Yuk Ngobrolin Makanan!

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

BERBICARAtentang makanan biasanya akan membawa kita pada imajinasi tentang sesuatu untuk dikonsumsi agar dapat memenuhi hajat akan energi untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari.

Makanan dipandang sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan fisik meskipun ada pula yang memberi konotasi sebagai nutrisi untuk memenuhi kebutuhan yang tidak bersifat fisik, tapi spiritual atau jiwa. Biasanya makna kedua ini merujuk pada kebutuhan terhadap siraman jiwa yang berupa ajaran agama, nasihat tentang kearifan ataupun ekspresi cinta, kasih sayang atau perhatian. Kedua pengertian tersebut sama-sama mengasumsikan perlunya asupan yang baik dan sehat seperti yang juga diperintahkan Alquran surah Al-Baqarah ayat 57 “kuluu min thayyibat ma razaqnakum” yang artinya makanlah yang baik-baik yang telah kami berikan kepadamu.

Ayat di atas mengindikasikan apa yang kita makan itu penting untuk mendapat perhatian. Artinya, makanan bukan sekadar untuk mengenyangkan, melainkan memiliki makna lebih dalam dari itu. Ada pepatah mengatakan, you are is what you eat, artinya siapa dirimu tercermin dari apa yang kamu makan. Ini menunjukkan, makanan apa yang kita konsumsi sedikit atau banyak merepresentasikan siapa kita, bagaimana cara pandang kita tentang banyak hal. Orang yang mengikuti gaya hidup vegetarian, yaitu menghindari makanan yang berasal dari hewan misalnya, berpandangan bahwa sebagai sesama makhluk hidup, hewan tidak berhak untuk menderita karena penyembelihan oleh manusia.

Karenanya hewan tidak menjadi bagian dari menu mereka. Bagi umat Islam dan Yahudi, babi juga dianggap makanan yang tidak boleh dikonsumsi sehingga ada istilah makanan halal bagi kaum muslim atau kosher bagi kaum Yahudi. Bahkan cara pandang seperti itu telah melahirkan institusi yang menangani dan mengawasi kehalalan makanan bagi muslim di Indonesia seperti Majelis Ulama Indonesia. Selain makanan berkorelasi dengan ideologi seperti dicontohkan di atas, dia juga memiliki kaitan erat dengan tingkat adaptability dan keterbukaan ataupun sebaliknya dengan tingkat resistensi dan kekakuan seseorang dalam menerima sesuatu yang baru atau berbeda.

Saya teringat cerita kawan saya yang saat itu baru saja sampai di sebuah kota di Amerika untuk belajar. Sebagai orang yang datang dari kampung, dia bercerita betapa sulitnya ketika pertama kali dia makan burger. Karena dalam bayangannya dan berdasarkan kebiasaan dia di kampung, roti itu mestilah dimakan dengan mentega dan cokelat atau tambahan lain yang rasanya manis. Ketika dia menemukan roti yang dimakan dengan sayuran, daging, dan saus tomat ditambah lagi rasanya pun asin, pikirannya menolak dan itu langsung tergambar dari reaksi fisiknya yang tidak mau menelan makanan tersebut.

Ada semacam perasaan this is not right, ini tidak semestinya begini, ini keliru, ada yang salah dan seterusnya sehingga makanan yang terasa “asing” itu tidak bisa lolos sensor tenggorokannya. Keluar dari comfort zone atau wilayah nyaman memang tidak mudah. Pasti akan menimbulkan kekhawatiran, ketidakpastian, dan ketidaknyamanan atau unheimlich (not feeling at home). Sebagai reaksi terhadap kondisi ini, ada orang yang mau berusaha mencoba memahami sesuatu yang baru tersebut, ada pula yang resisten atau daya tolaknya tinggi dan menganggap apa yang berbeda dari apa yang pernah dia tahu dan alami adalah keliru dan tidak baik.

Inilah yang sering disebut dengan subjektivitas. Subjektivitas sesungguhnya adalah sesuatu yang alamiah. Karena pengalaman seseorang dan pengetahuan yang dia dapat semenjak masa kecil dari keluarga atau pergaulan akan membentuk cara pandang seseorang sehingga pikiran, cara pandang, selera, dan cara berperilakunya pun tidak bisa lepas dari pengaruh pengalaman subjektif tadi. Karenanya, kita akan menyaksikan seseorang memiliki pandangan sama atau berbeda dengan orang lain. Adik-kakak, teman satu negara atau teman satu pesantren sangat mungkin akan memiliki cara pandang yang sama dalam beberapa hal, tetapi juga berbeda dalam hal lain.

Pernah suatu ketika saya mengajak kawan untuk makan sushi, makanan Jepang yang berupa nasi yang digulung dengan berbagai rasa dan diberi garnish atau hiasan sedemikian rupa. Kawan ini bilang, “Ah, lebih enak lemper daripada sushi. Lagian kan sama-sama dari beras, tapi kan rasanya jauh lebih enak lemper.” Bagi saya, komentar ini tidak mengherankan karena bagi seseorang yang dibesarkan di sebuah kota kecil di Yogyakarta, maka fore-structures atau kekayaan informasi, pengalaman, dan imajinasi yang sudah tertanam dalam benaknya semenjak kecil, khususnya tentang apa itu makanan enak dan tidak enak, tentu saja ditentukan oleh pengalaman tersebut.

