James B. Hoesterey

James B. Hoesterey. Sumber foto religion.emory.edu

James B. Hoesterey

Penulis Buku Rebranding Islam: Piety, Prosperity, and a Self-help Guru (Stanford University Press, November 2015)

BERANGKAT dari keinginannya mengenali Islam yang terbebas dari prasangka negatif Barat pasca teror yang meledakan Menara Kembar WTC, Amerika Serikat, tahun 2001, James B. Hoesterey ‘berkenalan’ dengan sosok Aa Gym (KH Abdullah Gymnastiar). Melalui sosok pendiri Pesantren Daarut Tauhiid inilah, ia menyingkap wajah Islam dan dinamika masyarakat Muslim Indonesia yang disimpulkannya layak menjadi model Islam dalam tataran global. Tidak lupa, di akhir wawancara, ia berharap kiprah perguruan tinggi seperti UIN Jakarta bisa lebih dioptimalkan dalam mendorong wajah Islam yang modern dan penuh toleransi.

Di sela kunjungannya ke UIN Jakarta, Assistant Professor pada Department of Religion, Emory College of Arts and Sciences ini meluangkan waktu untuk berbincang dengan BERITA UIN Online. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana Anda memulai riset Islam di Indonesia?

Saya melakukan riset tentang Islam di Indonesia pada kali pertama untuk tugas penelitian magister (MA di University of South Carolina) dengan mengambil lokasi riset di Sumatera Barat. Dalam riset ini, saya meneliti suku Minangkabau, hubungan Adat dan Islam, suasana batin para perantau Minang di Jakarta, organisasi mereka di tanah rantau, termasuk bagaimana ikhtiar mereka mengumpulkan dana untuk dikirimkan ke kampung halaman.

Jadi, untuk kali pertama saya mempelajari Islam di Indonesia adalah dalam konteks orang Padang, sistem adat mereka dan hubungannya dengan Islam. Riset ini memungkinkan saya juga mengenal sejumlah literatur dan sumber-sumber penting, misalnya sejarawan Professor Taufik Abdullah dan sosiolog Profesor Mochtar Naim. Pengenalan saya atas sumber-sumber ini makin intens saat saya menempuh pendidikan doktoral (James meraih Ph.D in Cultural Anthropology dari University of Wisconsin-Madison, red.).

Riset doktoral Anda tentang Aa Gym (KH Abdullah Gymnastir, red.). Bagaimana ceritanya?

Saya mengenal Aa Gym ketika salah seorang dosen pembimbing meminta saya untuk mengisi kelasnya sebagai dosen tamu, tepat setahun setelah peristiwa ledakan menara kembar WTC New York (2001) dan sebulan setelah ledakan Bom Bali pertama (2002). Tugas saya mengajar adalah agar para mahasiswa mendapat gambaran utuh tentang Islam, bukan berdasar persepsi yang dibangun media. Selain membaca buku-buku seperti tulisan Robert W. Hefner (Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia, Princeton University Press: 2000, red.), saya juga mencari materi tentang Islam Rahmatan lil Alamin, Islam damai bukan Islam teror. Dalam proses pencarian tersebut, saya menemukan sebuah artikel terbitan New York Times sekitar awal Oktober tahun 2002 yang mengulas aktifitas pengajian yang dipimpin Aa Gym.

Anda tertarik meneliti Aa Gym, apa alasannya?

Ada dua perspektif mengapa sosok Aa Gymmenjadi subjek penelitian yang sangat menarik. Pertama, sejak era Orde Baru, stasiun TVIndonesia sangat ketat meregulasi tayangan agama. Namun keketatan regulasi berhasil didobrak Aa Gym dengan banyak tampil baik di media cetak maupun elektronik untuk menyampaikan ceramah-ceramahnya.

Kedua, selama ini saya belum pernah mendengar kata ‘Manajemen Qolbu’. Saya cari dalam beberapa kamus bahasa Indonesia kata ‘Qolbu’, namun yang ditemukan hanya kata ‘kalbu’ memakai huruf ‘k’ yang dalam bahasa sehari-hari pun sudah sangat jarang dipakai karena mulai tergantikan oleh kata ‘hati’. Ternyata, kata Qolbu hanya akan ditemukan jika santri mempelajari ilmu tasawuf atau minimal membaca karya-karya Abu Hamid al-Ghazali. Ini merupakan sesuatu yang menarik. Terlebih kata ini digabungkan dengan kata manajemen yang berasal dari bahasa Inggris, ‘management’.

Lantas apa makna yang Anda tarik dari balik istilah manajemen Qolbu tersebut?

