Tinggi, Peminat Prodi Pendidian Dokter

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter : Nina Rahayu

Gedung FKIK, UINJKT Online – Sejak keluarnya izin operasional dari Dirjen Dikti Depdiknas 2005 lalu, program studi (Prodi) Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) makin diminati masyarakat. Hal itu terlihat dari tingginya angka pendaftar yang dibuka setiap tahunnya.

Tahun ini saja, dari tiga jalur penerimaan yang telah diketahui jumlahnya (PMDK, SPMB UMB, dan SPMB Mandiri), total peminatnya mencapai 1436. Padahal, kuota yang tersedia hanya 60 kursi. Jumlah peminat tersebut terdiri atas 203 orang melalui jalur PMDK, 619 orang melalui jalur SPMB UMB, dan 614 orang melalui jalur SPMB Mandiri. Sementara itu, jalur SMPTN (dulu SPMB Nasional), hingga berita ini diturunkan belum diketahui jumlah peminatnya.

”Memang jika dilihat dari jumlah peminat, dari tahun ke tahun, selalu menunjukan angka kenaikan. Bahkan jika dibandingkan rasionya 1 berbanding 20,” ujar Dosen FKIK Dr dr Sardjana SpOg SH saat dihubungi UINJKT Online di ruang kerjanya Gedung FKIK, Rabu (13/8).

Tingginya peminat prodi yang baru tiga tahun berdiri ini tentu menggembirakan. Ini membuktikan, sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam yang membuka prodi umum, UIN Jakarta kian diapresiasi masyarakat. Prodi Pendidikan Dokter UIN Jakarta berbeda dengan prodi sejenis di kampus lain. Nilai lebihnya terletak pada  bidang keislaman.  Selain dibekali ilmu kedokteran, mahasiswa juga dibekali ilmu agama Islam, sehingga setelah lulus diharapkan dapat menjadi dokter yang islami.

”Kami siap mencetak dokter islami, sebab selain dibekali ilmu agama, sebagian dari mahasiswa kami juga berasal dari pondok pesantren, nantinya mereka dapat mengabdi pada pesantren dan masyarakat umum,” papar Sardjana.

Mereka yang berasal dari pesantren dan madrasah dijaring FKIK UIN Jakarta melalui jalur Kemitraan.  Jalur Kemitraan merupakan kerjasama UIN Jakarta bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Musi Banyuasin Sumatera Selatan  dan Departemen Agama (Depag) di bawah bendera program ”Santri Jadi Dokter”. Tahun ini, Pemkab Musi Banyuasin mengirim 10 santri dari Madrasah Aliyah dan Pesantren di wilayahnya, yang lima orang diantaranya diterima di Prodi Pendidikan Dokter dan lima orang lainnya di Prodi Farmasi. Sementera Depag mengirim 40 santri yang 10 diantaranya diterima di Prodi Pendidikan Dokter.

Mengingat jumlah peminat  yang terus bertambah, Prodi Pendidikan Dokter bertekad untuk terus meningkatkan mutu dan menyediakan sarana serta prasana yang memadai, seperti laboratoruim. Semua itu dilakukan guna mununjang mutu pendidikan agar siap bersiang dengan universitas terkemuka baik di dalam maupun di luar negeri. ”Kami sangat optimis mampu berkompetisi dengan universitas lain, ” tegas Sardjana.

Sejak awal didirikannya, Prodi Pendidikan Dokter FKIK UIN Jakarta telah menjalin kerjasama dengan sejumlah lembaga, antara lain Universitas Indnesia (UI) dari segi tenaga pengajar. Selain itu, juga dengan sejumlah Rumah Sakit (RS), seperti RS Fatmawati dan RS Tangerang. Dalam waktu dekat, pada September mendatang,   FKIK juga berencana menjalin kerja sama dengan RS Depok dan RS Rangkas Bitung untuk praktikum mahasiswa.

