Temu Nasional Dosen Ilmu-ilmu Adab Ditutup

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Radio Dalam, UINJKT Online – Temu Nasional dosen ilmu-ilmu Adab Fakultas Adab UIN/IAIN se-Indonesia yang berlangsung sejak Sabtu pekan lalu di Pusdiklat Departemen Sosial, Radio Dalam, Jakarta Selatan, ditutup Dekan Fakultas Adab Humaniora (FAH) Dr Abdul Chair, Minggu (9/8). Forum di antaranya sepakat akan meningkatkan kualitas ilmu-ilmu keadaban di Fakultas Adab UIN/IAIN melalui pembenahan kurikulum, tenaga dosen, dan metodologi mengajarnya.


Selain membahas masalah upaya peningkatan mutu pengajaran dan lulusan Fakultas Adab, forum juga berhasil merumuskan struktur organisasi, AD/ART, dan program kerja pembentukan Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab (ADIA) yang telah diluncurkan sebelumnya.


“Tapi untuk perumusan secara detail dari hasil pertemuan pimpinan dan dosen Fakultas Adab UIN/IAIN se-Indonesia itu dibentuk melalui tim perumus kecil untuk ditindaklanjuti lebih lanjut,” kata Dekan FAH seusai menutup acara.


Temu Nasional dosen ilmu-ilmu Adab Fakultas Adab UIN/IAIN se-Indonesia diikuti oleh sekitar 80 peserta. Mereka terdiri atas pimpinan dan dosen Fakultas Adab dari enam UIN dan 14 IAIN.


Pentingnya temu nasional dosen ilmu-ilmu Adab Fakultas Adab UIN/IAIN, menurut Ketua Panitia Dra Tati Hartimah MA, tak lain untuk melihat kembali proses pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di fakultas masing-masing.


“Selama ini ada asumsi bahwa telah terjadi penurunan minat di kalangan calon mahasiswa kepada Fakultas Adab. Karena itu kami perlu kembali meninjau konsep pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, baik bagi dosen maupun mahasiswa,” kata Tati Hartimah, yang juga Pembantu Dekan Bidang Akademik FAH.


Untuk meninjau ketiga aspek tadi, temu nasional di antaranya mengundang sejumlah pakar keadaban untuk mendiskusikan dan merumuskannya. Di antara narasumber yang diundang adalah guru besar FAH UIN Jakarta Prof Dr Azyumardi Azra, dosen Fakultas Adab UIN Yogyakarta Dr Bermawy Munthe, dan dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Bandung Prof Dr Agus Salim Mansyur. (ns)

 

Temu Nasional Dosen Ilmu-ilmu Adab Ditutup

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Radio Dalam, UINJKT Online – Temu Nasional dosen ilmu-ilmu Adab Fakultas Adab UIN/IAIN se-Indonesia yang berlangsung sejak Sabtu pekan lalu di Pusdiklat Departemen Sosial, Radio Dalam, Jakarta Selatan, ditutup Dekan Fakultas Adab Humaniora (FAH) Dr Abdul Chair, Minggu (9/8). Forum di antaranya sepakat akan meningkatkan kualitas ilmu-ilmu keadaban di Fakultas Adab UIN/IAIN melalui pembenahan kurikulum, tenaga dosen, dan metodologi mengajarnya.


Selain membahas masalah upaya peningkatan mutu pengajaran dan lulusan Fakultas Adab, forum juga berhasil merumuskan struktur organisasi, AD/ART, dan program kerja pembentukan Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab (ADIA) yang telah diluncurkan sebelumnya.


“Tapi untuk perumusan secara detail dari hasil pertemuan pimpinan dan dosen Fakultas Adab UIN/IAIN se-Indonesia itu dibentuk melalui tim perumus kecil untuk ditindaklanjuti lebih lanjut,” kata Dekan FAH seusai menutup acara.


Temu Nasional dosen ilmu-ilmu Adab Fakultas Adab UIN/IAIN se-Indonesia diikuti oleh sekitar 80 peserta. Mereka terdiri atas pimpinan dan dosen Fakultas Adab dari enam UIN dan 14 IAIN.


Pentingnya temu nasional dosen ilmu-ilmu Adab Fakultas Adab UIN/IAIN, menurut Ketua Panitia Dra Tati Hartimah MA, tak lain untuk melihat kembali proses pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di fakultas masing-masing.


“Selama ini ada asumsi bahwa telah terjadi penurunan minat di kalangan calon mahasiswa kepada Fakultas Adab. Karena itu kami perlu kembali meninjau konsep pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, baik bagi dosen maupun mahasiswa,” kata Tati Hartimah, yang juga Pembantu Dekan Bidang Akademik FAH.


Untuk meninjau ketiga aspek tadi, temu nasional di antaranya mengundang sejumlah pakar keadaban untuk mendiskusikan dan merumuskannya. Di antara narasumber yang diundang adalah guru besar FAH UIN Jakarta Prof Dr Azyumardi Azra, dosen Fakultas Adab UIN Yogyakarta Dr Bermawy Munthe, dan dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Bandung Prof Dr Agus Salim Mansyur. (ns)