Yusuf Mansyur: Saya Bangga Jadi Alumnus UIN Jakarta

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Reporter: Luthfi Destianto

Auditorium Utama, UINJKT Online ¬– Sekilas pelaksanaan Wisuda Sarjana ke-74 UIN Jakarta yang digelar di Auditorium Utama, Sabtu (10/12) tampak sama dengan seremoni wisuda biasa. Namun, ternyata ada yang berbeda dari pagelaran sebelumnya yaitu hadirnya seorang dai kondang bernama Ustadz Yusuf Mansyur.

Yusuf Mansur hadir dalam acara tersebut bukan untuk mengisi pengajian, melainkan menjadi salah satu peserta yang akan diwisuda siang hari itu. Ia berhasil meraih gelar Sarjana Hukum Islam (SHI) pada Program Studi Akhwal Syakhsyiah Fakultas Syariah dan Hukum (FSH).

Keberadaan Yusuf Mansyur di tengah Wisuda Sarjana ke-74, kontan saja menyedot perhatian wisudawan/wisudawati lainnya. Sebab banyak di antara mereka yang tidak mengetahui, penulis buku Wisata Hati ini adalah bagian dari mahasiswa UIN Jakarta yang akan diwisuda.

Sebagai dai, Yusuf Mansyur diberikan kesempatan memberikan ceramah dihadapan 722 wisudawan/wisudawati yang hadir dalam seremoni yang berlangsung selama tak kurang dari tiga jam tersebut.

Mengawali ceramahnya, ia mengaku terharu bisa menjadi bagian dari keluarga besar UIN Jakarta dan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, termasuk didalamnya Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat. “Saya bangga menjadi lulusan UIN Jakarta walaupun saya harus studi di sini selama 10 tahun,” katanya.

Selanjutnya, pengasuh Lembaga Wisata Hati ini mengajak mahasiswa untuk tunduk dan tawadlu atas segala pemberian Allah SWT. “Aktualisasi nyata dari tawadlu ialah dengan shalat. Tanpa kita melaksanakan shalat jangan harap Allah mendengar keluhan kita dan mengabulkan doa kita. Jangan harap kita bisa memperoleh kenyamanan di dunia jikalau hubungan kita dengan Allah SWT dilupakan,” ujarnya.

Shalat, lanjut Yusuf Mansur, bukan hanya mencegah orang yang mendirikannya dari perbuatan keji dan mungkar. Namun lebih dari itu, shalat mampu membuka rezeki, dan membuat hati menjadi tenang.”Jangan harap kalian bisa mendapat pekerjaan, kalau tidak melaksanakan shalat. Rata-rata orang lupa shalat karena mencari rezeki, itu salah kaprah. Justru dengan kita shalat, rezeki yang menghampiri kita,” imbuhnya dengan logat khas betawi.

Usai berceramah, Yusuf Mansur langsung diserbu wartawan, ia pun menggelar konferensi pers di Lobby Rektorat. Di depan para jurnalis, ia menceritakan, dulu ia pernah didrop-out (DO) saat kuliah. Ceritanya, dahulu ia pernah kuliah tahun 1992-1996. Namun, karena ketiadaan biaya, ia langsung di-DO. “Waktu dipertemukan dengan Pembantu Rektor Akademik saat itu, Purek mengatakan kalau saya udah nunggak bayar kuliah empat semester,” tukasnya.

Tahun 2002 Ustadz Yusuf Mansyur pun memutuskan untuk berkuliah lagi di fakultas dan jurusan yang sama. “Waktu itu, saya bercita-cita ingin menjadi hakim yang jujur dan amanah. Kalau nggak jadi hakim minimal jadi penghulu. Bisa beramal ngawinin orang banyak,” kelakarnya. [Nif/Ed]

Yusuf Mansyur: Saya Bangga Jadi Alumnus UIN Jakarta

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Reporter: Luthfi Destianto

Auditorium Utama, UINJKT Online ¬– Sekilas pelaksanaan Wisuda Sarjana ke-74 UIN Jakarta yang digelar di Auditorium Utama, Sabtu (10/12) tampak sama dengan seremoni wisuda biasa. Namun, ternyata ada yang berbeda dari pagelaran sebelumnya yaitu hadirnya seorang dai kondang bernama Ustadz Yusuf Mansyur.

Yusuf Mansur hadir dalam acara tersebut bukan untuk mengisi pengajian, melainkan menjadi salah satu peserta yang akan diwisuda siang hari itu. Ia berhasil meraih gelar Sarjana Hukum Islam (SHI) pada Program Studi Akhwal Syakhsyiah Fakultas Syariah dan Hukum (FSH).

Keberadaan Yusuf Mansyur di tengah Wisuda Sarjana ke-74, kontan saja menyedot perhatian wisudawan/wisudawati lainnya. Sebab banyak di antara mereka yang tidak mengetahui, penulis buku Wisata Hati ini adalah bagian dari mahasiswa UIN Jakarta yang akan diwisuda.

Sebagai dai, Yusuf Mansyur diberikan kesempatan memberikan ceramah dihadapan 722 wisudawan/wisudawati yang hadir dalam seremoni yang berlangsung selama tak kurang dari tiga jam tersebut.

Mengawali ceramahnya, ia mengaku terharu bisa menjadi bagian dari keluarga besar UIN Jakarta dan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, termasuk didalamnya Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat. “Saya bangga menjadi lulusan UIN Jakarta walaupun saya harus studi di sini selama 10 tahun,” katanya.

Selanjutnya, pengasuh Lembaga Wisata Hati ini mengajak mahasiswa untuk tunduk dan tawadlu atas segala pemberian Allah SWT. “Aktualisasi nyata dari tawadlu ialah dengan shalat. Tanpa kita melaksanakan shalat jangan harap Allah mendengar keluhan kita dan mengabulkan doa kita. Jangan harap kita bisa memperoleh kenyamanan di dunia jikalau hubungan kita dengan Allah SWT dilupakan,” ujarnya.

Shalat, lanjut Yusuf Mansur, bukan hanya mencegah orang yang mendirikannya dari perbuatan keji dan mungkar. Namun lebih dari itu, shalat mampu membuka rezeki, dan membuat hati menjadi tenang.”Jangan harap kalian bisa mendapat pekerjaan, kalau tidak melaksanakan shalat. Rata-rata orang lupa shalat karena mencari rezeki, itu salah kaprah. Justru dengan kita shalat, rezeki yang menghampiri kita,” imbuhnya dengan logat khas betawi.

Usai berceramah, Yusuf Mansur langsung diserbu wartawan, ia pun menggelar konferensi pers di Lobby Rektorat. Di depan para jurnalis, ia menceritakan, dulu ia pernah didrop-out (DO) saat kuliah. Ceritanya, dahulu ia pernah kuliah tahun 1992-1996. Namun, karena ketiadaan biaya, ia langsung di-DO. “Waktu dipertemukan dengan Pembantu Rektor Akademik saat itu, Purek mengatakan kalau saya udah nunggak bayar kuliah empat semester,” tukasnya.

Tahun 2002 Ustadz Yusuf Mansyur pun memutuskan untuk berkuliah lagi di fakultas dan jurusan yang sama. “Waktu itu, saya bercita-cita ingin menjadi hakim yang jujur dan amanah. Kalau nggak jadi hakim minimal jadi penghulu. Bisa beramal ngawinin orang banyak,” kelakarnya. [Nif/Ed]