Teodisi Pembebasan Islam

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone




classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui>

 

Oleh: Azyumardi Azra

 

DASAWARSA pertama milenium 2000-an sering dikatakan ditandai peningkatan ketegangan, perbenturan, dan konflik di antara dua kutub biner yang seolah tidak pernah bertemu dan damai, yakni ‘Barat’ dan ‘Islam’. Gejala ini ditandai berbagai tindakan kekerasan dan pengeboman di Barat, seperti New York, Washington DC, London, dan Madrid, peristiwa semacam penerbitan kartun ‘Nabi Muhammad’ di Denmark, dan seterusnya.

 

Ketegangan dan kekerasan terjadi tidak hanya di ‘Barat. Berbagai peristiwa semacam itu juga terjadi di negara Muslim, seperti Indonesia yang mengalami aksi bom bunuh diri di Bali (I dan II), Marriot, dan Kuningan, Jakarta. Kekerasan bahkan terus berlanjut di Afghanistan, Pakistan, Irak, dan Palestina. Motif-motif anti dan perlawanan terhadap ‘Barat’, khususnya Amerika Serikat, jelas dominan.

 

Perlawanan terhadap dominasi dan hegemoni AS itu sering pula dilihat berkaitan dengan akar-akar teologi tertentu, yang membuat sebuah gerakan perlawanan menjadi lebih solid. Dalam konteks itu misalnya, ‘teologi pembebasan’ yang pertama kali dikembangkan para pemikir Katolik di Amerika Latin yang dengan segera populer di kalangan para pemikir agama lain, termasuk Islam. Wacana dan pemikiran teologi pembebasan Islam pernah menemukan momentumnya, termasuk di Indonesia, pada akhir dasawarsa 1980-an sampai 1990-an. Setelah itu, kelihatan menyurut secara signifikan, khususnya ketika situasi politik dalam negeri di bawah pemerintahan presiden Soeharto semakin rekonsiliatif terhadap umat Islam.

 

Tetapi, wacana dan pemikiran juga mengalami perubahan sesuai dengan perubahan zaman yang melingkupinya. Dalam konteks itu, salah satu karya terakhir yang menarik adalah pergeseran akar-akar teologis perlawanan terhadap dominasi dan hegemoni, misalnya buku Hamid Dabashi, Islamic Liberation Theology: Resisting the Empire (London & New York: Routledge, 2008). Dabashi, guru besar Columbia University, New York, pernah menulis Theology of Discontent: The Ideological Foundations of the Islamic Revolution in Iran (1993/2005) yang membahas akar-akar teologis Revolusi Islam Iran.

 

Meski bukunya berjudul ‘Teologi Pembebasan Islam’, Habashi lebih menganjurkan penggunaan istilah ‘theodicy’ pembebasan Islam. Argumen pokoknya adalah ‘teologi pembebasan’ Islam tidak lagi memadai, terutama karena teologi ini masih membagi dunia ke dalam kategori semacam ‘Timur dan Barat’, ‘Dunia Muslim dan Barat’ atau ‘Muslim dan non-Muslim’. Gerakan pembebasan melawan dominasi dan hegemoni global siapa pun atau kekuatan mana pun dapat bermakna dan memiliki kekuatan mobilisasi hanya jika ‘teologi’ tersebut bersifat antarbudaya dan global. Hasilnya bukanlah ‘teologi pembebasan Islam’, tapi ‘teodisi pembebasan Islam’ yang mengakui keragaman dalam berbagai bentuknya: agama, sosial-budaya, politik, dan seterusnya.

 

Teodisi pembebasan Islam, dengan demikian, membebaskan Islam dari dogmatisme hukum yang sangat kaku; yang sering tidak hanya membelenggu, tapi juga tidak menyisakan ruang bagi akomodasi dan toleransi. Karena itulah, hasil akhir teodisi pembebasan Islam adalah kian menguatnya toleransi. Karena, kaum Muslimin sendiri semakin menyadari bahwa berbagai bentuk keragaman dalam sejarah dan tradisi Islam sejak dari dulu hingga sekarang ini memang sudah ada. Sejarah dan tradisi kaum Muslimin tidak pernah monolit. Dan, setiap usaha mewujudkan monolitisme Islam itu tidak pernah berhasil.

 

Hemat saya, gerakan perlawanan terhadap dominasi dan hegemoni kekuatan tertentu di muka bumi ini karena berbagai faktor tambahan lainnya, seperti globalisasi. Tidak lagi mungkin berdasarkan pada akar-akar teologis eksklusif. Kompleksitas realitas demografis, misalnya, membuat kategori binari semakin tidak berdasar. Kaum Muslimin kini tidak lagi hidup hanya di wilayah yang secara tradisional bisa disebut sebagai ‘Dar Islam’ atau secara konvensional dikenal sebagai ‘Dunia Muslim’, bahkan ‘Dunia Islam’. Kini, kawasan dunia yang dikenal sebagai ‘Barat’ juga mengandung penduduk Muslim dalam jumlah yang cukup signifikan, yang turut terlibat dalam dinamika politik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik di mana mereka hidup.

 

Namun, tetap saja ada wacana dan gerakan Islam yang menafikkan semua realitas itu dan sebaliknya mengusung wacana dan program aksi untuk menolak keragaman dan sebaliknya berusaha mewujudkan monolitisme Islam dan Muslimin. Berkaca dari pengalaman sejarah, wacana dan gerakan seperti itu tidak lebih dari sebuah utopia.

 

Islam Indonesia diberkahi kekayaan historis dan tradisi yang mencerminkan apa yang disebut Dabashi sebagai ‘teodisi pembebasan Islam’. Bahkan, hal ini sudah menjadi bagian integral dari kehidupan sebagian terbesar kaum Muslimin di negeri ini. Meski ada gejala yang bertolak belakang dengan realitas itu, saya tetap optimistis dengan masa depan Islam Indonesia yang terus menjaga tradisi ‘teodisi pembebasan’ itu.*

 

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 23 Oktober 2008

 

Azyumardi Azra adalah Direktur Sekolah Pasacsarjana UIN Jakarta

Teodisi Pembebasan Islam

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone




classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui>

 

Oleh: Azyumardi Azra

 

DASAWARSA pertama milenium 2000-an sering dikatakan ditandai peningkatan ketegangan, perbenturan, dan konflik di antara dua kutub biner yang seolah tidak pernah bertemu dan damai, yakni ‘Barat’ dan ‘Islam’. Gejala ini ditandai berbagai tindakan kekerasan dan pengeboman di Barat, seperti New York, Washington DC, London, dan Madrid, peristiwa semacam penerbitan kartun ‘Nabi Muhammad’ di Denmark, dan seterusnya.

 

Ketegangan dan kekerasan terjadi tidak hanya di ‘Barat. Berbagai peristiwa semacam itu juga terjadi di negara Muslim, seperti Indonesia yang mengalami aksi bom bunuh diri di Bali (I dan II), Marriot, dan Kuningan, Jakarta. Kekerasan bahkan terus berlanjut di Afghanistan, Pakistan, Irak, dan Palestina. Motif-motif anti dan perlawanan terhadap ‘Barat’, khususnya Amerika Serikat, jelas dominan.

 

Perlawanan terhadap dominasi dan hegemoni AS itu sering pula dilihat berkaitan dengan akar-akar teologi tertentu, yang membuat sebuah gerakan perlawanan menjadi lebih solid. Dalam konteks itu misalnya, ‘teologi pembebasan’ yang pertama kali dikembangkan para pemikir Katolik di Amerika Latin yang dengan segera populer di kalangan para pemikir agama lain, termasuk Islam. Wacana dan pemikiran teologi pembebasan Islam pernah menemukan momentumnya, termasuk di Indonesia, pada akhir dasawarsa 1980-an sampai 1990-an. Setelah itu, kelihatan menyurut secara signifikan, khususnya ketika situasi politik dalam negeri di bawah pemerintahan presiden Soeharto semakin rekonsiliatif terhadap umat Islam.

 

Tetapi, wacana dan pemikiran juga mengalami perubahan sesuai dengan perubahan zaman yang melingkupinya. Dalam konteks itu, salah satu karya terakhir yang menarik adalah pergeseran akar-akar teologis perlawanan terhadap dominasi dan hegemoni, misalnya buku Hamid Dabashi, Islamic Liberation Theology: Resisting the Empire (London & New York: Routledge, 2008). Dabashi, guru besar Columbia University, New York, pernah menulis Theology of Discontent: The Ideological Foundations of the Islamic Revolution in Iran (1993/2005) yang membahas akar-akar teologis Revolusi Islam Iran.

 

Meski bukunya berjudul ‘Teologi Pembebasan Islam’, Habashi lebih menganjurkan penggunaan istilah ‘theodicy’ pembebasan Islam. Argumen pokoknya adalah ‘teologi pembebasan’ Islam tidak lagi memadai, terutama karena teologi ini masih membagi dunia ke dalam kategori semacam ‘Timur dan Barat’, ‘Dunia Muslim dan Barat’ atau ‘Muslim dan non-Muslim’. Gerakan pembebasan melawan dominasi dan hegemoni global siapa pun atau kekuatan mana pun dapat bermakna dan memiliki kekuatan mobilisasi hanya jika ‘teologi’ tersebut bersifat antarbudaya dan global. Hasilnya bukanlah ‘teologi pembebasan Islam’, tapi ‘teodisi pembebasan Islam’ yang mengakui keragaman dalam berbagai bentuknya: agama, sosial-budaya, politik, dan seterusnya.

 

Teodisi pembebasan Islam, dengan demikian, membebaskan Islam dari dogmatisme hukum yang sangat kaku; yang sering tidak hanya membelenggu, tapi juga tidak menyisakan ruang bagi akomodasi dan toleransi. Karena itulah, hasil akhir teodisi pembebasan Islam adalah kian menguatnya toleransi. Karena, kaum Muslimin sendiri semakin menyadari bahwa berbagai bentuk keragaman dalam sejarah dan tradisi Islam sejak dari dulu hingga sekarang ini memang sudah ada. Sejarah dan tradisi kaum Muslimin tidak pernah monolit. Dan, setiap usaha mewujudkan monolitisme Islam itu tidak pernah berhasil.

 

Hemat saya, gerakan perlawanan terhadap dominasi dan hegemoni kekuatan tertentu di muka bumi ini karena berbagai faktor tambahan lainnya, seperti globalisasi. Tidak lagi mungkin berdasarkan pada akar-akar teologis eksklusif. Kompleksitas realitas demografis, misalnya, membuat kategori binari semakin tidak berdasar. Kaum Muslimin kini tidak lagi hidup hanya di wilayah yang secara tradisional bisa disebut sebagai ‘Dar Islam’ atau secara konvensional dikenal sebagai ‘Dunia Muslim’, bahkan ‘Dunia Islam’. Kini, kawasan dunia yang dikenal sebagai ‘Barat’ juga mengandung penduduk Muslim dalam jumlah yang cukup signifikan, yang turut terlibat dalam dinamika politik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik di mana mereka hidup.

 

Namun, tetap saja ada wacana dan gerakan Islam yang menafikkan semua realitas itu dan sebaliknya mengusung wacana dan program aksi untuk menolak keragaman dan sebaliknya berusaha mewujudkan monolitisme Islam dan Muslimin. Berkaca dari pengalaman sejarah, wacana dan gerakan seperti itu tidak lebih dari sebuah utopia.

 

Islam Indonesia diberkahi kekayaan historis dan tradisi yang mencerminkan apa yang disebut Dabashi sebagai ‘teodisi pembebasan Islam’. Bahkan, hal ini sudah menjadi bagian integral dari kehidupan sebagian terbesar kaum Muslimin di negeri ini. Meski ada gejala yang bertolak belakang dengan realitas itu, saya tetap optimistis dengan masa depan Islam Indonesia yang terus menjaga tradisi ‘teodisi pembebasan’ itu.*

 

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 23 Oktober 2008

 

Azyumardi Azra adalah Direktur Sekolah Pasacsarjana UIN Jakarta