Televisi Kita dan Syi’ar Ramadhan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Oleh Nanang Syaikhu

SEPERTI sudah menjadi kelaziman, setiap datang bulan suci Ramadhan sejumlah stasiun televisi (TV) seakan berlomba membuat dan menayangkan program-program unggulan keagamaan. Misalnya sinetron, ceramah agama, feature, talkshow, hiburan musik, serta komedi. Program-program itu mengisi sebagian atau hampir seluruh tayangan televisi setiap hari selama bulan Ramadhan. Bahkan sejumlah sinetron berbau religi sudah diputar oleh beberapa stasiun tertentu jauh sebelum bulan puasa tiba.

            Sebagai umat Islam kita tentu bangga dengan tayangan-tayangan bernuansa keagamaan itu. Bahkan kita juga sangat menghargai upaya kreatif dari pihak pengelola televisi dalam mengemas acara keagamaan di bulan Ramadhan. Paling tidak acara tersebut merupakan bentuk “kepedulian” para pengelola televisi terhadap pemirsanya yang berpenduduk mayoritas Muslim. Kita berharap semoga tayangan bernuansa keagamaan ini tak hanya marak di bulan Ramadhan tetapi juga pada bulan-bulan sesudahnya.

 

Politik dagang

            Bagi pengelola stasiun televisi, dibuatnya progam-program keagamaan tentu bukan sekadar untuk mengisi syi’ar Ramadhan atau untuk menghormati umat Islam berpuasa. Lebih dari itu tayangan seperti ini juga sarat dengan muatan “politik dagang” karena dipandang cukup menguntungkan dari sisi bisnis. Betapa tidak, apa yang menjadi cita ideal para insan pertelevisian kita dalam pembuatan program televisi sesungguhnya ada maksud lain yang tersembunyi di balik penayangan itu. Maksud itu tak lain adalah terserapnya produk iklan sebanyak mungkin sehingga televisi mampu bertahan untuk siaran.

            Bulan Ramadhan biasanya bulan yang paling “berkah” bagi televisi. Karena hampir setiap produsen, terutama makanan dan minuman, selalu antre untuk pasang iklan. Oleh karena itu, para pengelola televisi pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini dengan membuat program-program unggulan, baik yang layak tonton maupun kurang layak tonton, setidaknya menurut pilihan pemirsa.

            Namun, terlepas dari apakah tayangan (meskipun program keagamaan) itu layak tonton atau tidak, para pengelola televisi toh tetap akan lebih mempertimbangkan pasar iklan. Karena itu tak heran jika di banyak stasiun televisi (berdasarkan pengamatan Ramadhan tahun lalu) misi hiburan sangat menonjol ketimbang misi (baca: syi’ar) agama itu sendiri. Sebagai contoh dapat dikemukakan misalnya tayangan-tayangan berbentuk komedi atau sinetron yang kadang tak jelas arahnya.

            Dalam kedua tayangan berjenis hiburan tersebut, penggarapan skenario plus penulisan naskah di dalamnya, seringkali dilakukan dengan alur logika agama yang salah. Dalam sinetron misalnya, selain masih kentalnya pengeksploitasian unsur mistik yang di luar nalar akal sehat, juga kerap muncul adegan perselingkuhan atau bentuk-bentuk kemaksiatan yang direkayasa sedemikian rupa. Bahkan, sebuah sinetron religi (maaf harus menyebut judul) Aisyah, yang ditayangkan sebuah stasiun televisi swasta tahun lalu, pemeran Aisyah (Anindya Alyssa Soebandono) selalu ditampilkan dengan kepala yang harus bongkar pasang jilbab. Itu satu contoh. Contoh lain ada cerita seorang gadis berjilbab yang terpaksa harus melepaskan jilbabnya demi bekerja di night club, atau ada juga yang dipaksa oleh pacarnya karena tak suka berjilbab.

