UIN Syahid – Fethullah Gulen Chair Hentikan Kerja Sama

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Berita UIN Online: Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta telah menghentikan kerja sama dengan lembaga pendidikan dari Turki, “Fethullah Gulen Chair” sebelum Ramadhan yang lalu.

“Kami sudah menghentikan kerja sama dengan pihak Fethullah Gulen Chair sebelum Ramadhan. Pemutusan kerja sama ini berdasarkan berbagai pertimbangan mendasar,” kata Rektor UIN Syarif Hidayatullah Prof Dr Dede Rosyada MA kepada pers di Jakarta, Jumat.

Dede Rosyada menekankan bahwa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menginginkan kerja sama dibangun berdasarkan hubungan pemerintah dengan pemerintah (G to G), dan bukan dengan pihak LSM.

Terkait adanya tuduhan sementara pihak bahwa pemutusan kerja sama itu berdasarkan tekanan dari Duta Besar Turki untuk Indonesia, Rektor UIN Syarif Hidayatullah tidak menampik.

“Tepatnya bukan tekanan. Tapi pihak Dubes Turki di Jakarta memberi saran ke Ditjen Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama RI agar kerja sama dengan pihak Fethullah Gulen Chair ditinjau ulang,” ujar Rektor UIN Jakarta.

Bagi Dede Rosyada, kerja sama dengan pihak manapun tidak jadi masalah demi membangun pendidikan yang lebih baik di perguruan tinggi Islam. Sisi yang menjadi masalah adalah jika kerja sama tersebut akan mempengaruhi iklim pendidikan itu sendiri.

“UIN Jakarta ingin bekerja sama dengan berbagai pihak yang tidak terkait dengan persoalan di luar pendidikan. Jika nuansa politis atau non pendidikan terlalu dominan, efek bagi kerja sama adalah lahirnya berbagai prasangka,” tegasnya.

Lebih jauh Dede menjelaskan. kerja sama UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dengan Fethullah Gulen Chair dimulai sejak 2008. Dalam perjanjian dengan Fethullah Gulen Chair ada kesepakatan bahwa pihak Fethullah Gulen Chair akan mendatangkan Guru Besar ke UIN Jakarta sebagai peneliti. Tapi sampai kerja sama berakhir, pihak Gulen tidak menepati kesepakatan tersebut.

“Selain mendatangkan Guru Besar dari pihak Fethullah Gulen Chair, mereka juga sepakat untuk mendatangkan Guru Besar Turki dari pihak Gulen untuk mengajar di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Ini pun tak dipenuhi. Selain mendatangkan Guru Besar sebagai peneliti dan mengajar di UIN Jakarta, pihak Gulen juga menyepakati mahasiswa UIN Jakarta belajar di perguruan tinggi yang dikelola Fethullah Gulen Chair. Ini pun tak ditepati,” papar Dede pada BERITA UIN Online

Sementara itu usai kudeta di Turki beberapa hari silam, beredar tuduhan bahwa Fethullah Gulen adalah “aktor intelektual” di balik aksi kudeta militer yang gagal tersebut. Tetapi Gulen sebagai tokoh “Gerakan Hizmet” menampik tuduhan tersebut.

Aksi kudeta militer di Turki itu antara lain berpengaruh tidak baik terhadap kerja sama yang dibangun Fethullah Gulen Chair di bidang pendidikan dan sosial dengan sejumlah pihak.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia yang sebelumnya membangun kerja sama bidang pendidikan dengan Fethullah Gulen Chair.