UIN Jakarta Perlu Terapkan Epistemologi Islam Terpadu

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Ruang Diorama, UINJKT Online – Perubahan status dari IAIN ke UIN telah menimbulkan banyak problem epistemologis. Problem tersebut bermuara pada adanya dikotomi ilmu antara ilmu agama di satu pihak dan ilmu umum di pihak lain. Untuk menghilangkan problem dikotomis tersebut, UIN Jakarta perlu menerapkan dan mengembangkan epistemologis yang Islami dan terpadu. 

Hal itu dikatakan guru besar Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Prof Dr Mulyadhi Kartanegara dalam Diskusi Pakar tentang “Krisis Epistemologis Islam di Perguruan Tinggi” di Ruang Diorama, Jumat (23/5). Selain Mulyadhi, diskusi juga menampilkan Prof Dr Osman Bakar dari Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Prof Dr Omar Kasule dari Harvard University AS, dan mantan Menteri Agama Prof Dr HM Quraish Shihab. Diskusi ini terselenggara atas kerja sama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat dan International Institute of Islamic Thought (IIIT) AS, dan Center for Islamic Philosophy Studies and Information (CIPSI) Indonesia. 

Menurut Mulyadhi, UIN Jakarta perlu menerapkan epistemologi Islam dan terpadu karena perguruan tinggi ini dinilai masih lemah dari sisi epistemologi. Sehingga integrasi ilmu yang diharapkan akan mampu memberikan nuansa berbeda dengan perguruan tinggi Islam lain dapat tercapai. “Dari awal sebetulnya saya sudah memberikan pandangan mengenai bangunan epistemologi yang akan diterapkan di UIN Jakarta. Bahkan, untuk memberikan ke arah tersebut, saya pun menulis buku mengenai integrasi ilmu,” kata Mulyadhi, yang juga Direktur CIPSI ini. 

Problem krusial yang dihadapi dalam epistemologi keilmuan ini karena masih terjadinya dikotomi, yang membedakan antara ilmu agama dan ilmu umum. Padahal, menurut Mulyadhi, hal itu sebetulnya tak perlu terjadi karena dalam konsep Islam tidak ada dikotomi. “Barat memang masih memandang bahwa sains modern hanya mengakui obyek-obyek empiris dan menolak semua entitas non-fisik sebagai obyek sah ilmu pengtetahuan. Tapi dalam tradisi ilmiah Islam, bukan hanya obyek-obyek empiris yang diakui ontologisnya, tetapi juga obyek-obyek non-empiris, sehingga sebuah sistem epistemologi yang integral sangat mungkin dibangun. 

“Kalau kita melihat perbandingan antara tradisi ilmiah modern dengan tradisi ilmiah Islam, akan tampak bahwa kalau kita menggunakan pandangan ilmiah modern, integrasi ilmu tidak akan tercapai. Tetapi kalau menggunakan tradisi ilmiah Islam, dengan lingkupnya yang lebih luas, maka integrasi seperti ini sangat mungkin dibangun,” paparnya.* ns

UIN Jakarta Perlu Terapkan Epistemologi Islam Terpadu

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Ruang Diorama, UINJKT Online – Perubahan status dari IAIN ke UIN telah menimbulkan banyak problem epistemologis. Problem tersebut bermuara pada adanya dikotomi ilmu antara ilmu agama di satu pihak dan ilmu umum di pihak lain. Untuk menghilangkan problem dikotomis tersebut, UIN Jakarta perlu menerapkan dan mengembangkan epistemologis yang Islami dan terpadu. 

Hal itu dikatakan guru besar Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Prof Dr Mulyadhi Kartanegara dalam Diskusi Pakar tentang “Krisis Epistemologis Islam di Perguruan Tinggi” di Ruang Diorama, Jumat (23/5). Selain Mulyadhi, diskusi juga menampilkan Prof Dr Osman Bakar dari Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Prof Dr Omar Kasule dari Harvard University AS, dan mantan Menteri Agama Prof Dr HM Quraish Shihab. Diskusi ini terselenggara atas kerja sama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat dan International Institute of Islamic Thought (IIIT) AS, dan Center for Islamic Philosophy Studies and Information (CIPSI) Indonesia. 