            Bila dicermati, adegan berselingkuh dengan syetan (mistik), perselingkuhan manusia, perjudian, mabuk-mabukan, atau misalnya cerita tentang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) memang bukan bersumber dari ajaran murni agama. Karena agama tidak mengajarkan keburukan melainkan kebaikan-kebaikan. Meski dilatarbelakangi oleh fakta sosial, cerita itu hanyalah imaji dan rekaan penulis skenario semata yang divisualkan dalam sinetron. Kita cukup mafhum dengan alasan para sineas bahwa penggarapan sinetron religi — yang dibumbui dengan mengeksploitasi ajaran syetan — itu sekadar untuk memberi tamsil tentang kenistaan manusia yang terjebak oleh bujuk rayu syetan. Hikmahnya tak lain agar manusia sadar dan tidak tergoda tipu daya syetan yang berwatak culas. Tetapi entah dengan penggarapan sinetron Aisyah (sekadar untuk menyebut salah satu contoh sinetron sejenis), apakah bongkar pasang jilbab merupakan sebuah kekhilafan sang sutradara ataukah sekadar untuk menggambarkan kepolosan seorang gadis remaja yang belum memahami esensi berjilbab.

            Terlepas dari kesalahan dan kekurangan dalam sinetron itu, kita memang tidak mengkritisinya secara taken for granted karena masih banyak tayangan sinetron yang digarap secara apik. Cuma masalahnya, mengapa agama harus dijadikan “olok-olok” dan bahkan ada kesan dieksploitasi sedemikian rupa demi kepentingan bisnis industri televisi? Bila hal ini benar maka alih-alih ingin mengisi dakwah melalui sinetron malah yang terjadi pengebiran terhadap ajaran agama itu sendiri.

            Masalah yang hampir sama terdapat pada cerita-cerita keluarga Muslim yang mengalami broken home atau kasus KDRT. Dalam kasus ini agama seolah tak mampu meredam setiap kali muncul gejolak sosial dalam rumah tangga. Dengan kata lain, ada semacam stigma bahwa agamalah yang menjadi sumber kekacauan di lingkungan keluarga Muslim. Meski ada faktor “X” di belakang kekacauan itu, namun toh agama tak bisa dilepaskan dari kehidupan keluarga Muslim. Sejatinya dalam lingkungan keluarga Muslim cerita-cerita tentang kesalehan atau keteladanan harus menjadi pertimbangan utama dalam penggarapan sebuah sinetron religi. Dengan cara ini, dan jika tujuan sinetron religi diasumsikan sebagai dakwah, misi dan syi’ar agama pun akan tetap tercapai. Penggarapan cerita sinetron yang lebih mengedepankan unsur-unsur kesalehan, keteladanan, dan harmoni bukannya kering untuk ditonton. Cerita itu tetap akan menarik jika para sineas dus pengelola televisi lebih kreatif mengemas dan tidak mengejar keuntungan bisnis semata. Bahkan penggarapan yang apik dalam sinetron religi justru dapat menimbulkan kesan mendalam di benak pemirsa bahwa agama (dalam hal ini Islam) tidak mengajarkan kekacauan dan konflik tetapi nilai-nilai harmoni dan kelembutan. Inilah esensi syi’ar Islam sesungguhnya.

 

Perlu kaji ulang

            Seperti program-program sinetron di bulan Ramadhan, tayangan lain yang tak kalah menariknya adalah komedi. Program ini biasanya lebih banyak mengisi pada jam-jam menjelang waktu sahur dan waktu Subuh. Untuk sebagian pemirsa, tayangan komedi mungkin menarik untuk ditonton karena banyak menghadirkan komedian papan atas. Tetapi bila dilihat dari sisi substansi isi, komedi itu terkadang kurang pas untuk disebut program keagamaan apalagi bagian dari syi’ar Ramadhan. Pasalnya, hampir setiap program komedi di bulan Ramadhan yang muncul selalu out of order, yakni lebih banyak menyajikan unsur lawakan ketimbang pendalaman soal agama. Memang tayangan komedi tak harus berkaitan dengan agama, tetapi paling tidak akan lebih bagus lagi jika materi dan adegan lawakan disajikan secara santun dan lebih bernilai rekreatif-edukatif.

