Ustaz Abd Al Karim dan Ahmad Soekarno

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Musim panas kian menyengat di Alexandria atau dikenal juga sebagai Iskandariah. Kota kedua terbesar di Mesir, yang terletak di pantai Laut Tengah, ini pada pertengahan Juni lalu terasa makin panas. Lebih menyengat lagi panas di Kairo dengan temperatur rata-rata di atas 40 derajat Celsius. Tak banyak bangunan yang memiliki pendingin udara di kawasan ini. Beda dengan Indonesia yang temperaturnya rata-rata di bawah 30 derajat Celcius; tetapi pendingin udara menjadi keharusan di banyak bangunan.

Saya berjumpa dengan Ustaz Abd al-Karim bukan di tengah panasnya udara terbuka Alexandria, tetapi di dalam Bibliotheca Alexandrina, dengan bangunan baru menggantikan bangunan lama. Konon pertama kali perpustakaan itu dibangun Iskandar Zulkarnain atau Iskandar yang Agung, yang juga dikenal sebagai Alexander the Great. Karena itulah, Perpustakaan Iskandariah ini dikenal sebagai perpustakaan tertua di muka bumi.

Berbincang di lobi Bibliotheca Alexandrina, Ustaz Abd al-Karim memulai percakapan dengan bertanya apakah saya berasal dari Negeri Ahmad Soekarno (min al-biladi Ahmad Sukarno). Ia bertanya begitu karena saya memakai baju batik lengan pendek-dan batik kian dikenal sebagai busana khas Negeri Ahmad Soekarno.

Ustaz Abd al-Karim adalah pensiunan guru besar di sebuah universitas terkemuka di Mesir. Berusia sekitar 70-an tahun, Ustaz Abd al-Karim kelihatan lebih muda dari usianya. Pada hari-hari pensiunnya, dia merasa berbahagia karena anak-anaknya telah menjadi orang, salah satunya bekerja di Australia. Anaknya yang ini, selain bekerja, juga aktif bersama istrinya dalam kegiatan dakwah. Ustaz Karim merasa menyesal. Dalam beberapa kali mengunjungi putra dan menantunya di Australia, dia hanya ‘melayang’ tinggi di atas Negeri Ahmad Soekarno.

Negeri Ahmad Soekarno. Indonesia di Timur Tengah, setidaknya seperti terlihat dari ungkapan Ustaz Abd al-Karim, ternyata juga dikenal sebagai Negeri Ahmad Soekarno. Bukan kali ini saja saya menemukan orang-orang di Timur Tengah yang selalu ingat Soekarno ketika mendengar nama Indonesia. Dalam banyak perjalanan ke berbagai negara Timur Tengah lainnya, ketika saya memperkenalkan diri datang dari Indonesia, sering orang-orang dengan segera menyebut nama Soekarno. Ustaz Abd al-Karim juga menambahi ceritanya tentang ‘mangga Soekarno’ yang sangat populer di Mesir-cerita yang sebenarnya sudah saya ketahui sejak awal 1990-an ketika melakukan riset disertasi di Kairo.

Soekarno, salah satu dari dua proklamator kemerdekaan Indonesia bersama Bung Hatta, tentu saja adalah presiden pertama RI. Tapi, bagi Ustaz Abd al-Karim, Ahmad Soekarno adalah orang yang berjasa sangat besar dalam membangkitkan dan menggalang kekuatan negara-negara Asia Afrika yang kebanyakan baru memperoleh kemerdekaannya. Ustaz Abd al-Karim dengan lancar memutar kembali rekaman ingatannya tentang bagaimana presiden Soekarno bersama presiden Mesir Gamal Abdel Nasser berhasil menyatukan negara-negara ini dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955. Namun, lebih dari itu, Ustaz Abd al-Karim juga ingat tentang putri Bung Karno yang juga pernah menjadi presiden di Negeri Ahmad Soekarno. Tentu, tidak lain adalah Megawati Soekarnoputri.

