Tidak Ada Resesi di Indonesia?

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Tidak banyak literatur, buku, dan artikel tentang Indonesia di Timur Tengah. Pemberitaan Indonesia di kawasan Timur Tengah, selain langka, juga lebih sering menyangkut kejadian tak menyenangkan yang dialami negara Muslim terbesar dan sekaligus demokrasi terbesar ketiga di muka bumi ini. Jadi, meski dari sudut agama masyarakat Timur Tengah umumnya tahu kaum Muslim Indonesia merupakan saudara seiman, mereka tidak memiliki pengetahuan yang memadai dan akurat tentang Indonesia. Banyak masyarakat Timur Tengah menganggap Indonesia masih merupakan negara terbelakang: tidak memiliki fasilitas publik yang memadai semacam jalan raya, bahkan hotel berkelas.

Karena itu, artikel Terry Lacey, "Indonesia, Why There is No Recession in the World’s Leading Economy" yang dimuat <I>Daily Star<I>, Beirut, Lebanon, pada 12 November lalu, memberikan kontribusi penting bagi pengetahuan dan pemahaman lebih baik di kalangan masyarakat Timur Tengah tentang Indonesia. Tulisan itu sedikit banyak membantu penciptaan citra yang lebih baik terhadap Indonesia; yang bukan tidak jarang diremehkan begitu saja oleh banyak kalangan masyarakat Timur Tengah.

Menurut Lacey, salah satu warisan Presiden AS George W Bush yang menghancurkan adalah krisis keuangan dan sistem perbankan, yang kini mengakibatkan resesi di AS, Eropa, dan sejumlah negara lain. Mismanajemen keuangan dan kelemahan kerangka pengaturan telah menghancurkan ekonomi Amerika. Jutaan orang di AS dan Eropa segera kehilangan pekerjaannya. Inilah pekerjaan rumah sangat berat yang harus dihadapi Presiden terpilih, Obama, yang mungkin memerlukan waktu beberapa tahun untuk memulihkannya.

Tetapi, krisis di AS, Eropa, dan negara-negara maju lainnya dapat merupakan peluang bagi Indonesia khususnya, negara-negara Muslim, dan Selatan. Bahkan, dalam pandangan Lacey, Indonesia dapat memainkan peran kunci dalam membawa dunia Muslim ke arah pemulihan ekonomi dunia dan pada saat yang sama meminimalisasi dampak negatif resesi global.

Mengapa Lacey optimistis dengan Indonesia? Dia mengajukan tiga alasan pokok. Pertama, Indonesia dapat mengelola ekonominya dengan mempertahankan pertumbuhan, permintaan pasar, impor, dan ekspor. PDB Indonesia 2009 diproyeksikan mencapai USD 547 milyar. Dengan angka ini, Indonesia masuk ke dalam 20 ekonomi terbesar dunia melampaui Belgia dan Swedia; lalu segera melewati Turki, Belanda, dan Austria. Indonesia bahkan diprediksikan masuk 10 ekonomi terbesar dunia dalam waktu dua dasawarsa.

Kedua, Indonesia dapat memobilisasi investasi untuk minyak, gas, proyek-proyek enerji, dan biofuel; mengakselerasi pembangunan infrastruktur (jalan, kereta api, dan pelabuhan); dan merangsang sektor-sektor manufaktur dan retail. Investasi agaknya masih akan datang dari AS dan Uni Eropa, tetapi belakangan kian banyak dari BRICs (Brasil, Rusia, India, dan China), dan tentu saja dari negara-negara APEC, seperti Kanada, Jepang, Korea, dan Taiwan. Bahkan, juga dari negara-negara ASEAN, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Ketiga, Indonesia dengan perannya yang kian menonjol kembali dalam berbagai lembaga internasional dapat membantu negara-negara Muslim untuk melakukan perubahan; baik pada tingkat kebijakan maupun keseimbangan kekuatan dalam badan-badan perdagangan internasional, semacam World Bank, IMF, WTO, dan seterusnya. Indonesia dengan ekonominya yang besar berulang kali menyatakan kejengkelannya kepada badan-badan dunia yang lebih berpihak kepada kepentingan Amerika dan Eropa daripada negara-negara yang tengah tumbuh (emerging countries).

Dalam pandangan Lacey, Indonesia bersama-sama negara-negara Muslim lainnya tidak bisa lagi diabaikan. Negara-negara ini terus meningkat sebagai sumber kapita. Ekonomi-ekonomi Muslim merupakan sumber investasi penting dan sekaligus sebagai destinasi investasi. Ukuran kolektif ekonomi-ekonomi Muslim juga merupakan wilayah-wilayah yang membutuhkan barang dan jasa dari Barat; mereka relatif tidak terpengaruh dengan resesi yang terjadi di Amerika dan Eropa.

Optimisme Lacey boleh jadi menggembirakan dan memberikan rasa aman serta perspektif yang lebih optimistis terhadap kondisi pasar saham dan keuangan Indonesia yang juga turut bergolak dalam beberapa pekan terakhir. Pergolakan itu, jika terus berlanjut, dapat berujung pada kepanikan masyarakat, yang pada gilirannya dapat menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap perekonomian Indonesia secara keseluruhan.

Tetapi, di tengah berbagai perkembangan itu, Indonesia memang sudah sepatutnya mengakselerasikan langkah untuk mengonsolidasikan kekuatan ekonomi alternatif yang diwakili negara-negara Muslim dan sekaligus negara-negara Selatan. Sekali lagi, Indonesia yang pernah mengambil tempat terdepan dalam konsolidasi bagian dunia ini tetap masih memiliki leverage yang cukup memadai untuk mengambil inisiatif ke arah itu.

Tulisan ini pernah dimuat harian Republika, Kamis 27 November 2008

Tidak Ada Resesi di Indonesia?