Kita harus akui bahwa tayangan komedi di bulan Ramadhan masih belum banyak menyentuh syi’ar agama itu sendiri. Selain materi lawakannya yang cenderung bias, dalam adegan juga kerap mempertontonkan kevulgaran baik dari sisi bahasa maupun aksi panggungnya. Bila diamati, pelawak dengan kekonyolannya begitu gampang mengumbar sumpah serapah atau mengeluarkan kalimat-kalimat yang tak senonoh. Ditambah lagi dengan para pemeran wanitanya yang selalu berpenampilan (maaf) kurang sopan. Bahkan bukan hal yang aneh bila di tengah kekonyolan pelawak itu selalu aja ada adegan-adegan yang tak pantas untuk ditonton, misalnya berpegangan tangan atau cipika-cipiki dengan yang bukan muhrim.

            Agar tayangan hiburan komedi (termasuk sinetron) lebih segar dan bermutu di bulan Ramadhan, para pengelola televisi tentu harus mengkaji ulang. Bulan Ramadhan adalah bulan pengendalian diri dan pendalaman ruhani. Karena itu selama bulan Ramadhan akan lebih bermanfaat bila diisi dengan tayangan yang memperdalam agama dan mendekatkan diri kepada Allah. Tayangan komedi, bila arahnya benar, dapat juga menjadi salah satu medium dakwah yang efektif. Meski komedi lebih bertujuan sebagai hiburan, namun tidak salah bila dikemas dengan baik. Kemasan program komedi untuk mengisi syi’ar Ramadhan misalnya bisa berbentuk semacam talk show interaktif (live atau recorded) yang mengambil tema-tema seputar sosial keagamaan, termasuk fiqih dan akhlak, dengan mengundang narasumber kompeten. Dengan begitu tayangan program komedi bukan saja dapat menghibur pemirsa, tapi sekaligus memberikan pengetahuan baru dalam bidang agama (tafaqquh fiddin) tanpa harus menggurui. Semoga tayangan-tayangan keagamaan di televisi pada bulan Ramadhan tahun ini juga lebih berkualitas dan lebih edukatif.*

           

Penulis adalah Pemimpin Redaksi Berita UIN dan UINJKT Online

Televisi Kita dan Syi’ar Ramadhan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Oleh Nanang Syaikhu

SEPERTI sudah menjadi kelaziman, setiap datang bulan suci Ramadhan sejumlah stasiun televisi (TV) seakan berlomba membuat dan menayangkan program-program unggulan keagamaan. Misalnya sinetron, ceramah agama, feature, talkshow, hiburan musik, serta komedi. Program-program itu mengisi sebagian atau hampir seluruh tayangan televisi setiap hari selama bulan Ramadhan. Bahkan sejumlah sinetron berbau religi sudah diputar oleh beberapa stasiun tertentu jauh sebelum bulan puasa tiba.

            Sebagai umat Islam kita tentu bangga dengan tayangan-tayangan bernuansa keagamaan itu. Bahkan kita juga sangat menghargai upaya kreatif dari pihak pengelola televisi dalam mengemas acara keagamaan di bulan Ramadhan. Paling tidak acara tersebut merupakan bentuk “kepedulian” para pengelola televisi terhadap pemirsanya yang berpenduduk mayoritas Muslim. Kita berharap semoga tayangan bernuansa keagamaan ini tak hanya marak di bulan Ramadhan tetapi juga pada bulan-bulan sesudahnya.

 

Politik dagang

            Bagi pengelola stasiun televisi, dibuatnya progam-program keagamaan tentu bukan sekadar untuk mengisi syi’ar Ramadhan atau untuk menghormati umat Islam berpuasa. Lebih dari itu tayangan seperti ini juga sarat dengan muatan “politik dagang” karena dipandang cukup menguntungkan dari sisi bisnis. Betapa tidak, apa yang menjadi cita ideal para insan pertelevisian kita dalam pembuatan program televisi sesungguhnya ada maksud lain yang tersembunyi di balik penayangan itu. Maksud itu tak lain adalah terserapnya produk iklan sebanyak mungkin sehingga televisi mampu bertahan untuk siaran.

