Universitas di Dunia Muslim

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Pekan lalu, sebagai anggota Dewan Penyantun sebuah universitas Islam internasional yang berada di mancanegara saya menerima sepucuk surat nestapa. Surat itu dimulai dengan permintaan maaf, karena rapat Dewan Penyantun tidak lagi bisa diselenggarakan sejak terakhir sekali pada Desember 2006. Alasannya adalah kesulitan keuangan, yang berpuncak pada penghentian dana dari pemerintah pada Juni 2008; dan sejak Juni lalu, universitas tersebut harus meminjam dana dari bank untuk membayar gaji dosen dan karyawan. Menurut sang rektor, agar universitas tidak tutup, diperlukan dana darurat sebesar satu juta dolar AS.

Universitas ini dirancang untuk menjadi salah satu ‘pusat keunggulan’ di Dunia Muslim dengan dukungan badan internasional Islam, khususnya Organisasi Konferensi Islam (OKI). Tetapi, dana dari badan Islam tersebut tidak memadai; dan bahkan usaha yang dilakukan universitas dalam dua tahun terakhir di lembaga itu tidak membuahkan hasil. Pada saat yang sama, pemerintah negara di mana universitas itu berada atas alasan yang tidak begitu jelas memotong subsidi universitas tersebut.

Pengalaman universitas Islam internasional yang satu ini berbeda dengan Universiti Islam Antar-Bangsa (UIA), Kuala Lumpur, Malaysia, yang pada awalnya juga didirikan melalui skema kerja sama OKI dengan Pemerintah Malaysia. Pendanaan dari OKI atau badan-badan internasional Islam juga tidak memadai. Tetapi, Malaysia yang mempunyai keuangan kuat mengambil alih pendanaan UIA, sehingga universitas ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang menjadi salah satu universitas terbaik di Dunia Muslim.

Kedua kasus ini menunjukkan, pengembangan universitas di Dunia Muslim tidak bisa bergantung pada badan-badan internasional Islam. Sebaliknya, negara-negara Muslim bersangkutan yang mesti mengupayakan pengembangan untuk menjadi ‘pusat keunggulan’, sehingga dapat melahirkan sumber daya manusia terbaik.

Dalam konteks itu, dapat dilihat pula pengalaman negara Muslim kaya minyak di kawasan Teluk Persia. Dubai, Abu Dhabi, dan Qatar. Mereka sekarang ini berlomba mengembangkan pendidikan tinggi dengan menganggarkan dana sangat besar, tak kurang dari 20 miliar dolar AS untuk pembangunan kampus, rekrutmen tenaga pengajar, dan sebagainya. Arab Saudi juga tidak mau kalah; kini sedang menyiapkan Universitas Sains dan Teknologi Raja Abdullah, yang ketika mulai beroperasi pada 2010 nanti memiliki dana <I>endowment<I> 10 miliar dolar AS, menjadi universitas keenam terkaya di muka bumi.

Negara-negara Arab ini menempuh cara cepat dalam pengembangan pendidikan tingginya; mengundang universitas top dunia membuka kampus di kawasan mereka. Qatar misalnya mengundang universitas papan atas Amerika seperti Cornell, Carnegie Mellon, Georgetown, Texas A&M, dan Northwestern. Sementara itu, Abu Dhabi sudah membuka kampus Universitas Sorbonne; dan segera semester depan membuka kampus New York University (NYU); lalu menyusul dengan MIT, dan Johns Hopkins. Sedangkan Dubai menggandeng Harvard, London Business School, Boston, dan Michigan State.

Kerja sama dan kemitraan ini menciptakan ‘universitas tanpa tapal batas’, yang tidak mengenal Timur dan Barat, atau Dunia Islam dan Amerika. Ambisi dan tujuannya, seperti dikemukakan Daniel Ballard, pejabat kampus Universitas Sorbonne di Abu Dhabi: ‘Menciptakan kembali Andalusia modern hari ini’.

Andalusia di Spanyol bersama Baghdad adalah pusat keilmuan Islam pada masa pertengahan Muslim. Di wilayah inilah para sarjana dan ilmuwan Muslim bersama rekan-rekan non-Muslim mereka mengembangkan dan mentransformasikan ilmu pengetahuan dan sains yang berasal dari berbagai wilayah: India, Persia, Yunani, dan seterusnya. Pengembangan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi memerlukan interaksi, kerja sama, dan pertukaran keilmuan yang intens. Melalui pengalaman seperti inilah para ilmuwan Muslim dapat menghasilkan berbagai karya dan menyumbangkannya untuk kemajuan peradaban manusia.

Ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi tidak pernah muncul dan berkembang dengan ketertutupan, apalagi ketakutan terhadap pihak lain, apakah itu Barat atau pihak-pihak lain yang masih memegang hegemoni dalam bidang ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi tertentu. Karena itu, keterbukaan dan kerja sama keilmuan, akademis dan saintifik di antara universitas dan pusat-pusat riset dan keilmuan di Dunia Muslim dengan dunia luar lebih luas mestilah selalu didorong dan ditingkatkan.

Indonesia dapat berkaca dengan pengalaman negara-negara Teluk dalam mempercepat pengembangan pendidikan tingginya. Tradisi pendidikan tinggi di Tanah Air jauh lebih lama dan lebih mapan dibandingkan mereka. Dengan peningkatan anggaran pendidikan mencapai 20 persen, sudah waktunya prioritas juga diberikan kepada pendidikan tinggi, sehingga dapat mewujudkan diri sebagai ‘mesin’ penggerak kemajuan iptek.

