Tips untuk Guru dan Orang Tua

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

“BE a good listener,” kata sebuah ungkapan bijak. Nasihat ini sederhana, tapi sangat berharga dan memiliki kandungan makna yang dalam. Ketika punya anak kecil, dengan penuh kasih sayang dan perhatian, kita mengajari dia berjalan, makan, berpakaian, dan berbicara.

Namun, hampir tidak terpikir untuk melatih bagaimana agar nanti dia tumbuh menjadi pendengar yang baik. Di beberapa sekolah pun diselenggarakan lomba berpidato, tetapi tidak pernah ada lomba mendengarkan. Saya seringkali mengamati dan menghadiri forum di DPR,perkantoran, dan forum ceramah lain, selalu saja ada orang yang ngobrol ketika ada pembicara yang tengah menyampaikan pikirannya.

Mereka asyik ngobrol sendiri. Bagi seorang pembicara, situasi seperti itu sungguh tidak nyaman. Merasa tidak dihargai dan bisa mengganggu konsentrasi. Pendeknya, ternyata untuk menjadi pendengar yang baik itu tidak mudah sehingga memerlukan pendidikan dan pembiasaan sejak kecil. Kita semua sependapat, terlebih sebagai guru atau orang tua, pasti akan kecewa ketika berbicara tidak diperhatikan dan didengarkan dengan baik. Tetapi, pernahkah secara sadar dan sistematis kita mendidik anak-anak menjadi pendengar yang baik?

Mendengarkan secara baik sesungguhnya juga mengasah kecerdasan dan daya ingat. Lebih dari itu, menjadi pendengar yang baik berarti juga kita membuka telinga, hati, dan pikiran untuk menerima dan menghargai martabat kemanusiaan lawan bicara.Ada sebuah kisah yang menarik betapa menjadi pendengar secara tulus itu bisa menyelamatkan nyawa seorang teman dan mengubah jalan hidupnya.

Di sebuah sekolah, ada seorang siswa yang sangat disayang oleh teman-temannya karena dikenal sebagai pendengar yang baik dan tulus, sebut saja Ani namanya. Teman-temannya merasa aman dan nyaman curhat kepadanya. Suatu hari Ani tidak melihat teman karibnya, sebut saja Anna, masuk sekolah sehingga dia sengaja mampir ke rumahnya sepulang sekolah. Setelah puas ngobrol Ani pulang ke rumah.

Setelah itu aktivitas belajar dan persahabatan berlangsung seperti biasa,tak ada yang istimewa. Namun, setelah sekian tahun berselang dan keduanya sudah menjadi sarjana serta memiliki pekerjaan yang mapan,Ani kaget ketika suatu saat Anna datang ke rumah memberi hadiah mobil baru untuk Ani. Setelah panjang lebar ngobrol, Anna akhirnya bercerita dia melakukan hal yang di luar dugaan Ani. Dia sewaktu SMU hampir saja bunuh diri karena tidak tahan menanggung beban hidupnya.

Di saat hendak bersiap bunuh diri itulah Ani berkunjung ke rumah dan Anna pun kemudian curhat pada Ani yang dia kenal sebagai pendengar yang baik dan tulus. Sebagai tanda terima kasih padanya, Anna yang kemudian sukses hidupnya lalu memberikan hadiah mobil. Sekarang ini rasanya orang lebih senang dan pandai berbicara, berteriak, dan mengkritik, tetapi belum tentu bisa menjadi pendengar yang baik.

Kita lupa, salah satu sifat Tuhan pun Maha Pendengar. Dulu sewaktu masih sekolah dasar (SD), saya senang kalau ada pelajaran “mencongak”. Ibu guru melatih murid untuk mendengarkan, tidak boleh pegang pulpen. Kelas hening, suasana meditatif. Lalu ibu guru memberi soal berhitung secara lisan, sejak dari yang paling mudah lalu berkembang agak panjang dan susah. Setelah dianggap cukup mencerna soal, anak-anak dianjurkan pegang pulpen untuk menuliskan jawabannya.

Lain kali mencongak itu berupa menulis ulang apa yang diucapkan ibu guru,dimulai dari kalimat pendek sampai yang panjang, bahkan satu paragraf pendek. Adakalanya ibu guru hanya sekali mengucapkan, dan ada yang sampai tiga kali. Dengan metode ini, kami dilatih untuk memperhatikan wajah dan bibir ibu guru tempat keluar kata-kata. Mata, telinga, dan pikiran fokus memperhatikan apa yang diucapkan, lalu kami menuliskan di atas kertas.

Dengan metode ini, kami dilatih untuk menjadi pendengar yang cerdas, teliti,dan penuh empati. Kesan saya sebagian politikus di DPR tidak memiliki keterampilan dan mental sebagai pendengar yang baik. Kalau ada sidang, mereka senang bertanya dan mempersoalkan sesuatu, setelah itu pergi, atau ngobrol, atau asyik mempermainkan handphone. Ada juga beberapa pejabat tinggi yang dikenal maunya didengarkan, tetapi enggan mendengarkan.

