Terima Kasih dan Maaf

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Mari sejenak kita renungkan, setiap hari berapa banyak kita menerima pertolongan orang lain? Berapa kali pula menyakiti hati orang?

Tentu saja sulit untuk menghitungnya secara persis. Namun, pasti keduanya terjadi pada diri kita. Karena itu, sangat tepat pendidikan orang tua dan guru agar sejak kecil anak-anak diajari membiasakan ucapan terima kasih dan selalu menyampaikan permohonan maaf dalam pergaulan sehari-hari. Meminjam istilah Carol S Pearson tentang teori archetype, dalam diri setiap orang terdapat struktur kejiwaan yang disebut orphan yang secara harfiah berarti yatim-piatu.

Yang dia maksudkan adalah bahwa setiap orang selalu memiliki sifat, kecenderungan, dan perilaku layaknya anak kecil yang selalu mendamba pertolongan orang lain karena banyak kebutuhan hidup yang tidak mungkin terpenuhi tanpa bantuan orang. Layaknya seorang bayi, perilaku ini akan selalu melekat, bahkan semakin tinggi jabatan seseorang akan semakin banyak memerlukan bantuan orang lain.Jadi, sekalipun seseorang memiliki jabatan menteri atau presiden, dalam dirinya tetap memerankan orphan. Ibarat bangunan rumah, semakin tinggi dan besar, semakin banyak perlu penyangga.

Sadar bahwa setiap orang bagaikan anak yatim yang selalu membutuhkan sandaran dan uluran tangan, maka yang mesti dikembangkan adalah sikap dan kultur gotong-royong, saling bantu, kerja sama, dan membiasakan diri menghargai jasa orang dan menyampaikan terima kasih secara tulus. Karenanya, sungguh sedih dan sungguh tidak tahu diri kalau seorang pejabat tidak bisa menghargai jasa anak buahnya serta sangat pelit mengucapkan terima kasih.Tanpa anak buah dan tanpa bantuan orang lain, mereka bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.Ini juga berlaku dalam kehidupan rumah tangga.

Khususnya terhadap pekerja rumah tangga yang sering disebut pembantu, orang tua mesti memberi contoh yang baik pada anak-anak bagaimana memperlakukan dan menghargai mereka. Biasakanlah mengucapkan terima kasih agar dicontoh oleh anak-anak. Kalau ingin memerintah pun mulailah dengan ungkapan minta tolong. Karena sesungguhnya mereka kita undang untuk dimintai pertolongan dan bantuan sehingga mereka disebut pembantu. Berkat pendidikan, sekarang setiap orang semakin sadar akan hak-hak dan martabat dirinya sehingga bentuk komunikasi dan relasi sosial semakin mengarah pada pola kerja sama horizontal.

Hubungan kontraktual-transaksional yang semata mengandalkan uang sebagai jasa timbal balik tidak akan awet dan kokoh dalam sebuah hubungan sosial.Maka menjadi penting untuk membiasakan saling minta maaf dan saling memaafkan serta membangun relasi dengan cinta yang tulus. Ini konsekuensi logis-empiris sebagai orphan,sang yatim piatu yang selalu kita perankan setiap hari dengan kadar intensitas dan frekuensi yang berbeda-beda pada tiap orang. Dalam hal membuat kesalahan dan menyakiti hati,yang sulit menyadari adalah mereka yang jadi pemimpin.

Bawahan yang kadang terkena marah, meski tidak selalu salah, lebih merasakan bagaimana disakiti hatinya. Ini mirip menyoal keadilan. Mereka yang jadi korban kezaliman lebih paham dan merasakan bagaimana rasanya diperlakukan tidak adil.Tetapi yang berbuat zalim mungkin saja kurang merasakan apa yang diperbuatnya. Dengan demikian, di samping kita melakukan introspeksi dan sebaiknya seorang pimpinan mengadakan evaluasi secara reguler dan terbuka, lebih baik membiasakan minta maaf dan terima kasih untuk menjaga keharmonisan sosial.

Hal yang mesti kita sadari dan awasi, sisi negatif dari sifat orphan ialah mengondisikan seseorang untuk bermental miskin, senangnya meminta,menerima dan mengambil kepunyaan orang lain.Dia merasa senang ketika menerima, bukannya memberi.Ini menyangkut sikap mental. Jadi, meskipun secara finansial seseorang telah kaya raya,namun masih juga mau melakukan korupsi jika yang dominan pada struktur kejiwaannya adalah or-phan, pribadi yang lemah dan miskin. Ini mirip anak kecil yang senangnya mengambil dan berebut mainan, belum terbiasa berbagi.

Coba saja perhatikan perilaku kita dan orang-orang di sekitar kita.Tak ubahnya perilaku anak kecil atau anak yatim yang selalu mengharapkan pemberian dan pertolongan orang. Jika sampai tua karakter ini yang menonjol, maka akan gagal menjadi pemimpin untuk memajukan sebuah bangsa.Jangan-jangan banyak di antara kita atau pejabat publik yang mentalnya seperti itu, yang selalu merasa lemah dan miskin. Bagaimana memajukan dan memakmurkan bangsa kalau para pejabat publik mentalnya miskin? Demikianlah sekilas tentang orphan, archetype berikutnya yang akan kita bahas adalah apa yang disebut wanderer.