BERITA UIN Online – Dewasa ini, umat Islam terpecah belah, tampil dengan wajah penuh kekerasan, tumbuhnya radikalisme agama dan radikalisme sekuler. Dan pada sisi yang lain, umat Islam mengalami gempuran tiada henti dari berbagai arah, ekonomi, politik, sosial, dan lain-lain yang semakin menjauhkan umatnya dari akidah, syariah, dan akhlak yang islami sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.

Pikiran di atas disampaikan Dr Zubari Akhmad, Sekretaris Jenderal Dewan Ulama Thariwah Indonesia (DUTI) dan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah, pada wartawan Berita UIN Online, Jumat (6/3/2107).

“Pengaruh globalisasi sangat kuat sekali memberi efek ke perkembangan dan pertumbuhan anak. Dan jika tidak dibentengi dengan akidah yang kuat, pengetahuan agama yang memadai, dan keteladanan yang baik, maka mereka akan tumbuh dengan tanpa pegangan, tanpa identitas, dan tanpa nilai,” tutur Zubair

Jika sebuah generasi hadir tanpa pegangan, tanpa identitas dan tanpa nilai, menurut Zubair, ini merupakan awal bagi kehancuran sebuah generasi. Pembekalan seperti ini perlu, mengingat dewasa ini realitas umat Islam, banyak yang terpecah belah.

Lebih jauh menurut Zubari, dosen mata kuliah Akhlak Tasawuf, perlu ada terobosan dalam melakukan pengkaderan dan pembekalan bagi umat Islam

“Tanpa adanya ukhuwah atau rasa persaudaraan, mustahil akan terwujud kecintaan kepada agama dan rasa tanggungjawab bagi keutuhan, keberlanjutan, dan kemajuan bangsa dan negara,” tegas Zubair.

Terobosan lain dalam menghadapi situasi saat ini, menurut Zubair adalah jalan tarekat. Jalan tarekat adalah satu pintu untum menumbuhkan sikap cinta agama dan bela negara

“Itulah sebabnya, mengapa  kami menggelar pertemuan para mursyid se-Asean. Tema pada pertemuan para musryid itu,  “Cinta Agama dan Bela Negara”. Tema ini menegaskan bahwa Dewan Ulama Thariqah memandang bahwa “Cinta Agama dan Bela Negara” tidak selalu diartikan hanya dalam bentuk fisik karena bahan dasar bela negara adalah ukhuwah atau rasa persaudaraan,” ungkap ujar Sekjen DUTI, yang baru saja mengadakan pertemuan pada tanggal 1-2 April 2017 di Pondok Pesantren Tasawuf Rabbani, Solok Sumatera Barat.

Tanpa adanya ukhuwah atau rasa persaudaraan, lanjut Zubair, mustahil akan terwujud kecintaan kepada agama dan rasa tanggungjawab bagi keutuhan, keberlanjutan, dan kemajuan bangsa dan negara. DUTI ingin mewujudkan ukhuwah yang terutama adalah mempertautkan yang jauh demi terwujudnya umat yang kuat yang tidak mudah terpecah belah oleh kepentingan-kepentingan duniawi semata. (Edy E)

Share This