Untuk menggenjot prestasi mahasiswa dan tenaga pengajar, FKIK menyediakan beasiswa studi S2 dan S3 ke Jepang. ”Kami memang selalu menyediakan beasiswa bagi mahasiswa  berprestasi dengan tujuan sepulang dari sana, mereka dapat segera mengajar di FKIK, ” jelas Sardjana. [Nif/Ed]

Tinggi, Peminat Prodi Pendidian Dokter

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter : Nina Rahayu

Gedung FKIK, UINJKT Online – Sejak keluarnya izin operasional dari Dirjen Dikti Depdiknas 2005 lalu, program studi (Prodi) Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) makin diminati masyarakat. Hal itu terlihat dari tingginya angka pendaftar yang dibuka setiap tahunnya.

Tahun ini saja, dari tiga jalur penerimaan yang telah diketahui jumlahnya (PMDK, SPMB UMB, dan SPMB Mandiri), total peminatnya mencapai 1436. Padahal, kuota yang tersedia hanya 60 kursi. Jumlah peminat tersebut terdiri atas 203 orang melalui jalur PMDK, 619 orang melalui jalur SPMB UMB, dan 614 orang melalui jalur SPMB Mandiri. Sementara itu, jalur SMPTN (dulu SPMB Nasional), hingga berita ini diturunkan belum diketahui jumlah peminatnya.

”Memang jika dilihat dari jumlah peminat, dari tahun ke tahun, selalu menunjukan angka kenaikan. Bahkan jika dibandingkan rasionya 1 berbanding 20,” ujar Dosen FKIK Dr dr Sardjana SpOg SH saat dihubungi UINJKT Online di ruang kerjanya Gedung FKIK, Rabu (13/8).

Tingginya peminat prodi yang baru tiga tahun berdiri ini tentu menggembirakan. Ini membuktikan, sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam yang membuka prodi umum, UIN Jakarta kian diapresiasi masyarakat. Prodi Pendidikan Dokter UIN Jakarta berbeda dengan prodi sejenis di kampus lain. Nilai lebihnya terletak pada  bidang keislaman.  Selain dibekali ilmu kedokteran, mahasiswa juga dibekali ilmu agama Islam, sehingga setelah lulus diharapkan dapat menjadi dokter yang islami.

”Kami siap mencetak dokter islami, sebab selain dibekali ilmu agama, sebagian dari mahasiswa kami juga berasal dari pondok pesantren, nantinya mereka dapat mengabdi pada pesantren dan masyarakat umum,” papar Sardjana.

Mereka yang berasal dari pesantren dan madrasah dijaring FKIK UIN Jakarta melalui jalur Kemitraan.  Jalur Kemitraan merupakan kerjasama UIN Jakarta bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Musi Banyuasin Sumatera Selatan  dan Departemen Agama (Depag) di bawah bendera program ”Santri Jadi Dokter”. Tahun ini, Pemkab Musi Banyuasin mengirim 10 santri dari Madrasah Aliyah dan Pesantren di wilayahnya, yang lima orang diantaranya diterima di Prodi Pendidikan Dokter dan lima orang lainnya di Prodi Farmasi. Sementera Depag mengirim 40 santri yang 10 diantaranya diterima di Prodi Pendidikan Dokter.

Mengingat jumlah peminat  yang terus bertambah, Prodi Pendidikan Dokter bertekad untuk terus meningkatkan mutu dan menyediakan sarana serta prasana yang memadai, seperti laboratoruim. Semua itu dilakukan guna mununjang mutu pendidikan agar siap bersiang dengan universitas terkemuka baik di dalam maupun di luar negeri. ”Kami sangat optimis mampu berkompetisi dengan universitas lain, ” tegas Sardjana.

Sejak awal didirikannya, Prodi Pendidikan Dokter FKIK UIN Jakarta telah menjalin kerjasama dengan sejumlah lembaga, antara lain Universitas Indnesia (UI) dari segi tenaga pengajar. Selain itu, juga dengan sejumlah Rumah Sakit (RS), seperti RS Fatmawati dan RS Tangerang. Dalam waktu dekat, pada September mendatang,   FKIK juga berencana menjalin kerja sama dengan RS Depok dan RS Rangkas Bitung untuk praktikum mahasiswa.

