Gedung Rektorat, Berita UIN Online— UIN Jakarta siap memperkuat kompetensi mahasiswa dan lulusan dengan menandatangani nota kesepahaman dengan Pusat Pelatihan Produktivitas Indonesia (PPPI) di Gedung Rektorat, Selasa (6/5/2017). Nota kesepahaman diharap bisa segera diturunkan ke dalam perjanjian kerjasama sehingga program bisa secepatnya direalisasikan.

Penandatangan nota kesepahaman berdurasi dua tahun sejak diterbitkan dilakukan langsung antara Rektor UIN Jakarta Prof. Dr. Dede Rosyada MA dan Direktur Utama PT Mutiara Sejati Indonesia mewakili PPPI Hasnawiah Patanna. Turut menyaksikan penandatangan Dewan Pembina PPPI Prof. Dr. H Bomer Pasaribu SE SH, para wakil rektor, para kepala biro, dan Kepala Pusat Ekonomi Kreatif UIN Jakarta Rizaluddin Kurniawan M.Si.

Nota kesepahaman yang dikutip Berita UIN Online mencatat, kesepahaman yang dikandung mencakup beberapa aspek. Selain aspek pengembangan riset dan akademik, inti kesepakatan yang ingin dicapai adalah penyaluran alumni ke pasar tenaga kerja.

Dalam sambutannya, rektor mengungkapkan, nota kesepahaman penting dilakukan sebagai bagian dari usaha UIN Jakarta menyiapkan kompetensi para mahasiswa dan sarjananya. Dalam perhitungannya, tak kurang dari 40% prodi di UIN Jakarta merupakan prodi dengan nature keislaman dan keilmuan murni seperti prodi Ilmu Tasawuf, Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, dan Aqidah Filsafat.

“Prodi-prodi ini tidak memiliki pasar yang spesifik di market ketenagakerjaan. Kendati begitu, mereka biasanya punya mental market. Nah, penguatan kompetensi inilah yang ingin kita lakukan sehingga memungkinkan mereka menembus market,” katanya.

Hanya saja, secara khusus, rektor meminta kerjasama bisa menyasar penguatan kompetensi lulusan dengan melihat skil-skil yang diperlukan di pasar regional-global. “Kalau diperkuat kompetensinya, tapi skilnya tak dibutuhkan di pasar ya untuk apa,” katanya.

Menanggapi penandatangan nota kesepahaman ini, Bomer yang juga Guru Besar Manajemen Bisnis IPB ini mengapresiasi langkah UIN Jakarta memfasilitasi lulusan dengan penguatan kompetensi mereka. Menurutnya, kompetensi diperlukan tidak semata-mata penguatan kedalaman kapasitas dan keahlian, melainkan kemampuan  mahasiswa dan lulusan dalam merespon dinamika di pasar tenaga kerja.

Merujuk pada fakta terkini, jelasnya, Indonesia merupakan negara dengan limpahan bonus demografi tinggi yang dibutuhkan industri dan perekonomian suatu negara. Namun, di saat yang sama berlangsung tren de-industrialisasi yang bertolakbelakang dengan fakta bonus demografi.

“Nah penyiapan kompetensi ini menjadi jalan yang tepat. Mahasiswa disiapkan kompetensinya, diperkuat mentalnya, sehingga mereka bisa lebih siap tampil dalam pasar kerja yang dinamis,” jelasnya.

Sementara itu, Rizaluddin mengatakan, penguatan kompetensi nantinya diberikan melalui pelatihan bersertifikat dengan skala nasional-regional. Skala dibutuhkan agar mahasiswa UIN Jakarta siap berkompetisi di market nasional dan Asia Tenggara.

“Untuk bidang-bidangnya akan kita list terlebih dahulu dengan memperhatikan tuntutan pasar maupun concern mahasiswanya. Namun dengan memperhatikan pasar, sepertinya pelatihan dalam kerangka ekonomi kreatif yang akan kita fokuskan,” paparnya. (farah nh/yuni nurkamaliah/zm)

Share This