Sosial Islam (S. Sos.I), sekarang gelar barunya Sarjana Komunikasi Islam (S. Kom.I), itu sudah tepat sasaran karena bidang keilmuannyaa berada di Dakwah dan Komunikasi. Kalau mahasiswa  terutama Fakultas Ushuluddin dan FIDKOM  keberatan, menurut saya perlu dijelaskan dan disosialisasikan  bahwa gelar yang baru sudah tepat sesuai bidang keilmuannya.

Bagaimana mengenai Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) melihat penggunaan gelar akademik di Indonesia?
Badan Standar Nasional Pendidikan sebagai lembaga yang memiliki keteremik di Indonesia.TAI. i dalam menanggapai peraturan tersebut.an Komunikasi. i PTAI.eilmuannya.tidak berpatokan lakaitan dengan perubahan gelar akademik sebenarnya sudah melaksanakan tugasnya sesuai dengan amanat undang-undang yang berlaku. Pada kasus kontroversi perubahan gelar akademik ini, BSNP tidak bertanggung jawab. Tugas BSNP hanya memberikan saran, pertimbangan, pengawasan, dan penilaian. Tanggungjawab berada di tangan pemerintah selaku yang menetapkaan peraturan itu sendiri yaitu Menteri Agama. Sejalan ini BSNP sudah melakukan tugasnya sudah baik.

Lantas apa saran Anda?
Saran saya gelar akademik yang baru perlu disosialisasikan agar masyarakat dan dunia kerja dapat menerima sehingga tidak berpatokan lagi dengan gelar lama. Dan sosialisainya perlu penjelasan baik bahwa gelar tersebut sudah tepat dan efektif sesuai bidang keilmuannya. Sehingga tidak menimbulkan kekhawatiran dan beban psikologis bagi mahasiswa terutama bagi para alumni PTAI. []

LAST_UPDATED2
 
Gelar Itu Berdasarkan Bidang Ilmu PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Elly Apriani   
Jumat, 14 Mei 2010 23:00

Peraturan Menteri Agama (Permenag) RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Penetapan Pembidangan Ilmu dan Gelar Akademik di Lingkungan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) se-Indonesia menuai kontroversi. Pasalnya, perubahan gelar itu tidak sesuai dengan nomenklatur gelar perguruan tinggi lain di Indonesia. Sementara, di sisi lain, gelar lama pun belum cukup sosialisasi, sehingga gelar sarjana PTAI yang baru itu terkesan “asing” bagi para pengguna lulusan. Bagaimana tanggapan kalangan PTAI? Berikut petikan wawancara Elly Afriani dengan Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Dr Arief Subhan, di ruang kerjanya, Senin (10/5).

Apa tanggapan Anda tentang PermenagNomor 36?

Permenag itu harus dilaksanakan. Pro-kontra boleh, tapi yang namanya peraturan tetap harus dilaksanakan. Apalagi berlakunya sejak tanggal ditetapkan. Secara institusi di bawah Kementerian Agama, STAIN, IAIN, UIN ya memang harus melaksanakan Permenag tersebut.

Permenag tak hanya mengatur soal gelar tapi juga pembidangan ilmu dalam lingkup STAIN, IAIN dan UIN. Pembidangan ilmu menegaskan, bahwa ada bidang-bidang distingtif dalam ilmu-ilmu agama Islam. Ushuluddin distingtif, dakwah distingtif, adab distingtif, syariah distingtif, itu adalah bidang-bidang ilmu. Karena itu kemudian dibuat gelar berdasarkan bidang ilmu ini.

Meskipun nanti bisa mengecil lagi, misalnya orang bertanya ushuluddin ini memang satu bidang ilmu, tapi bagaimana dengan tafsir hadis dan perbandingan agama, apakah itu termuat juga dalam ushuluddin? Jadi, gelar sarjana memang harus menunjukkan bidang ilmu apa yang kompeten dimiliki seorang sarjana. Supaya eksplisit, memang dipergunakan sesuai pembidangan yang disepakati di Permenag itu.

Tapi buktinya banyak mahasiswa yang menolak?

Yang menolak itu kan mahasiswa, dan hanya di Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), sedangkan lainnya menerima. Tapi apakah ada penolakan dari STAIN, IAIN, UIN secara institusi, saya rasa tidak. Yang ditolak mahasiswa itu belum tentu tidak baik untuk mahasiswa itu sebenarnya. Mereka itu belajar, dan ini bukan peraturan kontroversial. Persoalannya sekarang, Permenag itu sudah keluar dan ditandatangani Menteri Agama, jadi mestinya Permenag itu dilaksanakan. Kalau mahasiswa ingin protes silakan ke Menteri Agama, bukan ke universitas.

Selama ini gelar sarjana di perguruan tinggi agama cenderung tidak populer, bagaimana pendapat Anda?

