Transaksi Ekonomi Syariah Dukung Pertumbuhan Ekonomi Bangsa

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Gedung FEB, BERITA UIN Online–Pengembangan ekonomi syariah dinilai tidak hanya sekadar berkaitan dengan Fiqih Muamalah semata. Ekonomi syariah dipandang bermuara pada upaya membangun peradaban masyarakat.

“Karena itu dalam studi ekonomi syariah tidak hanya dipelajari soal Fiqih Muamalah tapi juga perkembangan  dan dinamika sosial yang dipengaruhi ekonomi,” ujar  Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat saat menyampaikan sambutannya pada seminar nasional  bertajuk “Implementasi PSAK dalam Transaksi Perbankan Syariah” di Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Rabu (11/9/2013).

Ditegaskannya, ekonomi syari’ah mampu menarik nilai-nilai teologis pada orientasi praktik riil. Tantangan yang dihadapi ekonomi syariah adalah bagaimana memperbanyak pakar dan melahirkan institusi tempat untuk studi belajar maupun institusi lembaga keuangan syariah. Jika kedua hal itu sudah bertambah banyak, maka membuktikan bahwa keuangan syariah sudah mampu mengakar di masyarakat.

Terkait hal itu, katanya, ekonomi kelas menengah harus diperkuat oleh keuangan syariah. Ekonomi syariah bukan sekadar bicara tentang akad, tetapi menjadi bagian dari mata rantai membangun masyarakat dan menyejahterakan rakyat.

“Ekonomi syariah adalah bagian komitmen misi keagamaann yang erat dengan pesan rahmatan lil ‘Alamin yang berkomitmen membantu mensejahterakan masyarakat dan berujung memperkuat ekonomi bangsa,” pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Agustianto menyatakan, saat ini banyak model dan akad bisnis syariah yang dapat digunakan untuk mengembangkan ekonomi Indonesia. “Semua akad dan modelnya sesuai dengan fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI),” ujarnya.

Ia menambahkan, terdapat banyak peluang bagi pegiat ekonomi syariah untuk mengembangkan bisnis syariah. Apalagi, pertumbuhan perbankan syariah sebagai salah satu sektor keuangan syariah dapat tumbuh dengan baik.

Direktur Perbankan Syariah Bank Indonesia (BI) Edy Setiadi,  mengatakan, pihaknya mengapresiasi pertumbuhan perbankan syariah yang terus mengalami perkembangan pesat. “Pada 2008, aset perbankan syariah di Indonesia Rp 49,6 triliun, sedangkan pada Juni 2013, aset perbankan syariah Rp 218,6 triliun,” katanya.

Saat ini ada 11 Bank Umum Syariah (BUS), 24 Unit Usaha Syariah (UUS), dan 159 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). Semakin banyaknya lembaga perbankan syariah, maka makin banyak pula masyarakat yang menggunakan produk perbankan syariah. Hingga April 2013, jumlah nasabah perbankan syariah mencapai 14,14 juta nasabah dengan pangsa  pasar 4,8 persen. Edy mengatakan inovasi produk syariah tidak boleh melenceng dan harus mampu memenuhi prinsip syariah yang ditetapkan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI).

Selain sejumlah dosen dan mahasiswa, seminar yang terselenggara atas kerja sama FEB dengan BI, Permata Bank Syari’ah, dan Gerakan Ekonomi Syariah (Gress), juga dihadiri praktisi perbankan, pengamat Ekonomi Syariah, dan lain-lainya. (D Antariksa/Saifudin)