Transformasi Para Noordinis

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

JELAS sudah, identitas Mr X yang menjadi pusat drama perburuan 17 jam di Dusun Beji, Temanggung, Sabtu (8/8), yang ternyata adalah Ibrohim.Hal ini mematahkan gosip yang beredar selama ini bahwa Noordin telah berkalang tanah.


 


Penjelasan resmi pihak Polri ini sekaligus menguak tabir pekat di balik rentetan peristiwa penghentian jaringan terorisme yang menjadi menu utama pemberitaan media dan perbincangan publik akhir-akhir ini. Cerita Noordin dan jaringannya belum berakhir, malahan terus menggelinding bak bola api yang kian hari kian besar dan semakin liar.

Entah di mana Noordin saat ini berada,satu hal yang pasti lolosnya dia menjadi penanda bahwa lonceng kematian setiap saat masih bisa berdentang.Dari peristiwa itu, ada tiga hal yang menarik untuk dikomentari, yakni media dalam perannya sebagai pengabar, transformasi ”Noordinisme”, dan jaringan para Noordinis.


Noordin dan Media


Tak disangkal lagi, Noordin memang ngetop dan paling dicari belakangan ini. Seluruh bingkai pemberitaan media (news framing) dari pagi hingga ke pagi lagi dipenuhi oleh seribu satu cerita soal Noordin. Bahkan,kerap sulit membedakan antara fakta dan gosip, antara kehati-hatian reportase dan reality show.


Noordin yang faktual dan Noordin yang simbolis telah menyatu dalam komodifikasi khas industri media. Perburuan Noordin ”sang teroris” terus dieksplorasi menjadi suguhan bak film aksi/laga,bahkan di beberapa media mirip hidangan infotainment tanpa fakta verifikatif. Perhatikan saja, klimaks cerita di Beji,Temanggung, Sabtu (8/8). Dusun pinggiran yang bersahaja dan jauh dari hiruk-pikuk ”politik kota” itu menjelma menjadi area menegangkan.


Letusan senjata dan kepungan pasukan polisi antiteror berujung pada kabar Noordin telah tiada. Meski belum terkonfirmasi, berbagai headline media langsung meyakinkan khalayak bahwa Noordin telah tewas! Pemberitaan demi pemberitaan bergulir menerpa khalayak seolah berlomba untuk menjadi yang tercepat, tanpa mengindahkan fakta yang holistis. Hanya sedikit media yang tak tergoda ke dalam jebakan euforia ”kematian”Noordin.


Ada baiknya kita memahami kembali pemikiran Peter L Berger dan Thomas Luckmann dalam bukunya The Social Construction of Reality (1990) yang menyebutkan bahwa realitas itu dikonstruksi secara sosial (reality is socially constructed). Mengonstruksi makna tentu tak lepas dari proses pelembagaan dan legitimasi untuk memapankan sesuatu sehingga terpola dan menjadi kenyataan objektif.


Juga terdapat internalisasi sebagai dimensi subjektif dari proses konstruksi tersebut.Jika media terus-menerus dan terpola mendistribusikan kabar yang keliru, bukan tak mungkin kekeliruan itu nantinya dianggap sahih dan apa adanya dalam internalisasi kesadaran individu-individu khalayak.


Transformasi ”Noordinisme”

Satu hal lain yang patut kita apresiasi ialah upaya kepolisian dalam melumpuhkan jaringan terorisme di negeri ini, termasuk berbagai usaha menghentikan Noordin. Bagaimanapun, terorisme telah menjadi kejahatan utama bagi kemanusiaan (ultimate crime againts humanity).

Gerakan ini laten dan bisa kembali aktual kapan pun dalam sosok serta jaringan yang sama atau pun berbeda. Doktrin ajaran ala Noordin yang meliputi ide, gagasan, pemikiran sekaligus tindakan pragmatisnya masih tertanam di banyak kader. ”Noordinisme” telah disemai dan tumbuh subur di tengah balutan ideologisasi agama dengan tafsir yang keliru, kemiskinan, kelengahan pengelola dan aparatur negara, serta ketidakpedulian masyarakat. Embrio itu siap menetas menjadi stelsel aktif yang mengimplementasikan semangat dan cara pandang Noordin di kemudian hari.


Terlebih bangsa ini kerap menjadi bangsa pelupa di tengah bekerjanya gurita para pemilik otoritas modal dan kekuasaan yang kerap dengan sengaja membuat proyek lupa. Satu kasus sengaja didorong ke permukaan untuk menutupi kasus-kasus lain yang mengancam si pemilik otoritas sehingga masyarakat masuk ke dalam dimensi lupa yang sengaja diciptakan dan dilembagakan.


Kita perlu mewaspadai transformasi ”Noordinisme” atau semacam gagasan ideologis dan spirit gerakan radikal ala Noordin.Terlebih jika dia dikukuhkan oleh para pengikutnya sebagai role model yang keliru dari konsep diri ”pejuang”, ”syuhada”, ”pembawa kebenaran”, ”imam atau amir”, dan lain-lain. Kini, bisa jadi Noordin tak semata faktual, melainkan juga simbolis.


Artinya Noordin tak hanya ada dalam realitasnya sebagai pribadi, tetapi juga menjadi kesadaran kelompok terbagi (shared group conciousness) yang larut dan penetratif dalam orientasi diri para pengikutnya itu. Sungguh berbahaya jika terjadi konvergensi simbolis atas diri dan gagasan Noordin di kelompoknya yang belum tertangkap. Menurut Ernest Bormann,konvergensi simbolis ini merupakan kekuatan komunikasi di balik penciptaan kesadaran umum (realitas simbolis) yang disebut sebagai visi retoris.

Menyediakan sebuah bentuk drama dalam bentuk cara pandang, ideologi dan paradigma berpikir (dalam Cragan, 1998). Jika cara pandang menghalalkan bom bunuh diri,membunuh atau menebar teror menjadi kesadaran kelompok, ”Noordinisme” akan sangat berbahaya.


Para Noordinis


Transformasi gerakan ala Noordin jangan sampai melahirkan dan memapankan Noordinis atau para pengikut setia Noordin yang tak lagi menggunakan rasionalitas dan empati kemanusiaan untuk mengukur tindakannya. Tentu dalam konteks ini, sekali lagi bukan Noordin sebagai individu yang faktual, melainkan yang simbolis.

Kita seyogianya juga tak menstimulasi kelahiran Noordinis-Noordinis ini.Paling tidak ada tiga faktor yang dapat memfasilitasi transformasi gerakan seperti yang dipraktikkan Noordin. Pertama, lingkungan makro antara lain sistem politik global. Misalnya saja relasi antagonistis yang dibangun Amerika Serikat dengan kebijakan unilateralismenya.

Bisa juga praktik Islamofobia di beberapa negara Barat telah mengakibatkan dendam kesumat dari banyak organisasi radikal yang kerap dicap ”teroris”, ”ekstremis”, ”penjahat demokrasi”, dan sebagainya.Kondisi seperti ini pula yang telah memupuk subur gerakan radikal Islam seperti di Afghanistan, Irak, Iran, Libia, termasuk juga di Indonesia.Sentimen anti-Barat marak dan mengemuka seolah menjadi penegas zona perlawanan bisa di mana saja sehingga muncul gejala terorisme transnasional.

Interkoneksi para pelaku teror tak lagi tersekat oleh batas-batas geografis, teritorial maupun etnis. Kedua, lingkungan mikro-langsung, yakni lingkungan terdekat yang menjadi tempat sosialisasi sekaligus pembentukan kesadaran dan kepribadian seseorang melalui proses internalisasi diri. Di antaranya keluarga, kelompok penganut agama, sekolah, dan lingkungan pergaulan.


Sangat wajar jika di suatu pesantren atau sekolah yang terus-menerus, sistemis, dan terorganisasi menghidupkan cara pandang ekstrem tentang agama, akan banyak lahir kader militan yang siap mati karena memperjuangkan apa yang mereka yakini. Cara-cara kekerasan justru dimaknai dalam konteks ”investasi surga”. Keluarga juga dapat menjadi katalisator yang ampuh dalam melahirkan kaderkader militan. Ketiga, orientasi kepribadian yang tecermin dalam sikap individu.


Bentuknya dapat bermacammacam. Mulai dari kepentingan untuk mencapai tujuan khusus politik, penyesuaian diri dengan sel organisasi teroris yang diikuti, eksternalisasi diri agar populer sebagai penebar teror sehingga menjadi ikon liputan media massa. Selain itu, ada pula orangorang tertentu yang menebar teror sebagai bentuk pertahanan diri dari berbagai tekanan pihak lain. Orientasi-orientasi kepribadian ini, perlahan tapi pasti, dapat merangsang lahirnya orangorang bertipe Noordinis di sekitar kita.


Dari ketiga faktor di atas, tampaknya faktor pertama dan kedualah yang dominan menjadi penyemai para Noordinis. Kita sungguh-sungguh tak berharap matinya Noordin menumbuhkan seribu Noordinis. Biarlah Noordin ngetop dan dipopulerkan media, tapi jangan sampai melahirkan ”Noordinisme”.(*)


Tulisan ini telah dipublikasikan di Harian SINDO, Senin 17 Agustus 2009


Penulis adalah Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute dan Dosen Komunikasi Politik di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Jakarta

 

Transformasi Para Noordinis

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

JELAS sudah, identitas Mr X yang menjadi pusat drama perburuan 17 jam di Dusun Beji, Temanggung, Sabtu (8/8), yang ternyata adalah Ibrohim.Hal ini mematahkan gosip yang beredar selama ini bahwa Noordin telah berkalang tanah.


 


Penjelasan resmi pihak Polri ini sekaligus menguak tabir pekat di balik rentetan peristiwa penghentian jaringan terorisme yang menjadi menu utama pemberitaan media dan perbincangan publik akhir-akhir ini. Cerita Noordin dan jaringannya belum berakhir, malahan terus menggelinding bak bola api yang kian hari kian besar dan semakin liar.

Entah di mana Noordin saat ini berada,satu hal yang pasti lolosnya dia menjadi penanda bahwa lonceng kematian setiap saat masih bisa berdentang.Dari peristiwa itu, ada tiga hal yang menarik untuk dikomentari, yakni media dalam perannya sebagai pengabar, transformasi ”Noordinisme”, dan jaringan para Noordinis.


Noordin dan Media


Tak disangkal lagi, Noordin memang ngetop dan paling dicari belakangan ini. Seluruh bingkai pemberitaan media (news framing) dari pagi hingga ke pagi lagi dipenuhi oleh seribu satu cerita soal Noordin. Bahkan,kerap sulit membedakan antara fakta dan gosip, antara kehati-hatian reportase dan reality show.


Noordin yang faktual dan Noordin yang simbolis telah menyatu dalam komodifikasi khas industri media. Perburuan Noordin ”sang teroris” terus dieksplorasi menjadi suguhan bak film aksi/laga,bahkan di beberapa media mirip hidangan infotainment tanpa fakta verifikatif. Perhatikan saja, klimaks cerita di Beji,Temanggung, Sabtu (8/8). Dusun pinggiran yang bersahaja dan jauh dari hiruk-pikuk ”politik kota” itu menjelma menjadi area menegangkan.


Letusan senjata dan kepungan pasukan polisi antiteror berujung pada kabar Noordin telah tiada. Meski belum terkonfirmasi, berbagai headline media langsung meyakinkan khalayak bahwa Noordin telah tewas! Pemberitaan demi pemberitaan bergulir menerpa khalayak seolah berlomba untuk menjadi yang tercepat, tanpa mengindahkan fakta yang holistis. Hanya sedikit media yang tak tergoda ke dalam jebakan euforia ”kematian”Noordin.


Ada baiknya kita memahami kembali pemikiran Peter L Berger dan Thomas Luckmann dalam bukunya The Social Construction of Reality (1990) yang menyebutkan bahwa realitas itu dikonstruksi secara sosial (reality is socially constructed). Mengonstruksi makna tentu tak lepas dari proses pelembagaan dan legitimasi untuk memapankan sesuatu sehingga terpola dan menjadi kenyataan objektif.


Juga terdapat internalisasi sebagai dimensi subjektif dari proses konstruksi tersebut.Jika media terus-menerus dan terpola mendistribusikan kabar yang keliru, bukan tak mungkin kekeliruan itu nantinya dianggap sahih dan apa adanya dalam internalisasi kesadaran individu-individu khalayak.


Transformasi ”Noordinisme”

Satu hal lain yang patut kita apresiasi ialah upaya kepolisian dalam melumpuhkan jaringan terorisme di negeri ini, termasuk berbagai usaha menghentikan Noordin. Bagaimanapun, terorisme telah menjadi kejahatan utama bagi kemanusiaan (ultimate crime againts humanity).

Gerakan ini laten dan bisa kembali aktual kapan pun dalam sosok serta jaringan yang sama atau pun berbeda. Doktrin ajaran ala Noordin yang meliputi ide, gagasan, pemikiran sekaligus tindakan pragmatisnya masih tertanam di banyak kader. ”Noordinisme” telah disemai dan tumbuh subur di tengah balutan ideologisasi agama dengan tafsir yang keliru, kemiskinan, kelengahan pengelola dan aparatur negara, serta ketidakpedulian masyarakat. Embrio itu siap menetas menjadi stelsel aktif yang mengimplementasikan semangat dan cara pandang Noordin di kemudian hari.


Terlebih bangsa ini kerap menjadi bangsa pelupa di tengah bekerjanya gurita para pemilik otoritas modal dan kekuasaan yang kerap dengan sengaja membuat proyek lupa. Satu kasus sengaja didorong ke permukaan untuk menutupi kasus-kasus lain yang mengancam si pemilik otoritas sehingga masyarakat masuk ke dalam dimensi lupa yang sengaja diciptakan dan dilembagakan.