Saya melihat hal ini sebagai titik temu antara Islam yang lahir dalam konteks kebudayaan Arab dan kondisi Indonesia saat ini,ditambah gagasan training dan psikologi yang diambil dari Barat. Untuk itu, segera setelah pembacaan atas berbagai sumber yang saya temukan, saya kemudian membuat desain penelitian dan mengumpulkan material yang diperlukan. Saya berterimakasih pada salah seorang dosen saya yang membawakan video kompilasi Aa Gym. Selain itu, saya juga mengirimkan surat pengajuan riset kepada Pesantren Daarut Tauhid. Syukurnya, Fullbright Foundationmelalui AMINEF juga setuju mendanai riset yang saya lakukan. Setelah melalui proses berliku, saya akhirnya bisa datang ke Daarut Tauhid dan diterima dengan baik oleh Aa Gym.

Apa kesan ketika Anda pertama kali bertemu Aa Gym?

Pertama kali ketemu dengan Aa Gym, beliau sudah menampakkan keakraban layaknya teman dekat. Ia dengan terbuka menerima maksud saya untuk meneliti tentang Islam dan gagasan Manajemen Qolbu-nya, termasuk peranan Aa Gym sendiri sebagai public fugure di kalangan Islam Indonesia.

Rentang waktu riset yang saya lakukan berlangsung sejak akhir september 2005 hingga akhir Juni 2007. Sepanjang masa itu, saya diberikan banyak kesempatan untuk melihat langsung Aa Gym menjalankan kiprahnya. Bahkan saya diajak mudik bareng ke Ciamis dan mendampingi Aa Gymsaat harus menyampaikan ceramah pada sebuah tabligh akbar di Cianjur.

Masih berkomunikasi dengan Aa Gym dan Daarut Tauhiid?

Masih sampai sekarang. Terutamabila ada kesempatan ke Indonesia, saya selalu berkunjung ke Daarut Tauhid untu bertemu Aa Gym.

 

Bagaimana penilaian Anda tentang Aa Gym sebagai seorang Dai dan pimpinan Daarut Tauhidd?

Kesimpulan saya, Aa Gym sangat pandai dalam membuat brand dengan berfokus pada masalah-masalah keluarga sakinah, perasaan, hati, seperti banyak disampaikannya dalam menanggapi artikel tanya jawabdi beberapa media. Brand itu ia bangun seperti melalui program tahajud di masjid dan silaturahim bersama Aa Gymdan Teh Ninih. Ia juga membuat brand dengan trade mark MQ, program 3M, Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil, Mulai saat ini. Semua hal ini kan basisnya sangat islami, bahwa jangan menyuruh orang lain sebelum menyuruh diri sendiri atau Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum hingga kaum itu sendiri berusaha memperbaiki dirinya.

Selain itu, kalau kita lihat dan wawancara beberapa pengagum Aa Gym, mengapa anda tertarik mengikuti pengajian Aa Gym? Mereka pasti menjawabnya, ceramah Aa Gym enak didengar dan mudah dicerna. Ini salah satu keunggulan Aa Gym dalam menyampaikan pesan-pesan keislaman kepada umat. Ceramahnya enak didengar dan mudah dicerna, bahkan menyentuh hati setiap orang. Inilah model penyampaian pesan keagamaan yang laku dan sesuai dengan harapan kelas menengah ke atas.

Apa penilaian Anda atas branding yang dilakukan Aa Gym dalam menampilkan wajah Islam Indonesia?

Dalam amatan saya, ada beberapa langkah branding yang dilakukan oleh Aa Gym. Yang pertama branding yang dilakukan ke luar negeri. Aa Gym sering diundang untuk hadir dan menyampaikan ceramah di berbagai negara. Dalam kesempatan ini, Aa Gym bisa menjelaskan bahwa Islam di Indonesia menyebar bukan dengan pedang atau kekerasan, tapi dengan penuh kedamaian dan cinta (menyentuh qolbu).

Sementara di dalam negeri, barangkali branding yang dilakukan Aa Gym mirip dengan yang dilakukan Umar Khalid di Timur Tengah. Fokusnya keduanya sama, yaitu bagaimana masyarakat Muslim bisa menerapkan nilai-nilai etika Islam dalam kehidupan sehari-hari mereka. Tema-tema inilah yang memang diinginkan oleh orang-orang kalangan menengah ke atas. Lepas dari itu, keunggulan Aa Gym itu sebagai dai adalah ia bisa mengajak umat dengan bahasa yang sederhana tanpa harus kehilangan kedalaman makna.

Penilaian Anda atas Islam di Indonesia sendiri?