Sebenarnya gelar-gelar di IAIN memang tidak pernah populer. Apa Sarjana Agama (S.Ag) itu populer, saya rasa tidak.  Dulu gelar yang populer doktorandus (Drs) dan cukup lama digunakan, dan antara STAIN, IAIN, dan perguruan tinggi umum menggunakan gelar yang sama untuk bidang ilmu yang sama. Karena tidak menjelaskan apa-apa, gelar tersebut diubah depdiknas dengan asumsi gelar itu harus menunjukkan bidang keahliannya.

Saya belum bisa berkomentar tentang gelar yang baru ini, apakah ada pengaruhnya atau tidak gelar baru tersebut kepada sarjana lulusan UIN Jakarta. Karena kenyataannya, gelar baru tersebut belum diterapkan, belum ada lulusan kita yang memakai gelar baru tersebut. Tapi, pendapat  saya tidak ada pengaruhnya. Mau gelar apa saja, yang penting belajar serius, pasti bisa berhasil. Jadi jangan menyalahkan gelar.

Memang bagaimana dengan proses awal dari pembuatan peraturan menteri ini?

Diskusi tentang perubahan gelar itu sudah dimulai sejak masa menteri agama Maftuh Basyuni. Ini melalui rapat yang panjang. Gelar itu urusan universitas. Yang mengusulkan gelar ini tidak hanya Jakarta, ini diusulkan STAIN, IAIN, UIN se-Indonesia. Jangan mengira bahwa draf yang sudah jadi peraturan menteri ini, disetujui semua pihak yang ikut serta dalam diskusi tersebut. Tapi jika sudah menjadi peraturan, harus dilaksanakan.

Bagaimana dengan di fakultas yang Anda pimpin, apa reaksi mahasiswa tentang Permenag tersebut?

Di Fidikom sendiri gelarnya berubah, dari Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I) menjadi Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I). Jadi, di Fidikom tidak ada masalah. Kita menerima dengan menempatkan ini sebagai peraturan yang sudah ditetapkan. Mahasiswa Fidikom sendiri menanggapi positif peraturan itu. Mereka senang dengan gelar baru itu. Meskipun fakultas kita namanya Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, tetapi pembidangan kita ilmu dakwah, jadi kita memakai S.Kom.I. kalau fakultas ilmu komunikasi yang lain gelarnya Sarjana Sosial (S.Sos). Program studi yang ada Fidikom, seperti Manajemen Dakwah (MD), Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI), dan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) itu dianggap sebagai bagian komunikasi Islam, karena basisnya dakwah itu. Gelar yang baru ini cukup bergengsi untuk sebagian  mahasiswa karena jelas dan eksplisit pembidangannya.

Apakah gelar itu dirasa tepat dan sudah diterapkan pada sarjana Fidikom?

Saya tidak mau menilai gelar ini tepat atau tidak. Tapi gelar ini bisa menjelaskan kompetensi keilmuan mahasiswa Fidikom. Jadi, bukan soal tepat dan tidak tepat. Kapan diterapkannya bergantung UIN, dan bisa saja beda waktu pemberlakuannya antara STAIN, IAIN dan UIN yang satu dengan yang lain. Saya tidak tahu kapan pastinya diterapkan, untuk sarjana yang diwisuda ke-79 kemarin sepertinya belum diterapkan.* (ns)

 

 
FSH Siap Kawal “Ruh Islam” di UIN Jakarta PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Nanang Syaikhu   
Kamis, 13 Mei 2010 16:49

Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) genap berusia 43 tahun. Usia ini jika diibaratkan manusia jelas sudah cukup tua dan cukup berpengalaman. Sepanjang berdirinya hingga sekarang, satu dari 13 fakultas yang ada di UIN Jakarta ini terus membenahi diri untuk menjadi fakultas unggul, handal, dan terdepan sesuai visi dan motonya. Selama sebulan lalu, FSH merayakan ulang tahunnya dengan menggelar ”Bulan Syariah” yang diisi aneka lomba dan seminar nasional tentang ”Syariah vs Terorisme” serta ”Integrasi Keilmuan di UIN Jakarta”. Untuk mengetahui bagaimana perkembangan dan dinamika FSH sekarang, berikut wawancara Nanang Syaikhu  dari UIN Online dengan Dekan FSH Prof Dr H Muhammad Amin Suma SH MA MM di ruang kerjanya, Kamis (6/5).

Bisa Anda ceritakan secara singkat tentang lahirnya Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) di UIN Jakarta?

Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Jakarta dulu masih menjadi salah satu jurusan di Fakultas Tarbiyah (semasa IAIN, Red). Jurusan ini mulanya diproyeksikan untuk mendidik mahasiswa menjadi imam tentara. Pertimbangannya waktu itu karena banyak tentara yang beragama Islam. Jadi, negara membutuhkan jurusan tersebut. Di antara orang yang concern kepada ilmu syariah misalnya ada Abdurrahman Ghazali, Peunoh Daly, Amir Syarifuddin, dan Muwardi Khatib. Mereka adalah lulusan Jurusan Syariah yang kemudian dikembangkan menjadi Jurusan Pendidikan Ilmu Agama Islam. Ilmu syariah itu bibitnya telah disemai dari awal, tidak tiba-tiba. Jadi FSH ini berkembang dari Jurusan Syariah yang ada di Fakultas Tarbiyah. Semasa IAIN dulu, Fakultas Syariah merupakan fakultas yang keempat setelah Tarbiyah, Adab dan Ushuluddin. Begitu juga jurusannya, dari dua [Jurusan Qadha (peradilan) dan Muamalat (pidana dan perdata Islam)] kini menjadi 10 jurusan.

UIN Jakarta memiliki identitas keislaman. Agar identitas keislaman itu tetap hidup tentu sangat bergantung kepada fakultas agama seperti FSH. Bagaimana mendudukkannya?

Sebagai kampus yang mengusung identitas keislaman, UIN Jakarta mau tidak mau harus menjaga identitas tersebut. Untuk itu, FSH sebagai salah satu fakultas agama di UIN Jakarta harus menjadi “ruh” untuk menjaga identitas tadi. Kenapa? Karena para sarjana Islam sendiri hampir sepakat bahwa ilmu-ilmu keislaman secara umum itu diklasifikasikan menjadi tiga kelompok besar, yakni akhlak, akidah, dan syariah. Nah, ilmu syariah ini bersifat operasional keseharian. Ilmu-ilmu yang lain juga penting, tapi tidak setiap waktu diamalkan. Kedokteran penting, sehingga syariah mewajibkan untuk mempelajarinya. Tapi, tidak setiap hari orang harus mengamalkan ilmu kedokteran. Kalau syariah, mulai dari urusan mandi, wudhu, itu harus menggunakan ilmu syariah. Jadi, syariah itu “nafasnya” setiap waktu, termasuk dalam etika pergaulan seperti mengucapkan “salam”.

Jika kita analogkan, FSH itu sama seperti Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Komisi Fatwa adalah ruh MUI. Jadi, FSH itu memang unik. Dari segi keilmuan misalnya, FSH jelas pembidangannya, ada ilmu syariah, ilmu ekonomi Islam, dan ilmu hukum. Gelar akademiknya juga spesifik, ada tiga gelar akademik (SH.I, SH, S.Sy). Fakultas lain mungkin belum seperti itu. Meski demikian, FSH bukan fakultas segala-galanya. Fakultas agama lain, seperti Fakultas Ushuluddin, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Fakultas  Adab dan Humaniora, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, dan Fakultas Dirasat Islamiyah, juga berhak menamakan diri sebagai ruh UIN Jakarta karena di dalamnya juga ada ilmu syariah. Bahwa syariah sebagai ruh itu betul, badannya terserah. Kita ambil satu contoh, kalau berpakaian, ruh syariahnya itu yang penting menutup aurat, modelnya terserah modelnya apa saja.

Mengapa FSH merasa bertanggung jawab terhadap eksistensi UIN Jakarta?

FSH merasa bertanggung jawab dan punya tekad untuk mengawal UIN Jakarta, terutama dalam menjaga identitas keislamannya. Karena itu cita-cita FSH menjadi fakultas yang unggul, handal dan terdepan itu tidak hanya untuk fakultas tapi juga UIN Jakarta secara keseluruhan. Jadi, eksistensi fakultas ini ke dalam dan ke luar. FSH tentu akan konsisten dalam bidang keilmuannya. FSH pernah menyelenggarakan seminar nasional dan internasional tentang ilmu syariah. Hal itu dilakukan agar jangan sampai ilmu syariah disuarakan pihak lain yang belum tentu menguasai. Saya ingin tegaskan bahwa FSH itu punya hak untuk mengembangkan keilmuan syariah, punya kemauan dan kemampuan untuk menyuarakan bagaimana sebenarnya ilmu syariah, ilmu ekonomi Islam dan ilmu hukum. Tapi bahwa kemudian ada kekurangan di sana-sini itu dapat dimaklumi, karena kalau ilmu itu sudah sempurna ya tidak usah hidup, tidak usah berjuang dan tidak usah bercita-cita. Justru karena masih banyak kekurangan inilah kita ke depan akan perbaiki secara proposional, prosedural dan profesional.

Bagaimana dengan soal integrasi keilmuan di UIN Jakarta?