Untuk menggenjot prestasi mahasiswa dan tenaga pengajar, FKIK menyediakan beasiswa studi S2 dan S3 ke Jepang. ”Kami memang selalu menyediakan beasiswa bagi mahasiswa  berprestasi dengan tujuan sepulang dari sana, mereka dapat segera mengajar di FKIK, ” jelas Sardjana. [Nif/Ed]

Tinggi, Peminat Prodi Pendidian Dokter

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter : Nina Rahayu

Gedung FKIK, UINJKT Online – Sejak keluarnya izin operasional dari Dirjen Dikti Depdiknas 2005 lalu, program studi (Prodi) Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) makin diminati masyarakat. Hal itu terlihat dari tingginya angka pendaftar yang dibuka setiap tahunnya.

Tahun ini saja, dari tiga jalur penerimaan yang telah diketahui jumlahnya (PMDK, SPMB UMB, dan SPMB Mandiri), total peminatnya mencapai 1436. Padahal, kuota yang tersedia hanya 60 kursi. Jumlah peminat tersebut terdiri atas 203 orang melalui jalur PMDK, 619 orang melalui jalur SPMB UMB, dan 614 orang melalui jalur SPMB Mandiri. Sementara itu, jalur SMPTN (dulu SPMB Nasional), hingga berita ini diturunkan belum diketahui jumlah peminatnya.

”Memang jika dilihat dari jumlah peminat, dari tahun ke tahun, selalu menunjukan angka kenaikan. Bahkan jika dibandingkan rasionya 1 berbanding 20,” ujar Dosen FKIK Dr dr Sardjana SpOg SH saat dihubungi UINJKT Online di ruang kerjanya Gedung FKIK, Rabu (13/8).

Tingginya peminat prodi yang baru tiga tahun berdiri ini tentu menggembirakan. Ini membuktikan, sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam yang membuka prodi umum, UIN Jakarta kian diapresiasi masyarakat. Prodi Pendidikan Dokter UIN Jakarta berbeda dengan prodi sejenis di kampus lain. Nilai lebihnya terletak pada  bidang keislaman.  Selain dibekali ilmu kedokteran, mahasiswa juga dibekali ilmu agama Islam, sehingga setelah lulus diharapkan dapat menjadi dokter yang islami.

”Kami siap mencetak dokter islami, sebab selain dibekali ilmu agama, sebagian dari mahasiswa kami juga berasal dari pondok pesantren, nantinya mereka dapat mengabdi pada pesantren dan masyarakat umum,” papar Sardjana.

Mereka yang berasal dari pesantren dan madrasah dijaring FKIK UIN Jakarta melalui jalur Kemitraan.  Jalur Kemitraan merupakan kerjasama UIN Jakarta bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Musi Banyuasin Sumatera Selatan  dan Departemen Agama (Depag) di bawah bendera program ”Santri Jadi Dokter”. Tahun ini, Pemkab Musi Banyuasin mengirim 10 santri dari Madrasah Aliyah dan Pesantren di wilayahnya, yang lima orang diantaranya diterima di Prodi Pendidikan Dokter dan lima orang lainnya di Prodi Farmasi. Sementera Depag mengirim 40 santri yang 10 diantaranya diterima di Prodi Pendidikan Dokter.

Mengingat jumlah peminat  yang terus bertambah, Prodi Pendidikan Dokter bertekad untuk terus meningkatkan mutu dan menyediakan sarana serta prasana yang memadai, seperti laboratoruim. Semua itu dilakukan guna mununjang mutu pendidikan agar siap bersiang dengan universitas terkemuka baik di dalam maupun di luar negeri. ”Kami sangat optimis mampu berkompetisi dengan universitas lain, ” tegas Sardjana.

Sejak awal didirikannya, Prodi Pendidikan Dokter FKIK UIN Jakarta telah menjalin kerjasama dengan sejumlah lembaga, antara lain Universitas Indnesia (UI) dari segi tenaga pengajar. Selain itu, juga dengan sejumlah Rumah Sakit (RS), seperti RS Fatmawati dan RS Tangerang. Dalam waktu dekat, pada September mendatang,   FKIK juga berencana menjalin kerja sama dengan RS Depok dan RS Rangkas Bitung untuk praktikum mahasiswa.