Bung Karno sebagai tokoh pemersatu negara-negara Asia Afrika merupakan salah satu alasan mengapa nama Soekarno masih hidup dalam kenangan banyak kalangan di Timur Tengah. Orang dapat pula menemukan Soekarno sebagai nama jalan di berbagai kota di sejumlah negara Timur Tengah.

Sebagian warga Indonesia mungkin sampai sekarang masih mempersoalkan presiden Soekarno, khususnya terkait dengan peristiwa-peristiwa dramatis menjelang dan sekitar 1965. Tapi, bagi banyak kalangan luar, seperti Ustaz Abd al-Karim, Ahmad Soekarno merupakan figur yang mampu memperlihatkan keberpihakannya kepada negara-negara Asia Afrika yang baru merdeka, yang tengah mengalami ancaman kemungkinan kembalinya kekuatan-kekuatan kolonialisme dan imperialisme. Bung Karno dengan tegas menyatakan perlawanannya kepada kolonialisme dan imperialisme yang bisa muncul kembali sebagai nekolim (neokolonialisme dan imperialisme). Kekuatan nekolim harus dilawan dengan new emerging forces-kekuatan-kekuatan yang sedang bangkit.

Ustaz Abd al-Karim menyatakan kerinduannya kepada Ahmad Soekarno, pada Indonesia yang berani memperjuangkan bangsa-bangsa dan negara-negara yang kesusahan. Dia tidak percaya bahwa Indonesia tidak memiliki kekuatan untuk melakukan pembelaan tersebut. Ia tahu keadaan ekonomi Indonesia kini jauh lebih baik daripada negerinya sendiri. Dia juga tahu, Indonesia tidak memiliki ketergantungan apa pun kepada negara lain. Dengan semua itu, dia ingin menyaksikan munculnya ‘Ahmad Soekarno baru’ di sisa-sisa hayatnya.


Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Republika, Kamis, 29 Juli 2010

Penulis adalah Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta



 

 

 

Ustaz Abd Al Karim dan Ahmad Soekarno

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Musim panas kian menyengat di Alexandria atau dikenal juga sebagai Iskandariah. Kota kedua terbesar di Mesir, yang terletak di pantai Laut Tengah, ini pada pertengahan Juni lalu terasa makin panas. Lebih menyengat lagi panas di Kairo dengan temperatur rata-rata di atas 40 derajat Celsius. Tak banyak bangunan yang memiliki pendingin udara di kawasan ini. Beda dengan Indonesia yang temperaturnya rata-rata di bawah 30 derajat Celcius; tetapi pendingin udara menjadi keharusan di banyak bangunan.

Saya berjumpa dengan Ustaz Abd al-Karim bukan di tengah panasnya udara terbuka Alexandria, tetapi di dalam Bibliotheca Alexandrina, dengan bangunan baru menggantikan bangunan lama. Konon pertama kali perpustakaan itu dibangun Iskandar Zulkarnain atau Iskandar yang Agung, yang juga dikenal sebagai Alexander the Great. Karena itulah, Perpustakaan Iskandariah ini dikenal sebagai perpustakaan tertua di muka bumi.

Berbincang di lobi Bibliotheca Alexandrina, Ustaz Abd al-Karim memulai percakapan dengan bertanya apakah saya berasal dari Negeri Ahmad Soekarno (min al-biladi Ahmad Sukarno). Ia bertanya begitu karena saya memakai baju batik lengan pendek-dan batik kian dikenal sebagai busana khas Negeri Ahmad Soekarno.

Ustaz Abd al-Karim adalah pensiunan guru besar di sebuah universitas terkemuka di Mesir. Berusia sekitar 70-an tahun, Ustaz Abd al-Karim kelihatan lebih muda dari usianya. Pada hari-hari pensiunnya, dia merasa berbahagia karena anak-anaknya telah menjadi orang, salah satunya bekerja di Australia. Anaknya yang ini, selain bekerja, juga aktif bersama istrinya dalam kegiatan dakwah. Ustaz Karim merasa menyesal. Dalam beberapa kali mengunjungi putra dan menantunya di Australia, dia hanya ‘melayang’ tinggi di atas Negeri Ahmad Soekarno.

