UIN Jakarta Bertekad Masuk “Toward the Top 500”

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

UIN Jakarta terus bertekad untuk menjadi universitas bertaraf internasional dan meraih World Class Reseach University serta The Top 500. Untuk mewujudkan ke arah itu, sejumlah unsur terkait pun dibenahi, khususnya bidang akademik. Apa saja langkah-langkah strategis UIN Jakarta dalam mencapai internasionalisasi universitas, berikut wawancara Nanang Syaikhu dari UINJKT Online dengan Pembantu Rektor Bidang Akademik Dr Jamhari. Petikannya:
 
Pada rapat kerja pimpinan atau Rapim beberapa waktu lalu, UIN Jakarta akan bertekad untuk terus mengembangkan internasionalisasi universitas. Bisa dijelaskan?

Pertama, rapim kemarin adalah forum untuk mendengarkan laporan tentang kinerja satu tahun yang lalu. Jadi apa yang telah dikerjakan oleh fakultas atau universitas itu kita laporkan. Kedua, menentukan arah kebijakan ke depan UIN Jakarta ini mau melakukan apa. Dari rektorat saya kira ada beberapa hal yang penting untuk dilakukan. Pertama, dari segi akademik kita ingin meneguhkan langkah-langkah konkret bagaimana UIN Jakarta dapat meraih World Class University. Salah satunya, kita akan buat slogan yang lebih konkret, misalnya, UIN Syarif Hidayatullah Towards the Top 500. Jadi, kita ingin masuk ranking 500 besar universitas dunia. Untuk mencapai kea rah itu  ada kriteria dan syaratnya. Setelah diperhitungkan, kira-kira untuk sampai ke sana (Towards the Top 500), butuh waktu antara 10 hingga 15 tahun. Ini kita gencarkan supaya semua tahu.

Dari segi administrasi keuangan, tahun ini tahapan BLU yang murni, memiliki aturan keuangan yang baru, ada pelaporan keuangan yang baru, kemudian ada pengawas, dan sebagainya. Saya kira ada usaha untuk itu. Dari segi kemahasiswaan, ada upaya untuk meredefisinikan student governance. Peran-peran mahasiswa seperti apa yang perlu ditingkatkan. Bagaimana menggenjot mahasiswa untuk aktif dalam bidang akademik, baik itu penelitian ilmiah atau diskusi ilmiah. Ikut lomba-lomba penulisan dan penelitian. Lalu, mengkaji kembali keterikatan politik kampus, apakah positif atau tidak. Tentu saja itu baik tapi jangan sampai mengganggu tugas utama mahasiswa, yaitu belajar. Dari segi kelembagaan, UIN Jakarta akan mencanangkan kegiatan yang real, bagaimana menjadikan kampus kita lebih bertaraf internasional. Misalnya dengan menargetkan dalam beberapa tahun mahasiswa internasional lebih banyak. Oleh karena itu, perlu ada promosi keluar negeri, perlu menyiapkan kantor yang membantu mahasiswa, dan juga kualitas pengajaran yang baik, sehingga bisa menarik mahasiswa dari internasional. Nah, itu semua sebagai langkah awal menjadi ”the top 500 universities in the world”.

Bagaimana dengan World Class Research University?

Dulu, Pak Azyumardi Azra (mantan rektor) dan kawan-kawan sudah meletakkan dasar bahwa UIN Jakarta harus menjadi World Class University. Kemudian, saat Pak Komaruddin Hidayat menjadi rektor ditambahkan menjadi World Class Research University. Untuk menjadi Research University ini mau tidak mau kita harus menargetkan diri masuk dalam jajaran ranking elit universitas dunia. Mungkin untuk meraih 100 besar saja masih susah, jadi kita harus realistis juga. 500 besar itu sudah bergengsi. Apalagi sekarang ini kalau kita lihat tidak ada perguruan tinggi Islam yang masuk ke dalam ranking itu. Kalau UIN Jakarta bisa masuk, itu luar biasa. Program Towards Top 500 ini, merupakan langkah konkret bagaimana menerjemahkan World Class Reseach University. Ini salah satu langkah awal.

Lantas bagaimana dengan kesiapan sumberdaya manusianya?

Itu juga sedang kita pikirkan. Salah satunya yang paling berat memang sumberdaya manusia (SDM). Untuk menuju World Class Research University itu, 50 persen dari dosen yang ada seharusnya sudah bergelar profesor. Sementara guru besar yang ada saat ini baru 63 orang dari 500 yang harus ada. Jadi, masih jauh. Kalau mau jadi World Class Research University, jumlah profesornya harus lebih banyak, demikian juga bidang penelitian, termasuk pendanaannya. Penilaian dari lembaga internasional  kebanyakan dilihat dari berapa artikel yang ditulis oleh universitas dan dikutip di jurnal-jurnal ilmiah bergengsi di dunia. Juga berapa yang memenangkan penelitian, dan sebagainya. Prestasi kita sebenarnya sudah banyak, namun belum dimotivasi dengan baik. Ini penting sekali, riset yang kita kumpulkan harus ditingkatkan supaya bisa menjadi World Class Research University.