Di UIN Jakarta kita ada forum dekan dan saya menjadi ketuanya. Melalui forum itu kita sudah lama membicarakan mengenai perubahan IAIN ke UIN, terutama soal pengintegrasian antara ilmu-ilmu keislaman dan ilmu-ilmu umum. Hanya saja integrasi itu sampai sekarang masih mengambang, seperti apa modelnya dan bagaimana implementasinya. Tahun lalu kami mencoba mengomunikasikan hal itu dengan pimpinan di universitas untuk mengadakan temu ilmiah agar masalah integrasi dapat segera terjawab. Boleh jadi pimpinan universitas mengerti, tetapi fakultas belum tentu faham, padahal kita hidup satu rumah. Untuk itu, sebagai salah satu bentuk kepedulian, kami menggelar seminar tentang integrasi keilmuan yang dihadiri oleh kalangan dekan dan pimpinan universitas. Seminar di antaranya untuk menyamakan persepsi, minimal ketika ada orang bertanya model integrasi keilmuan di UIN Jakarta kita bisa menjelaskannya. Ini perlu segera diatasi. Paling tidak integrasi keilmuan yang sudah dicanangkan sekian tahun yang lalu itu, sekian persen pula pertanyaan sudah terjawab.

Aja saja visi dan misi FSH?

Dalam bekerja kita harus punya pedoman atau setiap lembaga tentu punya visi dan misi, tak terkecuali dengan FSH. Visi FSH adalah Unggul, Handal dan Terdepan. Itu visi yang kita jadikan motto, karena kalimat visi sebenarnya cukup panjang. Konten ilmunya jelas dalam bidang syariah, hukum, dan ekonomi Islam. Begitu juga dengan jenjang akademik dan gelarnya, semua sudah jelas. Dari sisi itu FSH rasanya sudah establish. Itu yang dimaksud dengan bertanggung jawab dengan ilmu-ilmu syariah, hukum, dan ekonomi Islam. Jelas peta dan tujuannya ke mana. Visi itu sudah kita sosialisasikan ke sivitas akademika FSH dan bahkan UIN Jakarta. Tetapi kita memang harus akui jika masih ada kekurangan, misalnya jumlah tenaga pengajar yang kurang, buku ajar yang masih sedikit, atau fasilitas lain yang belum memadai. Tapi kalau sudah membicarakan semua itu memang tidak akan pernah cukup.

Visi yang menjadi moto itu sebenarnya memang bukan moto asli FSH, tetapi moto organisasi Himpunan Ilmuwan dan Sarjana Syariah se-Indonesia atau HISSI yang saat ini saya pimpin. Meski demikian antara FSH dan HISSI paralel, karena HISSI itu lahir untuk kepentingan memperdalam dan mengembangkan ilmu-ilmu syariah, jadi klop begitu. Mudah-mudahan umat memberikan kepercayaan kepada FSH, sebagai salah satu fakultas yang peduli terhadap masalah-masalah syariah. Insya Allah FSH ingin selalu mengawal ajaran agama Islam di satu pihak, dan mengawal konstitusi negara di pihak lain.

Langkah-langkah apa saja untuk memperkuat kelembagaan FSH?

Saat ini kita sedang melakukan perubahan kurikulum dan silabus sebagai salah satu pilar akademik FSH. Hal itu dilakukan dalam kerangka memperkuat program double degree. Belum lama ini kita mendapat masukan berharga dari Australia setelah sebelumnya diadakan kerja sama. Mereka memberikan konsep-konsep yang sangat bermanfaat dalam bidang keilmuan bagi pengembangan FSH.

Di bidang pengabdian kepada masyarakat bagaimana?

Secara umum, perguruan tinggi memiliki tiga bidang kegiatan, yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam bidang penelitian kita memang belum bisa berbuat banyak, dan saya akui masih kurang. Dosen rata-rata mengeluhkan tentang masih minimnya penyedian dana penelitian. Dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, alhamdulillah FSH sekarang punya desa binaan di Cisauk, Tangerang Selatan. Desa binaan ini akan dikembangkan lagi di Parung Panjang, Legok. Belum lama ini saya juga telah meresmikan program Lazmira, kerja sama dengan Pemkab Bogor dan Kantor Dinas Peternakan Kabupaten Bogor. Kegiatan Lazmira di antaranya membangun sapi potong dengan prinsip syariah agar dagingnya halalan thayyiban (halal dan baik).

Lantas, bagaimana dengan kondisi mahasiswa saat ini?

Mahasiswa itu seperti tanaman, dan kalau pabrik itu ada produk. Tanaman itu butuh disirami dan dirawat. Karena kebunnya sangat luas ya harus rapi. Walaupun petakannya berbeda tapi sistem irigasinya berkesinambungan. Pagarnya juga harus sama, pagar itu saya anggap aturan kode etik mahasiswa, sehingga tak cukup hanya mengimbau. Mahasiswa saat belajar diatur oleh kode etik dan itu harus ditaati. Jika tidak akan dikenai sanksi. Jadi, ada reward dan punishment.

FSH sendiri punya perhatian besar terhadap mahasiswa. Soalnya mahasiswa kita dari sisi input banyak, tapi output-nya macet, lama keluarnya. Nah, mahasiswa yang macet tadi coba kita bantu dan atasi. Saat ini ada sedikitnya 47 mahasiswa yang dibantu agar dipercepat penyelesaian skripsinya. Data menunjukkan untuk fotokopi skripsi dan sewa komputer saja mereka tidak mampu, padahal harganya tidak sampai jutaan rupiah. Karena itu, kami tidak malu memberi bantuan kepada mahasiswa yang besarnya masing-masing Rp 275 ribu per orang. Mereka kelihatannya merasa terbantu. Dari sisi agama kita wajib zakat, tapi pernah kah kita berpikir sejauh itu.

Soal alumni FSH?

Alumni FSH itu tersebar di mana-mana. Mereka bekerja di berbagai lapangan profesi, baik di instansi pemerintah maupun swasta. Konon, ada kesan bahwa lulusan FSH sulit mencari pekerjaan, tetapi menurut saya tidak sulit dan tidak ada yang menganggur. Karena kalau dipikir-pikir tidak ada di negara ini yang tidak memerlukan ilmu syariah. Coba saja hitung, jika di Indonesia ada lebih dari 7.000 kecamatan dan dalam satu kecamatan ada 10 desa, satu desa misalnya satu sarjana syariah, itu artinya satu kecamatan memerlukan 10 sarjana syariah. Lantas jika 10 sarjana dikalikan 7.000 kecamatan berarti ada 70.000 sarjana syariah. Di kecamatan pasti ada KUA, yang menangani, di antaranya, masalah pernikahan dan penyuluhan agama.

Yang menjadi hakim agama juga ada di mana-mana. Memang kami belum memiliki data statistik yang valid mengenai alumni FSH.  Untuk hakim di Indonesia ada di lebih 4.000 kabupaten dan kota. Tetapi kalau mau diambil rata-rata setahun FSH menghasilkan sekitar 100 alumni. Sekarang umur FSH sudah 43 tahun, berarti kita sudah memiliki 4.300 alumni.

Sekitar dua minggu lalu HISSI, bekerja sama dengan Direktorat Peradilan Agama Mahkamah Agung, mengadakan kegiatan soasialisasi perundang-undangan termasuk sosialisasi HISSI. Hadir 129 hakim di pengadilan agama. Banyak alumni kita di sana. Hampir semua pengadilan agama yang ada di Jakarta pasti ada alumni FSH. Tapi ada juga yang punya keterampilan dan wadah sendiri. Misalnya, ada yang menjadi pimpinan pesantren atau sekolah, seperti Drs KH Syahiduddin yang mengasuh Pesantren Daarul el-Qalam Gintung, Jayanti, Tangerang dan Ustadz Yusuf Mansur dengan pesantren Qura’annya. Ada yang jadi pengusaha sukses, antara lain Pak Yusuf Muhaji yang kini menjabat Direktur PT Bukaka. Jadi, insya Allah, alumni FSH mampu bersanding, mampu bertanding, bahkan mampu bersaing.

Apa saja fasilitas penunjang yang ada di FSH?

FSH memiliki sejumlah sarana penunjang, seperti Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M), laboratorium perbankan syariah, asuransi syariah, laboratorium hukum, laboratorium jenazah, dan Lembaga Peningkatan dan Jaminan Mutu (LPJM). Kegiatan akademik ini memang sangat kita utamakan, bahkan alokasi anggarannya mencapai 70% dari total anggaran FSH per tahunnya. Penunjang lain ada media penerbitan (Warta FSH, Jurnal Ahkam, Iqtishad, website www.fshuinjkt.ac.id).

Sekarang bagaimana dengan bidang kerja sama FSH dengan lembaga lain?

Sebagai fakultas yang mengusung moto Unggul, Handal, dan Terdepan, kerja sama FSH dengan pihak luar juga sangat kita utamakan. Sebab, FSH tak mungkin maju tanpa didukung kerja sama. Adapun kerja sama FSH di antaranya dengan Mahkamah Agung, lembaga-lembaga peradilan, dunia perbankan, pemerintah daerah, dan sejumlah instansi terkait lain. Kita di samping menjalankan kerja sama hasil MoU universitas juga

Saat ini kita sedang mengembangkan desa binaan, kerja sama dengan Kecamatan Cisauk, Tangerang Selatan. Ini adalah kerja sama dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Di tempat tersebut kita di antaranya mengadakan penyuluhan-penyuluhan hukum keluarga. Mahasiswa juga kita libatkan.  Selain itu desa binaan juga kita jadikan untuk praktikum bermacam-macam ilmu, misalnya praktikum penyembelihan hewan kurban. Tujuannya agar mahasiswa dan masyarakat tahu bahwa kurban tak semata soal pembagian daging tetapi bagaimana teknik atau tata cara menyembelih hewan kurban. Jadi, desa binaan ini semacam miniatur FSH. Soalnya ilmu tak hanya cukup diketahui tapi sekaligus dimanfaatkan masyarakat.

