The Culture of Fear

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Setiap anak manusia terlahir dengan membawa naluri rasa takut. Semakin besar pertumbuhan anak,akan semakin terlihat potensi rasa takut itu.

Hanya saja, tingkat rasa takut seseorang berbeda-beda, begitu pun objek yang menimbulkan juga tidak selalu sama.Dulu orang takut hewan buas, diciptakanlah senjata berupa tongkat, golok, atau panah. Atau seseorang berusaha menghindarinya. Dengan rasa takut, manusia sesungguhnya menjadi kreatif. Orang takut tenggelam di air, diciptakan pelampung. Lantaran takut lapar, orang menimbun padi atau makanan lain. Karena takut sakit, banyak orang rajin berolahraga atau menjaga kesehatan. Membayangkan betapa sengsaranya jatuh miskin, orang bekerja mencari uang dan menabung. Rasa takut ini menjadi tidak sehat kalau membudaya dan yang menjadi objek ketakutan adalah hal-hal yang sesungguhnya tidak menjadi kebutuhan primer dalam kehidupan.

Lebih tidak sehat lagi kalau rasa takut itu lalu menjadi beban serta menimbulkan permusuhan dengan orang lain. Misalnya takut kehilangan jabatan, seseorang berusaha dengan berbagai cara agar jabatannya abadi. Juga menindas siapa-siapa yang dianggap akan menjadi ancaman atau pesaing bagi dirinya. Rasa takut yang demikian ini pasti tidak sehat, bukannya mendorong kreativitas yang konstruktif, melainkan menjadi beban mental yang destruktif bagi diri dan lingkungannya. Judul tulisan ini,The Culture of Fear, mungkin saja dianggap berlebihan. Tetapi kalau kita amati, banyak peristiwa dan perilaku sosial yang menunjukkan munculnya budaya takut.

Kalau Anda hendak naik pesawat terbang jurusan Amerika Serikat (AS) atau Eropa, ketika masuk boarding room, pemeriksaannya sangat ketat sampai-sampai terasa risih. Pemerintah Amerika mengidap rasa ketakutan kalau negaranya kesusupan teroris. Untuk mendapatkan visa ke AS atau Eropa juga tidak lagi semudah dahulu sebelum terjadi aksi terorisme. Negara Singapura kapal perangnya sangat canggih untuk ukuran sebuah negara dengan penduduk sekitar lima juta. Ini akibat rasa takut terhadap kemungkinan serangan yang datang dari Negara tetangganya. Katanya, para koruptor juga banyak menyimpan uang di bank Singapura, takut-takut kalau disimpan di Indonesia akan mudah terbongkar.

Yang cukup mencolok adalah perilaku para pejabat daerah maupun pusat. Mereka berusaha dengan berbagai cara agar jabatannya tidak direbut orang. Sementara mereka yang belum menjabat, takut tidak kebagian, kasak-kusuk, kalau perlu menjatuhkan mereka yang lagi di atas. Perhatikan saja perilaku para kontestan dalam pilkada maupun pemilu.Antara nafsu untuk berkuasa bercampur rasa takut untuk kalah atau takut tidak kebagian jabatan. Makanya perilakunya menjadi emosional. Miliaran uang dihamburkan untuk membeli suara, dengan harapan kalau menang bisa kembali meskipun dengan jalan korupsi. Lalu ada calon yang kalah, harta habis pikiran kacau, akhirnya jadi jatuh miskin dan gila.

Kalau dipikir-pikir, perilaku sosial kita sudah sangat dipengaruhi oleh budaya takut yang bersifat destruktif. Banyak orang tua mengejar dan menumpuk kekayaan untuk membahagiakan anak-cucunya secara tidak rasional lagi. Ada rasa ketakutan terhadap masa depan anak-cucu secara berlebihan. Ada ibu-ibu yang takut menghadapi hari tua dengan wajah keriput lalu berusaha melakukan operasi plastik agar mukanya selalu tampak muda sampai-sampai menggeser perhatian dan pekerjaan lain yang jauh lebih manfaat. Ada lagi yang rajin ke dukun untuk mempertahankan karier dan posisinya yang secara alami memang mesti turun dan berganti generasi. Demikianlah, The Culture of Fear akan mudah muncul pada mereka yang hidupnya kurang pasrah kepada Tuhan dan hukum alam.

Mereka yang sudah cukup lama menikmati kedudukan dan materi, namun enggan bersyukur pasti akan selalu gelisah. Sederet pemimpin di Timur Tengah hari-hari ini pasti tengah dilanda rasa takut terjungkal dari singgasananya, mengikuti drama politik di Tunisia dan Mesir. Pejabat yang di atas takut jatuh, sedangkan yang di bawah takut tertindas terus serta tidak kebagian kesempatan untuk naik.

Yang miskin takut menderita dengan kemiskinannya yang berkepanjangan, lalu yang kaya takut berkurang kekayaannya. Jangan-jangan tanpa sadar kita semua ikut memupuk budaya takut, lalu kita ramai-ramai takut terhadap baying-bayang ketakutan yang kita ciptakan sendiri.(*)

Tulisan ini dimuat  pada Harian Seputar Indonesia, Jum’at 11 Maret 2011