Webwww.uinjkt.ac.id
Please wait while JT SlideShow is loading images...
Informasi KTMDaftar Ulang Mahasiswa Baru 2010Welcome to ICT4M 2010Guru Besar UIN JakartaPembacaan Prasetya Sarjana

AGENDA

PROGRAM PENGENALAN STUDI DAN ALMAMATER (PROPESA), 1-3 OKTOBER 2010
Home Category Table Khotbah yang Menggelisahkan
Khotbah yang Menggelisahkan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Komaruddin Hidyat   
Jumat, 22 Januari 2010 12:05

KHOTBAH artinya pidato. Akan tetapi menurut rasa bahasa, kata khotbah selalu diartikan sebagai pidato keagamaan. Dalam tradisi Islam yang paling banyak dijumpai adalah khotbah Jumat.

Perkembangan khotbah Jumat di Tanah Air akhir-akhir ini menarik untuk dicermati. Menurut ajaran fikihnya, mendengarkan khotbah dan melaksanakan salat Jumat hukumnya sama-sama wajib meskipun pada praktiknya banyak juga orang yang datang terlambat mendengarkan khotbah. Yang mengagetkan, ada beberapa orang yang sengaja mau salatnya saja, tetapi enggan mengikuti khotbah. Mengapa? Karena isi khotbah bukannya menenangkan hati dan pikiran, tetapi malah menggelisahkan. Demikian seorang eksekutif muda menyampaikan keluhannya pada saya.

Kritik dan keluhan terhadap materi khotbah Jumat tidak sulit ditemukan. Belum lama ini lembaga penelitian Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta mengadakan penelitian profil masjid di Jakarta dan Solo. Sengaja masjidmasjid Solo diteliti karena di wilayah ini muncul gerakan radikal keagamaan. Bahkan beberapa pelaku teroris memiliki kaitan dengan paham keagamaan yang berkembang di Solo. Berdasarkan hasil penelitian, beberapa masjid di Jakarta dan Solo––dan mungkin sekali juga di kota lain––terbagi ke dalam beberapa kategori.Ada masjid yang dikuasai oleh jamaah NU, Muhammadiyah, pemerintah, independen, dan kelompok-kelompok keagamaan tertentu.

Perbedaan afiliasi pengurusnya akan berpengaruh pada pilihan khatib serta materi khotbahnya. Bahkan sampai pada tingkat tertentu juga paham fikih ubudiyahnya dan jamaah tetapnya. Umumnya masjid NU dan Muhammadiyah berpaham keislaman lebih moderat.Dulu,antara dua komunitas ini memang saling kritik dan serang, termasuk ketika ulamanya berkhotbah atau berceramah keagamaan. Namun, sekarang konflik itu menipis dan bahkan dua ormas ini dikenal sebagai penjaga tradisi Islam Indonesia yang moderat serta pengawal Pancasila yang konsisten. Hanya saja ketika masuk ke wilayah politik dan kekuasaan, polarisasi antara keduanya masih muncul.

Membajak Mimbar Masjid

Khususnya menjelang pemilu, forum dan mimbar Jumat sering dibajak untuk kampanye terselubung. Kata “dibajak”mungkin terlalu keras, tetapi itulah yang terjadi, yaitu penyalahgunaan mimbar ibadah untuk tujuan politik golongan.

Terlebih lagi jika pengurus masjid itu memiliki afiliasi kuat dengan partai politik (parpol) tertentu. Mimbar Jumat ini memang strategis untuk kampanye dan melakukan indoktrinasi karena yang ada adalah monolog, khatib sebagai pembicara tunggal yang tidak boleh ada interupsi dan pertanyaan.Saya dengar kasus serupa juga terjadi di lingkungan mimbar gereja.

Namun di masjid lebih terbuka sifatnya karena khotbahnya menggunakan loudspeaker sehingga orang lewat pun bisa mendengarkan. Yang menjadi perhatian dalam tulisan ini adalah tampilnya khatib-khatib yang isi khotbahnya provokatif sehingga membuat jamaah bukannya tenang melaksanakan ibadah Jumat,melainkan malah gelisah. Dalam penelitian itu ditemukan isi khotbah yang sering menjelekkan sesama umat Islam yang berbeda paham mengenai hal-hal yang tidak prinsipil dan memang dimungkinkan berbeda. Ada lagi khotbah yang provokatif mengajak perang,padahal kita hidup di daerah damai (darussalam).

Kutukan kepada Israel selalu muncul pada setiap khotbah Jumat dan umat Islam mesti bangkit melawan mereka di mana pun berada. Lebih lanjut lagi, siapa yang bersahabat dengan umat Yahudi adalah musuh Islam, sementara Amerika Serikat (AS) adalah pendukung setia Israel, negara bangsa Yahudi.Maka siapa pun yang bersahabat dengan AS dan belajar ke AS adalah musuh umat Islam. Oleh karena itu hatihati dengan agen dan antek AS yang berbaju Islam.

Logika dan provokasi di atas tentu menyesatkan.Mereka tidak menyadari bahwa di AS dan Eropa sendiri saat ini justru tengah terjadi proses Islamisasi yang sangat intens.Kalau di sini bermunculan gereja, di Barat bermunculan masjid. Jadi,sebaiknya khotbah Jumat itu yang mencerahkan dan mencerdaskan, jangan malah menggelisahkan tanpa data dan logika yang akurat.

