UMNO Setelah 70 Tahun

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Sudarnoto Abdul Hakim

Sudarnoto Abdul Hakim

Oleh: SUDARNOTO ABDUL HAKIM

UMNO telah menginjak usianya yang ke 70 tahun. Beberapa hari terakhir ini UMNO menyelenggarakan acara Komemorasi 70 tahun. Khusus di Johor, komemorasi diisi dengan seminar penting dengan topik seputar Islam, demokrasi, nasionalisme, dan pemikiran Islam kontemporer.

Pembicara seminar berasal dari kalangan akademisi Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Penulis sendiri, atas rekomendasi Prof Azyumardi Azra, mendapat kehormatan hadir sebagai keynote speaker dengan tajuk Islam, demokrasi dan partai Islam.

Dalam usianya yang ke-70 ini, penulis menangkap antusiasme publik tampak cukup tinggi, terutama untuk membangun UMNO sebagai partainya orang Melayu yang lebih progresif dan islami. Setelah secara nasional dipimpin oleh lima perdana menteri berasal dari UMNO, partai dan rakyat Melayu memperoleh banyak pengalaman dan pelajaran penting sepanjang sejarahnya.

Antara lain: Pertama, Isu perkauman yang sangat sensitif dalam sejarah politik Malaysia sejak kemerdekaan. Relasi tiga kelompok Melayu, China, dan India (Keling) pernah memburuk yang puncaknya adalah bentrok berdarah (bloody clash) tahun 1969. Ini adalah the darkest history bagi Malaysia yang sangat menghantui hingga saat ini.

Integrasi di kalangan masyarakat multiras Malaysia dengan demikian menjadi perhatian banyak kalangan akademis, intelektual, NGO, dan tentunya politisi agar Malaysia memiliki kemampuan untuk berintegrasi secara harmonis. Secara politik, terbentuknya Barisan Nasional adalah satu cara untuk itu sehingga semua kelompok etnis terakomodasi secara proporsional meskipun tentu saja tidak bisa menyenangkan semua pihak.

Kedua, masih terkait dengan isu pertama, risiko skisme politik terutama di kalangan masyarakat Melayu tak bisa dihindari. Rivalitas UMNO dengan PAS misalnya adalah contoh konkret yang dalam waktu panjang telah mewarnai panggung politik nasional di Malaysia. PAS mewakili pandangan yang memperjuangkan syariat dan negara Islam, sementara UMNO menolak ide itu.

Meskipun PAS tak pernah memenangkan pertarungan, tentu saja tetap menjadi perhatian apalagi sejak Anwar Ibrahim memimpin PKR dan kekuatankekuatan oposisi dan berhasil menaikkan perolehan suara yang sangat signifikan merontokkan UMNO dan Barisan Nasional pada dua pemilu terakhir.

PAS memang tak lagi vokal mengusung negara Islam. Ketiga, keberhasilan partaipartai oposisi mendegradasi UMNO/Barisan Nasional pasca- Mahathir, telah sangat mengecewakan Mahathir dan mendorong dilakukannya perubahan penting UMNO. Abdullah Badawi tidak berhasil melanjutkan kepemimpinannya di term berikutnya dan digantikan oleh Najib Abdur Razak.

Akan tetapi, di mata Mahathir, performa politik Najib juga dianggap lemah tidak berhasil memperkuat UMNO. Mahathir kembali bersemangat ingin menjatuhkan Najib bahkan di tengah jalan melalui sebuah demo besar beberapa waktu yang lalu akan tetapi gagal. Skisme politik tokoh senior dan yunior UMNO tak terelakkan dan ini mengganggu irama politik UMNO.

Mahathir kemudian keluar dari UMNO membentuk partai baru, Perti Pribumi Bersatu Malaysia, dengan maksud menjatuhkan Najib. Berbagai upaya dilakukan antara lain mengajak kerja sama koalisi dengan kekuatan oposisi. Belum lama ini (5 September) Mahathir menemui Anwar Ibrahim setelah 18 tahun tak bertemu mengharap support dan endorsement Anwar agar bisa diterima sebagai bagian dari partai oposisi dan menghentikan kekuasaan UMNO.

Banyak yang meyakini ajakan ini tidak akan mendapatkan sambutan positif. Artinya, pamor dan kekuatan Mahathir makin menurun seiring semakin bertambahnya usia. Keempat, Islamic resurgence tahun 1970-an yang antara lain mengantarkan beberapa gerakan seperti ABIM dan Darul Arkam ke panggung nasional, telah mendorong suasana baru yang diharapkan lebih islami.

Tak kurang kemudian mulai tahun 1980 pemerintah melansir islamisasi, terutama sejak keberhasilan Mahathir mengajak Anwar bergabung ke UMNO dan pemerintahan. Meskipun demikian, sejumlah kalangan tetap menilai bahwa UMNO dan pemerintah tidak serius dengan program islamisasi ini.

Ini terbukti dengan fakta korupsi dan kronisme yang melibatkan pe-jabat tinggi. Anwar Ibrahim yang pada waktu itu menjadi wakil PM juga melihat adanya abuse of power, dan karena itu dia lakukan kritik tajam yang membuat Mahathir meradang dan memecat Anwar dari UMNO dan memenjarakan dengan tuduhan korupsi dan sodomi.

Karena berbagai alasan, ada semacam kekhawatiran spirit kebangkitan Islam ini diambil alih atau dibajak oleh kelompok fundamentalis radikal, apalagi belakangan isu ISIS telah cukup fenomenal. Masih ada sejumlah preseden historis lainnya misalnya penegakan hukum yang masih menghadapi masalah, pemerintah yang bersih, tingkat partisipasi politik masyarakat yang belum maksimal, dan lemahnya perhatian generasi muda terhadap kepemimpinan.

Semua hal di atas hemat penulis mendorong UMNO untuk berusaha berbenah diri secara signifikan sehingga diharapkan UMNO tetap berjaya dan Malaysia menjadi bangsa Melayu yang modern dan Islami. Inilah yang secara khusus menjadi perhatian UMNO Johor.

Dengan semboyan baru Gagasan Melayu Maju, UMNO ke depan akan mengantarkan Malaysia sebagai negeri yang benar-benar merujuk kepada ajaran prinsipiil Islam dalam membangun dan memperkuat politik Malaysia (khususnya Johor), membangun ekonomi untuk kesejahteraan dan keadilan dan mendorong bangsa yang modern.

SUDARNOTO ABDUL HAKIM
Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta,
Peneliti Malaysia, Ketua Komisi Pendidikan dan
Kaderisasi MUI Pusat

Artikel ini telah dimuat pada kolom opini harian Koran Sindo, edisi Selasa, 20 September 2016.