Soal bidang administrasi?

Administratif harus mendukung bidang akademik supaya bisa menjadi World Class Research University. Saya kira tujuan kita bukan administratifnya tapi maju akademiknya. Itu yang menjadi dasar pengembangan universitas, karena yang mau kita jual adalah lulusan dan akademik. Laporan keuangan yang baik, misalnya, dimaksudkan untuk mendukung hasil maksimal belajar mahasiswa.

Ada pendapat bahwa untuk meningkatkan mutu akademik ketua program studi juga harus dijabat guru besar. Komentar Anda?

Di perguruan tinggi yang mapan yang berperan memang ketua prodi. Bukan dekan apalagi rektornya. Untuk sampai ke sana (ketua prodi dijabat guru besar, Red), saya kira butuh waktu, tapi harus kita mulai. Makanya, kalau kita menggenjot profesor yang ada, saya menargetkan dalam 10 tahun kita punya 350 profesor. Sekarang baru 63 profesor. Saya berusaha dalam setahun harus ada 15 profesor yang baru. Kalau dilihat berat, tapi sebenarnya ringan. Itu artinya setiap fakultas melahirkan satu profesor. Saya yakin targetnya akan pendek karena kita juga memberikan fasilitas untuk ke sana. Jadi, kalau mau menambah jumlah profesor tentu kita harus memfasilitasi penelitian, penulisan, dan sebagainya. Itu alasan mengapa saya menyebutkan yang kedua dana penelitian. Kita kasih dana penelitian supaya profesor muncul. Tahun ini misalnya, dana penelitian sudah relatif besar. Ada beberapa dana yang jumlahnya ratusan juta, saya kira besar sekali untuk penelitian. Dan itu harus berkualitas internasional. Misalnya, satu penelitian diberi Rp 100 juta itu harus masuk dalam jurnal ilmiah. Jangan sekadar meneliti dan hanya sampai di situ saja. Penelitian harus serius, kum-nya tinggi dan nanti bisa menjadi profesor.*

UIN Jakarta Bertekad Masuk “Toward the Top 500”

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

UIN Jakarta terus bertekad untuk menjadi universitas bertaraf internasional dan meraih World Class Reseach University serta The Top 500. Untuk mewujudkan ke arah itu, sejumlah unsur terkait pun dibenahi, khususnya bidang akademik. Apa saja langkah-langkah strategis UIN Jakarta dalam mencapai internasionalisasi universitas, berikut wawancara Nanang Syaikhu dari UINJKT Online dengan Pembantu Rektor Bidang Akademik Dr Jamhari. Petikannya:
 
Pada rapat kerja pimpinan atau Rapim beberapa waktu lalu, UIN Jakarta akan bertekad untuk terus mengembangkan internasionalisasi universitas. Bisa dijelaskan?

Pertama, rapim kemarin adalah forum untuk mendengarkan laporan tentang kinerja satu tahun yang lalu. Jadi apa yang telah dikerjakan oleh fakultas atau universitas itu kita laporkan. Kedua, menentukan arah kebijakan ke depan UIN Jakarta ini mau melakukan apa. Dari rektorat saya kira ada beberapa hal yang penting untuk dilakukan. Pertama, dari segi akademik kita ingin meneguhkan langkah-langkah konkret bagaimana UIN Jakarta dapat meraih World Class University. Salah satunya, kita akan buat slogan yang lebih konkret, misalnya, UIN Syarif Hidayatullah Towards the Top 500. Jadi, kita ingin masuk ranking 500 besar universitas dunia. Untuk mencapai kea rah itu  ada kriteria dan syaratnya. Setelah diperhitungkan, kira-kira untuk sampai ke sana (Towards the Top 500), butuh waktu antara 10 hingga 15 tahun. Ini kita gencarkan supaya semua tahu.

Dari segi administrasi keuangan, tahun ini tahapan BLU yang murni, memiliki aturan keuangan yang baru, ada pelaporan keuangan yang baru, kemudian ada pengawas, dan sebagainya. Saya kira ada usaha untuk itu. Dari segi kemahasiswaan, ada upaya untuk meredefisinikan student governance. Peran-peran mahasiswa seperti apa yang perlu ditingkatkan. Bagaimana menggenjot mahasiswa untuk aktif dalam bidang akademik, baik itu penelitian ilmiah atau diskusi ilmiah. Ikut lomba-lomba penulisan dan penelitian. Lalu, mengkaji kembali keterikatan politik kampus, apakah positif atau tidak. Tentu saja itu baik tapi jangan sampai mengganggu tugas utama mahasiswa, yaitu belajar. Dari segi kelembagaan, UIN Jakarta akan mencanangkan kegiatan yang real, bagaimana menjadikan kampus kita lebih bertaraf internasional. Misalnya dengan menargetkan dalam beberapa tahun mahasiswa internasional lebih banyak. Oleh karena itu, perlu ada promosi keluar negeri, perlu menyiapkan kantor yang membantu mahasiswa, dan juga kualitas pengajaran yang baik, sehingga bisa menarik mahasiswa dari internasional. Nah, itu semua sebagai langkah awal menjadi ”the top 500 universities in the world”.

Bagaimana dengan World Class Research University?

Dulu, Pak Azyumardi Azra (mantan rektor) dan kawan-kawan sudah meletakkan dasar bahwa UIN Jakarta harus menjadi World Class University. Kemudian, saat Pak Komaruddin Hidayat menjadi rektor ditambahkan menjadi World Class Research University. Untuk menjadi Research University ini mau tidak mau kita harus menargetkan diri masuk dalam jajaran ranking elit universitas dunia. Mungkin untuk meraih 100 besar saja masih susah, jadi kita harus realistis juga. 500 besar itu sudah bergengsi. Apalagi sekarang ini kalau kita lihat tidak ada perguruan tinggi Islam yang masuk ke dalam ranking itu. Kalau UIN Jakarta bisa masuk, itu luar biasa. Program Towards Top 500 ini, merupakan langkah konkret bagaimana menerjemahkan World Class Reseach University. Ini salah satu langkah awal.

Lantas bagaimana dengan kesiapan sumberdaya manusianya?

Itu juga sedang kita pikirkan. Salah satunya yang paling berat memang sumberdaya manusia (SDM). Untuk menuju World Class Research University itu, 50 persen dari dosen yang ada seharusnya sudah bergelar profesor. Sementara guru besar yang ada saat ini baru 63 orang dari 500 yang harus ada. Jadi, masih jauh. Kalau mau jadi World Class Research University, jumlah profesornya harus lebih banyak, demikian juga bidang penelitian, termasuk pendanaannya. Penilaian dari lembaga internasional  kebanyakan dilihat dari berapa artikel yang ditulis oleh universitas dan dikutip di jurnal-jurnal ilmiah bergengsi di dunia. Juga berapa yang memenangkan penelitian, dan sebagainya. Prestasi kita sebenarnya sudah banyak, namun belum dimotivasi dengan baik. Ini penting sekali, riset yang kita kumpulkan harus ditingkatkan supaya bisa menjadi World Class Research University.

Soal bidang administrasi?

Administratif harus mendukung bidang akademik supaya bisa menjadi World Class Research University. Saya kira tujuan kita bukan administratifnya tapi maju akademiknya. Itu yang menjadi dasar pengembangan universitas, karena yang mau kita jual adalah lulusan dan akademik. Laporan keuangan yang baik, misalnya, dimaksudkan untuk mendukung hasil maksimal belajar mahasiswa.

Ada pendapat bahwa untuk meningkatkan mutu akademik ketua program studi juga harus dijabat guru besar. Komentar Anda?

Di perguruan tinggi yang mapan yang berperan memang ketua prodi. Bukan dekan apalagi rektornya. Untuk sampai ke sana (ketua prodi dijabat guru besar, Red), saya kira butuh waktu, tapi harus kita mulai. Makanya, kalau kita menggenjot profesor yang ada, saya menargetkan dalam 10 tahun kita punya 350 profesor. Sekarang baru 63 profesor. Saya berusaha dalam setahun harus ada 15 profesor yang baru. Kalau dilihat berat, tapi sebenarnya ringan. Itu artinya setiap fakultas melahirkan satu profesor. Saya yakin targetnya akan pendek karena kita juga memberikan fasilitas untuk ke sana. Jadi, kalau mau menambah jumlah profesor tentu kita harus memfasilitasi penelitian, penulisan, dan sebagainya. Itu alasan mengapa saya menyebutkan yang kedua dana penelitian. Kita kasih dana penelitian supaya profesor muncul. Tahun ini misalnya, dana penelitian sudah relatif besar. Ada beberapa dana yang jumlahnya ratusan juta, saya kira besar sekali untuk penelitian. Dan itu harus berkualitas internasional. Misalnya, satu penelitian diberi Rp 100 juta itu harus masuk dalam jurnal ilmiah. Jangan sekadar meneliti dan hanya sampai di situ saja. Penelitian harus serius, kum-nya tinggi dan nanti bisa menjadi profesor.*