Tren Mahasiswa Ber-Laptop

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone








KOMPUTER jinjing alias laptop kini bukan lagi dianggap sebagai barang mewah. Di kalangan mahasiswa, laptop bahkan tak ubahnya seperti telepon genggam. Hal itu terlihat dengan semakin maraknya mahasiswa memanfaatkan si mesin canggih itu disudut-sudut ruang kampus. Apakah sekadar tren, ataukah kebutuhan?

 

DULU, di lingkungan kampus UIN Jakarta, mahasiswa ber-laptop bisa dihitung dengan jari. Jangankan memiliki laptop, untuk biaya kuliah saja mahasiswa terkadang harus nunggak karena telat membayar.

 

Pasalnya, komputer jinjing itu bukan saja termasuk barang mewah tapi juga belum banyaknya mahasiswa yang melek teknologi informasi, termasuk pemanfaatan akses internet untuk kepentingan belajar. Kini, setelah kebutuhan terhadap akses internet tinggi, ditambah kian banyaknya lembaga yang menyediakan fasilitas hotspot (wi-fi), mahasiswa pun mulai sadar bahwa laptop menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Hal itu terlihat misalnya dari sejumlah mahasiswa yang “nongkrong” seraya menghadapi laptop di hampir setiap sudut kampus UIN Jakarta.

 

Memang, kini tak sulit menemukan mahasiswa yang “bermain” laptop di kampus. Tengoklah misalnya di perpustakaan, kantin, plaza fakultas, teras ruang kuliah, ruang perkuliahan, hingga di taman samping Auditorium Utama, Anda akan menemukan sejumlah mahasiswa yang sedang asik di depan layar laptop. Pemandangan ini memang tak banyak ditemukan pada empat atau lima tahun silam ketika para mahasiswa kuliah.

 

Kian murahnya gadget yang satu ini diakui turut berkontribusi memuluskan pemerataan teknologi di kalangan mahasiswa. Jika dulu harga seperangkat laptop paling murah berbandrol sekitar Rp 10 juta -jumlah yang tak sedikit bagi kantong sebagian besar mahasiswa UIN Jakarta- kini satu unit laptop terbaru bisa dimiliki hanya dengan Rp 3,5 juta. Tentu saja, dibandingkan dengan tuntutan tugas perkuliahan yang padat, terutama bagi mahasiswa tingkat akhir yang harus merampungkan skripsi, harga sebesar itu tak terlampau memberatkan. Mereka pun rela merogoh kocek dalam-dalam sekadar untuk menjinjing sebuah perangkat “pintar” tersebut.

 

Harga yang murah ditambah fasilitas yang meriah, dengan hadirnya teknologi Wi-Fi (Wireless Fidelity) yang memungkinkan mengakses internet tanpa kabel (nirkable), semakin menarik minat mahasiswa untuk memiliki sebuah laptop. Dengan laptop yang disertai Wi-Fi mahasiswa dapat mengakses internet secara cuma-cuma di sejumlah hotspot yang tersebar di berbagai tempat umum, termasuk di kampus. Tak heran, jika plaza fakultas dan teras ruang perkuliahan yang menyediakan hotspot gratis kerap dipadati mahasiswa untuk mengakses internet.

 

Dari pantauan UINJKT online, hampir semua fakultas kini menyediakan layanan hotspot untuk mengakses internet secara gratis. Hanya saja, tak semuanya dibuka untuk umum. Sebagian hotspot fakultas di-protect dengan password. Mahasiswa yang ingin memanfaatkannya pun harus mendaftar terebih dahulu ke penyedia jasa hotspot, dalam hal ini fakultas masing-masing.

 

Keberadaan hotspot bagi kampus sekaliber UIN Jakarta sangat penting. Menurut mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi, Masmian Mahida, melalui teknologi hotspot sivitas akademika bisa mengaplikasikan e-learning atau pembelajaran berbasis internet. Program e-learning akan membuat proses belajar mengajar menjadi semakin efektif. Dosen-dosen yang sibuk di luar kampus, nantinya bisa menyampaikan kuliah secara online tanpa harus tatap muka langsung di kelas. Sementara itu, jadwal kuliah, silabus, dan diktat juga bisa diakses mahasiswa dan dosen melalui internet.

 

Di tengah menjamurnya penggunaan laptop di kampus, Masmian mengharapkan, fakultas-fakultas dapat mengembangkan e-learning. Dan itu bisa dimulai dengan membuka hotspot untuk mahasiswanya. Di sisi lain, ia pun berharap, mahasiswa dapat memanfaatkan hotspot tersebut secara arif, tentu saja untuk kepentingan akademik, bukan malah untuk hiburan semata. “Ini kesempatan yang harus dimanfaatkan mahasiswa untuk mengembangkan kompetensinya. Karena itu, ketika mengakses internet, mahasiswa jangan hanya membuka friendster dan chatting saja,” ungkapnya.

 

Menjamurnya laptop dan tersedianya hotspot di kampus memang perlu disambut positif. Banyak cara positif yang bisa dilakukan mahasiswa dalam memanfaatkan laptop dan internet. Salah satunya dengan memanfaatkannya untuk selalu up to date dengan perkembangan dunia akademik, baik di dalam maupun luar negeri. Mahfud, misalnya, melalui internet ia bisa memperluas cakrawalanya dengan mengunduh (download) buku, artikel, dan diktat mata kuliah yang disediakan sejumlah kampus atau lembaga riset di dalam dan luar negeri. Sebagai peminat kajian komunikasi dan media, ia sangat terbantu dengan internet. “Saya bisa memperkaya bahan bacaan dengan mengakses sejumlah website universitas, penerbit, dan lembaga riset di manca negara,” tuturnya.

 

Tak sulit menemukan bahan kuliah di internet. Melalui mesin pencari (search engine) Google, misalnya, kita dapat menjelajahi jutaan website yang menyediakan tema-tema yang kita butuhkan. Bahkan, kalau sabar dan ulet, Anda bisa menemukan silabus mata kuliah yang Anda ambil di UIN Jakarta dengan matakuliah sejenis di sejumlah universitas dunia. Dengan begitu, Anda pun dapat membandingkan keduanya, sehingga bisa memperluas sumber-sumber bacaan yang mendukung.

 

Dari laptop kesayangannya, Mahfud sendiri mengaku kerap mengakses silabus yang disediakan Departement of Communication University of Colorado at Boulder. Di sana ia menemukan banyak silabus dan bahan matakuliah dari profesor-profesor ternama di bidang komunikasi, seperti Prof Robert T. Craig, mantan presiden International Communication Association dan penulis buku Theorizing Communication: Readings Across Traditions.

 

Sementara itu, dalam Ruang Baca Tempo Edisi 31 Maret 2008 menyebutkan, melalui internet kita juga dapat berburu e-book. Sejumlah website yang menyediakan e-book untuk diunduh secara gratis antara lain: http://books.google.com, http://www.worldlibrary.net, http://www.promo.net/pg/index.html, http://www.gutenberg.net.au, http://www.mslit.com, http://www.bartleby.com, http://www.ulib.org, dan http://onlinebooks.library.upenn.edu. Memang, rata-rata buku yang bisa diunduh secara gratis adalah buku yang hak ciptanya sudah menjadi milik umum (open source). Meski demikian, kita masih bisa melihat versi percobaan (trial) buku-buku terbaru yang aksesnya cuma dibatasi hanya beberapa bab saja.

 

Kendati menjanjikan manfaat yang besar, sebagai produk teknologi, laptop dan internet tergantung pada penggunanya. Maka pada akhirnya, terpulang pada Anda bagaimana memaknai kian menjamurnya laptop dan bertaburnya hotspot di kampus peradaban ini.[] Mohamad Hanifudin

Tren Mahasiswa Ber-Laptop

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone








KOMPUTER jinjing alias laptop kini bukan lagi dianggap sebagai barang mewah. Di kalangan mahasiswa, laptop bahkan tak ubahnya seperti telepon genggam. Hal itu terlihat dengan semakin maraknya mahasiswa memanfaatkan si mesin canggih itu disudut-sudut ruang kampus. Apakah sekadar tren, ataukah kebutuhan?

 

DULU, di lingkungan kampus UIN Jakarta, mahasiswa ber-laptop bisa dihitung dengan jari. Jangankan memiliki laptop, untuk biaya kuliah saja mahasiswa terkadang harus nunggak karena telat membayar.

 

Pasalnya, komputer jinjing itu bukan saja termasuk barang mewah tapi juga belum banyaknya mahasiswa yang melek teknologi informasi, termasuk pemanfaatan akses internet untuk kepentingan belajar. Kini, setelah kebutuhan terhadap akses internet tinggi, ditambah kian banyaknya lembaga yang menyediakan fasilitas hotspot (wi-fi), mahasiswa pun mulai sadar bahwa laptop menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Hal itu terlihat misalnya dari sejumlah mahasiswa yang “nongkrong” seraya menghadapi laptop di hampir setiap sudut kampus UIN Jakarta.

 

Memang, kini tak sulit menemukan mahasiswa yang “bermain” laptop di kampus. Tengoklah misalnya di perpustakaan, kantin, plaza fakultas, teras ruang kuliah, ruang perkuliahan, hingga di taman samping Auditorium Utama, Anda akan menemukan sejumlah mahasiswa yang sedang asik di depan layar laptop. Pemandangan ini memang tak banyak ditemukan pada empat atau lima tahun silam ketika para mahasiswa kuliah.

 

Kian murahnya gadget yang satu ini diakui turut berkontribusi memuluskan pemerataan teknologi di kalangan mahasiswa. Jika dulu harga seperangkat laptop paling murah berbandrol sekitar Rp 10 juta -jumlah yang tak sedikit bagi kantong sebagian besar mahasiswa UIN Jakarta- kini satu unit laptop terbaru bisa dimiliki hanya dengan Rp 3,5 juta. Tentu saja, dibandingkan dengan tuntutan tugas perkuliahan yang padat, terutama bagi mahasiswa tingkat akhir yang harus merampungkan skripsi, harga sebesar itu tak terlampau memberatkan. Mereka pun rela merogoh kocek dalam-dalam sekadar untuk menjinjing sebuah perangkat “pintar” tersebut.

 

Harga yang murah ditambah fasilitas yang meriah, dengan hadirnya teknologi Wi-Fi (Wireless Fidelity) yang memungkinkan mengakses internet tanpa kabel (nirkable), semakin menarik minat mahasiswa untuk memiliki sebuah laptop. Dengan laptop yang disertai Wi-Fi mahasiswa dapat mengakses internet secara cuma-cuma di sejumlah hotspot yang tersebar di berbagai tempat umum, termasuk di kampus. Tak heran, jika plaza fakultas dan teras ruang perkuliahan yang menyediakan hotspot gratis kerap dipadati mahasiswa untuk mengakses internet.

 

Dari pantauan UINJKT online, hampir semua fakultas kini menyediakan layanan hotspot untuk mengakses internet secara gratis. Hanya saja, tak semuanya dibuka untuk umum. Sebagian hotspot fakultas di-protect dengan password. Mahasiswa yang ingin memanfaatkannya pun harus mendaftar terebih dahulu ke penyedia jasa hotspot, dalam hal ini fakultas masing-masing.

 

Keberadaan hotspot bagi kampus sekaliber UIN Jakarta sangat penting. Menurut mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi, Masmian Mahida, melalui teknologi hotspot sivitas akademika bisa mengaplikasikan e-learning atau pembelajaran berbasis internet. Program e-learning akan membuat proses belajar mengajar menjadi semakin efektif. Dosen-dosen yang sibuk di luar kampus, nantinya bisa menyampaikan kuliah secara online tanpa harus tatap muka langsung di kelas. Sementara itu, jadwal kuliah, silabus, dan diktat juga bisa diakses mahasiswa dan dosen melalui internet.

 

Di tengah menjamurnya penggunaan laptop di kampus, Masmian mengharapkan, fakultas-fakultas dapat mengembangkan e-learning. Dan itu bisa dimulai dengan membuka hotspot untuk mahasiswanya. Di sisi lain, ia pun berharap, mahasiswa dapat memanfaatkan hotspot tersebut secara arif, tentu saja untuk kepentingan akademik, bukan malah untuk hiburan semata. “Ini kesempatan yang harus dimanfaatkan mahasiswa untuk mengembangkan kompetensinya. Karena itu, ketika mengakses internet, mahasiswa jangan hanya membuka friendster dan chatting saja,” ungkapnya.

 

Menjamurnya laptop dan tersedianya hotspot di kampus memang perlu disambut positif. Banyak cara positif yang bisa dilakukan mahasiswa dalam memanfaatkan laptop dan internet. Salah satunya dengan memanfaatkannya untuk selalu up to date dengan perkembangan dunia akademik, baik di dalam maupun luar negeri. Mahfud, misalnya, melalui internet ia bisa memperluas cakrawalanya dengan mengunduh (download) buku, artikel, dan diktat mata kuliah yang disediakan sejumlah kampus atau lembaga riset di dalam dan luar negeri. Sebagai peminat kajian komunikasi dan media, ia sangat terbantu dengan internet. “Saya bisa memperkaya bahan bacaan dengan mengakses sejumlah website universitas, penerbit, dan lembaga riset di manca negara,” tuturnya.

 

Tak sulit menemukan bahan kuliah di internet. Melalui mesin pencari (search engine) Google, misalnya, kita dapat menjelajahi jutaan website yang menyediakan tema-tema yang kita butuhkan. Bahkan, kalau sabar dan ulet, Anda bisa menemukan silabus mata kuliah yang Anda ambil di UIN Jakarta dengan matakuliah sejenis di sejumlah universitas dunia. Dengan begitu, Anda pun dapat membandingkan keduanya, sehingga bisa memperluas sumber-sumber bacaan yang mendukung.

 

Dari laptop kesayangannya, Mahfud sendiri mengaku kerap mengakses silabus yang disediakan Departement of Communication University of Colorado at Boulder. Di sana ia menemukan banyak silabus dan bahan matakuliah dari profesor-profesor ternama di bidang komunikasi, seperti Prof Robert T. Craig, mantan presiden International Communication Association dan penulis buku Theorizing Communication: Readings Across Traditions.

 

Sementara itu, dalam Ruang Baca Tempo Edisi 31 Maret 2008 menyebutkan, melalui internet kita juga dapat berburu e-book. Sejumlah website yang menyediakan e-book untuk diunduh secara gratis antara lain: http://books.google.com, http://www.worldlibrary.net, http://www.promo.net/pg/index.html, http://www.gutenberg.net.au, http://www.mslit.com, http://www.bartleby.com, http://www.ulib.org, dan http://onlinebooks.library.upenn.edu. Memang, rata-rata buku yang bisa diunduh secara gratis adalah buku yang hak ciptanya sudah menjadi milik umum (open source). Meski demikian, kita masih bisa melihat versi percobaan (trial) buku-buku terbaru yang aksesnya cuma dibatasi hanya beberapa bab saja.

 

Kendati menjanjikan manfaat yang besar, sebagai produk teknologi, laptop dan internet tergantung pada penggunanya. Maka pada akhirnya, terpulang pada Anda bagaimana memaknai kian menjamurnya laptop dan bertaburnya hotspot di kampus peradaban ini.[] Mohamad Hanifudin