Dan berdasarkan pengalaman itu pula, dia mendasarkan judgment-nya bahwa A lebih enak dari B atau sebaliknya. Berpendapat subjektif tentang rasa makanan tersebut tidaklah salah, bahkan itu adalah sesuatu yang alamiah saja. Yang hendaknya dihindari adalah mengatakan bahwa subjektivitas yang satu lebih baik atau lebih benar dari subjektivitas yang lain. Karena pada dasarnya, tiap klaim tadi lahir dari sebuah keniscayaan historisitas atau presuposisi yang terdiri atas cara pandang, pengalaman yang berbeda dan unik. Mari kita ambil contoh lagi, bagaimana makanan yang dikonsumsi orang Kongo di Afrika dan orang Jepang.

Bagi orang Kongo, pisang besar merupakan makanan intinya sehingga dalam sebuah jamuan, lauk seperti ayam goreng, ikan goreng akan disajikan dengan pisang tadi. Tak ada bumbu yang heboh seperti di Indonesia. Sepertinya kesederhanaan penyajian ini karena makanan di sana berfungsi primer, yaitu memenuhi kebutuhan energi. Ini berbeda dengan sushi makanan Jepang yang sudah kita sebutkan di atas. Bagi orang Jepang, makanan tidak hanya memiliki fungsi primer,mengenyangkan, tapi juga estetis, indah dipandang mata. Dari sini, sesungguhnya kita bisa belajar, makanan dan apa yang kita makan serta bagaimana makanan itu dikonsumsi bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri.

Semuanya itu merupakan miniatur dari pencapaian budaya, peradaban, dan tingkat cara pandang seseorang atau sekelompok orang terhadap banyak hal. Karenanya sangat lumrah bila kita menemukan food culture atau budaya makanan yang beragam, sebanyak ragamnya judgment tentang rasa berbagai jenis makanan tersebut.

Bila ada orang yang belum apa-apa sudah apriori untuk mencoba jenis makanan yang baru ditemuinya, bahkan sudah mendahulukan klaim buruk dan tidak enak didengar, maka besar kemungkinan orang tersebut memiliki kecenderungan untuk berpandangan lebih kaku dalam hal lain. Barangkali ada benarnya kalau kita mengatakan bahwa you are is what you eat, tapi juga you are is how you eat.(*)

 

Yuk Ngobrolin Makanan!

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

BERBICARAtentang makanan biasanya akan membawa kita pada imajinasi tentang sesuatu untuk dikonsumsi agar dapat memenuhi hajat akan energi untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari.

Makanan dipandang sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan fisik meskipun ada pula yang memberi konotasi sebagai nutrisi untuk memenuhi kebutuhan yang tidak bersifat fisik, tapi spiritual atau jiwa. Biasanya makna kedua ini merujuk pada kebutuhan terhadap siraman jiwa yang berupa ajaran agama, nasihat tentang kearifan ataupun ekspresi cinta, kasih sayang atau perhatian. Kedua pengertian tersebut sama-sama mengasumsikan perlunya asupan yang baik dan sehat seperti yang juga diperintahkan Alquran surah Al-Baqarah ayat 57 “kuluu min thayyibat ma razaqnakum” yang artinya makanlah yang baik-baik yang telah kami berikan kepadamu.

Ayat di atas mengindikasikan apa yang kita makan itu penting untuk mendapat perhatian. Artinya, makanan bukan sekadar untuk mengenyangkan, melainkan memiliki makna lebih dalam dari itu. Ada pepatah mengatakan, you are is what you eat, artinya siapa dirimu tercermin dari apa yang kamu makan. Ini menunjukkan, makanan apa yang kita konsumsi sedikit atau banyak merepresentasikan siapa kita, bagaimana cara pandang kita tentang banyak hal. Orang yang mengikuti gaya hidup vegetarian, yaitu menghindari makanan yang berasal dari hewan misalnya, berpandangan bahwa sebagai sesama makhluk hidup, hewan tidak berhak untuk menderita karena penyembelihan oleh manusia.

Karenanya hewan tidak menjadi bagian dari menu mereka. Bagi umat Islam dan Yahudi, babi juga dianggap makanan yang tidak boleh dikonsumsi sehingga ada istilah makanan halal bagi kaum muslim atau kosher bagi kaum Yahudi. Bahkan cara pandang seperti itu telah melahirkan institusi yang menangani dan mengawasi kehalalan makanan bagi muslim di Indonesia seperti Majelis Ulama Indonesia. Selain makanan berkorelasi dengan ideologi seperti dicontohkan di atas, dia juga memiliki kaitan erat dengan tingkat adaptability dan keterbukaan ataupun sebaliknya dengan tingkat resistensi dan kekakuan seseorang dalam menerima sesuatu yang baru atau berbeda.

