The Manic Society

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Ya Tuhan, anugerahilah aku kesabaran dan keuletan menghadapi beban hidup yang terasa kian berat menghimpit hati serta pikiran sehingga hampir setiap hari saya selalu mengeluh dan bahkan bertengkar dengan orang-orang di sekelilingku sehingga hidupku menjadi tidak produktif dan tidak tenang.

Coba baca dengan cermat dan pelan-pelan ungkapan doa di atas, lalu dianalisis psikologi orang yang memanjatkan doa itu. Mungkin sekali dia tengah merindukan kehidupan yang tenang, tertib, dan damai di tengah suasana sosial yang membuatnya serbaterburuburu. Namun dalam penulisan dan ucapan doa di atas terjadi sebuah paradoks.

Doa yang mestinya diucapkan dengan tenang dan khusyuk di hadapan Tuhan, tetapi emosinya tak terkendali, serba terburuburu, tergesa-gesa sehingga muncul jarak akal dan perasaan, antara makna dan rasa. Sebuah kalimat yang indah dan benar jika disampaikan dengan buru-buru, tanpa titik, koma, dan intonasi akan kehilangan makna. Itulah yang dimaksud the manic society. Kata manic berasal dari mania yang dalam kajian psikologi menunjukkan orang yang bersikap impulsif, serba ingin cepat, buru-buru, obsesif sehingga akal sehatnya tidak bekerja dengan baik karena dikalahkan oleh emosinya.

Meminjam ungkapan Robert Holden, masyarakat kota besar pada umumnya sudah terperangkap ke dalam fast society atau manic society yang selalu menginginkan dan memuja kecepatan. Apa pun yang dianggap baik adalah yang serbacepat. Istilah the manic society ini mengingatkan saya pada firman Tuhan dalam Alquran: “Sesungguhnya manusia itu selalu ingin tergesa-gesa. Wa kana al-insanu ‘ajula” (QS 17:11).

Karena ingin selalu cepat, masyarakat kota yang serbasibuk selalu mencari dan memuja teknologi yang menjanjikan segala sesuatu serbacepat, kilat, ekspres. Orang cenderung memesan foto kilat, titipan kilat, makanan cepat saji, jalan tol, naik pesawat terbang, dan segala sesuatu yang serbainstan kalau bisa sehingga muncul istilah budaya instan. Ini menjadi fatal akibatnya ketika masuk dalam dunia pendidikan, dunia kerja, dan dunia politik.

Orang ingin segera memperoleh titel sarjana dan memperoleh ijazah secara instan sehingga muncul perdagangan titel kesarjanaan. Seorang pegawai ingin segera kaya dan memiliki rumah dan mobil mewah, maka muncul budaya korupsi. Kalau korupsi itu budaya, akankah koruptor nantinya disebut budayawan? Dalam dunia politik juga terlihat. Hanya dengan mengandalkan uang, koneksi keluarga, dan popularitas, sekarang orang ramai-ramai punya mimpi ingin jadi bupati, wali kota, gubernur, dan bahkan presiden, tetapi tidak selalu didukung dengan kompetensi dan kredibilitas.

Orang bisa saja meraih sesuatu dengan kilat, tapi sangat mungkin dalam dirinya terdapat ruang kosong,menganga, yang mestinya diisi kedalaman ilmu, pengalaman panjang,dan integritas. Oleh karenanya orang yang dengan cepat kilat merasa berhasil berdiri di puncak ketinggian, jangan-jangan akan cepat pula proses turun atau kejatuhannya.

Orang Inggris punya ungkapan: easycome, easy go. Apa yang dengan mudah meraihnya, jangan-jangan dengan mudah pula perginya. Atau lebih tepat lagi: fastly come, fastly go. Datangnya cepat, perginya pun cepat. Cepat tidak selalu jelek asal benar-benar disertai kelengkapan dan kehati-hatian. Kalau memang sebuah tugas dan misi bisa dilakukan dengan cepat, mengapa harus pelanpelan dan lambat? Dalam peperangan atau pertandingan sepak bola, siapa yang lebih cepat dan akurat melakukan serangan, mereka yang akan menang.

Tapi yang bahaya adalah jika emosi yang selalu ingin buru-buru meraih kemenangan tanpa disertai nalar sehat dan kesiapan matang, maka kekalahan dan kerugian yang didapat. Demikianlah, maka menarik untuk merenungkan pesan Islam tentang konsep niat dan istiqamah. Tema ini tentunya tidak disengaja dibahas secara mendalam oleh Eckhart Tolle dalam bukunya The Power of Now. Dalam niat, seseorang disadarkan dan diajarkan untuk menghadirkan kesadaran dan eksistensi diri sebagai pusat realitas, membebaskan diri dari gravitasi kemarin dan besok.

Yang ada adalah aku yang mengendalikan realitas sekarang (now) dan di sini (here). Kesadaran akan kedisinian (hereness) dan kekinian (nowness) akan membuat seseorang fokus dan total dalam melakukan sesuatu. Orang yang terbiasa berpikir kontemplatif akan mampu bertahan dari arus dan gelombang the manic society. Dia akan lebih proaktif menciptakan pengaruh bagi lingkungannya, bukannya jadi objek yang dipengaruhi.

Dia akan lebih jeli dan jernih melihat detail-detail yang berlangsung di sekitarnya tanpa kehilangan visi dan peta globalnya. Mendengarkan musik lembut, meditasi, dan berdoa bisa membantu seseorang untuk berpikir dan bersikap lebih tenang. Dalam the manic society yang serbaingin cepat, muncul penyakit sosial Tiga-H, yaitu hurried, hostile, humourless.

Orang selalu ingin buru-buru (hurried), tidak tenang, tidak bisa menikmati suasana kedisinian (hereness) dan kekinian (newness), gelisah, selalu merasa dikejar-kejar waktu. Situasi kejiwaan ini memunculkan sikap hostile, yaitu rasa persaingan, permusuhan, perebutan, kekhawatiran kalah dan tidak kebagian sehingga hidup selalu dibayangi konflik, persaingan.

Dalam panggung politik dan bisnis, hostility ini begitu terlihat. Implikasi dari sikap yang tidak mau ketinggalan dan selalu ingin memenangi persaingan, muncul sikap humourless.Orang kehilangan selera humor.Wajahnya selalu tampak serius, tegang, tidak bisa menikmati suasana rileks dan santai.Akibat lebih lanjut, berbagai penyakit mudah datang.