UIN Jakarta Akan Uji TOAFL/TOEFL Mahasiswa

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone




classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui>

 

Kampus UIN, UNJKT Online – UIN Jakarta mulai akhir tahun ini akan menerapkan kebijakan ujian prediksi Test of as a Arabic Foreign Language (TOAFL) dan Test of as a  English Foreign Language (TOEFL) bagi mahasiswa program S1 semester VII. Kebijakan ini ditempuh sebagai salah satu prasyarat kelulusan mahasiswa, tepatnya sebelum yang bersangkutan mengikuti ujian skripsi.

 

“Kebijakan ini sesuai dengan SK Rektor No 241 Tahun 2005 yang mewajibkan mahasiswa memiliki sertifikat TOAFL/TOEFL sebelum mengikuti ujian skripsi. Jadi, jika mahasiswa tidak memiliki sertifikat, yang bersangkutan belum dibolehkan ujian skripsi,” kata Kepala Pusat Bahasa Dr Atiq Susilo kepada UINJKT Online di Kampus UIN Jakarta, Jumat (28/11). Pusat Bahasa adalah lembaga yang ditunjuk untuk menguji prediksi TOAFL/TOEFL mahasiswa.

 

Menurut Atiq, kebijakan memiliki sertifikat bagi syarat kelulusan mahasiswa semester akhir ini sebelumnya juga sudah diberlakukan. Hanya saja, implementasinya tidak pada akhir perkuliahan melainkan pada awal mahasiswa masuk atau pada semester pertama. “Setelah calon mahasiswa dinyatakan lulus tes kompetensi akademik, mereka kemudian dilanjutkan mengikuti tes prediksi TOAFL/TOEFL ini,” tandasnya. Ketentuan ini juga berlaku bagi mahasiswa program S2 dan S3.

 

Tes TOAFL rencananya akan digelar pada 16 dan 18 Desember mendatang, sedangkan tes TOEFL digelar pada 17 dan 19 Desember bertempat di Gedung Pusat Bahasa Kampus II.

 

Sesuai SK Rektor N0 241 Tahun 2005, skor yang dijadikan standar kelulusan berbeda antara mahasiswa yang studi kebahasaan dengan non-kebahasaan, atau masih di studi kebahasaan namun berbeda bahasanya. Sebagai contoh, bagi mahasiswa yang studi kebahasaan (Arab dan Inggris), skor yang harus diperoleh masing-masing adalah 500. Sementara mahasiswa yang studi di non-kebahasaan atau umum, skornya adalah 450 untuk TOEFL dan 375 untuk TOAFL. “Ketentuan perolehan skor 375 untuk TOAFL bagi mahasiswa studi umum dikarenakan rata-rata bahasa Arab mereka lemah, sehingga sedikit diperlonggar,” papar Atiq.

 

Dia menambahkan, kompetensi bahasa asing (khususnya Arab dan Inggris) bagi mahasiswa UIN Jakarta penting dikuasai. Hal ini untuk menjawab era global yang salah satu di antaranya menuntut adanya penguasaan bahasa asing. (ns)

 

UIN Jakarta Akan Uji TOAFL/TOEFL Mahasiswa

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone




classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui>

 

Kampus UIN, UNJKT Online – UIN Jakarta mulai akhir tahun ini akan menerapkan kebijakan ujian prediksi Test of as a Arabic Foreign Language (TOAFL) dan Test of as a  English Foreign Language (TOEFL) bagi mahasiswa program S1 semester VII. Kebijakan ini ditempuh sebagai salah satu prasyarat kelulusan mahasiswa, tepatnya sebelum yang bersangkutan mengikuti ujian skripsi.

 

“Kebijakan ini sesuai dengan SK Rektor No 241 Tahun 2005 yang mewajibkan mahasiswa memiliki sertifikat TOAFL/TOEFL sebelum mengikuti ujian skripsi. Jadi, jika mahasiswa tidak memiliki sertifikat, yang bersangkutan belum dibolehkan ujian skripsi,” kata Kepala Pusat Bahasa Dr Atiq Susilo kepada UINJKT Online di Kampus UIN Jakarta, Jumat (28/11). Pusat Bahasa adalah lembaga yang ditunjuk untuk menguji prediksi TOAFL/TOEFL mahasiswa.

 

Menurut Atiq, kebijakan memiliki sertifikat bagi syarat kelulusan mahasiswa semester akhir ini sebelumnya juga sudah diberlakukan. Hanya saja, implementasinya tidak pada akhir perkuliahan melainkan pada awal mahasiswa masuk atau pada semester pertama. “Setelah calon mahasiswa dinyatakan lulus tes kompetensi akademik, mereka kemudian dilanjutkan mengikuti tes prediksi TOAFL/TOEFL ini,” tandasnya. Ketentuan ini juga berlaku bagi mahasiswa program S2 dan S3.

 

Tes TOAFL rencananya akan digelar pada 16 dan 18 Desember mendatang, sedangkan tes TOEFL digelar pada 17 dan 19 Desember bertempat di Gedung Pusat Bahasa Kampus II.

 

Sesuai SK Rektor N0 241 Tahun 2005, skor yang dijadikan standar kelulusan berbeda antara mahasiswa yang studi kebahasaan dengan non-kebahasaan, atau masih di studi kebahasaan namun berbeda bahasanya. Sebagai contoh, bagi mahasiswa yang studi kebahasaan (Arab dan Inggris), skor yang harus diperoleh masing-masing adalah 500. Sementara mahasiswa yang studi di non-kebahasaan atau umum, skornya adalah 450 untuk TOEFL dan 375 untuk TOAFL. “Ketentuan perolehan skor 375 untuk TOAFL bagi mahasiswa studi umum dikarenakan rata-rata bahasa Arab mereka lemah, sehingga sedikit diperlonggar,” papar Atiq.

 

Dia menambahkan, kompetensi bahasa asing (khususnya Arab dan Inggris) bagi mahasiswa UIN Jakarta penting dikuasai. Hal ini untuk menjawab era global yang salah satu di antaranya menuntut adanya penguasaan bahasa asing. (ns)