Kalau tidak, orang akan enggan ke masjid untuk mendengarkan khotbah dan kalaupun datang hanya untuk tidur menunggu salat.Hasil penelitian UIN itu menarik direnungkan oleh para khatib dan pengurus masjid, janganlah masjid yang suci dan mulia dibajak oleh agenda kelompok yang malah meresahkan umat.(*)

Comments (9)
  • ali hasan  - maaf!tong kosong....pepesan kosong
    Ass wr wb
    saya setuju sekali dan sangat mendukung...namun saya harus meminta maaf dahulu kepada pak Rektor dan pembaca!kita sering mendengar ungkapan "tong kosong nyaring bunyinya" kalau dalam pepatah arab kuno "????? ??? ?? ?????ja`ja`ah walam ara thohiinan:suara tumbukan tetapi tidak terlihat gandum yang ditumbuk"saya takut kalau itu yang terjadi di banyak MIMBAR JUMAT;padahal mimbar tersebut sarana paling efektif untuk menambah ilmu iman ukhuwwah umat setiap pekan...sayang sekali banyak khotib yang tidak memahami FIQH DA`WAH,akhirnya materi jumat menjadi "pepesan kosong"...kita harus memikirkan dan berusaha dengan serius meningkatkan kualitas MIMBAR JUMAT yang merupakan warisan NABI saw..jangan sampai semua usaha memperbaiki MIMBAR JUMAT terjebak menjadi "tong kosong nyaring bunyinya" dan hanya "pepesan kosong"....
    w salam.
  • shiro  - Khotbah yang Menggelisahkan
    saya rasa yg terbaik dr semuanya adalah kita kembali ke diri kita sendiri dulu, selalulah jd org baik dan cobalah untuk terus berbuat baik ke semua org tanpa melihat siapa, apa agamanya, kaya atau miskin, dll. karena setiap manusia pd hakekatnya adalah sama, suka perdamaian dan kasih sayang...
    mudah-mudahan!
  • ringkid
    :love: :love:

    Orang yg kita tuduh Provokatif, tong kosong, dan ungkapan pejoratif lainnya, tentu saja akan berbalik menuduh kita melakukan pendangkalan sikap keberagamaan.

    Yang melakukan penelitian dan penilaian adalah Cendekiawan (peneliti) UIN yg punya Standar berbeda tentang sikap keberagamaan.

    seandainya (saya hanya berimajinasi) pak Komar atau temen2 Peneliti UIN berkhutbah dimasjid raya kampung saya tentang Sekulerisme-nya Caknur, konsep rahmatan Lilalaminnya temen2 UIN, mungkin akan dianggap sampah dan tongkosong. itu masih bagus, kalo tidak dilempai sepatu seperti BUSH jr.
  • WS. Irawan  - Khotbah Kebenaran yang parsial
    Begitu saya baca artikel ini, kok saya merasa klop dengan khotbah jum'at yang baru beberapa hari saya dengar... ketika berada di masjid saya merasa Indonesia ini begitu genting, yang dibicarakan cuma membunuh, perang, sesat dan lain-lain yang sangat tidak enak didengar. Khotbahnya merupakan ungkapan kebenaran yang sangat-sangat parsial ( dari sudut pribadi atau golongan tertentu ) padahal kebenaran Tuhan itu sangat luas. Makanya kalo bisa seorang khatib harus berusaha memahami kebenaran itu secara keseluruhan sebagai "umat manusia dulu" jangan hanya dari sudut muslim doang ... bukankah Islam itu rahmatan Lil 'Alamin. Mas komar terima kasih, sebarkan terus Islam yang Rahmatan Lil 'Alamin........
  • Jamil  - khutbah yang menyejukkan
    saat para khotib untuk menyampaikan tema-tema khutbah yang menyejukkan. tidak membahas hal-hal yang masih diperselisihkan.
  • Suryana  - Peran UIN
    Bagaimana dengan khutbah yang disampaikan oleh para aluimni UIN? Apakah menggelisahkan juga?
    Perlu dilakukan Penelitian oleh Fakultas Dakwah UIN. Bagaimana karakteristik dakwah para alumninya? Menyejukkan, Menggelisahkan, atau tidak berkhutbah?
  • bass  - setuju
    saya sangat setuju tapi,masalahnya orang-orang yang cendrung provokatif itu terlalu ekslusiv hingga mereka seakan mengharamkam membaca artikel-artikel yang dilarang oelh murobinya, bagai mana prof.
  • Nurdin  - Bagaimana Dengan Pa Komar?
    Membaca tulisan-tulisan pa komar, baik yang di majalah "nebula" ESQ nya mas Ary Ginanjar, atau di koran-koran serasa sejuk menenangkan. Tapi kalau berbicara masalah sekularisme, pluralisme dan isme yang lainnya, kadang menggelisahkan, sama seperti para khotib yang dipaparkan oleh pa Komar di atas. mungkin kalau dalam berbagai tulisan pa komar berbicara dengan hati. kalau di mimbar akademis pa komar berbicara dengan ilmunya, karena pa komar disiplin ilmunya filsafat. Wallahu'alam. Tabik...pa Profesor.
Tulis Komentar
Your Contact Details:
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   
:D:angry::angry-red::evil::idea::love::x:no-comments::ooo::pirate::?::(
:sleep::););)):0
Security
Silakan masukan kode ini yang tertera di atas untuk Anti-Spam.
LAST_UPDATED2