Jurusan-jurusan di FSH sepertinya tak hanya mengurusi (katakanlah) soal ubudiyah tapi juga muamalah seperti Jurusan Perbangkan Syariah guna menyiapkan SDM bank-bank syariah yang belakangan sedang booming?

Ya kita memang memiliki Jurusan Perbankan Syariah di samping ada Jurusan Asuransi Syariah. Jurusan ini sangat urgen, terutama di era sekarang. Perbankan syariah di Indonesia memiliki sejarah cukup panjang dan muncul atas permintaan umat Islam yang kemudian diapresiasi pemerintah. Sekitar tahun 70-an diperkirakan ada sekitar 30% umat Islam Indonesia yang tidak mau berurusan dengan bank konvesional. Berarti sekitar 60 juta orang tidak mau berurusan dengan bank konvensional karena masih dipandang memiliki unsur riba. Karena itu tak sedikit di antara umat Islam yang menyimpan uangnya di bawah-bawah bantal atau malah ditaruh di karung begitu saja. Masalahnya itu tadi, orang tidak mau membawa uangnya ke bank konvensional karena dipersepsikan negatif. Mereka takut terjerat riba, dan riba itu menurut mereka sama seperti ”menzinahi” orang tuanya sendiri. Akibatnya, uang tidak tertata dan tidak terkelola dengan baik.

Jadi, saat itu lembaga ekonomi syariah sangat dibutuhkan masyarakat sampai kemudian direspons MUI, ICMI, dan pemerintah Orde Baru. Lalu, muncullah Bank Muamalat Indonesia (BMI) pada Desember 1991 dan mulai beroperasi tahun 1992. Bank syariah itu masih eksis sampai sekarang. Umat pun menyambut gembira, paling tidak sekitar 30% yang menolak mentah-mentah bunga bank bisa menyimpan uangnya di bank.

Alhamdulillah sekarang struktur bank khususnya dan keuangan syariah pada umumnya bukan hanya eksis di Indonesia tapi sudah berkembang ke mancanegara.

Lantas, kaitannya dengan perbankan syariah tadi UIN Jakarta, khususnya FSH, jelas sangat berkepentingan. Sebabnya, UIN Jakarta di satu sisi milik negara, tetapi di sisi lain milik umat Islam. Jadi, sangat wajar jika lembaga pendidikan Islam ini membantu aspirasi umat Islam, bukan hanya dari segi pengembangan keilmuannya melainkan jika perlu lembaga keuangan syariah itu sendiri. Kalau ilmunya dikembangkan tapi tidak diaplikasikan untuk apa. Hemat saya, pada tempatnya kalau UIN Jakarta mengapresiasi lembaga keuangan syariah ini. Persoalannya tak hanya tanggung jawab moral kepada masyarakat, tapi tanggung jawab akademik karena kita punya FSH.

Tuntutan administratifnya jelas, mahasiswa kita di UIN Jakarta, khususnya di FSH, dibekali dengan ilmu-ilmu yang bersifat keuangan syariah ketimbang keuangan konvensional. Walaupun kita akui bahwa alumni FSH sendiri masih ada yang bekerja di bank-bank konvesional, tapi tidak apa-apa karena hal itu menyangkut hak. Lagi pula, perbankan syariah belum sepenuhnya bisa menampung.*

 

LAST_UPDATED2
 
Kita Ingin Membangun Kredibilitas di Dunia Internasional PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Elly Afriani   
Rabu, 05 Mei 2010 18:57

 

UIN Jakarta terus memacu diri untuk masuk world class university atau universitas kelas dunia. Berbagai sarana dan prasarana pun dibenahi, termasuk bidang akademik dan pengembangan kerja sama. Bahkan, untuk melebarkan sayap UIN Jakarta ke dunia internasional, kini dibentuk International Office (IO) sebagai gerbang hubungan internasional. Apa saja langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam penguatan internasionalisasi UIN Jakarta, berikut wawancara Elly Afriani dari UIN Online dengan Direktur IO yang juga Guru Besar Bidang Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Prof Dr Andi Faisal Bakti.

Apa yang melatarbelakangi berdirinya IO?

Menurut saya mimpi UIN Jakarta menjadi world class university bukan hanya sekadar kata-kata yang menghiasi spanduk dan baliho yang terdapat di sekeliling  kampus. Mimpi ini harus segera diwujudkan. Jelas, itu bukanlah hal yang mudah, banyak yang harus dilakukan. Tak hanya penyempurnaan dalam bidang akademik, relasi dan network juga harus diperluas. Karena itu, pada tahun 2007, UIN Jakarta membentuk International Office (IO). Lembaga ini diharapkan akan mampu mengegolkan visi UIN Jakarta sebagai kampus bertaraf internasional.

Apa saja tugas dan kewenangan IO?

Kegiatan IO dilakukan melalui rumus 4 X 2. Empat adalah mahasiswa, dosen, peneliti dan staf. Sementara dua berarti ada kegiatan timbal balik, yakni dari luar negeri ke UIN Jakarta dan dari UIN Jakarta ke luar negeri. Paling penting untuk saat ini dilakukan adalah mendata 4 X 2 itu karena IO belum memiliki banyak data. Untuk mendapatkan data yang pasti tentang siapa saja mahasiswa asing yang aktif kuliah, maupun sebaliknya mahasiswa dan dosen yang melakukan kegiatan akademik di luar negeri, IO saat ini bekerja sama dengan berbagai lembaga yang ada di UIN Jakarta. Namun, karena lembaga ini terbilang baru, wajar jika masih banyak orang yang belum tahu, sehingga IO harus terus-menerus melakukan sosialisasi.

Menurut Anda, apa saja kriteria agar UIN Jakarta menjadi world class university?

Dosen di antaranya harus berkualitas internasional. Dosen harus mempunyai jam terbang internasional yang banyak. Dosen harus mampu menulis di jurnal-jurnal internasional. Bahkan, sebelum menulis di jurnal, tulisan itu perlu dipresentasikan dulu di salah satu universitas terkemuka di Barat. Jadi, dosen-dosen itu harus menjadi corong internasional. Dosen jangan berhenti melakukan penelitian, lalu hasil penelitiannya mereka sebarkan di berbagai forum ilmiah.

Kita harus mendorong ke arah sana, sehingga memudahkan mereka untuk melakukan kegiatan seperti itu. Jadi, riset ini harus dikembangkan seluas-luasnya. Sekarang pemerintah melalui Ditjen Dikti Kemendiknas banyak menyalurkan hibah berupa penelitian. Tapi hal ini sepertinya belum menjadi perhatian serius oleh kita. Sekarang ini ada Program Academic Recharging (PAR) dari Dikti untuk fellowship ke Amerika. Terutama untuk doktor yang belum pernah ke luar negeri. Disarankan agar dosen-dosen bisa melakukan riset di Amerika, Eropa, atau Australia. Sebab, di universitas-universitas yang sudah maju dosen-dosen aktif melakukan penelitian.

Dosen-dosen di Amerika rata-rata memiliki kemampuan pada level international. Tentu internasional yang dimaksud di sini berkaitan dengan masalah kemampuan berbahasa juga. Karena itu, dosen-dosen kita dituntut harus bisa berbahasa asing dan memiliki kemampuan menulis dengan baik, sehingga ketika menulis di jurnal internasional akan diterima dengan mudah. Tulisan hasil penelitian itu paling tidak ada sesuatu yang baru yang belum pernah ditemukan sebelumnya, serta sangat signifikan untuk perkembangan masyarakat, umat, negara.

Saat ini dosen di UIN Jakarta banyak alumni dari Barat. Ini adalah aset dan harus kita mobilisir dengan memberikan kesempatan untuk melakukan berbagai penelitian. Selama ini, karena belum ada ruang, mereka banyak berkiprah di luar kampus. Ke depan diharapkan tidak ada lagi dosen lulusan luar negeri yang sibuk di luar.

Lantas, bagaimana solusinya agar dosen bergairah dalam bidang penelitian?

Nah, IO sendiri akan berusaha melibatkan alumni Barat untuk membantu dosen-dosen yang berniat ke luar negeri dan punya perhatian terhadap riset melalui program post doctoral. Tapi tentu mereka harus dibekali dengan bahasa Inggris dengan baik. Saya pernah ada ide agar Kementerian Agama mengadakan program pembibitan dosen ke luar negeri kembali seperti zaman dulu. Waktu itu saya bicarakan dengan Direktur Pendidikan Tinggi Islam bahwa pembibitan dosen perlu kita adakan lagi karena hasilnya baik, karena sakarang sudah banyak calon dosen atau dosen yang cemerlang.

Kemudian, kita harus tahu, berapa para peneliti kita yang ke luar negeri, di mana saja penelitian tersebut dilakukan, tentang apa, dan sponsornya siapa. Itu menarik dan membuat kampus kita maju. Sementara ini ada penilaian bahwa kalau profesor atau dosen ke luar negeri itu untuk dirinya sendiri. Padahal, mereka sebenarnya ikut membawa nama universitas untuk berpromosi juga.

Selain itu, para staf juga harus kita kirim ke luar negeri untuk belajar tentang manajamen yang efektif. Bagaimana pelayanan yang baik, bagaimana pemanfaatan waktu yang baik sehingga pekerjaan dapat efektif dan efisien. Mereka dapat melihat di luar negeri. Pegawai tidak perlu terlalu banyak, asal saja mereka menggunakan waktu secara efektif. Di Barat seperti itu.

