Oleh Edy A Effendi

Tragedi cinta di dunia yang terancam pertama kali terjadi ketika Adam dan Hawa diturunkan Tuhan ke bumi. Tuhan memisahkan mereka di bumi. Adam di India dan Hawa di Jeddah (ada juga yang mengatakan di Irak). Beratus-ratus tahun mereka berpisah dan akhirnya bertemu di Jabal Rahmah. Inilah cinta. Meski jarak memisahkan mereka, cinta hadir mempertemukan keduanya.

Tragedi cinta kedua di dunia yang terancam adalah peristiwa pembunuhan Habil oleh Qabil, kakaknya. Pembunuhan ini dilatarbelakangi oleh aura nafsu amarah yang melanda Qabil karena tak mau dinikahkan dengan Labuda. Iklima menjadi pemantik pembunuhan Habil.

Dalam lajur kehidupan masa kini, banyak orang merayakan cinta pada Allah tapi dengan menghunus pedang, mengangkat senjata, dan membawa pentungan. Dan tragisnya, perayaan cinta yang mereka kibarkan dengan teriakan Allahu Akbar!
Honda HRV iklan baner GT

Apakah mereka bagian dari pembawa risalah cinta? Bukankah cinta itu harus dibingkai dengan sikap lemah lembut dan penuh kasih sayang? Dan apakah Tuhan mengamini cinta dengan perayaan kekerasan, dengan amarah yang meledak-ledak?

Fenomena cinta pada Allah dengan menghunus pedang, mengangkat senjata, dan membawa pentungan, adalah cinta tanpa ilmu. Beragama tanpa ilmu itu seperti berjalan di lorong gelap tanpa cahaya.

Perihal ilmu dan cinta, Ibnu Qayyim al-Jauziyah memberi panduan secara sempurna. Ia memaparkan bahwa kesempurnaan seorang hamba bergantung pada dua kekuatan, yaitu ilmu dan mahabbah (cinta). Sebaik-baik ilmu adalah ilmu tentang Allah SWT dan mahabbah paling tinggi adalah mencintai-Nya.

Ilmu tentang Allah, ilmu mengetahui Allah, sering dikenal dengan sebutan makrifatullah. Makrifatullah, mengetahui Allah, adalah dasar dari puncak ilmu. Jika seseorang telah mengetahui dan mengenal Allah, secara otomatis laku lampah dalam dirinya adalah laku lampah Allah.

Dan jika laku lampah diri ini mengikuti laku lampah Allah, maka segala gerak kehidupannya selalu bersandar pada gerak-Nya. Dan secara tak sadar, cinta yang ditaburkan dalam kehidupan ruang private atau ruang publik, tentu saja berpijak pada cinta-Nya.

Pada titik pijak seperti inilah, menjadi aneh jika ada sebagian orang atau kelompok organisasi keagamaan menghampiri cinta Allah dengan sumbu kekerasan, dengan menghunus pedang dan memegang pentungan dengan dalil amar makruf nahy munkar.

Sejatinya, konteks amar makruf nahy munkar adalah perintah mengetahui hakikat diri sendiri. Allah perintahkan untuk mengetahui siapa diri ini? Perintah untuk melihat ke dalam diri sendiri. Apakah laku hidup diri ini sudah sesuai dengan titah-Nya atau keluar dari jejak-Nya? Jadi, kunci dari amar makruf adalah mengetahui siapa dirimu dan siapa Tuhanmu. Jika orang sudah mengenal diri sendiri, secara otomatis akan mengenal Tuhannya.

Maka, sebelum melakukan nahy munkar, kita diperintahkan terlebih dahulu melakukan pembenahan ke dalam. Pembenahan ke ruang yang lebih sublim, ruang diri sendiri. Dan perintah nahy munkar pun hakikatnya kemunkaran pada soal tauhid. Kemunkaran jika seseorang menyekutukan Tuhan, berbuat syirik. Menduakan Tuhan yang Esa itu.

Dan selama ini kemunkaran yang dipahami sebagian para pengusung cinta dengan kekerasan, itu kemunkaran yang bersifat artifisial. Kemunkaran lahiriah seperti tempat diskotik, warung-warung penjual miras, dan segala atribut kemunkaran lahiri.

Cinta manusia untuk Allah (mahabbat al-abd li Allah) secara gamblang adalah cinta yang ditaburi sikap lembut, santun, dan penuh keteduhan. Sikap-sikap seperti inilah sikap yang mendaraskan pada nilai-nilai ilahiah. Dan kunci dari nilai-nilai ilahiah itu diwujudkan Nabi Muhammad dalam segala laku hidupnya. Tanpa ada rasa laku lampah yang lembut, santun dan teduh, tak mungkin Islam yang dibawa Nabi mendapat sambutan luar biasa dari umat.

Jadi, cinta manusia untuk Allah panduannya sudah jelas. Peranti-peranti cinta manusia untuk Allah, adalah dengan cara meniru aturan yang ditetapkan Tuhan dalam berbagai firman-Nya dan diejawantahkan oleh Nabi. Firman Tuhan dan laku Nabi adalah kode untuk para pengusung cinta dengan kekerasan. Bahwa sejatinya cinta adalah mencintai pihak lain di luar diri kita dengan penuh sikap lembut, santun, dan teduh.

Dan kini, di Indonesia yang sebagian besar penduduknya beragama Islam, cinta manusia untuk Allah kian terancam. Ancaman cinta itu datang dari berbagai kelompok yang mentakbirkan cinta Allah tapi dengan penuh amarah. Kemarahan itu bersandar pada keyakinan bahwa kebenaran yang mereka usung adalah kebenaran dari Tuhannya.

