Waspadai Lupus, Penyakit Mematikan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Reporter: Hamzah Farihin

 

Auditorium Utama, UINJKT Online - Penyakit lupus merupakan salah satu jenis penyakit baru yang mematikan, setara dengan kanker. Gejala umum penyakit ini dapat diidentifikasi dari timbulnya rasa demam, rasa lelah berkepanjangan, rambut rontok, dan pegal-pegal otot.

 

”Faktor lingkungan diduga sangat berpengaruh menyebarkan penyakit lupus. Lingkungan seperti paparan sinar matahari, stres, penggunaan beberapa jenis obat, dan virus harus diwaspadai. Karena itu, para penderita lupus dianjurkan keluar rumah sebelum pukul 09.00 atau sesudah pukul 16.00. Dan saat bepergian pun diharapkan penderita memakai pelindung kulit dari sengatan sinar matahari pada bagian kulit yang akan terpapar,” kata dokter RSUP Cipto Mangunkusumo dr Nanang Sukma Sp PD(KAI) dalam seminar Chronic Desease Seminar Care and Do Clinic Aspects in Patient With Chronic Desease yaang digelar Prodi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) di Auditorium Utama, Sabtu (13/6).

 

Awalnya, penderita penyakit ini lanjut dia, dikira mempunyai kelainan kulit, berupa kemerahan di sekitar hidung dan pipi . Bercak-bercak merah di bagian wajah dan lengan, panas dan rasa lelah berkepanjangan, rambutnya rontok, persendian kerap bengkak dan timbul sariawan. Penyakit ini tidak hanya menyerang kulit, tetapi juga dapat menyerang hampir seluruh organ yang ada di dalam tubuh.

 

Penyakit lupus adalah penyakit inflamasi kronik yang diperantarai oleh sistim imun, dimana seharusnya sistim ini melindungi tubuh dari berbagai penyakit justru sebaliknya menyerang tubuh itu sendiri. Penyakit Lupus terjadi akibat produksi antibodi berlebihan. Antibodi tersebut bukannya menyerang virus, kuman atau bakteri yang masuk ke dalam tubuh, justru menyerang sistem kekebalan sel dan jaringan tubuh sendiri. Untuk mendiagnosis penyakit ini dengan pasti, diperlukan pemeriksaan darah atau biopsi kulit. Keduanya untuk memeriksa antibodi-antibodi yang muncul ketika lupus sedang aktif.

 

“Penyakit ini dapat mengenai semua lapisan masyarakat, 1-5 orang di antara 100.000 penduduk, bersifat genetik, dapat diturunkan. Dan wanita lebih sering 6-10 kali daripada pria, terutama pada usia 15-40 tahun. Oleh karena itu diduga penyakit ini berhubungan dengan hormon estrogen, dan bahkan sering dijumpai gejala lupus ini muncul sekawtu hamil atau setelah melahirkan,” katanya.

 

Penyakit lupus ini dibagi kedalam tiga bagian yaitu Lupus Eritematosus Sistemik (LES), Eritomatosus yang artinya kemerahan dapat menimbulkan komplikasi seperti lupus otak, lupus paru-paru, lupus pembuluh darah jari-jari tangan atau kaki, lupus kulit, lupus ginjal, lupus jantung, lupus darah, lupus otot, lupus retina dan lupus sendi.
kemudian Lupus Diskoid, yaitu lupus kulit dengan manifestasi beberapa jenis kelainan kulit. Termasuk paling banyak menyerang. Terakhir Lupus Obat, yang timbul akibat efek samping obat dan akan sembuh sendiri dengan memberhentikan obat terkait.