Memberikan penilaian atas Islam di Indonesia yang mampu mewakili 220 juta jiwa masyarakat Muslim bukan perkara mudah. Apalagi kalau kita melihatnya dari perspektif toleransi dan tidak toleransi. Dari sejumlah interaksi yang saya lakukan dan diskusi di sejumlah lembaga keislaman Indonesia, kita tidak bisa menarik batas tegas. Sikap sangat toleran, cukup toleran, dan kurang toleran barangkali bisa kita terapkan. Namun pada umumnya, masyarakat Muslim Indonesia dibanding kawasan lain di dunia lebih mencerminkan Islam yang ramah, moderat, dan toleran. Ini sesuai dengan visi Islam sebagai Rahmatan lil Alamin. Saya menaruh harapan besar, bahwa Islam Indonesia bisa menjadi model Islam di dunia.

Dari perspektif perguruan tinggi keislaman, apa yang bisa diperankan UIN atau lembaga pendidikan tinggi Islam dalam mewujudkan Islam Rahmatan Lil Alamin?

Saya sangat salut dengan UIN Jakarta. Saya juga sangat mengapresiasi berbagai langkah pengembangan akademik yang ditempuh UIN dalam memosisikan diri sebagai universitas terkemuka di Indonesia. Beberapa bulan lalu, saya mengikuti sebuah konferensi akademik internasional tentang Islam moderat di Asia Tengara. Pada forum tersebut, hadir sejumlah pembicara yang merupakan ilmuwan di bidangnya seperti Prof. Robert W. Hefner. Dari sejumlah ilmuwan yang hadir, beberapa diantaranya merupakan ilmuwan dari UIN sendiri seperti Prof. Azyumardi Azra hadir sebagai salah satu narasumber.

Melihat Azra dan beberapa guru besar UIN yang menjadi narasumber konferensi, harus diakui bahwa UIN memiliki banyak professor ahli di bidang keislaman dan keilmuan masing-masing. Mereka merupakan alumni UIN sendiri, lalu meneruskan studi ke berbagai perguruan tinggi terkemuka dunia, baik Amerika, Eropa, Timur Tengah. Dengan latar belakang pendidikan di perguruan tinggi Islam dan studi mereka di berbagai universitas dunia, mereka memiliki cara pandang, wawasan, dan perspektif yang menjadi keunggulan tradisi keilmuan UIN Jakarta. Yakni tidak hanya memahami literatur keislaman sendiri, baik klasik maupun modern, mereka juga cukup mengenal bahkan menguasai literatur yang ditawarkan di lembaga pendidikan tinggi Barat.

Apa rekomendasi Anda bagi perguruan tinggi Islam seperti UIN dalam meningkatkan peran akademik keislamannya?

Supaya perguruan tinggi keislaman seperti UIN ini bisa lebih kontributif, barangkali bisa dilakukan beberapa hal. Salahsatunya adalah penguatan secara sistematik dan struktural atas kajian keilmuan baik di lingkup studi-studi keislamanmaupun studi-studi lain seperti sosiologi, antropologi, dan sains. Selain itu,UIN memiliki jaringan yang sangat luas. Banyak dosennya merupakan  jebolan universitas terbaik di Amerika, Eropa dan Timur Tengah. Sumber daya dan jaringan yang dimiliki ini seharusnya bisa disinergikan untuk menyuarakan Islam dan kiprah UIN di pentas dunia.

Selanjutnya, sebagai sebuah perguruan tinggi dengan akademisi yang memiliki kedalaman wawasan keilmuan, intensitas penggunaan bahasa Inggris perlu diutamakan. Memang terlihat kurang adil, bahwa bahasa Inggris harus dikuasai. Tetapi bagaimana pun, penguasaan bahasa ini penting agar karya-karya akademik UIN bisa lebih mengglobal bila dipublikasikan dengan menggunakan bahasa Inggris. Memang bukan perkara mudah. Tetapi bagimana pun, demi kepentingan mengglobalkan karya mereka, penguasaan tersebut perlu dilakukan. Untuk itu, mungkin jalan pintas yang bisa diambil, apalagi bila UIN memiliki anggaran memadai adalah dibentuknya sebuah lembaga khusus yang bertugas menerjemahkan karya-karya penelitian dosennya. Bayangkan kalau semua tulisan itu bisa diterjemahkan dan dikirimkan ke jurnal internasional, pengaruhnya akan akan sangat luar biasa.

  

Profil James B. Hoesterey

Setelah menempuh pendidikan sarjana dari Marquette University dan magister dari University of South Carolina, Hoesterey meraih gelar Ph.D bidang Antropologi Budaya dari University of Wisconsin-Madison. Disertasi Ph.D-nya ia bukukan dalam Rebranding Islam: Piety, Prosperity, and a Self-help Guru (Stanford University Press, November 2015). Ketua Komite Studi-Studi Indonesia-Timor Leste pada Association for Asian Studies (2011-2015) dan Sekretaris American Institute for Indonesian Studies (AIFIS) ini memiliki peminatan riset dan pengajaran di bidang Islam, budaya popular, media baru, subjektifitas moral, biografi keagamaan, dan autoritas keagamaan. (zm/lrf/njs)

Share This