            Bulan Ramadhan biasanya bulan yang paling “berkah” bagi televisi. Karena hampir setiap produsen, terutama makanan dan minuman, selalu antre untuk pasang iklan. Oleh karena itu, para pengelola televisi pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini dengan membuat program-program unggulan, baik yang layak tonton maupun kurang layak tonton, setidaknya menurut pilihan pemirsa.

            Namun, terlepas dari apakah tayangan (meskipun program keagamaan) itu layak tonton atau tidak, para pengelola televisi toh tetap akan lebih mempertimbangkan pasar iklan. Karena itu tak heran jika di banyak stasiun televisi (berdasarkan pengamatan Ramadhan tahun lalu) misi hiburan sangat menonjol ketimbang misi (baca: syi’ar) agama itu sendiri. Sebagai contoh dapat dikemukakan misalnya tayangan-tayangan berbentuk komedi atau sinetron yang kadang tak jelas arahnya.

            Dalam kedua tayangan berjenis hiburan tersebut, penggarapan skenario plus penulisan naskah di dalamnya, seringkali dilakukan dengan alur logika agama yang salah. Dalam sinetron misalnya, selain masih kentalnya pengeksploitasian unsur mistik yang di luar nalar akal sehat, juga kerap muncul adegan perselingkuhan atau bentuk-bentuk kemaksiatan yang direkayasa sedemikian rupa. Bahkan, sebuah sinetron religi (maaf harus menyebut judul) Aisyah, yang ditayangkan sebuah stasiun televisi swasta tahun lalu, pemeran Aisyah (Anindya Alyssa Soebandono) selalu ditampilkan dengan kepala yang harus bongkar pasang jilbab. Itu satu contoh. Contoh lain ada cerita seorang gadis berjilbab yang terpaksa harus melepaskan jilbabnya demi bekerja di night club, atau ada juga yang dipaksa oleh pacarnya karena tak suka berjilbab.

            Bila dicermati, adegan berselingkuh dengan syetan (mistik), perselingkuhan manusia, perjudian, mabuk-mabukan, atau misalnya cerita tentang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) memang bukan bersumber dari ajaran murni agama. Karena agama tidak mengajarkan keburukan melainkan kebaikan-kebaikan. Meski dilatarbelakangi oleh fakta sosial, cerita itu hanyalah imaji dan rekaan penulis skenario semata yang divisualkan dalam sinetron. Kita cukup mafhum dengan alasan para sineas bahwa penggarapan sinetron religi — yang dibumbui dengan mengeksploitasi ajaran syetan — itu sekadar untuk memberi tamsil tentang kenistaan manusia yang terjebak oleh bujuk rayu syetan. Hikmahnya tak lain agar manusia sadar dan tidak tergoda tipu daya syetan yang berwatak culas. Tetapi entah dengan penggarapan sinetron Aisyah (sekadar untuk menyebut salah satu contoh sinetron sejenis), apakah bongkar pasang jilbab merupakan sebuah kekhilafan sang sutradara ataukah sekadar untuk menggambarkan kepolosan seorang gadis remaja yang belum memahami esensi berjilbab.

            Terlepas dari kesalahan dan kekurangan dalam sinetron itu, kita memang tidak mengkritisinya secara taken for granted karena masih banyak tayangan sinetron yang digarap secara apik. Cuma masalahnya, mengapa agama harus dijadikan “olok-olok” dan bahkan ada kesan dieksploitasi sedemikian rupa demi kepentingan bisnis industri televisi? Bila hal ini benar maka alih-alih ingin mengisi dakwah melalui sinetron malah yang terjadi pengebiran terhadap ajaran agama itu sendiri.

