Auditorium Utama, Berita UIN Online— “Buat Rendra, hal yang terpenting adalah daulat manusia, itu adalah fondasi. Setiap manusia punya kewajiban hidup yang tidak pernah dan tidak boleh ditinggalkan yaitu membuat daya hidup mengalahkan daya mati.” Demikian ucap Pengamat Politik Jakarta Aep Saifullah Fatah saat memberikan paparan tentang WS Rendra dalam acara 80 Tahun Rendra dalam Kenangan Sahabat, Senin (16/11) di Auditorium Harun Nasution.

Ditambahkannya, bahwa Rendra pernah berkata ketika seseorang sudah memenangkan daya hidupnya, maka dia sudah membuat peristiwa kebudayaan yang penting yaitu membangun daulat manusia.

“Daulat manusia dibangun oleh dua hal, hidup dan mutu hidup. Setiap orang yang tidak punya daya hidup maka ia tidak punya mutu hidup. Dan setiap orang yang ingin punya mutu hidup maka ia harus punya daya hidup” paparnya.

Acara dimaksudkan untuk mengenang 80 tahun dan Haul WS Rendra. Menurut Wakil Dekan Bidang Akdemik Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Muhammad Zuhdi, M. Ed, Ph.D, acara ini terselenggara atas kepercayaan keluarga WS Rendra kepada UIN Jakarta.

“saat saya mendapatkan informasi bahwa keluarga memberikan kepercayaan kepada kita (UIN Jakarta) khususunya Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia untuk mengenang WS Rendra, saya senang sekali, karena ini mengingatkan kita terhadap penyair dan karya-karyanya,” tutur Zuhdi.

Zuhdi menambahkan, dengan mengenang WS Rendra, dapat membangkitkan semangat para sahabat dan juga mahasiswa untuk selalu peduli terhadap sesama, sebagaimana yang Rendra senantiasa dengungkan melalui bait-bait syairnya.

“Saya berharap, kita semua mampu memetik hikmah dan meneladani nilai positif ajaran yang diwariskan WS Rendra, selain mengapresiasi karya Rendra, kita juga dapat melanjutkan perjuangan dalam mengembangkan sastra, serta menjadikan sastra alat komunikasi publik, menjadi sastra menjadi media yang dapat berdialog tentang perubahan sosial dan politik”.” paparnya.

Sebagai informasi, WS Rendra adalah seorang penyair dan sastrawan ternama Indonesia, diantara karyanya Ibu di atas Debu, Sajak Sebatang Lisong, Doa untuk Anak Cucu, Kisah Suku Naga, Sajak Sepatu Tua, dan lainnya. Penyair yang dijuluki Si Burung Merak ini mempunyai nama asli Willibrordus Surendra Broto Rendra, lahir di Solo, Hindia Belanda, 7 November 1935 dan wafat di Depok 6 Agustus 2009. (FNH/LRF)

Share This