Tiga Pilar Kebahagiaan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Sebuah penelitian psikologi sosial menyebutkan, terdapat tiga pilar utama kebahagiaan seseorang, yaitu having a good family life, having a good job, dan having good friends and community.

Ketika diteliti, sebagian besar umur seseorang akan dihabiskan di dalam tiga zona pergaulan dan aktivitas di atas. Tiap zona aktivitas dan pergaulan akan saling melengkapi dan menutupi kejenuhan dan kekurangan yang lain. Yang pertama dan paling dasar adalah keluarga yang baik (a good family life). Secara emosional, keluarga memiliki daya gravitasi paling besar bagi kehidupan seseorang. Apa pun yang dilakukan seseorang di luar rumah pada akhirnya akan kembali kepada keluarga sehingga rumah tangga sering diibaratkan tempat berlabuh bagi sebuah kapal setelah mengembara ke lautan lepas.

Oleh karenanya, karier seseorang yang otentik dan kokoh hanya akan mungkin diraih kalau basis keluarganya solid. Soliditas keluarga dibangun terutama oleh hubungan cinta dan iman. Cinta bagaikan pupuk atau air yang akan membuat pohon rumah tangga selalu tumbuh segar, sedangkan iman memberikan ikatan moral yang kuat bahwa rumah tangga adalah amanat suci dan sebuah bahtera yang jangkauannya sampai di akhirat nanti. Rumah tangga bukan sekadar transaksi administrasi layaknya jual-beli, melainkan juga sebuah perjalanan dan pertumbuhan moral-spiritual. Kedua, having a good job.

Seseorang bekerja tidak semata untuk mengejar uang, tetapi menyangkut harga diri, aktualisasi diri, dan bersosialisasi di luar zona keluarga. Bisa dipastikan, orang yang menganggur, meski memiliki banyak uang, tidak akan bahagia. Orang yang hidup semata mengandalkan harta warisan tidak akan bangga dengan dirinya. Begitu pun mereka yang bekerja, tetapi tidak merasa cocok dan bangga dengan pekerjaannya, hatinya akan tersiksa. Ruang kerja bagaikan ruang tahanan.

Kerja akan terasa nyaman jika sesuai dengan bakat dan minatnya serta kulturnya bagus, tidak koruptif, dengan imbalan gaji yang cukup, syukur berlebih, untuk mendukung kehidupan keluarga. Sebuah lingkungan kerja akan dianggap sehat kalau para karyawannya memiliki peluang dan dorongan untuk tumbuh, baik skill, pengetahuan maupun kepribadiannya. Apalah artinya gaji tinggi jika ternyata tidak halal dan budayanya koruptif. Semua itu akan merongrong kualitas kebahagiaan yang dibangun dalam rumah tangga. Ketiga, lingkungan pertemanan dan komunitas.

Kita semua mengalami bahwa umur kita tidak hanya dihabiskan dalam urusan rumah tangga dan kerja, tetapi juga bermasyarakat. Itu suatu kebutuhan sosial dan psikologis. Makanya muncul komunitas “alumni” di luar jaringan keluarga dan kerja. Hanya, penting dicatat bahwa lingkungan pergaulan yang tidak sehat akan menggerogoti aset kebahagiaan yang kita bangun lewat zona keluarga dan kerja.

Sering terjadi sebuah keluarga terjerat masalah oleh jaringan pertemanan yang tidak sehat. Ini paling mudah diamatipadaremaja, tetapibisa juga terjadi pada orang dewasa. Keburukan itu mudah menular, bahkan kadang lebih cepat dari kebaikan. Olehkarenanya, having good friends and community merupakan satu pilar penting untuk meraih kebahagiaan hidup seseorang. Demikianlah, tentu saja banyak pilar lain yang memengaruhi kebahagiaan seseorang. Namun ketiga aspek tadi begitu dominan.

Di atas ketiganya, menurut hasil penelitian dimaksud, adalah personal values. Nilai-nilai hidup seseorang akan sangat berpengaruh dalam memaknai hidup ini. Bagi orang yang taat beragama dan tidak, tentu akan berbeda dalam memandang keluarga, harta, dan pergaulan. Ada orang yang yakin dengan banyak bederma, bersedekah ,maka jalan rezeki akan semakin terbuka. Namun ada yang berpandangan sebaliknya. Inilah yang dimaksud dengan personal values.

Sebuah kerangka berpikir dan keyakinan hidup yang sangat berpengaruh dalam perilaku seseorang, termasuk dalam berumah tangga, bekerja,dan bermasyarakat. Sebagai pribadi saya yakin kerja dan harta yang tidak halal tidak akan mendatangkan berkah dan kebahagiaan. Jika harta haram masuk ke mulut kemudian mengalir bersama darah dalam tubuh,maka harta haram tadi akan masuk disertai energy negative (setan) sehingga perilaku seseorang juga akan seperti setan.

Pikirannya, tangannya, kakinya,mulutnya akan dikendalikan oleh setan. Makanya sebagai orang tua mesti hati-hati memberikan rezeki atau nafkah kepada keluarga. Hindari membawa barang haram ke rumah jika kita benar-benar sayang kepada keluarga. Jangan membawa racun kehidupan.