Universitas di Dunia Muslim

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Pekan lalu, sebagai anggota Dewan Penyantun sebuah universitas Islam internasional yang berada di mancanegara saya menerima sepucuk surat nestapa. Surat itu dimulai dengan permintaan maaf, karena rapat Dewan Penyantun tidak lagi bisa diselenggarakan sejak terakhir sekali pada Desember 2006. Alasannya adalah kesulitan keuangan, yang berpuncak pada penghentian dana dari pemerintah pada Juni 2008; dan sejak Juni lalu, universitas tersebut harus meminjam dana dari bank untuk membayar gaji dosen dan karyawan. Menurut sang rektor, agar universitas tidak tutup, diperlukan dana darurat sebesar satu juta dolar AS.

Universitas ini dirancang untuk menjadi salah satu ‘pusat keunggulan’ di Dunia Muslim dengan dukungan badan internasional Islam, khususnya Organisasi Konferensi Islam (OKI). Tetapi, dana dari badan Islam tersebut tidak memadai; dan bahkan usaha yang dilakukan universitas dalam dua tahun terakhir di lembaga itu tidak membuahkan hasil. Pada saat yang sama, pemerintah negara di mana universitas itu berada atas alasan yang tidak begitu jelas memotong subsidi universitas tersebut.

Pengalaman universitas Islam internasional yang satu ini berbeda dengan Universiti Islam Antar-Bangsa (UIA), Kuala Lumpur, Malaysia, yang pada awalnya juga didirikan melalui skema kerja sama OKI dengan Pemerintah Malaysia. Pendanaan dari OKI atau badan-badan internasional Islam juga tidak memadai. Tetapi, Malaysia yang mempunyai keuangan kuat mengambil alih pendanaan UIA, sehingga universitas ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang menjadi salah satu universitas terbaik di Dunia Muslim.

Kedua kasus ini menunjukkan, pengembangan universitas di Dunia Muslim tidak bisa bergantung pada badan-badan internasional Islam. Sebaliknya, negara-negara Muslim bersangkutan yang mesti mengupayakan pengembangan untuk menjadi ‘pusat keunggulan’, sehingga dapat melahirkan sumber daya manusia terbaik.

Dalam konteks itu, dapat dilihat pula pengalaman negara Muslim kaya minyak di kawasan Teluk Persia. Dubai, Abu Dhabi, dan Qatar. Mereka sekarang ini berlomba mengembangkan pendidikan tinggi dengan menganggarkan dana sangat besar, tak kurang dari 20 miliar dolar AS untuk pembangunan kampus, rekrutmen tenaga pengajar, dan sebagainya. Arab Saudi juga tidak mau kalah; kini sedang menyiapkan Universitas Sains dan Teknologi Raja Abdullah, yang ketika mulai beroperasi pada 2010 nanti memiliki dana <I>endowment<I> 10 miliar dolar AS, menjadi universitas keenam terkaya di muka bumi.

Negara-negara Arab ini menempuh cara cepat dalam pengembangan pendidikan tingginya; mengundang universitas top dunia membuka kampus di kawasan mereka. Qatar misalnya mengundang universitas papan atas Amerika seperti Cornell, Carnegie Mellon, Georgetown, Texas A&M, dan Northwestern. Sementara itu, Abu Dhabi sudah membuka kampus Universitas Sorbonne; dan segera semester depan membuka kampus New York University (NYU); lalu menyusul dengan MIT, dan Johns Hopkins. Sedangkan Dubai menggandeng Harvard, London Business School, Boston, dan Michigan State.

Kerja sama dan kemitraan ini menciptakan ‘universitas tanpa tapal batas’, yang tidak mengenal Timur dan Barat, atau Dunia Islam dan Amerika. Ambisi dan tujuannya, seperti dikemukakan Daniel Ballard, pejabat kampus Universitas Sorbonne di Abu Dhabi: ‘Menciptakan kembali Andalusia modern hari ini’.

Andalusia di Spanyol bersama Baghdad adalah pusat keilmuan Islam pada masa pertengahan Muslim. Di wilayah inilah para sarjana dan ilmuwan Muslim bersama rekan-rekan non-Muslim mereka mengembangkan dan mentransformasikan ilmu pengetahuan dan sains yang berasal dari berbagai wilayah: India, Persia, Yunani, dan seterusnya. Pengembangan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi memerlukan interaksi, kerja sama, dan pertukaran keilmuan yang intens. Melalui pengalaman seperti inilah para ilmuwan Muslim dapat menghasilkan berbagai karya dan menyumbangkannya untuk kemajuan peradaban manusia.

Ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi tidak pernah muncul dan berkembang dengan ketertutupan, apalagi ketakutan terhadap pihak lain, apakah itu Barat atau pihak-pihak lain yang masih memegang hegemoni dalam bidang ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi tertentu. Karena itu, keterbukaan dan kerja sama keilmuan, akademis dan saintifik di antara universitas dan pusat-pusat riset dan keilmuan di Dunia Muslim dengan dunia luar lebih luas mestilah selalu didorong dan ditingkatkan.

Indonesia dapat berkaca dengan pengalaman negara-negara Teluk dalam mempercepat pengembangan pendidikan tingginya. Tradisi pendidikan tinggi di Tanah Air jauh lebih lama dan lebih mapan dibandingkan mereka. Dengan peningkatan anggaran pendidikan mencapai 20 persen, sudah waktunya prioritas juga diberikan kepada pendidikan tinggi, sehingga dapat mewujudkan diri sebagai ‘mesin’ penggerak kemajuan iptek.