The Case for God

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh: Azyumardi Azra

 

Buku ini adalah karya menarik dan sangat bermanfaat sebagai bacaan, khususnya pada Ramadhan yang merupakan bulan ‘tadarus’, saling belajar dalam rangka meningkatkan pengamalan dan pengalaman keagamaan kita. Inilah karya terbaru Karen Arsmtrong, yang beberapa karyanya lebih awal telah tersedia dalam bahasa Indonesia. Judul lengkapnya, The Case for God: What Religion Really Means (London: The Bodley Head, 2009); secara bebas artinya ‘Membela Tuhan: Apa Sesungguhnya Arti Agama’.

 

Bagi saya, karya-karya Karen Arsmtrong, mantan biarawati, senantiasa menarik; dan beberapa kali saya bersama dia dalam panel yang membahas agama dalam kaitannya dengan isu-isu kontemporer. Saya juga sama-sama menjadi anggota Council on Faith, World Economic Forum, Davos, yang mengkaji berbagai perkembangan dunia seperti kekerasan yang berwarna agama, dan bahkan krisis finansial global dalam hubungannya dengan agama-agama dunia; peran apa yang bisa dimainkan agama dalam turut meringankan beban dan masalah yang dihadapi dan dialami umat manusia dewasa ini.

 

Berbeda dengan karya-karyanya terdahulu, Armstrong dalam Case for God tampil lebih tegas membela agama, yang di masa kita sekarang mendapat serangan bertubi-tubi dari beberapa pemikir ateisme semacam Richard Dawkins, Christopher Hitchens, dan Sam Harris, yang pernah juga saya ulas dalam Resonansi, beberapa waktu lalu. Ateisme mereka ini merupakan perlawanan terhadap citra Tuhan seperti dipersepsikan dan diperjuangkan mati-matian oleh kaum fundamentalis Kristen Protestan; kerangka fundamentalisme kemudian juga diterapkan pada kelompok-kelompok fundamentalis agama lain, termasuk Islam.

 

Bagi Armstrong, pemahaman keagamaan di masa modern sudah sangat ‘terrasionalisasi’, sehingga apa pun doktrin dan praktik keagamaan yang tidak rasional mestilah ditolak. Tetapi ironisnya, dalam refleksi saya, sikap seperti ini justru melahirkan pandangan dan persepsi yang tidak logis tentang agama. Dan, dalam pandangan Armstrong, penafsiran keagamaan yang telah ‘dirasionalisasikan’ memunculkan dua fenomena modern yang cukup distingtif; fundamentalisme dan ateisme.

 

Fundamentalisme agama pada awalnya bersumber daripada kesalehan defensif, yang semula berkembang di kalangan kaum Kristen Protestan Amerika, yang pada waktu yang tidak terlalu lama juga menggejala terhadap agama-agama. Seperti diungkap Armstrong, kaum Protestan fundamentalis berkeinginan menghasilkan pemahaman keagamaan yang saintifik dan sepenuhnya rasional; karena itu mereka menghapuskan mitos keagamaan demi logos. Hasilnya adalah pemahaman yang sangat literal terhadap kitab suci, yang pada gilirannya memunculkan ‘ideologi’ keagamaan yang dikenal sebagai creation science yang meyakini Bible akurat secara saintifik.

 

Pada pihak lain, ateisme klasik Barat yang berkembang sepanjang abad 19 dan awal abad 20 lewat pemikiran Feuerbach, Marx, Nietzsche, dan Freud pada hakikatnya merupakan respons terhadap pandangan-pandangan teologis tertentu terhadap Tuhan. Dengan demikian, pada dasarnya mereka tidak menolak Tuhan itu sendiri; tetapi mereka memiliki persepsi sendiri yang berbeda jauh dengan kerangka teologis yang dominan. Jelas, ateisme tidaklah monolitik; bahkan dalam perkembangannya, ateisme kontemporer menampilkan diri sebagai reaksi terhadap meningkatnya persepsi teologis fundamentalis tentang Tuhan.

