Wapres Boediono Sampaikan Kuliah Umum

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium, UIN Online – Wakil Presiden Boediono memberikan kuliah umum di depan sivitas akademika UIN Jakarta di Auditorium Prof Dr Harun Nasution, Kamis (23/12), pukul 15.00. Ia didampingi Rektor Prof Dr Komaruddin Hidayat dan Dekan Fakultas llmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Prof Dr Bahtiar Effendy.

Boediono memberikan kuliah tentang ekonomi dan demokrasi. Semula ia ditawari untuk berbicara soal Islam dan demokrasi, namun ditolak karena sama saja dengan “menggarami air laut”. “Di sini (UIN Jakarta, Red) sudah ada tokoh-tokoh seperti Pak Komaruddin Hidayat, Pak Azyumardi Azra, dan Pak Bahtiar Effendy yang jauh lebih kompeten daripada saya,” katanya.

Sejak pukul 13.00, warga sivitas akademika sudah menanti tak sabar menunggu kedatangan orang nomor dua di Indonesia itu. Boediono pun datang sekitar pukul 14.50 dengan mengendarai mobil RI 2 dan menunggu sesaat di ruang Information Center Gedung Rektorat sebelum kemudian masuk Auditorium. Saat turun dari mobil, Boediono sejenak menyapa mahasiswa dengan melambaikan tangan seraya menebar senyum.

Sebelum kedatangan Boediono, sejumlah mahasiswa berunjuk rasa di depan kampus (Jalan Ir H Juanda). Mereka menolak kehadiran Wapres yang dituding sebagai antek Barat itu. Aksi unjuk rasa terus berlanjut hingga Boediono keluar dari kampus. Para pengunjuk rasa juga sempat bentrok dengan aparat keamanan. Akibatnya, empat mahasiswa dilarikan ke rumah sakit karena memar di muka dan kepala terkena pukulan petugas.

Boediono dalam ceramahnya menyatakan, sistem politik yang mantap merupakan landasan bagi kemajuan sosial-ekonomi yang berkelanjutan. Hal itu menjadi prasyarat mutlak bagi dimungkinkannya kesejahteraan, martabat, dan kecerdasan rakyat, yang pada gilirannya akan membuat sistem politik makin matang dan makin berakar. “Virtuous circle seperti inilah yang telah membawa bangsa-bangsa sekarang berhasil maju,” kata Wapres.

Namun, soal sistem politik mana yang cocok untuk kemajuan bangsa yang berkelanjutan, Boediono berpendapat demokrasi. Demokrasi adalah sistem yang dapat memenuhi falsafah manunggaling kawula Gusti atau menyatunya kehendak rakyat dan kehendak penguasa. Hanya saja beberapa negara mengalami ketidakberuntungan. Mereka seakan berjalan di tempat dan selalu mengulang siklus sejarahnya tetapi tidak mengalami kemajuan.

Mereka terperangkap dalam semacam eternal circle yang tak berujung. Sebagian lain malah lebih tidak beruntung dan terseret oleh vicious circle menuju kemuduran, bahkan akhirnya menjadi bagian dari kuburan sejarah.

Oleh karena itu Boediono berpendapat bahwa jika ingin menjadi bangsa maju, semua harus bersedia memenuhi segala syarat dan prasyarat bangsa maju itu. (ns)