Pisangan, BERITA UIN Online– Setiap tahunnya tercatat sedikitnya 150 ribu lulusan SMA/SMK/MA yang berminat untuk melanjutkan studinya di UIN Jakarta. Sayangnya, antusiasme tersebut mesti dibatasi keterbatasan sarana dan prasarana yang dimiliki kampus yang saat ini memiliki mahasiswa lebih dari 20 ribu orang tersebut.

Menurut Kepala Bagian Umum UIN Jakarta, Encep Dimyati, kondisi demikian disebabkan banyaknya lahan UIN Jakarta yang kini justru diduduki dan diklaim oleh orang lain. Bahkan di beberapa tempat, penyerobotan terjadi secara massif sejak lama.

“Mahasiswa di sini butuh tempat, peminat kesini itu sekitar 150 ribu setiap tahun tapi karena enggak ada ruangannya ya sudah yang kita terima hanya lima sampai enam ribu. Sementara tanah kita yang ril, banyak digunakan oleh orang lain, dipakai kontrakan, diserobot untuk lahan pemukiman dan lain-lain, sehingga kita juga bingung bagaimana untuk membangun gedung-gedung baru bagi mahasiswa yang terus bertambah,” terangnya.

Dijelaskannya lagi, laporan audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tiap tahunnya selalu menemukan adanya temuan lahan. Hal itu tentu berimplikasi pada status UIN Jakarta sebagai Perguruan Tinggi Negeri, dimana pengelolaannya harus sesuai dengan ketentuan yang ada.

“Ini ada temuan dari BPK setiap tahun, contohnya soal lahan sekira 5,6 hektare di daerah Pisangan, Ciputat, itu ada kerugian negara. Jadi, kami harus menyelesaikan aset-aset kami yang diklaim masyarakat yang bermukim di sana, karena proses hukumnya sudah inkrah, itu lahan milik Kementerian Agama,” jelasnya.

Sejatinya, lahan-lahan milik UIN Jakarta banyak tersebar di wilayah Tangerang Raya. Rencananya, ditempat itu akan dibangun fasilitas studi kampus seperti gedung fakultas, laboratorium, ruang praktek, dan sebagainya yang mendukung kegiatan akademik. (ns/lrf/sus/okezone.com)

Share This