            Masalah yang hampir sama terdapat pada cerita-cerita keluarga Muslim yang mengalami broken home atau kasus KDRT. Dalam kasus ini agama seolah tak mampu meredam setiap kali muncul gejolak sosial dalam rumah tangga. Dengan kata lain, ada semacam stigma bahwa agamalah yang menjadi sumber kekacauan di lingkungan keluarga Muslim. Meski ada faktor “X” di belakang kekacauan itu, namun toh agama tak bisa dilepaskan dari kehidupan keluarga Muslim. Sejatinya dalam lingkungan keluarga Muslim cerita-cerita tentang kesalehan atau keteladanan harus menjadi pertimbangan utama dalam penggarapan sebuah sinetron religi. Dengan cara ini, dan jika tujuan sinetron religi diasumsikan sebagai dakwah, misi dan syi’ar agama pun akan tetap tercapai. Penggarapan cerita sinetron yang lebih mengedepankan unsur-unsur kesalehan, keteladanan, dan harmoni bukannya kering untuk ditonton. Cerita itu tetap akan menarik jika para sineas dus pengelola televisi lebih kreatif mengemas dan tidak mengejar keuntungan bisnis semata. Bahkan penggarapan yang apik dalam sinetron religi justru dapat menimbulkan kesan mendalam di benak pemirsa bahwa agama (dalam hal ini Islam) tidak mengajarkan kekacauan dan konflik tetapi nilai-nilai harmoni dan kelembutan. Inilah esensi syi’ar Islam sesungguhnya.

 

Perlu kaji ulang

            Seperti program-program sinetron di bulan Ramadhan, tayangan lain yang tak kalah menariknya adalah komedi. Program ini biasanya lebih banyak mengisi pada jam-jam menjelang waktu sahur dan waktu Subuh. Untuk sebagian pemirsa, tayangan komedi mungkin menarik untuk ditonton karena banyak menghadirkan komedian papan atas. Tetapi bila dilihat dari sisi substansi isi, komedi itu terkadang kurang pas untuk disebut program keagamaan apalagi bagian dari syi’ar Ramadhan. Pasalnya, hampir setiap program komedi di bulan Ramadhan yang muncul selalu out of order, yakni lebih banyak menyajikan unsur lawakan ketimbang pendalaman soal agama. Memang tayangan komedi tak harus berkaitan dengan agama, tetapi paling tidak akan lebih bagus lagi jika materi dan adegan lawakan disajikan secara santun dan lebih bernilai rekreatif-edukatif.

Kita harus akui bahwa tayangan komedi di bulan Ramadhan masih belum banyak menyentuh syi’ar agama itu sendiri. Selain materi lawakannya yang cenderung bias, dalam adegan juga kerap mempertontonkan kevulgaran baik dari sisi bahasa maupun aksi panggungnya. Bila diamati, pelawak dengan kekonyolannya begitu gampang mengumbar sumpah serapah atau mengeluarkan kalimat-kalimat yang tak senonoh. Ditambah lagi dengan para pemeran wanitanya yang selalu berpenampilan (maaf) kurang sopan. Bahkan bukan hal yang aneh bila di tengah kekonyolan pelawak itu selalu aja ada adegan-adegan yang tak pantas untuk ditonton, misalnya berpegangan tangan atau cipika-cipiki dengan yang bukan muhrim.

            Agar tayangan hiburan komedi (termasuk sinetron) lebih segar dan bermutu di bulan Ramadhan, para pengelola televisi tentu harus mengkaji ulang. Bulan Ramadhan adalah bulan pengendalian diri dan pendalaman ruhani. Karena itu selama bulan Ramadhan akan lebih bermanfaat bila diisi dengan tayangan yang memperdalam agama dan mendekatkan diri kepada Allah. Tayangan komedi, bila arahnya benar, dapat juga menjadi salah satu medium dakwah yang efektif. Meski komedi lebih bertujuan sebagai hiburan, namun tidak salah bila dikemas dengan baik. Kemasan program komedi untuk mengisi syi’ar Ramadhan misalnya bisa berbentuk semacam talk show interaktif (live atau recorded) yang mengambil tema-tema seputar sosial keagamaan, termasuk fiqih dan akhlak, dengan mengundang narasumber kompeten. Dengan begitu tayangan program komedi bukan saja dapat menghibur pemirsa, tapi sekaligus memberikan pengetahuan baru dalam bidang agama (tafaqquh fiddin) tanpa harus menggurui. Semoga tayangan-tayangan keagamaan di televisi pada bulan Ramadhan tahun ini juga lebih berkualitas dan lebih edukatif.*

           

Penulis adalah Pemimpin Redaksi Berita UIN dan UINJKT Online