Tema Fantasi Muhammadiyah-NU

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh: Dirga Maulana

Peneliti Junior PPIM UIN Jakarta Dirga Maulana

Peneliti Junior PPIM UIN Jakarta Dirga Maulana

Dua organisasi Islam menggelar muktamar hampir bersamaan: Muhammadiyah di Makassar dan Nadlatul Ulama (NU) di Jombang. Muhammadiyah mengambil tema “Islam Berkemajuan”, dan NU mengusung “Islam Nusantara”. Keduanya memiliki persamaan, yakni membumikan Islam di Indonesia dan keinginan untuk menjawab tantangan zaman. Keduanya memiliki pesan bahwa Islam tidak melulu identik dengan Arab, tapi Islam memiliki wajahnya sendiri di Indonesia. Muhammadiyah-NU telah menasbihkan bahwa mereka berperan cukup lama sebelum Indonesia merdeka.

Kita bisa menelisik dalam kajian komunikasi. “Islam Berkemajuan” dan “Islam Nusantara” merupakan tema fantasi yang dimainkan oleh kedua organisasi Islam tersebut. Tema fantasi adalah bagian dari teori konvergensi simbolik yang dicetuskan oleh Ernest Bornmann dalam tulisan “Fantasies and Rhetorical Vision: The Rhetorical Criticism of Social Reality“, yang diterbitkan dalam Quarterly Journal of Speech pada 1972. Bagi Bornmann, tema fantasi merupakan cerita-cerita, kisah, ritual, perumpamaan, atau permainan kata-kata yang memiliki fungsi penting dalam mengurangi ketegangan kelompok (tension release), bahkan mampu meningkatkan kesolidan kelompok.

Artinya, “Islam Berkemajuan” ala Muhammadiyah seharusnya bisa memutus mata rantai kemiskinan, buta huruf, dan pendidikan. Bukan hanya mencari pemimpin yang go international (Koran Tempo, 31 Juli 2015), tapi juga lebih memberikan solusi bagi negara-bangsa yang tercabik-cabik oleh gurita korupsi. Angka kemiskinan kita masih tinggi, buta huruf juga masih banyak, dan belum semua anak bangsa merasakan pendidikan berkualitas.

NU tidak kalah menariknya. Perdebatan Islam Nusantara mendapat porsi yang cukup baik di kalangan intelektual muslim Indonesia. Sayangnya, Islam Nusantara belum mendapatkan bentuk ideal dalam menerjemahkan konsepnya. Isu radikalisme agama, kepemimpinan perempuan, LGBT, teknologi baru (Internet), dan isu-isu nasional maupun internasioal belum mendapat tempat yang cukup serius di kalangan nahdliyin. Malah orang-orang NU yang progresif kerap diasingkan, bahkan disingkirkan.

Banyak isu sensitif di atas belum mendapatkan perhatian yang cukup serius oleh Muhammadiyah dan NU. Padahal, tercatat dalam sejarah, pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan (1912) menekankan tidak semata kesalehan individual, melainkan juga kesalehan sosial. Pun demikian, KH Hasyim Asy’ari mendirikan NU (1926) merupakan salah satu wajah Islam toleran yang tidak pernah absen dalam menyampaikan pesan dakwahnya yang damai.

Jika demikian, Muhammadiyah dan NU adalah garda depan “Islam Tengah” yang memperjuangkan Islam rahmatan lil alamin. Tentu Muhammadiyah dan NU harus memainkan isu-isu sensitif dan merumuskan masalah bangsa yang sudah sangat kronis. Pertama, Muhammadiyah dan NU berperan mencitrakan Islam toleran di mata dunia dan kedua, serius pada isu-isu radikalisasi agama dan bagaimana mencegahnya. Agar “tema fantasi” yang diusung keduanya tidak hanya menjadi “visi retoris” belaka. Melainkan, kedua tema itu harus mendorong pada solidaritas dan kekohesivan kelompok yang membentuk realitas bersama (shared reality).

 

Penulis adalah Peneliti Junior Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta
Sumber: Koran Tempo, Rabu, 05 Agustus 2015 (http://www.tempo.co/read/kolom/2015/08/05/2241/tema-fantasi-muhammadiyah-nu)