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Tidak banyak literatur, buku, dan artikel tentang Indonesia di Timur Tengah. Pemberitaan Indonesia di kawasan Timur Tengah, selain langka, juga lebih sering menyangkut kejadian tak menyenangkan yang dialami negara Muslim terbesar dan sekaligus demokrasi terbesar ketiga di muka bumi ini. Jadi, meski dari sudut agama masyarakat Timur Tengah umumnya tahu kaum Muslim Indonesia merupakan saudara seiman, mereka tidak memiliki pengetahuan yang memadai dan akurat tentang Indonesia. Banyak masyarakat Timur Tengah menganggap Indonesia masih merupakan negara terbelakang: tidak memiliki fasilitas publik yang memadai semacam jalan raya, bahkan hotel berkelas.

Karena itu, artikel Terry Lacey, "Indonesia, Why There is No Recession in the World’s Leading Economy" yang dimuat <I>Daily Star<I>, Beirut, Lebanon, pada 12 November lalu, memberikan kontribusi penting bagi pengetahuan dan pemahaman lebih baik di kalangan masyarakat Timur Tengah tentang Indonesia. Tulisan itu sedikit banyak membantu penciptaan citra yang lebih baik terhadap Indonesia; yang bukan tidak jarang diremehkan begitu saja oleh banyak kalangan masyarakat Timur Tengah.

Menurut Lacey, salah satu warisan Presiden AS George W Bush yang menghancurkan adalah krisis keuangan dan sistem perbankan, yang kini mengakibatkan resesi di AS, Eropa, dan sejumlah negara lain. Mismanajemen keuangan dan kelemahan kerangka pengaturan telah menghancurkan ekonomi Amerika. Jutaan orang di AS dan Eropa segera kehilangan pekerjaannya. Inilah pekerjaan rumah sangat berat yang harus dihadapi Presiden terpilih, Obama, yang mungkin memerlukan waktu beberapa tahun untuk memulihkannya.

Tetapi, krisis di AS, Eropa, dan negara-negara maju lainnya dapat merupakan peluang bagi Indonesia khususnya, negara-negara Muslim, dan Selatan. Bahkan, dalam pandangan Lacey, Indonesia dapat memainkan peran kunci dalam membawa dunia Muslim ke arah pemulihan ekonomi dunia dan pada saat yang sama meminimalisasi dampak negatif resesi global.

Mengapa Lacey optimistis dengan Indonesia? Dia mengajukan tiga alasan pokok. Pertama, Indonesia dapat mengelola ekonominya dengan mempertahankan pertumbuhan, permintaan pasar, impor, dan ekspor. PDB Indonesia 2009 diproyeksikan mencapai USD 547 milyar. Dengan angka ini, Indonesia masuk ke dalam 20 ekonomi terbesar dunia melampaui Belgia dan Swedia; lalu segera melewati Turki, Belanda, dan Austria. Indonesia bahkan diprediksikan masuk 10 ekonomi terbesar dunia dalam waktu dua dasawarsa.

Kedua, Indonesia dapat memobilisasi investasi untuk minyak, gas, proyek-proyek enerji, dan biofuel; mengakselerasi pembangunan infrastruktur (jalan, kereta api, dan pelabuhan); dan merangsang sektor-sektor manufaktur dan retail. Investasi agaknya masih akan datang dari AS dan Uni Eropa, tetapi belakangan kian banyak dari BRICs (Brasil, Rusia, India, dan China), dan tentu saja dari negara-negara APEC, seperti Kanada, Jepang, Korea, dan Taiwan. Bahkan, juga dari negara-negara ASEAN, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Ketiga, Indonesia dengan perannya yang kian menonjol kembali dalam berbagai lembaga internasional dapat membantu negara-negara Muslim untuk melakukan perubahan; baik pada tingkat kebijakan maupun keseimbangan kekuatan dalam badan-badan perdagangan internasional, semacam World Bank, IMF, WTO, dan seterusnya. Indonesia dengan ekonominya yang besar berulang kali menyatakan kejengkelannya kepada badan-badan dunia yang lebih berpihak kepada kepentingan Amerika dan Eropa daripada negara-negara yang tengah tumbuh (emerging countries).

Dalam pandangan Lacey, Indonesia bersama-sama negara-negara Muslim lainnya tidak bisa lagi diabaikan. Negara-negara ini terus meningkat sebagai sumber kapita. Ekonomi-ekonomi Muslim merupakan sumber investasi penting dan sekaligus sebagai destinasi investasi. Ukuran kolektif ekonomi-ekonomi Muslim juga merupakan wilayah-wilayah yang membutuhkan barang dan jasa dari Barat; mereka relatif tidak terpengaruh dengan resesi yang terjadi di Amerika dan Eropa.

Optimisme Lacey boleh jadi menggembirakan dan memberikan rasa aman serta perspektif yang lebih optimistis terhadap kondisi pasar saham dan keuangan Indonesia yang juga turut bergolak dalam beberapa pekan terakhir. Pergolakan itu, jika terus berlanjut, dapat berujung pada kepanikan masyarakat, yang pada gilirannya dapat menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap perekonomian Indonesia secara keseluruhan.

Tetapi, di tengah berbagai perkembangan itu, Indonesia memang sudah sepatutnya mengakselerasikan langkah untuk mengonsolidasikan kekuatan ekonomi alternatif yang diwakili negara-negara Muslim dan sekaligus negara-negara Selatan. Sekali lagi, Indonesia yang pernah mengambil tempat terdepan dalam konsolidasi bagian dunia ini tetap masih memiliki leverage yang cukup memadai untuk mengambil inisiatif ke arah itu.

Tulisan ini pernah dimuat harian Republika, Kamis 27 November 2008