Auditorium Utama, BERITA UIN Online Bagian Kemahasiswaan UIN Jakarta menggelar Harun Nasution Memorial Lecture di Auditorium Utama, Kamis (14/12/2017). Acara yang digelar dalam rangka mengenalkan profil dan kiprah keilmuan almarhum Prof. Dr. Harun Nasution bagi para mahasiswa UIN Jakarta menandaskan banyaknya sikap dan pengalaman hidup yang perlu ditauladani.

Kegiatan Harun Nasution Memorial Lecture diselenggarakan dengan menghadirkan dua guru besar UIN Jakarta, yakni Prof. Dr. Yunan Yusuf dan Prof.Dr. Suwito. Diketahui, baik Yunan maupun Suwito, merupakan dua dari banyak mahasiswa yang pernah dididik Harun. Tak hanya itu, keduanya juga pernah menjadi rekan sebagai pengajar di UIN Jakarta.

Dalam paparannya, Yunan menuturkan, Harun merupakan sosok intelektual yang sangat disiplin dan rasionalis. Sebagai intelektual bercorak rasionalis, sambungnya, Harun memosisikan Islam tidak hanya dilihat dari satu aspek atau terpaku pada satu madzhab.

“Islam harus dipandang secara luas, kendati seluruhnya kembali kepada penegasan atas ke-Tauhid-an Allah SWT. Dengan begitu, Islam bukan hanya tentang ibadah melainkan islam juga meliputi sejarah, peradaban dan politik,” katanya.

Cara pandang demikian setidaknya terefleksi pada salah satu karya penting almarhum Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek. Buku setebal dua jilid dan telah diterbitkan berulangkali ini menyajikan Islam sebagai agama yang mencakup banyak sisi, yakni teologis, historis, politik, kebudayaan dan lain-lain.

Sementara Suwito menyampaikan penilaian bahwa Harun Nasution merupakan figur yang memiliki komitmen dalam pendidikan dan pengajaran. Menurutnya, Harun adalah sosok intelektual yang lebih memprioritaskan mengajar mahasiswa dibanding hadir dalam rapat-rapat birokrasi.

Rektor UIN Jakarta Prof. Dr. Dede Rosyada MA yang juga menjadi salah satu muridnya mengungkapkan besarnya pengaruh Harun Nasution bagi tradisi keilmuan UIN Jakarta. Pemikirannya yang luar biasa dapat mempengaruhi pola pikir mahasiswa yang moderat.

“Corak pemikiran almarhum adalah mensinergikan antara Keislaman, kemodernan dan Indonesia. Ini pemikiran yang menjadi landasan penting bagi siapapun sarjana UIN Jakarta,” katanya.

Dede menambahkan, besarnya pengaruh pemikiran almarhum Harun Nasution terdorong oleh dua faktor. Salah satunya, ditransmisikan melalui kiprah keilmuan dan kependidikan para mahasiswanya. “Murid-murid beliau banyak yang sudah bergelar professor dan memilki kiprah keilmuan di masing-masing bidang,” urainya.

Faktor pendorong lain, sambungnya, ditransmisikan melalui karya-karyanya yang masih dibaca dan dipelajari hingga kini. Beberapa diantaranya Akal dan Wahyu dalam Islam, Filsafat Agama, Islam Rasional, Teologi Islam, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya.

Selain kiprah keilmuan, Rektor menambahkan, figur keseharian almarhum Harun juga layak dicontoh. Menurutnya, saat ada jadwal mengajar, almarhum selalu datang sebelum jam perkuliahan dimulai sehingga kegiatan perkuliahan bisa dimulai tepat waktu. “Almarhum bahkan enggan menerima undangan yang menghambat jadwal mengajarnya,” tambahnya.

Lebih dari seorang guru dan pimpinan, sambungnya, almarhum Harun adalah sosok ayah bagi setiap mahasiswanya. Ia mendukung penuh mereka sehingga bisa melanjutkan studi, bahkan ia membiayai mahasiswa yang terhambat finansial.

Diketahui, almarhum Harun Nasution sendiri lahir di Pematang Siantar pada 23 September 2017 dan wafat di Jakarta 18 September 1998. Almarhum yang pernah memimpin UIN Jakarta (dulu, IAIN Jakarta) sepanjang 1973-1984 pernah menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar dan American University of Cairo dan Universitas McGill, Kanada. (farah nh/zuhrotul uyun/zm)