 

Apakah pemahaman dan penafsiran agama harus selalu rasional? Hemat saya, dalam batas tertentu boleh jadi sangat perlu, sebab jika tidak, orang-orang beriman dapat terjerembab ke dalam mitologi berlebihan. Dan, bahkan lebih parah lagi, boleh jadi pemahaman dan praktik agama lebih bersumber pada mitos dan tradisi yang kemudian dipersepsikan sebagai pemahaman dan praktik paling benar tentang agama.

 

Pandangan Armstrong tentang agama dan rasionalitas ini menarik untuk disimak. Bagi dia, agaknya kita berbicara terlalu banyak tentang Tuhan; dan dalam masyarakat demokratis sekarang ini, banyak orang beranggapan, konsep tentang Tuhan pastilah mudah dipahami. Orang-orang beriman mengetahui bahwa Tuhan adalah Mahatinggi, tetapi kadang-kadang di antara mereka menampilkan diri sebagai orang yang paling tahu persis tentang Tuhan. Hemat saya, hal inilah yang membuat orang-orang seperti ini dengan mudah mengecam, memusuhi, dan bahkan menghalalkan darah orang-orang beriman lain yang memiliki pemahaman yang sedikit berbeda tentang Tuhan.

 

Karena itulah bagi Armstrong, Tuhan dan agama bukanlah sesuatu yang harus selalu dipikirkan dan dirasionalisasikan; agama semestinya merupakan sesuatu yang mesti selalu dikerjakan. Kebenaran agama tidak selalu bisa diperoleh melalui rasio, tetapi lebih-lebih lagi melalui pengalaman dan amal saleh. Dengan demikian, agama adalah disiplin praktis yang mengajak kita untuk menemukan kapasitas-kapasitas baru hati dan kalbu. Tulis Armstrong: you will discover their truth if you translate these doctrines into ritual or ethical action religion requires perseverance, hard work and discipline.

 

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 3 September 2009

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

The Case for God

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh: Azyumardi Azra

 

Buku ini adalah karya menarik dan sangat bermanfaat sebagai bacaan, khususnya pada Ramadhan yang merupakan bulan ‘tadarus’, saling belajar dalam rangka meningkatkan pengamalan dan pengalaman keagamaan kita. Inilah karya terbaru Karen Arsmtrong, yang beberapa karyanya lebih awal telah tersedia dalam bahasa Indonesia. Judul lengkapnya, The Case for God: What Religion Really Means (London: The Bodley Head, 2009); secara bebas artinya ‘Membela Tuhan: Apa Sesungguhnya Arti Agama’.

 

Bagi saya, karya-karya Karen Arsmtrong, mantan biarawati, senantiasa menarik; dan beberapa kali saya bersama dia dalam panel yang membahas agama dalam kaitannya dengan isu-isu kontemporer. Saya juga sama-sama menjadi anggota Council on Faith, World Economic Forum, Davos, yang mengkaji berbagai perkembangan dunia seperti kekerasan yang berwarna agama, dan bahkan krisis finansial global dalam hubungannya dengan agama-agama dunia; peran apa yang bisa dimainkan agama dalam turut meringankan beban dan masalah yang dihadapi dan dialami umat manusia dewasa ini.

 

Berbeda dengan karya-karyanya terdahulu, Armstrong dalam Case for God tampil lebih tegas membela agama, yang di masa kita sekarang mendapat serangan bertubi-tubi dari beberapa pemikir ateisme semacam Richard Dawkins, Christopher Hitchens, dan Sam Harris, yang pernah juga saya ulas dalam Resonansi, beberapa waktu lalu. Ateisme mereka ini merupakan perlawanan terhadap citra Tuhan seperti dipersepsikan dan diperjuangkan mati-matian oleh kaum fundamentalis Kristen Protestan; kerangka fundamentalisme kemudian juga diterapkan pada kelompok-kelompok fundamentalis agama lain, termasuk Islam.