Kita perlu mewaspadai transformasi ”Noordinisme” atau semacam gagasan ideologis dan spirit gerakan radikal ala Noordin.Terlebih jika dia dikukuhkan oleh para pengikutnya sebagai role model yang keliru dari konsep diri ”pejuang”, ”syuhada”, ”pembawa kebenaran”, ”imam atau amir”, dan lain-lain. Kini, bisa jadi Noordin tak semata faktual, melainkan juga simbolis.


Artinya Noordin tak hanya ada dalam realitasnya sebagai pribadi, tetapi juga menjadi kesadaran kelompok terbagi (shared group conciousness) yang larut dan penetratif dalam orientasi diri para pengikutnya itu. Sungguh berbahaya jika terjadi konvergensi simbolis atas diri dan gagasan Noordin di kelompoknya yang belum tertangkap. Menurut Ernest Bormann,konvergensi simbolis ini merupakan kekuatan komunikasi di balik penciptaan kesadaran umum (realitas simbolis) yang disebut sebagai visi retoris.

Menyediakan sebuah bentuk drama dalam bentuk cara pandang, ideologi dan paradigma berpikir (dalam Cragan, 1998). Jika cara pandang menghalalkan bom bunuh diri,membunuh atau menebar teror menjadi kesadaran kelompok, ”Noordinisme” akan sangat berbahaya.


Para Noordinis


Transformasi gerakan ala Noordin jangan sampai melahirkan dan memapankan Noordinis atau para pengikut setia Noordin yang tak lagi menggunakan rasionalitas dan empati kemanusiaan untuk mengukur tindakannya. Tentu dalam konteks ini, sekali lagi bukan Noordin sebagai individu yang faktual, melainkan yang simbolis.

Kita seyogianya juga tak menstimulasi kelahiran Noordinis-Noordinis ini.Paling tidak ada tiga faktor yang dapat memfasilitasi transformasi gerakan seperti yang dipraktikkan Noordin. Pertama, lingkungan makro antara lain sistem politik global. Misalnya saja relasi antagonistis yang dibangun Amerika Serikat dengan kebijakan unilateralismenya.

Bisa juga praktik Islamofobia di beberapa negara Barat telah mengakibatkan dendam kesumat dari banyak organisasi radikal yang kerap dicap ”teroris”, ”ekstremis”, ”penjahat demokrasi”, dan sebagainya.Kondisi seperti ini pula yang telah memupuk subur gerakan radikal Islam seperti di Afghanistan, Irak, Iran, Libia, termasuk juga di Indonesia.Sentimen anti-Barat marak dan mengemuka seolah menjadi penegas zona perlawanan bisa di mana saja sehingga muncul gejala terorisme transnasional.

Interkoneksi para pelaku teror tak lagi tersekat oleh batas-batas geografis, teritorial maupun etnis. Kedua, lingkungan mikro-langsung, yakni lingkungan terdekat yang menjadi tempat sosialisasi sekaligus pembentukan kesadaran dan kepribadian seseorang melalui proses internalisasi diri. Di antaranya keluarga, kelompok penganut agama, sekolah, dan lingkungan pergaulan.


Sangat wajar jika di suatu pesantren atau sekolah yang terus-menerus, sistemis, dan terorganisasi menghidupkan cara pandang ekstrem tentang agama, akan banyak lahir kader militan yang siap mati karena memperjuangkan apa yang mereka yakini. Cara-cara kekerasan justru dimaknai dalam konteks ”investasi surga”. Keluarga juga dapat menjadi katalisator yang ampuh dalam melahirkan kaderkader militan. Ketiga, orientasi kepribadian yang tecermin dalam sikap individu.


Bentuknya dapat bermacammacam. Mulai dari kepentingan untuk mencapai tujuan khusus politik, penyesuaian diri dengan sel organisasi teroris yang diikuti, eksternalisasi diri agar populer sebagai penebar teror sehingga menjadi ikon liputan media massa. Selain itu, ada pula orangorang tertentu yang menebar teror sebagai bentuk pertahanan diri dari berbagai tekanan pihak lain. Orientasi-orientasi kepribadian ini, perlahan tapi pasti, dapat merangsang lahirnya orangorang bertipe Noordinis di sekitar kita.


Dari ketiga faktor di atas, tampaknya faktor pertama dan kedualah yang dominan menjadi penyemai para Noordinis. Kita sungguh-sungguh tak berharap matinya Noordin menumbuhkan seribu Noordinis. Biarlah Noordin ngetop dan dipopulerkan media, tapi jangan sampai melahirkan ”Noordinisme”.(*)


Tulisan ini telah dipublikasikan di Harian SINDO, Senin 17 Agustus 2009


Penulis adalah Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute dan Dosen Komunikasi Politik di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Jakarta