Webwww.uinjkt.ac.id
Please wait while JT SlideShow is loading images...
Informasi KTMDaftar Ulang Mahasiswa Baru 2010Welcome to ICT4M 2010Guru Besar UIN JakartaPembacaan Prasetya Sarjana

AGENDA

PROGRAM PENGENALAN STUDI DAN ALMAMATER (PROPESA), 1-3 OKTOBER 2010
Home Category Table Mengaku Salah Itu Terhormat
Mengaku Salah Itu Terhormat PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Komaruddin Hidayat   
Jumat, 29 Januari 2010 10:13

 

ADA tradisi yang berbeda antara dunia akademisi dan politisi. Bagi seorang ilmuwan, mengaku salah dan tidak tahu merupakan hal biasa, tidak akan menjatuhkan martabatnya sebagai ilmuwan.To err is human, kata orang Inggris.

 

Berbuat salah itu manusiawi selama tidak disengaja dan ada penyesalan untuk memperbaikinya. Terlebih seorang ilmuwan, dirinya sangat sadar apa yang diketahui itu hanya sebatas bidang ilmu yangdipelajarinya dan itu pun selalu merasa ketinggalan oleh perkembangan ilmu yang demikian dinamis.

Saya sendiri merasa, kedalaman dan keluasan ilmu yang pernah saya pelajari sudah ketinggalan dibanding pengetahuan yang dimiliki para yunior saya yang baru selesai menyelesaikan doktornya dalam bidang yang sama. Sadar bahwa cakupan ilmu itu begitu luas,maka ketika ada mahasiswa bertanya dan dosen merespons, ”Maaf saya belum bisa menjawab. Semoga minggu atau bulan depan saya sudah mendapatkan jawabannya,” hal itu biasa saja. Bahkan, mahasiswa akan menghargai kejujuran dosennya.

Pertanyaannya, berlakukah sikap demikian di kalangan politisi dan aparat pemerintah? Rasanya tidak. Seakan mereka tidak mengenal kata dan tindakan salah. Politisi selalu berusaha membangun citra bahwa dirinya serbatahu, serbabenar, dan rakyat yang mesti memahami mereka, bukan sebaliknya. Sampai-sampai ada ungkapan, politisi itu pantang salah, dan kalau pun berbuat salah, mesti dikemas dan ditutup dengan cara sedemikian rupa,kalau perlu bohong, agar rakyat tidak tahu bahwa dirinya salah.

Jadi, di sini sangat berbeda dari tradisi ilmuwan yang justru mengharap kritik atas pendapat yang dilontarkannya. Ilmuwan mencari kebenaran. Sedangkan politisi mencari popularitas, jabatan, dan kemenangan, sekalipun dengan penuh tipu daya. Karena kecenderungan kultur semacam itu, maka tidak sedikit para ilmuwan dan ulama yang masuk dunia politik lalu berubah karakternya.

Tujuan semula masuk ke politik untuk memperbaiki keadaan, namun lama-lama kritiknya tumpul, dan seterusnya lebur ke dalam komunitas dan kultur yang semula mereka kritik dan kecam. Sejelek itukah dunia politik kita? Serapuh itukah mental para ulama dan akademisi yang sudah bergabung ke dunia politik? Untuk mencari jawabannya, riset atau tanyakan saja pada mereka, baik yang sekarang berkantor di Senayan atau di jajaran pejabat tinggi negara.

Saya sendiri sering kali mendapat cerita dan pengakuan mantan politisi dan pejabat tinggi negara sambil bermain golf.Mereka buka sendiri kebohongan dan kecurangan yang pernah dilakukan sebelum pensiun. Mereka menyesali dan menertawakan dirinya sendiri namun semuanya telah berlalu. Sebagai orang awam,saya melihat betapa banyak di negeri ini pemain akrobat dan pesulap politik.

Kita semua tahu,Munir telah mati terbunuh, tetapi siapa pelakunya tidak jelas.Sekian banyak mahasiswa dinyatakan hilang, sampai sekarang tidak diketahui siapa yang menghilangkan. Korupsi mewabah, namun koruptornya tidak terpegang. Dan akhir-akhir ini kita semua disuguhi tontonan Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Bank Century. Apa pendapat Anda? Anggota DPR telah berakting layaknya interogator dan hakim sehingga para saksi yang hendak digali informasinya bagaikan seorang pesakitan.

Di sisi lain, para pejabat negara yang diberi mandat dan amanat untuk mengendalikan jalannya administrasi pemerintahan, semuanya berusaha meyakinkan kita semua bahwa mereka tidak salah. Tak ada yang salah, tak ada yang mengambil sikap: “Maaf saya telah membuat kesalahan, meski tidak saya sengaja.Semua itu saya lakukan semata untuk melindungi kepentingan rakyat. Maafkan kesalahan saya dan tegakkan hukum, jangan pilih kasih, siapa pun yang salah mesti diproses,termasuk diri saya.”

Sebagai umat beragama saya merenung, ketika berdoa di hadapan Allah kita membuka diri selebar-lebarnya, mengakui dosa dan kesalahan kita.Tetapi, mengapa sikap demikian tidak muncul dalam ranah sosial? Apa yang hilang kalau seseorang mengakui salah dan minta maaf? Apakah sukses hidup mesti diukur dengan kursi jabatan, sekalipun mesti diraih dan dijaga dengan kebohongan? Bangsa ini akan maju kalau politisi dan pemerintah mampu membuat terobosan ke depan.

Salah satunya adalah menciptakan budaya bersih dan jujur, lalu bekerja cerdas dan keras untuk menyejahterakan rakyat.Kalau ini dilakukan, rakyat pasti akan bangkit dan mendukung pemerintah sehingga pada urutannya martabat bangsa juga akan terdongkrak.

Yang berlangsung selama ini pemerintah tampak gamang dan tidak memiliki visi serta program yang mampu mengikat koalisi gagasan dan koalisi cinta Indonesia dari semua komponen bangsa.Yang lebih diperhatikan hanyalah koalisi partai yang usianya masih muda dan kepentingannya pun diduga jangka pendek. Kalau esai ini banyak kelemahannya, izinkan saya minta maaf.(*)