Jika cinta Allah dikemas dengan pakaian kemarahan, ia tak akan sampai pada hakikat cinta. Ia hanya berdiri pada kubangan eksoteris, ruang lahiriah saja. Kubangan eksoteris ini hanya melihat pada pandangan jasad, pandangan raga. Dan seharusnya cinta itu bersandar tak hanya pada kerangka eksoteris saja tapi yang lebih fundamental, cinta harus bersandar pada kubangan esoteris. Cinta yang bersandar pada kubangan esoteris inilah yang dikubur dalam-dalam kaum pengusung cinta dengan kekerasan.

Menurut Frithjof Schoun, eksoteris adalah aspek eksternal, formal, hukum, dogmatis, ritual, etika dan moral pada sebuah agama. Sedangkan esoteris adalah aspek metafisis dan dimensi internal agama.

Schoun lebih jauh memaparkan bahwa eksoteris berada sepenuhnya di dalam Maya, kosmos yang tercipta. Kategori menempatkan Tuhan dipersepsikan sebagai Pencipta dan Pembuat Hukum, bukan Tuhan sebagai Esensi, karena eksoterisme berada di dalam Maya yang relatif dalam hubungannya dengan Atma.
.
Pada titik pijak ini, Schuon memandang bahwa pandangan eksoteris bukan saja benar dan sah, bahkan juga merupakan suatu keharusan yang mutlak bagi keselamatan (salvation) individu. Bagaimanapun, kebenaran eksoteris adalah relatif. Inti dari eksoteris adalah “kepercayaan” kepada “huruf”—sebuah dogma esklusifistik (formalistik)—dan kepatuhan terhadap hukum ritual dan moral.

Di sisi lain, dalam pandangan esoterisme, manusia akan menemukan dirinya yang benar. Esoteris juga menolak ego manusia dan mengganti ego tersebut menjadi ego yang diwarnai dengan nilai-nilai ketuhanan.

Maka, para pemeluk teguh keimanan yang eksoteris itu, para pengusung cinta Allah dengan kemarahan yang gamang, tak akan mampu dan tak akan sampai memaknai cinta Allah dengan ruang esoteris.

Ajaran esoterisme, meliputi dua ajaran dasar; tentang kesatuan transenden wujud (wahdah al-wujud) dan manusia universal atau manusia sempurna (al-Insan al-kamil). Dua ajaran dasar inilah yang sering kali diabaikan oleh para pengusung cinta Allah dengan amarah itu. Mereka mengubur hakikat makna cinta.

Seperti kita tahu, dalam berbagai literatur, cinta berasal dari kata habab, yang bisa dimaknai gelembung air yang selalu berada di atas air, karena cinta merupakan puncak segalanya dalam hati. Ada juga yang memaknai cinta berasal dari istilah menetap karena seorang yang mencintai, dia akan menetap bersama yang dicintai dan tidak meninggalkannya. Orang yang jatuh cinta tidak akan pernah pergi untuk meninggalkan yang dicintainya.

Ada juga yang memaknai cinta berasal dari kata hub, yang berarti biji-bijian. Cinta dalam makna ini dipahami seperti tanaman yang tumbuh dari biji yang ditanam atau tersimpan dalam kalbu. Hub, bentuk jamak dari kata habbat dan habbatul qalb, adalah sesuatu yang menjadi penopangnya.

Pendapat lain ada yang memaparkan bahwa hubbub atau cinta dinukil dari kata hibbah, kerikil kecil di padang pasir. Semua ragam pendapat tentang cinta selalu bermuara pada kelembutan hati dalam memeta persoalan di luar diri. Dan kelembutan hati itulah makna cinta terdalam dalam wilayah esoteris.

Dalam tradisi para salik, cinta adalah satu kecenderungan hati yang abadi, yang selalu dilanda kerinduan pada Sang Khalik. Kerinduan pada Sang Khalik ini selalu menjadi pakaian para salik dalam menjalani laku hidupnya.

Kitab Al-Mahabbah karya Imam Al-Ghazali menegaskan konsep cinta para salik yang seluruh gerak hidupnya dihibahkan untuk mencintai Allah. Al-Ghazali melihat bahwa cinta kepada Allah adalah tujuan puncak dari seluruh maqam spiritual dan ia menduduki derajat atau level yang tinggi.

Cinta Allah telah terancam di bumi Indonesia. Klaim kafir bertaburan di mana-mana. Perayaan sesat menyesatkan tumbuh subur di berbagai pelosok negeri. Bagaimana mungkin Indonesia akan menjadi negeri gemah ripah loh jinawi, tenteram, dan makmur serta sangat subur tanahnya, jika perayaan kafir mengkafirkan, sesat menyesatkan, masih menjadi tameng bagi sebagian orang yang merayakan cinta Allah dengan penuh amarah.

Inilah tragedi cinta Allah di bumi Indonesia. Cinta yang terancam oleh sikap gamang, sikap amarah, dan sikap nafsu ingin berkuasa atas nama cinta Allah. Seperti halnya Qabil ketika membunuh Habil, ia telah mencederai hakikat cinta yang begitu agung, begitu mulia. Hakikat cinta Allah.

Bagaimana mungkin kita bisa mencintai-Nya tanpa mengetahui ilmu untuk mencintai-Nya. Rahasia jalan untuk meraih cinta Allah adalah dengan selalu mengingat-Nya di setiap jengkal ruang dan waktu dengan sikap merunduk, bukan dengan sikap membusungkan dada.
***

Edy A Effendi
, seorang penyair dan Dosen UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

– Dimuat geotimes.co.id, Senin, 6 Juni 2016

Share This