Menurut Mulyadhi, UIN Jakarta perlu menerapkan epistemologi Islam dan terpadu karena perguruan tinggi ini dinilai masih lemah dari sisi epistemologi. Sehingga integrasi ilmu yang diharapkan akan mampu memberikan nuansa berbeda dengan perguruan tinggi Islam lain dapat tercapai. “Dari awal sebetulnya saya sudah memberikan pandangan mengenai bangunan epistemologi yang akan diterapkan di UIN Jakarta. Bahkan, untuk memberikan ke arah tersebut, saya pun menulis buku mengenai integrasi ilmu,” kata Mulyadhi, yang juga Direktur CIPSI ini. 

Problem krusial yang dihadapi dalam epistemologi keilmuan ini karena masih terjadinya dikotomi, yang membedakan antara ilmu agama dan ilmu umum. Padahal, menurut Mulyadhi, hal itu sebetulnya tak perlu terjadi karena dalam konsep Islam tidak ada dikotomi. “Barat memang masih memandang bahwa sains modern hanya mengakui obyek-obyek empiris dan menolak semua entitas non-fisik sebagai obyek sah ilmu pengtetahuan. Tapi dalam tradisi ilmiah Islam, bukan hanya obyek-obyek empiris yang diakui ontologisnya, tetapi juga obyek-obyek non-empiris, sehingga sebuah sistem epistemologi yang integral sangat mungkin dibangun. 

“Kalau kita melihat perbandingan antara tradisi ilmiah modern dengan tradisi ilmiah Islam, akan tampak bahwa kalau kita menggunakan pandangan ilmiah modern, integrasi ilmu tidak akan tercapai. Tetapi kalau menggunakan tradisi ilmiah Islam, dengan lingkupnya yang lebih luas, maka integrasi seperti ini sangat mungkin dibangun,” paparnya.* ns

UIN Jakarta Perlu Terapkan Epistemologi Islam Terpadu

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Ruang Diorama, UINJKT Online – Perubahan status dari IAIN ke UIN telah menimbulkan banyak problem epistemologis. Problem tersebut bermuara pada adanya dikotomi ilmu antara ilmu agama di satu pihak dan ilmu umum di pihak lain. Untuk menghilangkan problem dikotomis tersebut, UIN Jakarta perlu menerapkan dan mengembangkan epistemologis yang Islami dan terpadu. 

Hal itu dikatakan guru besar Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Prof Dr Mulyadhi Kartanegara dalam Diskusi Pakar tentang “Krisis Epistemologis Islam di Perguruan Tinggi” di Ruang Diorama, Jumat (23/5). Selain Mulyadhi, diskusi juga menampilkan Prof Dr Osman Bakar dari Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Prof Dr Omar Kasule dari Harvard University AS, dan mantan Menteri Agama Prof Dr HM Quraish Shihab. Diskusi ini terselenggara atas kerja sama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat dan International Institute of Islamic Thought (IIIT) AS, dan Center for Islamic Philosophy Studies and Information (CIPSI) Indonesia. 

Menurut Mulyadhi, UIN Jakarta perlu menerapkan epistemologi Islam dan terpadu karena perguruan tinggi ini dinilai masih lemah dari sisi epistemologi. Sehingga integrasi ilmu yang diharapkan akan mampu memberikan nuansa berbeda dengan perguruan tinggi Islam lain dapat tercapai. “Dari awal sebetulnya saya sudah memberikan pandangan mengenai bangunan epistemologi yang akan diterapkan di UIN Jakarta. Bahkan, untuk memberikan ke arah tersebut, saya pun menulis buku mengenai integrasi ilmu,” kata Mulyadhi, yang juga Direktur CIPSI ini. 

Problem krusial yang dihadapi dalam epistemologi keilmuan ini karena masih terjadinya dikotomi, yang membedakan antara ilmu agama dan ilmu umum. Padahal, menurut Mulyadhi, hal itu sebetulnya tak perlu terjadi karena dalam konsep Islam tidak ada dikotomi. “Barat memang masih memandang bahwa sains modern hanya mengakui obyek-obyek empiris dan menolak semua entitas non-fisik sebagai obyek sah ilmu pengtetahuan. Tapi dalam tradisi ilmiah Islam, bukan hanya obyek-obyek empiris yang diakui ontologisnya, tetapi juga obyek-obyek non-empiris, sehingga sebuah sistem epistemologi yang integral sangat mungkin dibangun. 

“Kalau kita melihat perbandingan antara tradisi ilmiah modern dengan tradisi ilmiah Islam, akan tampak bahwa kalau kita menggunakan pandangan ilmiah modern, integrasi ilmu tidak akan tercapai. Tetapi kalau menggunakan tradisi ilmiah Islam, dengan lingkupnya yang lebih luas, maka integrasi seperti ini sangat mungkin dibangun,” paparnya.* ns