Tiga Cara Memilih Pasangan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Muhammad Nurdin

Aula Madya, UIN Online – Guru besar psikologi Islam Fakultas Psikologi (FPsi) Prof Dr Abdul Mujib mengatakan, pernikahan merupakan ikatan suci antara dua insan yang mempunyai banyak perbedaan, baik fisik, asuhan keluarga, pergaulan, cara berfikir (mental), maupun pendidikan. Untuk itu, ada tiga pendekatan dalam memilih pasangan yaitu pendekatan empiris, teologis dan intuitif.

“Pendekatan empiris, yaitu memilih pasangan dengan empat kriteria antara lain baik rupa, harta, keturunan dan agama, tapi utamakanlah karena agamanya,” kata Mujib dalam seminar bertema “Merenda Indahnya Dunia Pernikahan” yang diselenggarakan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) UIN Jakarta di Aula Madya lantai 1, Sabtu (15/5).

Menurut Abdul Mujib, pendekatan empiris merupakan hal yang utama dalam  memilih pasangan, sedangkan pendekatan teologis dan intuitif adalah sebagai pelengkap dari empiris. Selain itu, keshalihan juga merupakan dasar utama dalam memilih. Keshalehan tidak hanya dilihat dari sisi agama, tapi dalam semua aspek baik sosial, ekonomi, maupun kesehatan.

Dari sisi psikologis bahwa menikah bisa menjadi solusi alternatif untuk mengatasi kekhawatiran, kecemasan dan kenakalan kaum remaja yang kian tak terkendali. ”Pernikahan lebih dari sekedar alternatif dari sebuah musibah yang sedang mengancam kaum remaja, tapi ia adalah motivator untuk melejitkan potensi diri dalam segala aspek positif,” paparnya.

Semenatra itu, penulis buku Aisyah dan Maisyah, Ahmad Ghazali, menyatakan, ketidakharmonisan dalam kehidupan keluarga yang berujung kepada perceraian antara suami-istri yang mengakibatkan anak-anak telantar, faktor penyebabnya boleh jadi karena manajemen keuangan keluarga yang tidak jelas. Karena itu, ada beberapa tips cerdas mengelola keuangan keluarga, antara lain mengetahui penghasilan suami-istri, memisahkan antara harta suami-istri, sikap saling terbuka (musharahah), sikap toleran, dan komunikasi.

Dia menambahkan, komunikasi sangat penting. Di samping akan meningkatkan jalinan cinta kasih juga menghindari terjadinya kesalahfahaman, khususnya dalam mengelola keuangan.

“Sebagaimana diketahui, lebih dari lima puluh persen perceraian rumah tangga disebabkan oleh faktor ekonomi, oleh karena itu management keuangan sangat dibutuhkan dalam keluarga,“ katanya.

 

 

 

Tiga Cara Memilih Pasangan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Muhammad Nurdin

Aula Madya, UIN Online – Guru besar psikologi Islam Fakultas Psikologi (FPsi) Prof Dr Abdul Mujib mengatakan, pernikahan merupakan ikatan suci antara dua insan yang mempunyai banyak perbedaan, baik fisik, asuhan keluarga, pergaulan, cara berfikir (mental), maupun pendidikan. Untuk itu, ada tiga pendekatan dalam memilih pasangan yaitu pendekatan empiris, teologis dan intuitif.

“Pendekatan empiris, yaitu memilih pasangan dengan empat kriteria antara lain baik rupa, harta, keturunan dan agama, tapi utamakanlah karena agamanya,” kata Mujib dalam seminar bertema “Merenda Indahnya Dunia Pernikahan” yang diselenggarakan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) UIN Jakarta di Aula Madya lantai 1, Sabtu (15/5).

Menurut Abdul Mujib, pendekatan empiris merupakan hal yang utama dalam  memilih pasangan, sedangkan pendekatan teologis dan intuitif adalah sebagai pelengkap dari empiris. Selain itu, keshalihan juga merupakan dasar utama dalam memilih. Keshalehan tidak hanya dilihat dari sisi agama, tapi dalam semua aspek baik sosial, ekonomi, maupun kesehatan.

Dari sisi psikologis bahwa menikah bisa menjadi solusi alternatif untuk mengatasi kekhawatiran, kecemasan dan kenakalan kaum remaja yang kian tak terkendali. ”Pernikahan lebih dari sekedar alternatif dari sebuah musibah yang sedang mengancam kaum remaja, tapi ia adalah motivator untuk melejitkan potensi diri dalam segala aspek positif,” paparnya.

Semenatra itu, penulis buku Aisyah dan Maisyah, Ahmad Ghazali, menyatakan, ketidakharmonisan dalam kehidupan keluarga yang berujung kepada perceraian antara suami-istri yang mengakibatkan anak-anak telantar, faktor penyebabnya boleh jadi karena manajemen keuangan keluarga yang tidak jelas. Karena itu, ada beberapa tips cerdas mengelola keuangan keluarga, antara lain mengetahui penghasilan suami-istri, memisahkan antara harta suami-istri, sikap saling terbuka (musharahah), sikap toleran, dan komunikasi.

Dia menambahkan, komunikasi sangat penting. Di samping akan meningkatkan jalinan cinta kasih juga menghindari terjadinya kesalahfahaman, khususnya dalam mengelola keuangan.

“Sebagaimana diketahui, lebih dari lima puluh persen perceraian rumah tangga disebabkan oleh faktor ekonomi, oleh karena itu management keuangan sangat dibutuhkan dalam keluarga,“ katanya.