Untuk menggenjot prestasi mahasiswa dan tenaga pengajar, FKIK menyediakan beasiswa studi S2 dan S3 ke Jepang. ”Kami memang selalu menyediakan beasiswa bagi mahasiswa  berprestasi dengan tujuan sepulang dari sana, mereka dapat segera mengajar di FKIK, ” jelas Sardjana. [Nif/Ed]

Tinggi, Peminat Prodi Pendidian Dokter

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter : Nina Rahayu

Gedung FKIK, UINJKT Online – Sejak keluarnya izin operasional dari Dirjen Dikti Depdiknas 2005 lalu, program studi (Prodi) Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) makin diminati masyarakat. Hal itu terlihat dari tingginya angka pendaftar yang dibuka setiap tahunnya.

Tahun ini saja, dari tiga jalur penerimaan yang telah diketahui jumlahnya (PMDK, SPMB UMB, dan SPMB Mandiri), total peminatnya mencapai 1436. Padahal, kuota yang tersedia hanya 60 kursi. Jumlah peminat tersebut terdiri atas 203 orang melalui jalur PMDK, 619 orang melalui jalur SPMB UMB, dan 614 orang melalui jalur SPMB Mandiri. Sementara itu, jalur SMPTN (dulu SPMB Nasional), hingga berita ini diturunkan belum diketahui jumlah peminatnya.

”Memang jika dilihat dari jumlah peminat, dari tahun ke tahun, selalu menunjukan angka kenaikan. Bahkan jika dibandingkan rasionya 1 berbanding 20,” ujar Dosen FKIK Dr dr Sardjana SpOg SH saat dihubungi UINJKT Online di ruang kerjanya Gedung FKIK, Rabu (13/8).

Tingginya peminat prodi yang baru tiga tahun berdiri ini tentu menggembirakan. Ini membuktikan, sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam yang membuka prodi umum, UIN Jakarta kian diapresiasi masyarakat. Prodi Pendidikan Dokter UIN Jakarta berbeda dengan prodi sejenis di kampus lain. Nilai lebihnya terletak pada  bidang keislaman.  Selain dibekali ilmu kedokteran, mahasiswa juga dibekali ilmu agama Islam, sehingga setelah lulus diharapkan dapat menjadi dokter yang islami.

”Kami siap mencetak dokter islami, sebab selain dibekali ilmu agama, sebagian dari mahasiswa kami juga berasal dari pondok pesantren, nantinya mereka dapat mengabdi pada pesantren dan masyarakat umum,” papar Sardjana.

Mereka yang berasal dari pesantren dan madrasah dijaring FKIK UIN Jakarta melalui jalur Kemitraan.  Jalur Kemitraan merupakan kerjasama UIN Jakarta bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Musi Banyuasin Sumatera Selatan  dan Departemen Agama (Depag) di bawah bendera program ”Santri Jadi Dokter”. Tahun ini, Pemkab Musi Banyuasin mengirim 10 santri dari Madrasah Aliyah dan Pesantren di wilayahnya, yang lima orang diantaranya diterima di Prodi Pendidikan Dokter dan lima orang lainnya di Prodi Farmasi. Sementera Depag mengirim 40 santri yang 10 diantaranya diterima di Prodi Pendidikan Dokter.

Mengingat jumlah peminat  yang terus bertambah, Prodi Pendidikan Dokter bertekad untuk terus meningkatkan mutu dan menyediakan sarana serta prasana yang memadai, seperti laboratoruim. Semua itu dilakukan guna mununjang mutu pendidikan agar siap bersiang dengan universitas terkemuka baik di dalam maupun di luar negeri. ”Kami sangat optimis mampu berkompetisi dengan universitas lain, ” tegas Sardjana.

Sejak awal didirikannya, Prodi Pendidikan Dokter FKIK UIN Jakarta telah menjalin kerjasama dengan sejumlah lembaga, antara lain Universitas Indnesia (UI) dari segi tenaga pengajar. Selain itu, juga dengan sejumlah Rumah Sakit (RS), seperti RS Fatmawati dan RS Tangerang. Dalam waktu dekat, pada September mendatang,   FKIK juga berencana menjalin kerja sama dengan RS Depok dan RS Rangkas Bitung untuk praktikum mahasiswa.

Untuk menggenjot prestasi mahasiswa dan tenaga pengajar, FKIK menyediakan beasiswa studi S2 dan S3 ke Jepang. ”Kami memang selalu menyediakan beasiswa bagi mahasiswa  berprestasi dengan tujuan sepulang dari sana, mereka dapat segera mengajar di FKIK, ” jelas Sardjana. [Nif/Ed]