 

”Kesembuhan total dari penyakit ini, tampaknya sulit. Dokter lebih berfokus pada pengobatan yang sifatnya sementara. Lebih difokuskan untuk mencegah meluasnya penyakit dan tidak menyerang organ vital tubuh,” tuturnya. []

Waspadai Lupus, Penyakit Mematikan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Reporter: Hamzah Farihin

 

Auditorium Utama, UINJKT Online - Penyakit lupus merupakan salah satu jenis penyakit baru yang mematikan, setara dengan kanker. Gejala umum penyakit ini dapat diidentifikasi dari timbulnya rasa demam, rasa lelah berkepanjangan, rambut rontok, dan pegal-pegal otot.

 

”Faktor lingkungan diduga sangat berpengaruh menyebarkan penyakit lupus. Lingkungan seperti paparan sinar matahari, stres, penggunaan beberapa jenis obat, dan virus harus diwaspadai. Karena itu, para penderita lupus dianjurkan keluar rumah sebelum pukul 09.00 atau sesudah pukul 16.00. Dan saat bepergian pun diharapkan penderita memakai pelindung kulit dari sengatan sinar matahari pada bagian kulit yang akan terpapar,” kata dokter RSUP Cipto Mangunkusumo dr Nanang Sukma Sp PD(KAI) dalam seminar Chronic Desease Seminar Care and Do Clinic Aspects in Patient With Chronic Desease yaang digelar Prodi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) di Auditorium Utama, Sabtu (13/6).

 

Awalnya, penderita penyakit ini lanjut dia, dikira mempunyai kelainan kulit, berupa kemerahan di sekitar hidung dan pipi . Bercak-bercak merah di bagian wajah dan lengan, panas dan rasa lelah berkepanjangan, rambutnya rontok, persendian kerap bengkak dan timbul sariawan. Penyakit ini tidak hanya menyerang kulit, tetapi juga dapat menyerang hampir seluruh organ yang ada di dalam tubuh.

 

Penyakit lupus adalah penyakit inflamasi kronik yang diperantarai oleh sistim imun, dimana seharusnya sistim ini melindungi tubuh dari berbagai penyakit justru sebaliknya menyerang tubuh itu sendiri. Penyakit Lupus terjadi akibat produksi antibodi berlebihan. Antibodi tersebut bukannya menyerang virus, kuman atau bakteri yang masuk ke dalam tubuh, justru menyerang sistem kekebalan sel dan jaringan tubuh sendiri. Untuk mendiagnosis penyakit ini dengan pasti, diperlukan pemeriksaan darah atau biopsi kulit. Keduanya untuk memeriksa antibodi-antibodi yang muncul ketika lupus sedang aktif.

 

“Penyakit ini dapat mengenai semua lapisan masyarakat, 1-5 orang di antara 100.000 penduduk, bersifat genetik, dapat diturunkan. Dan wanita lebih sering 6-10 kali daripada pria, terutama pada usia 15-40 tahun. Oleh karena itu diduga penyakit ini berhubungan dengan hormon estrogen, dan bahkan sering dijumpai gejala lupus ini muncul sekawtu hamil atau setelah melahirkan,” katanya.

 

Penyakit lupus ini dibagi kedalam tiga bagian yaitu Lupus Eritematosus Sistemik (LES), Eritomatosus yang artinya kemerahan dapat menimbulkan komplikasi seperti lupus otak, lupus paru-paru, lupus pembuluh darah jari-jari tangan atau kaki, lupus kulit, lupus ginjal, lupus jantung, lupus darah, lupus otot, lupus retina dan lupus sendi.
kemudian Lupus Diskoid, yaitu lupus kulit dengan manifestasi beberapa jenis kelainan kulit. Termasuk paling banyak menyerang. Terakhir Lupus Obat, yang timbul akibat efek samping obat dan akan sembuh sendiri dengan memberhentikan obat terkait.

 

”Kesembuhan total dari penyakit ini, tampaknya sulit. Dokter lebih berfokus pada pengobatan yang sifatnya sementara. Lebih difokuskan untuk mencegah meluasnya penyakit dan tidak menyerang organ vital tubuh,” tuturnya. []