Untuk Mempercepat Studi, Mahasiswa Pascasarjana “Dipaksa” Belajar

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Gedung Pascasarjana, UIN Online – Mahasiswa program magister dan doktor Sekolah Pascasarjana (SPs) dari sejumlah angkatan “dipaksa” melakukan belajar lebih giat dan terpogram. Hal itu dilakukan agar mahasiswa bersangkutan dapat menyelesaikan studi tepat waktu atau sesuai jadwal yang ditentukan.

Menurut Deputi Direktur Bidang Pengembangan Lembaga Prof Dr Suwito, upaya mempercepat studi mahasiswa itu di antaranya dilakukan dengan mengadakan workshop yang digelar di sebuah ruangan khusus. Di tempat tersebut para mahasiswa diberikan kesempatan untuk menyelesaikan berbagai tahapan studi, mulai dari laporan studi secara umum, menyusun bahan ujian komprehensif, hingga penyusunan dan penyerahan proposal tesis atau disertasi.

“Selama waktu tertentu mahasiswa harus tekun di depan komputer yang disediakan pihak SPs. Dengan begitu mahasiswa dapat memanfaatkan waktu sebaik-baiknya sehingga penyelesaian studi mereka dapat lebih cepat,” ujar Suwito kepada UIN Online, Senin (15/2), di Gedung SPs.

Dia menambahkan, dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, sejumlah mahasiswa program magister dan doktor banyak mengalami keterlambatan menyelesaikan studi. Hal itu tejadi karena beberapa alasan, misalnya malas atau kesibukan bekerja.

“Tapi melalui program workshop semacam ini diharapkan tidak ada lagi mahasiswa yang terlambat atau kadaluarsa masa studinya. Mereka justru lebih terpacu karena dipaksa belajar,” ujar mantan Pembantu Rektor Bidang Pengembangan Lembaga semasa Rektor Azyumardi Azra ini.

Sakingnya banyaknya mahasiswa SPs molor menyelesaikan studi itu, tak sedikit di antara mereka yang harus gagal studi. Kalaupun ada, misalnya pada mahasiswa program doktor, status mereka kemudian menjadi Magister of Philoshopy atau MPhil, yakni memperoleh gelar tapi tidak berhak melanjutkan atau menyelesaikan studi program doktornya.

Workshop digelar sejak 8 Februari dan akan berakhir hingga 25 Februari. Jadwalnya dilakukan secara bergilir, yakni antara mahasiswa program magister dan program doktor mulai angkatan 2004 hingga 2008. (ns)

Untuk Mempercepat Studi, Mahasiswa Pascasarjana “Dipaksa” Belajar

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Gedung Pascasarjana, UIN Online – Mahasiswa program magister dan doktor Sekolah Pascasarjana (SPs) dari sejumlah angkatan “dipaksa” melakukan belajar lebih giat dan terpogram. Hal itu dilakukan agar mahasiswa bersangkutan dapat menyelesaikan studi tepat waktu atau sesuai jadwal yang ditentukan.

Menurut Deputi Direktur Bidang Pengembangan Lembaga Prof Dr Suwito, upaya mempercepat studi mahasiswa itu di antaranya dilakukan dengan mengadakan workshop yang digelar di sebuah ruangan khusus. Di tempat tersebut para mahasiswa diberikan kesempatan untuk menyelesaikan berbagai tahapan studi, mulai dari laporan studi secara umum, menyusun bahan ujian komprehensif, hingga penyusunan dan penyerahan proposal tesis atau disertasi.

“Selama waktu tertentu mahasiswa harus tekun di depan komputer yang disediakan pihak SPs. Dengan begitu mahasiswa dapat memanfaatkan waktu sebaik-baiknya sehingga penyelesaian studi mereka dapat lebih cepat,” ujar Suwito kepada UIN Online, Senin (15/2), di Gedung SPs.

Dia menambahkan, dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, sejumlah mahasiswa program magister dan doktor banyak mengalami keterlambatan menyelesaikan studi. Hal itu tejadi karena beberapa alasan, misalnya malas atau kesibukan bekerja.

“Tapi melalui program workshop semacam ini diharapkan tidak ada lagi mahasiswa yang terlambat atau kadaluarsa masa studinya. Mereka justru lebih terpacu karena dipaksa belajar,” ujar mantan Pembantu Rektor Bidang Pengembangan Lembaga semasa Rektor Azyumardi Azra ini.

Sakingnya banyaknya mahasiswa SPs molor menyelesaikan studi itu, tak sedikit di antara mereka yang harus gagal studi. Kalaupun ada, misalnya pada mahasiswa program doktor, status mereka kemudian menjadi Magister of Philoshopy atau MPhil, yakni memperoleh gelar tapi tidak berhak melanjutkan atau menyelesaikan studi program doktornya.

Workshop digelar sejak 8 Februari dan akan berakhir hingga 25 Februari. Jadwalnya dilakukan secara bergilir, yakni antara mahasiswa program magister dan program doktor mulai angkatan 2004 hingga 2008. (ns)