Apa kiat Anda untuk mengembangkan UIN Jakarta secara luas?

Ada tiga hal yang penting dalam pengembangan universitas. Pertama, infrastruktur, sarana dan prasarana harus bagus. Misalnya ada ruangan khusus untuk dosen, sehingga kalau ada mahasiswa perlu dengan dosennya bisa langsung ke ruangan tersebut. Kemudian, perpustakaan yang memadai. Di perpustakaan kampus yang baik, kita bisa mencari buku-buku yang diperlukan mahasiswa. Semua yang kita cari ada di sana. Itulah yang harus dibina dan dikembangkan karena perpustakaan adalah jantung universitas. Infrastuktur yang juga penting adalah ada akses internet yang mudah dan cepat. Setiap dosen dan mahasiswa ada e-mailnya yang langsung tersambung ke website universitas. Tentu banyak sekali, termasuk asrama mahasiswa, perumahan dosen dan teaching hospital (rumah sakit pendidikan).

Kedua, dari sisi isi, terutama yang berkaitan dengan kurikulum. Seperti apa kurikulum kita. Dulu perjuangan kita ingin menghilangkan dikotomi antara ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu agama. Itu saya setuju. Makanya mahasiswa di sini, kedua ilmu itu harus berkembang. Sekarang sudah mulai dirintis. Tapi kalau mau lebih maju lagi harus sinergi dengan input kita. Ini berkaitan juga dengan Kemenag dan Kemendiknas karena input kita memang sudah ada klasifikasi jurusan. Kurikulum, silabus dan karya-karya dosen itu juga harus ada di internet.

Saya membayangkan ada semacam “baitul hikmah” di UIN Jakarta untuk mengembangkan ilmu. Ini juga berkaitan dengan pengembangan UIN/IAIN/STAIN yang ada di seluruh Indonesia. Ada interlibrary system dengan mereka. Ini memang biayanya tinggi. Oleh karena itu, semua konsep  juga harus dipikirkan, terutama sumber pendanaannya.

Ketiga, pelayanan. Kalau saya itu harus ada tempat khusus untuk melayani mahasiswa yang posisinya strategis. Semua informasi dan file-nya ada di sana. Mahasiswa dilayani dengan manusiawi, tidak dibentak-bentak. Orang-orang yang melayani harus profesional dan ramah. Juga harus ada human resources development (HRD) yang melayani pegawai dan dosen. Sehingga dosen-dosen yang mengurusi kepangkatan tidak harus melewati birokrasi yang kadang bisa menyebabkan korupsi.

Begitu juga soal karier, harus ada tempat khusus seperti career day development. Bagaimana mahasiswa yang sudah lulus itu dapat memperoleh pekerjaan yang baik. Jadi, ada data yang selalu memonitor perkembangan mahasiswa dan alumni. Alumni akan merasa bangga sebagai lulusan UIN Jakarta. Jadi, soal pelayanan ini, kita ingin memanusiakan manusia.

Apalagi yang perlu dicontoh dari Barat?

Salin model Barat sesuai dengan kemampuan kita. Kita bisa kerja sama lagi dengan Islamic Development Bank (IDB). Saya pernah bertemu dengan perwakilan IDB di Jakarta dan mereka ingin berkerja sama. Jadi, kita bisa mengembalikan kejayaan Islam. Membangun kembali peradaban Islam. Itu mungkin yang bisa dilirik dari Barat, berpacu dengan Barat. Kita disuruh untuk berlomba-lomba dengan cara yang sehat. Berlomba dalam hal ilmu pengetahuan, teknologi, dan ilmu sosial.

Saat saya berada di Jepang, saya tahu ada 150 penerima nobel di sana, di dunia Islam tidak ada. Yang menerima nobel itu hanya Muhammad Yunus, ekonom dan bankir dari Bangladesh, itu pun bukan soal ilmu, tapi soal pelayanan yang dianggap istimewa karena berhasil menyejahterakan kelompok miskin, terutama perempuan di Bangladesh. Kalaupun ada soal ilmu, ilmu dari Barat juga yang dikembangkan. Nah, jika visi kita harus ke sana, ya kita tidak bisa main-main lagi sekalipun harus ada biaya. Kita Ingin membangun kredibiitas UIN Jakarta di dunia internasional.* (ns)

 

 

 

 

 

 

 

LAST_UPDATED2
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
FacebookTwitter

BlackBerry Ota, BlackBerry Offline, BlackBerry AppWorld, BlackBerry Tools, BlackBerry Repository Apps, Font CJK, Font Cod

BlackBerry Ota, BlackBerry Offline, BlackBerry AppWorld, BlackBerry Tools, BlackBerry Repository Apps, Font CJK, Font Cod