Tiga Agenda Pengembangan Pesantren

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Jamilah 

Diorama, UINJKT Online – Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI Dr Chairul Fuad Yusuf mengatakan, pengembangan pesantren ke depan akan diarahkan pada tiga hal, yaitu tafaqquh fiddin, pengembangan Iptek, dan sebagai agen pengembangan masyarakat.

“Tiga komponen itu menjadi agenda guna meningkatkan kemampuan santri dalam penguasaan dan pelaksanaan agama, penguasaan iptek dan dapat mengabdikan ilmu dan agama kepada masyarakat,” katanya dalam seminar bertajuk Peranan Pesantren dalam Pembangunan Akhlak Bangsa, yang diselenggarakan Fakultas Dirasat Islamiyah di Ruang Diorama, Selasa (30/6). 

Sementara itu, Guru Besar Pendidikan Islam UIN Jakarta Prof Dr Husni Rahim menilai, pesantren memiliki nilai plus pada kemampuannya mengembangkan kepribadian. Di pesantren para santri dididik untuk saling bekerjasama, tolong-menolong, dan berorganisasi. Kemampuan tersebut sangat dibutuhkan di dunia kerja. Sebab dunia kerja tidak melihat Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) seseorang semata, lebih dari itu kepribadiannya.

“IPK dan ijazah hanya sebagai karcis masuk dunia kerja, hal itu tidak menentukan suksesnya seseorang ketika ia bekerja. Karena yang dibutuhkan dalam berprofesi adalah kepemilikan akhlak yang luhur,” ujar Husni.

Husni menyitir penelitian National Association Colleges and Employers (NACE) yang menunjukan, dari 19 ketentuan yang dibutuhkan dalam dunia kerja, IPK hanya menempati posisi ke 17. “Yang sangat diprioritaskan adalah kepribadian yang baik. Itu semua bisa didapat dari pesantren,” katanya. []

Tiga Agenda Pengembangan Pesantren

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Jamilah 

Diorama, UINJKT Online – Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI Dr Chairul Fuad Yusuf mengatakan, pengembangan pesantren ke depan akan diarahkan pada tiga hal, yaitu tafaqquh fiddin, pengembangan Iptek, dan sebagai agen pengembangan masyarakat.

“Tiga komponen itu menjadi agenda guna meningkatkan kemampuan santri dalam penguasaan dan pelaksanaan agama, penguasaan iptek dan dapat mengabdikan ilmu dan agama kepada masyarakat,” katanya dalam seminar bertajuk Peranan Pesantren dalam Pembangunan Akhlak Bangsa, yang diselenggarakan Fakultas Dirasat Islamiyah di Ruang Diorama, Selasa (30/6). 

Sementara itu, Guru Besar Pendidikan Islam UIN Jakarta Prof Dr Husni Rahim menilai, pesantren memiliki nilai plus pada kemampuannya mengembangkan kepribadian. Di pesantren para santri dididik untuk saling bekerjasama, tolong-menolong, dan berorganisasi. Kemampuan tersebut sangat dibutuhkan di dunia kerja. Sebab dunia kerja tidak melihat Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) seseorang semata, lebih dari itu kepribadiannya.

“IPK dan ijazah hanya sebagai karcis masuk dunia kerja, hal itu tidak menentukan suksesnya seseorang ketika ia bekerja. Karena yang dibutuhkan dalam berprofesi adalah kepemilikan akhlak yang luhur,” ujar Husni.

Husni menyitir penelitian National Association Colleges and Employers (NACE) yang menunjukan, dari 19 ketentuan yang dibutuhkan dalam dunia kerja, IPK hanya menempati posisi ke 17. “Yang sangat diprioritaskan adalah kepribadian yang baik. Itu semua bisa didapat dari pesantren,” katanya. []