Comments (12)
  • Aimar
    jujur adil....
    bubur cadil....
  • ibnu rahman  - pencitraan yang berlebih mewabah
    aslm. jujur ketika membaca kolom rektor kali ini saya merasa tepanggil untuk memberikan komentar, banyak politisi saat ini, lebih mementingkan pencitraan diri dibanding mengurusi rakyat,lihat saja anggota pansus yang begitu berkoar-koar dalam mengadili para saksi tapi nyatanya untuk menentukan sikap terhadap pemerintah malah memble, takut mungkin mentrinya di reshuffle oleh presiden ( bercanda ). yang seharusnya terjadi ya.. jika salah harus tetap dikatankan salah tanpa ada embel-embel partai atau kepentingan segala macam. saya sebagai rakyat biasa hanya menginginkan yang terbaik untuk bangsa ini bahkan ke pelosok negeri. Amiiin Terimakasih
  • izu  - mental pecundang
    rasanya cukup sudah akting para politisi di negeri ini ...
    sampai kapan pun rakyat indonesia tidak akan mengalami kemajuan dan bangsa ini tetap dalam keterpurkan klo para pemain utamanya saja masih boborok moralnya dan ciut mentalnya...
  • dio m.n.  - kejujuran yang utama
    para politisi kita belum sepenuhnya mengerti arti kejujuran.
    maka dari itu kita sebagai kaum muda harus lebih memperbaiki diri kita untuk membangun dan belajar lebih dalam untuk mengetahui hakikat dari kejujuran.
    mental bangsa kita yang sekarang sudah tidak bermoral lagi. kita tidak bisa menciptakan negara yang bermartabat tinggi jika para politisi seperti ini trus.
    bukan mereka yang memperbaiki indonesia 10-20 tahun kedepan. tapi kaum muda yang akan memperbaikinya.
    jadi, kaum muda Indonesia sekarang harus belajar arti/hakikat kejujuran agar Indonesia lebih baik dari sekarang. Amiiiiin....
  • khoirul mahmud  - saling menguatkan....
    assalam....
    saya sangat mendukung,dan senang sekali atas opini,buah pikiran yang bapak catatkan.
    mudah2n apa yang qita ucapkan/catatkan dapat menjadi renungan bagi qta sendiri,agar tidak berbuat keslahan sebagaimana yang qta pandang kurang benar.
    yang lebih prihatin lagi, ketika sebagai aktivis,'ulama mengoar kesalahan, mengkritik kekurangan, menghujat ke khilafan giliran mendapatkan kesempatan mereka yang terdepan menutupi kebohongan.
    untuk itu saya sangat mendukung segala bentuk gerakan chek and balance dari manapun asalkan masih dalam ranah saling menguatkan demi membangun baldatun toyyibatun warobbun ghofur.
    mudah2n alloh memberikan yang terbaik bagi qta semua...amin.
  • aNNa  - politisi dan ilmuwan?
    salam..sya sangat terkesan dengan artikel bapak,dan tidak hanya kali ini saja,sebenarnya banyak faktor yg membuat ini tejadi,analisa saya pun berjalan semoga saja benar,karakter yg tertanam dalm diri tiap politisi sekarang adalah rasa tak mau kalah dan tak ingin dikalahkan dan anehnya itu terjadi tanpa sadar ketika di rumah bahkan di lingkungan belajar,jarang sekali saya temui ada orang tua yg mau mengajarkan bagaimna menyikapi kekalahan,tapi lebih mengupayakan pokonya harus menang,nah hal kecil yg dianggap sepele ini tenyata berdampak sngat fatal hingga manusia itu dewasa dan pasti karakter itu akan terbawa dimana saja,ya baru sedikit tapi menggelitik benarkah?
  • aNNa
    politisi itu dulu adalah anak bayi,siswa dan mahasiswa,pasti mereka mengalami fase-fase sulit dalam belajar,tahukah anda di klas saya hampir 90 persent ketika ujian mereka mencontek dan itu di lakukan ketika mereka masih SD hingga di bangku kuliah,pDahal mereka adalah calon guru,politisi,dan lain sebagainya bahkan pernah orang yg confidentnya bgus mengalami unconfident dan finally dia cheating,sungguh ironis para intelektual muda di kampus menggembor2kan kejujuran bagi para pelakon politik...nah bagaimana bisa para pelakon politik akan jujur,dan bersikap apa adanya jika para inteletual mudanya seperti ini?entah pak,setelah membaca artikel bapak saya sedih mengingat masa2 UAS di belakang,kanan,kiri,depan,saya sibuk mencontek karena tak mau kalah dengan IP rendah...realitas pendidikan di Indonesia,maka tak heran jika para senior2 kita seperti ini,mungkin mereka juga memiliki unconfident seperti intelektual muda tadi.
  • Anonymous
    alah, blm tentu smua dosen ky gtu. .
    buktinya waktu saya protes dgn membawa buku utk pembenaran, eh mlh bukunya yg disalah2in,, n akhirnya dosen itu menyuruh saya utk memakai acuan buku yg dianjurkannya. .

    tetapi ktika telah saya pelajari, ternyata sama aja spt buku yg sebelumnya. .
    n ktika saya kembali protes, eh mlh si dosen itu marah2 n menyuruh saya memakai logika, pd akhirnya dosen itu mengancam cari dosen pembimbing laen aja d, bgitu katanya!!

    tambah bingung saya, pdhl itu buka juga dy yg anjurkan, tp ktika dy salah bukannya mengakui malah mengancam spt itu?

    apakah pantas seorang dosen bertingkah spt itu?

    saya harap Pak Rektor lebih melihat kebawah, alias ke anak buah bapak drpd nongkrong di depan layar kaca molo,, asal tau aja UIN itu berantakan, hampir smua mahasiswa kenalan saya itu mengeluhkan spt itu, hanya mreka tdk ada yg brani menyampaikannya. .

    wassalam_
  • Anonymous
    begitulah jika membuat negara ini seperti perusahaan bapak moyangnya...yang dipikirkan hanya keuntungan perusahaan tersebut n pribadi,,,bukan keuntungan rakyat lagi yang dicari.....saya rasa sudah tidak ada lagi negara republik indonesia...sekarang yang ada hanya "Perusahaan Republik Indonesia" :angry-red:
Tulis Komentar
Your Contact Details:
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   
:D:angry::angry-red::evil::idea::love::x:no-comments::ooo::pirate::?::(
:sleep::););)):0
Security
Silakan masukan kode ini yang tertera di atas untuk Anti-Spam.
LAST_UPDATED2