Negeri Ahmad Soekarno. Indonesia di Timur Tengah, setidaknya seperti terlihat dari ungkapan Ustaz Abd al-Karim, ternyata juga dikenal sebagai Negeri Ahmad Soekarno. Bukan kali ini saja saya menemukan orang-orang di Timur Tengah yang selalu ingat Soekarno ketika mendengar nama Indonesia. Dalam banyak perjalanan ke berbagai negara Timur Tengah lainnya, ketika saya memperkenalkan diri datang dari Indonesia, sering orang-orang dengan segera menyebut nama Soekarno. Ustaz Abd al-Karim juga menambahi ceritanya tentang ‘mangga Soekarno’ yang sangat populer di Mesir-cerita yang sebenarnya sudah saya ketahui sejak awal 1990-an ketika melakukan riset disertasi di Kairo.

Soekarno, salah satu dari dua proklamator kemerdekaan Indonesia bersama Bung Hatta, tentu saja adalah presiden pertama RI. Tapi, bagi Ustaz Abd al-Karim, Ahmad Soekarno adalah orang yang berjasa sangat besar dalam membangkitkan dan menggalang kekuatan negara-negara Asia Afrika yang kebanyakan baru memperoleh kemerdekaannya. Ustaz Abd al-Karim dengan lancar memutar kembali rekaman ingatannya tentang bagaimana presiden Soekarno bersama presiden Mesir Gamal Abdel Nasser berhasil menyatukan negara-negara ini dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955. Namun, lebih dari itu, Ustaz Abd al-Karim juga ingat tentang putri Bung Karno yang juga pernah menjadi presiden di Negeri Ahmad Soekarno. Tentu, tidak lain adalah Megawati Soekarnoputri.

Bung Karno sebagai tokoh pemersatu negara-negara Asia Afrika merupakan salah satu alasan mengapa nama Soekarno masih hidup dalam kenangan banyak kalangan di Timur Tengah. Orang dapat pula menemukan Soekarno sebagai nama jalan di berbagai kota di sejumlah negara Timur Tengah.

Sebagian warga Indonesia mungkin sampai sekarang masih mempersoalkan presiden Soekarno, khususnya terkait dengan peristiwa-peristiwa dramatis menjelang dan sekitar 1965. Tapi, bagi banyak kalangan luar, seperti Ustaz Abd al-Karim, Ahmad Soekarno merupakan figur yang mampu memperlihatkan keberpihakannya kepada negara-negara Asia Afrika yang baru merdeka, yang tengah mengalami ancaman kemungkinan kembalinya kekuatan-kekuatan kolonialisme dan imperialisme. Bung Karno dengan tegas menyatakan perlawanannya kepada kolonialisme dan imperialisme yang bisa muncul kembali sebagai nekolim (neokolonialisme dan imperialisme). Kekuatan nekolim harus dilawan dengan new emerging forces-kekuatan-kekuatan yang sedang bangkit.

Ustaz Abd al-Karim menyatakan kerinduannya kepada Ahmad Soekarno, pada Indonesia yang berani memperjuangkan bangsa-bangsa dan negara-negara yang kesusahan. Dia tidak percaya bahwa Indonesia tidak memiliki kekuatan untuk melakukan pembelaan tersebut. Ia tahu keadaan ekonomi Indonesia kini jauh lebih baik daripada negerinya sendiri. Dia juga tahu, Indonesia tidak memiliki ketergantungan apa pun kepada negara lain. Dengan semua itu, dia ingin menyaksikan munculnya ‘Ahmad Soekarno baru’ di sisa-sisa hayatnya.


Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Republika, Kamis, 29 Juli 2010

Penulis adalah Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta