Tutty Alawiyah: Teroris Adalah Orang Gila

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Irma Wahyuni


Syahida Inn, UINJKT Online – Rektor Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA) Dr  Hj Tutty Alawiyah AS menganggap para teroris adalah orang-orang gila karena telah berbuat jahat, menyebabkan kerusakan di muka bumi, dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah.


“Secara logika, para teroris adalah orang-orang gila karena mereka adalah orang-orang yang jahat, berbuat kerusakan dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Ironisnya, mereka menganggap apa yang mereka lakukan itu benar,” ujar Tutty dalam Seminar Nasional dan Temu Jurusan Manajemen Dakwah (MD) Fakultas Dakwah UIN/IAIN/STAIN se-Indonesia bertema “Lembaga Dakwah, Gerakan Anti-teror dan Penangkalan Aliran Sesat“, yang digelar Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Jakarta di Gedung Syahida Inn, Kamis (20/8).


Menurutnya, teroris adalah produk dari proses kategorisasi dan identifikasi diri yang salah, salah kaprah, dan salah persepsi. Selain itu, mereka mengalami kepribadian ganda, di satu sisi mereka melakukan kekerasan namun dalam pada saat yang sama mereka merasa perbuatannya dilakukan di jalan Allah.


Ia menjelaskan, terorisme ada dua macam; terorisme secara umum dan terorisme berbasis agama, atau lebih tepatnya berbasis pada pemahaman agama yang menyimpang. Tapi, Tutty  melanjutkan, keduanya sangatlah berbahaya, karena sama-sama melawan agama dan melawan kemanusiaan serta peradaban sekaligus.  Hanya saja, lanjutnya, terorisme kedua mungkin lebih militan dan lebih dahsyat karena mendapat justifikasi moral transendental disebabkan gerakan mereka didasarkan pada asumsi-asumsi keagamaan.


Para teroris berasumsi dunia telah rusak, penuh kebatilan, dikuasai dan dipimpin setan dan orang-orang jahat. Karena itu, kerusakan dan kelaliman telah merajalela dan merata di seluruh permukaan bumi. Sebagai kelanjutan logis dari asumsi tersebut, mereka berpandangan orang-orang beriman diseru untuk berjihad dan berperang dengan segala cara untuk menghancurkan para penjahat. Apa yang mereka lakukan dipandang sebagai panggilan dan ‘tugas suci’. “Mereka mengidentifikasi diri sebagai ‘Hero’ atau ‘Rambo’ yang datang untuk melawan dan menumpas kejahatan,” tegasnya.


Dari sudut pandang teroris, menurut Tutty, mereka adalah “Hero” yang menjalankan tugas suci dan mulia, akan tetapi dalam ukuran logika umum, mereka adalah orang-orang gila. Mereka berbuat kerusakan, membunuh banyak orang yang tidak berdosa, bahkan membunuh diri mereka sendiri yang sangat dilarang keras dalam agama dan kemanusiaan.


Tutty memberikan solusi untuk menangkal terorisme yakni de-radikalisasi, re-edukasi, rehabilitasi dan revitalisasi. De-radikalisasi adalah upaya penekanan ajaran Islam rahmatan lil alamin, toleran dan terbuka. Re-edukasi adalah mengembangkan paham yang moderat (tawassut) serta membuka dialog dengan kelompok-kelompok radikal. Rehabilitasi yaitu menerima kembali mantan narapidana terorisme dan para teroris yang telah tobat. Sedangkan revitalisasi adalah pengembangan infrastruktur sosial yang berkeadilan di segala bidang.  “Bagaimanapun, terorisme adalah tindakan yang sangat berbahaya bagi keberlangsungan hidup ummat dan perlu penanganan,” tegasnya. []

Tutty Alawiyah: Teroris Adalah Orang Gila

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Irma Wahyuni


Syahida Inn, UINJKT Online – Rektor Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA) Dr  Hj Tutty Alawiyah AS menganggap para teroris adalah orang-orang gila karena telah berbuat jahat, menyebabkan kerusakan di muka bumi, dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah.


“Secara logika, para teroris adalah orang-orang gila karena mereka adalah orang-orang yang jahat, berbuat kerusakan dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Ironisnya, mereka menganggap apa yang mereka lakukan itu benar,” ujar Tutty dalam Seminar Nasional dan Temu Jurusan Manajemen Dakwah (MD) Fakultas Dakwah UIN/IAIN/STAIN se-Indonesia bertema “Lembaga Dakwah, Gerakan Anti-teror dan Penangkalan Aliran Sesat“, yang digelar Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Jakarta di Gedung Syahida Inn, Kamis (20/8).


Menurutnya, teroris adalah produk dari proses kategorisasi dan identifikasi diri yang salah, salah kaprah, dan salah persepsi. Selain itu, mereka mengalami kepribadian ganda, di satu sisi mereka melakukan kekerasan namun dalam pada saat yang sama mereka merasa perbuatannya dilakukan di jalan Allah.


Ia menjelaskan, terorisme ada dua macam; terorisme secara umum dan terorisme berbasis agama, atau lebih tepatnya berbasis pada pemahaman agama yang menyimpang. Tapi, Tutty  melanjutkan, keduanya sangatlah berbahaya, karena sama-sama melawan agama dan melawan kemanusiaan serta peradaban sekaligus.  Hanya saja, lanjutnya, terorisme kedua mungkin lebih militan dan lebih dahsyat karena mendapat justifikasi moral transendental disebabkan gerakan mereka didasarkan pada asumsi-asumsi keagamaan.


Para teroris berasumsi dunia telah rusak, penuh kebatilan, dikuasai dan dipimpin setan dan orang-orang jahat. Karena itu, kerusakan dan kelaliman telah merajalela dan merata di seluruh permukaan bumi. Sebagai kelanjutan logis dari asumsi tersebut, mereka berpandangan orang-orang beriman diseru untuk berjihad dan berperang dengan segala cara untuk menghancurkan para penjahat. Apa yang mereka lakukan dipandang sebagai panggilan dan ‘tugas suci’. “Mereka mengidentifikasi diri sebagai ‘Hero’ atau ‘Rambo’ yang datang untuk melawan dan menumpas kejahatan,” tegasnya.


Dari sudut pandang teroris, menurut Tutty, mereka adalah “Hero” yang menjalankan tugas suci dan mulia, akan tetapi dalam ukuran logika umum, mereka adalah orang-orang gila. Mereka berbuat kerusakan, membunuh banyak orang yang tidak berdosa, bahkan membunuh diri mereka sendiri yang sangat dilarang keras dalam agama dan kemanusiaan.


Tutty memberikan solusi untuk menangkal terorisme yakni de-radikalisasi, re-edukasi, rehabilitasi dan revitalisasi. De-radikalisasi adalah upaya penekanan ajaran Islam rahmatan lil alamin, toleran dan terbuka. Re-edukasi adalah mengembangkan paham yang moderat (tawassut) serta membuka dialog dengan kelompok-kelompok radikal. Rehabilitasi yaitu menerima kembali mantan narapidana terorisme dan para teroris yang telah tobat. Sedangkan revitalisasi adalah pengembangan infrastruktur sosial yang berkeadilan di segala bidang.  “Bagaimanapun, terorisme adalah tindakan yang sangat berbahaya bagi keberlangsungan hidup ummat dan perlu penanganan,” tegasnya. []