Esai ini mungkin dianggap sepele, tetapi bagaimana etika mendengarkan lawan bicara, dalam pergaulan internasional sangat vital. Juga dalam pergaulan sehari-hari. Mari kita belajar sambil mengajari anak-anak kita “To be a good listener.” Itu memerlukan ketulusan dan kelapangan hati.(*)

 

 

Tips untuk Guru dan Orang Tua

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

“BE a good listener,” kata sebuah ungkapan bijak. Nasihat ini sederhana, tapi sangat berharga dan memiliki kandungan makna yang dalam. Ketika punya anak kecil, dengan penuh kasih sayang dan perhatian, kita mengajari dia berjalan, makan, berpakaian, dan berbicara.

Namun, hampir tidak terpikir untuk melatih bagaimana agar nanti dia tumbuh menjadi pendengar yang baik. Di beberapa sekolah pun diselenggarakan lomba berpidato, tetapi tidak pernah ada lomba mendengarkan. Saya seringkali mengamati dan menghadiri forum di DPR,perkantoran, dan forum ceramah lain, selalu saja ada orang yang ngobrol ketika ada pembicara yang tengah menyampaikan pikirannya.

Mereka asyik ngobrol sendiri. Bagi seorang pembicara, situasi seperti itu sungguh tidak nyaman. Merasa tidak dihargai dan bisa mengganggu konsentrasi. Pendeknya, ternyata untuk menjadi pendengar yang baik itu tidak mudah sehingga memerlukan pendidikan dan pembiasaan sejak kecil. Kita semua sependapat, terlebih sebagai guru atau orang tua, pasti akan kecewa ketika berbicara tidak diperhatikan dan didengarkan dengan baik. Tetapi, pernahkah secara sadar dan sistematis kita mendidik anak-anak menjadi pendengar yang baik?

Mendengarkan secara baik sesungguhnya juga mengasah kecerdasan dan daya ingat. Lebih dari itu, menjadi pendengar yang baik berarti juga kita membuka telinga, hati, dan pikiran untuk menerima dan menghargai martabat kemanusiaan lawan bicara.Ada sebuah kisah yang menarik betapa menjadi pendengar secara tulus itu bisa menyelamatkan nyawa seorang teman dan mengubah jalan hidupnya.

Di sebuah sekolah, ada seorang siswa yang sangat disayang oleh teman-temannya karena dikenal sebagai pendengar yang baik dan tulus, sebut saja Ani namanya. Teman-temannya merasa aman dan nyaman curhat kepadanya. Suatu hari Ani tidak melihat teman karibnya, sebut saja Anna, masuk sekolah sehingga dia sengaja mampir ke rumahnya sepulang sekolah. Setelah puas ngobrol Ani pulang ke rumah.

Setelah itu aktivitas belajar dan persahabatan berlangsung seperti biasa,tak ada yang istimewa. Namun, setelah sekian tahun berselang dan keduanya sudah menjadi sarjana serta memiliki pekerjaan yang mapan,Ani kaget ketika suatu saat Anna datang ke rumah memberi hadiah mobil baru untuk Ani. Setelah panjang lebar ngobrol, Anna akhirnya bercerita dia melakukan hal yang di luar dugaan Ani. Dia sewaktu SMU hampir saja bunuh diri karena tidak tahan menanggung beban hidupnya.

Di saat hendak bersiap bunuh diri itulah Ani berkunjung ke rumah dan Anna pun kemudian curhat pada Ani yang dia kenal sebagai pendengar yang baik dan tulus. Sebagai tanda terima kasih padanya, Anna yang kemudian sukses hidupnya lalu memberikan hadiah mobil. Sekarang ini rasanya orang lebih senang dan pandai berbicara, berteriak, dan mengkritik, tetapi belum tentu bisa menjadi pendengar yang baik.

Kita lupa, salah satu sifat Tuhan pun Maha Pendengar. Dulu sewaktu masih sekolah dasar (SD), saya senang kalau ada pelajaran “mencongak”. Ibu guru melatih murid untuk mendengarkan, tidak boleh pegang pulpen. Kelas hening, suasana meditatif. Lalu ibu guru memberi soal berhitung secara lisan, sejak dari yang paling mudah lalu berkembang agak panjang dan susah. Setelah dianggap cukup mencerna soal, anak-anak dianjurkan pegang pulpen untuk menuliskan jawabannya.

Lain kali mencongak itu berupa menulis ulang apa yang diucapkan ibu guru,dimulai dari kalimat pendek sampai yang panjang, bahkan satu paragraf pendek. Adakalanya ibu guru hanya sekali mengucapkan, dan ada yang sampai tiga kali. Dengan metode ini, kami dilatih untuk memperhatikan wajah dan bibir ibu guru tempat keluar kata-kata. Mata, telinga, dan pikiran fokus memperhatikan apa yang diucapkan, lalu kami menuliskan di atas kertas.

Dengan metode ini, kami dilatih untuk menjadi pendengar yang cerdas, teliti,dan penuh empati. Kesan saya sebagian politikus di DPR tidak memiliki keterampilan dan mental sebagai pendengar yang baik. Kalau ada sidang, mereka senang bertanya dan mempersoalkan sesuatu, setelah itu pergi, atau ngobrol, atau asyik mempermainkan handphone. Ada juga beberapa pejabat tinggi yang dikenal maunya didengarkan, tetapi enggan mendengarkan.

Esai ini mungkin dianggap sepele, tetapi bagaimana etika mendengarkan lawan bicara, dalam pergaulan internasional sangat vital. Juga dalam pergaulan sehari-hari. Mari kita belajar sambil mengajari anak-anak kita “To be a good listener.” Itu memerlukan ketulusan dan kelapangan hati.(*)