Komaruddin Hidayat

AKHIR-akhir ini handphone (HP) tidak lagi sekadar tool atau alat komunikasi jarak jauh, tetapi telah naik kelas menjadi bagian integral dan perpanjangan dari kepribadian seseorang atau extended self. Telepon genggam telah mengganti tradisi ngobrol dan tatap muka yang telah lama mengakar di masyarakat tradisional, lalu berubah menjadi ngobrol di dunia maya dan gambar.

Bersamaan dengan tren masyarakat yang semakin individualistis, baik karena pengaruh kompetisi berebut sumber ekonomi maupun kemacetan lalu lintas, kebutuhan orang berkomunikasi lalu difasilitasi oleh telepon seluler yang tak pernah lepas ke mana pun dan di mana pun seseorang berada. Fenomena ini sangat mudah diamati di lingkungan keluarga dan masyarakat. Ketika seseorang kehilangan HP-nya seakan kehilangan sebagian dirinya.

Komunikasi melalui WhatsApp dan Twitter menggabungkan budaya ngobrol dan membaca, chatting and writing, serta menghilangkan hierarki. Perasaan dan pikiran apa pun dengan leluasa dituliskan layaknya peristiwa ngobrol, tapi dalam format tulisan.

Jika seseorang menulis dalam media sosial semacam surat kabar atau majalah, di sana terdapat editor yang menyeleksi dan mengoreksi sebelum disebarkan. Ada redaktur yang bertanggung, jelas orang dan alamatnya.

Namun dalam media online, lalu lintas berlangsung bebas hampir-hampir tanpa rambu-rambu dan tanpa hierarki. Semua berkedudukan sama. Kita juga sulit mengecek dan tidak mudah percaya, apakah nama pengirim dan penulis itu benar-benar autentik orangnya ataukah nama samaran. Terlebih, jika tulisan itu berupa copy paste (copas).

Oleh karenanya, ketika informasi dan teks itu bagaikan hujan lebat yang masuk dan mengguyur pekarangan HP kita, maka jangan buru-buru percaya. Jangan semuanya ditelan. Di situlah kedewasaan emosi, integritas intelektual, serta selera bacaan seseorang akan terlihat.

Ada orang yang selektif, menganggap banyak sampah yang masuk ke ruang hati dan pikiran kalau saja dibaca semuanya. Kita menjadi garbage collector. 

Pengumpul sampah, baik sampah tulisan maupun sampah visual. Sikap selektif ini sangat penting, mengingat di sana terdapat nasihat klasik, you are what you read. Apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan seseorang itu, banyak dipengaruhi oleh apa yang dilihat dan dibaca.

Mengapa kaum kapitalis sangat peduli pada iklan, bahkan rela mengeluarkan uang ratusan miliar untuk iklan? Karena mereka yakin bahwa apa yang dilihat itu akan memengaruhi pilihan dan menggerakkan tindakan untuk berbelanja.

Maka tak heran, belakangan ini iklan properti Meikarta, misalnya, muncul di berbagai media massa dan sudut-sudut kota Jakarta dengan asumsi bahwa iklan itu akan menstimulasi masyarakat untuk membelinya. Dana triliunan rupiah dibelanjakan untuk iklan.

Saya ingin berbagi cerita. Ada seorang teman bergabung dalam sebuah WhatsApp Group (WAG). Teman tadi sehabis membaca selalu ngedumel dan kadang hatinya panas karena isi dalam WAG itu tidak sejalan dengan pandangan politiknya dan agamanya. Pendeknya, isinya dianggap sampah, kasar, dan tidak etis.

Tetapi anehnya, dia tidak mau keluar dari WAG dan selalu saja membaca postingan yang dia tidak senang. Jadi, dengan setia membaca postingan yang tidak disenangi, sama saja dengan setia mengundang fans memasukkan sampah ke dalam hati dan pikirannya.

Mestinya, jika tidak senang cukup keluar dari WAG atau tidak membacanya. Kecuali jika yang dibacanya itu bermutu, maka teks postingan itu bagaikan vitamin atau cahaya yang membuat hati dan pikiran sehat serta terang dalam memandang hidup.

Membaca berarti juga menulis ulang dalam folder memori mental. Maka bacalah buku dan postingan yang sehat, berkualitas, karena bacaan itu pada urutannya akan mengkristal ingatan dan referensi ketika seseorang berbicara serta bertindak.

Saat ini sudah terlalu banyak sampah visual dan tekstual. Jangan sampai merusak selera kita menjadi rendah dan murahan.

Tuhan menciptakan ruang hati dan pikiran begitu mahal dan mulia. Jangankan hati dan pikiran, kalau kita punya almari pun pakaian yang kotor tidak akan kita masukkan. Rumah pun tiap pagi dan sore kita sapu, pel, dan bersihkan agar mengkilap. Terlebih cawan hati dan pikiran, mestinya lebih bersih.

Penulis adalah Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tulisan dimuat dalam kolom opini Koran Sindo, Jumat 17 November 2017. (Farah NH/zm)

Share This