Saya teringat cerita kawan saya yang saat itu baru saja sampai di sebuah kota di Amerika untuk belajar. Sebagai orang yang datang dari kampung, dia bercerita betapa sulitnya ketika pertama kali dia makan burger. Karena dalam bayangannya dan berdasarkan kebiasaan dia di kampung, roti itu mestilah dimakan dengan mentega dan cokelat atau tambahan lain yang rasanya manis. Ketika dia menemukan roti yang dimakan dengan sayuran, daging, dan saus tomat ditambah lagi rasanya pun asin, pikirannya menolak dan itu langsung tergambar dari reaksi fisiknya yang tidak mau menelan makanan tersebut.

Ada semacam perasaan this is not right, ini tidak semestinya begini, ini keliru, ada yang salah dan seterusnya sehingga makanan yang terasa “asing” itu tidak bisa lolos sensor tenggorokannya. Keluar dari comfort zone atau wilayah nyaman memang tidak mudah. Pasti akan menimbulkan kekhawatiran, ketidakpastian, dan ketidaknyamanan atau unheimlich (not feeling at home). Sebagai reaksi terhadap kondisi ini, ada orang yang mau berusaha mencoba memahami sesuatu yang baru tersebut, ada pula yang resisten atau daya tolaknya tinggi dan menganggap apa yang berbeda dari apa yang pernah dia tahu dan alami adalah keliru dan tidak baik.

Inilah yang sering disebut dengan subjektivitas. Subjektivitas sesungguhnya adalah sesuatu yang alamiah. Karena pengalaman seseorang dan pengetahuan yang dia dapat semenjak masa kecil dari keluarga atau pergaulan akan membentuk cara pandang seseorang sehingga pikiran, cara pandang, selera, dan cara berperilakunya pun tidak bisa lepas dari pengaruh pengalaman subjektif tadi. Karenanya, kita akan menyaksikan seseorang memiliki pandangan sama atau berbeda dengan orang lain. Adik-kakak, teman satu negara atau teman satu pesantren sangat mungkin akan memiliki cara pandang yang sama dalam beberapa hal, tetapi juga berbeda dalam hal lain.

Pernah suatu ketika saya mengajak kawan untuk makan sushi, makanan Jepang yang berupa nasi yang digulung dengan berbagai rasa dan diberi garnish atau hiasan sedemikian rupa. Kawan ini bilang, “Ah, lebih enak lemper daripada sushi. Lagian kan sama-sama dari beras, tapi kan rasanya jauh lebih enak lemper.” Bagi saya, komentar ini tidak mengherankan karena bagi seseorang yang dibesarkan di sebuah kota kecil di Yogyakarta, maka fore-structures atau kekayaan informasi, pengalaman, dan imajinasi yang sudah tertanam dalam benaknya semenjak kecil, khususnya tentang apa itu makanan enak dan tidak enak, tentu saja ditentukan oleh pengalaman tersebut.

Dan berdasarkan pengalaman itu pula, dia mendasarkan judgment-nya bahwa A lebih enak dari B atau sebaliknya. Berpendapat subjektif tentang rasa makanan tersebut tidaklah salah, bahkan itu adalah sesuatu yang alamiah saja. Yang hendaknya dihindari adalah mengatakan bahwa subjektivitas yang satu lebih baik atau lebih benar dari subjektivitas yang lain. Karena pada dasarnya, tiap klaim tadi lahir dari sebuah keniscayaan historisitas atau presuposisi yang terdiri atas cara pandang, pengalaman yang berbeda dan unik. Mari kita ambil contoh lagi, bagaimana makanan yang dikonsumsi orang Kongo di Afrika dan orang Jepang.

Bagi orang Kongo, pisang besar merupakan makanan intinya sehingga dalam sebuah jamuan, lauk seperti ayam goreng, ikan goreng akan disajikan dengan pisang tadi. Tak ada bumbu yang heboh seperti di Indonesia. Sepertinya kesederhanaan penyajian ini karena makanan di sana berfungsi primer, yaitu memenuhi kebutuhan energi. Ini berbeda dengan sushi makanan Jepang yang sudah kita sebutkan di atas. Bagi orang Jepang, makanan tidak hanya memiliki fungsi primer,mengenyangkan, tapi juga estetis, indah dipandang mata. Dari sini, sesungguhnya kita bisa belajar, makanan dan apa yang kita makan serta bagaimana makanan itu dikonsumsi bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri.

Semuanya itu merupakan miniatur dari pencapaian budaya, peradaban, dan tingkat cara pandang seseorang atau sekelompok orang terhadap banyak hal. Karenanya sangat lumrah bila kita menemukan food culture atau budaya makanan yang beragam, sebanyak ragamnya judgment tentang rasa berbagai jenis makanan tersebut.

Bila ada orang yang belum apa-apa sudah apriori untuk mencoba jenis makanan yang baru ditemuinya, bahkan sudah mendahulukan klaim buruk dan tidak enak didengar, maka besar kemungkinan orang tersebut memiliki kecenderungan untuk berpandangan lebih kaku dalam hal lain. Barangkali ada benarnya kalau kita mengatakan bahwa you are is what you eat, tapi juga you are is how you eat.(*)