 

Bagi Armstrong, pemahaman keagamaan di masa modern sudah sangat ‘terrasionalisasi’, sehingga apa pun doktrin dan praktik keagamaan yang tidak rasional mestilah ditolak. Tetapi ironisnya, dalam refleksi saya, sikap seperti ini justru melahirkan pandangan dan persepsi yang tidak logis tentang agama. Dan, dalam pandangan Armstrong, penafsiran keagamaan yang telah ‘dirasionalisasikan’ memunculkan dua fenomena modern yang cukup distingtif; fundamentalisme dan ateisme.

 

Fundamentalisme agama pada awalnya bersumber daripada kesalehan defensif, yang semula berkembang di kalangan kaum Kristen Protestan Amerika, yang pada waktu yang tidak terlalu lama juga menggejala terhadap agama-agama. Seperti diungkap Armstrong, kaum Protestan fundamentalis berkeinginan menghasilkan pemahaman keagamaan yang saintifik dan sepenuhnya rasional; karena itu mereka menghapuskan mitos keagamaan demi logos. Hasilnya adalah pemahaman yang sangat literal terhadap kitab suci, yang pada gilirannya memunculkan ‘ideologi’ keagamaan yang dikenal sebagai creation science yang meyakini Bible akurat secara saintifik.

 

Pada pihak lain, ateisme klasik Barat yang berkembang sepanjang abad 19 dan awal abad 20 lewat pemikiran Feuerbach, Marx, Nietzsche, dan Freud pada hakikatnya merupakan respons terhadap pandangan-pandangan teologis tertentu terhadap Tuhan. Dengan demikian, pada dasarnya mereka tidak menolak Tuhan itu sendiri; tetapi mereka memiliki persepsi sendiri yang berbeda jauh dengan kerangka teologis yang dominan. Jelas, ateisme tidaklah monolitik; bahkan dalam perkembangannya, ateisme kontemporer menampilkan diri sebagai reaksi terhadap meningkatnya persepsi teologis fundamentalis tentang Tuhan.

 

Apakah pemahaman dan penafsiran agama harus selalu rasional? Hemat saya, dalam batas tertentu boleh jadi sangat perlu, sebab jika tidak, orang-orang beriman dapat terjerembab ke dalam mitologi berlebihan. Dan, bahkan lebih parah lagi, boleh jadi pemahaman dan praktik agama lebih bersumber pada mitos dan tradisi yang kemudian dipersepsikan sebagai pemahaman dan praktik paling benar tentang agama.

 

Pandangan Armstrong tentang agama dan rasionalitas ini menarik untuk disimak. Bagi dia, agaknya kita berbicara terlalu banyak tentang Tuhan; dan dalam masyarakat demokratis sekarang ini, banyak orang beranggapan, konsep tentang Tuhan pastilah mudah dipahami. Orang-orang beriman mengetahui bahwa Tuhan adalah Mahatinggi, tetapi kadang-kadang di antara mereka menampilkan diri sebagai orang yang paling tahu persis tentang Tuhan. Hemat saya, hal inilah yang membuat orang-orang seperti ini dengan mudah mengecam, memusuhi, dan bahkan menghalalkan darah orang-orang beriman lain yang memiliki pemahaman yang sedikit berbeda tentang Tuhan.

 

Karena itulah bagi Armstrong, Tuhan dan agama bukanlah sesuatu yang harus selalu dipikirkan dan dirasionalisasikan; agama semestinya merupakan sesuatu yang mesti selalu dikerjakan. Kebenaran agama tidak selalu bisa diperoleh melalui rasio, tetapi lebih-lebih lagi melalui pengalaman dan amal saleh. Dengan demikian, agama adalah disiplin praktis yang mengajak kita untuk menemukan kapasitas-kapasitas baru hati dan kalbu. Tulis Armstrong: you will discover their truth if you translate these doctrines into ritual or ethical action religion requires perseverance, hard work and discipline.

 

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 3 September 2009

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta