Teknik Integrasi Sains dan Agama dalam Kurikulum dan Silabus

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Fokus integrasi sains dan agama memang baru sepihak, yakni insersi agama pada program studi sains, sosial dan humaniora, dan belum insersi sains pada program studi agama. Padahal, gagasan integrasi yang dikembangkan dalam integrasi interkoneksi oleh Amin Abdullah di UIN Yogya umpamanya, adalah simbiosis mutualistic antara sains dan ilmu-ilmu keagamaan. Teknik integrasi dengan spiritualisasi sains dan memberikan nilai-nilai keagamaan pada mata kuliah sains, sosial dan humaniora, masih looking to one side, yakni bagaimana memberikan spirit keagamaan pada sains, sosial dan humaniora, sehingga para mahasiswa yang belajar sains, sosial dan humaniora akan memiliki spirit keagamaan yang baik, memiliki komitmen keimanan dalam profesi dan karya mereka, dan mendedikasikan seluruh karya profesionalnya untuk keridhaan Allah. Akan tetapi belum looking at both side,sehingga belum terfikirkan akan urgensinya membangun kesadaran perlunya sains dalam perumusan norma-norma agama, atau kritik terhadap epistimologi ilmu-ilmu keagamaan. Contoh-contoh yang sering dibahas dalam diskusi dan seminar integrasi, dengan mendialogkan sains pada agama dalam konteks penafsiran al-Qur’an, belum memiliki bentuk disain program pembelajaran pada mata kuliah tafsir umpamanya. demikian pula pada mata kuliah ilmu kalam, fiqh dan yang lainnya.

Terlepas dari kekurang fokusan kita pada integrasi sains pada ilmu-ilmu keagamaan, dalam tulisan ini, akan dilihat kemungkinan model untuk integrasi agama pada sains, pada tingkat syllabus, dan juga penentuan mata kuliah yang akan dijadikan objek dalam integrasi agama pada sains. Model ini memang belum banyak contoh di dunia, dan juga tidak banyak contoh di dunia Islam. Integrasi kurikulum yang telah dilakukan di IIUM Malaysia, sebagai universitas Islam yang sangat memiliki semangat integrasi, umpamanya, kalau kita melihat contoh kurikulum Bachelor of Economics tahun akademik 2006/2007, dalam paper Ruzita Mohd. Amin dkk., berjudul The Effectiveness of an Integrated Curriculum; the Case of the International Islamic University Malaysia, yang disampaikan pada International Conference on Islamic Economic yang ke-8, di Qatar pada tahun 2011, bahwa  model integrasi yang dipilih adalah memasukkan beberapa subject matter mata kuliah keagamaan pada kurikulum. Komposisi mata kuliah keagamaan adalah sebagai berikut.

Untuk University Required Courses, IIUM mewajibakan seluruh mahasiswa program Bachelor of Economis mengambil Compulsory courses terdiri dari:

  1. The Islamic Worldview
  2. Islam, Knowledge and Civilisation
  3. Ethic and Fiqh for Everyday life

Elective Courses:

  1. Studies of Religion
  2. Methods of Da’wah
  3. Business Ethic

Kemudian pada Kulliyah Required Courses, IIUM mewajibkan seluruh mahasiswa mengambil mata kuliah:

  1. Transaction in Islamic Economics
  2. Transaction in Islamic Economics II

Kemudian untuk mata kuliah Departemnt Required Courses, seluruh mahasiswa diwajibkan mengambil mata kuliah:

  1. Ushul Fiqh I
  2. Ushul Fiqh II
  3. History of Islamic Economic Thought

Kemudian, di samping itu, ada lagi mata kuliah Departement Elective Courses, salah satunya Islamic Economics Package, dengan mata kuliah:

  1. Transaction in Islamic Economic III
  2. Issues in Islamic Economic
  3. Objectives of Syari’ah
  4. Economic in the Qur’an and Sunah
  5. Economic of Zakat

Dengan demikian, integrasi sains dan agama yang dilakukan IIUM sampai tahun 2007 yang lalu, masih dalam bentuk memasukkan beberapa mata kuliah keagamaan pada kurikulum fakultas sains, sosial dan humaniora, dan belum mendisain integrasi agama pada cabang ilmu, apalagi integrasi pada subject matter.

Jika opsi ini dibawa ke dalam model kurikulum program studi sains, sosial dan humaniora di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, akan terkendala dengan tradsi keilmuan di Indonesia yang setiap program studi dikontrol oleh aosiasi keilmuan atau asosiasi profesi yang secara ketat menjaga standar minimal yang harus dipenuhi oleh setiap program studi. Subject matters keagamaan tidak leluasa masuk pada kurikulum sains, sosial dan humaniora. Oleh sebab itu, kita harus mencari bentuk integrasi berbeda yang tidak mengganggu standar kompetensi program studi, dan tetap dapat memenuhi misi integrasi agama pada sains, sosial dan humaniora, menjadikan para sarjana sains, sosial dan humaniora sebagai profesional yang memiliki komitmen untuk menjaga spiritualitas kehidupan profesi, sosial dan personal mereka.

Untuk kepentingan tersebut, kita bisa mengadaptasi model integrasi yang pernah dikembangkan oleh California Center for College and Career, yang dipimpin oleh Gary Hoachlander, yang mengeluarkan buku panduan berjudul Designing Multidisciplinary Integrated Curriculum Unit, yang diterbitkan pada tahun 2010, dengan nama ConnectEd. Model integrasi yang dikembangkan oleh Center ini adalah menetapkan terlebih dahulu standar ompetensi yang hendak dicapai, sesuai permintaan pengguna lulusan. lalu untuk standar kompetensi tersebut diperlukan mempelajari topik-topik apa saja. Topik-topik tersebut mungkin ada pada biologi, matematika, geometri, bahasa, hukum dan lain-lain. Dengan demikian, isi syllabus adalah rangkaian topik dari berbagai subject matter yang terintegrasi untuk mencapai sebuah kompetensi, karena kompetensi yang harus dimilii setiap seorang profesional, selalu akan terintegrasi dan terinterkoneksi antar berbagai disiplin ilmu.

Untuk integrasi agama dan sains tidak serumit integrasi multidisiplin seperti yang dilakukan oleh Connected dengan tujuan pencapaian output pendidikan sesuai kebutuhan pengguna. Integrasi agama dan sains lebih simpel, dan lebih mendekati apa yang dikatakan Kathy lake sebagai relationship among concepts, yakni mengembangkan relasi agama dengan sains berbasis subject matter dari sains, sosial dan humaniora, untuk memperoleh penguatan nilai-nilai keagamaan pada implementasi sains, sehingga profesionalitas mereka terwarnai oleh agama, terjaga oleh agama dan didedikasikan untuk agama.

Dengan demikian model relationship among concepts untuk pengembangan integrasi agama dan sains akan menghasilkan struktur kurikulum yang lebih efektif, agama sebagai mata kuliah independent tidak terlalu besar, hanya untuk mata kuliah pengetahuan dasar tentang sistem keyakinan, skill beragama, dan peningkatan kualitas beragama. Mata kuliah independent untuk disiplin keagamaan cukup dengan hanya Aqidah IslamiyahAmaliyah Islamiyah dan Akhlaq Islamiyah. Selebihnya terintegrasi pada subject matter Fakultas dan program studi.

Untuk itu, sebaiknya pengelola program studi bersama-sama dengan dosen keilmuan dan keagamaan menentukan mata kuliah apa yang memilkirelationship dengan nllai, norma dan sikap keberagamaan. Umpamanya: Untuk Prodi Pendidikan Biologi, ditetapkan tiga mata kuliah keagamaan Islam yang independent, terdiri dari Aqidah IslamiyahAmaliyah Islamiyah, sikap dan prilaku Islamiyah, ditambah dengan ketrampilan tulis baca al-Qur’an. Kemudian ditetapkanlah bahwa integrasi agama pada sains akan dilakukan pada mata kuliah:

  1. Dasar-dasar sains
  2. Biokimia
  3. Morfologi tumbuhan
  4. Anatomi tumbuhan
  5. Fisiologi hewan
  6. Ekologi Dasar
  7. Genetika
  8. Evolusi
  9. Pengetahuan Lingkungan

Sembilan (9) mata kuliah ini hanya contoh, dan tidak mengikat, tetapi kaprodi bersama dosen cabang ilmu dan dosen keagamaan Islam bisa menentukan lebih lanjut, berapa mata kuliah yang akan dijadikan kajian relasi agama dengan sains, yang secara epistimologis memiliki ketertautan sangat kuat, dan al-Qur’an memberikan isyarat-isyarat yang kuat tentang kajian tersebut, sehingga akhir dari kajian tersebut, setidaknya penyadaran akan kehadiran Allah dalam proses penciptaan, pengaturan dan pengembangan substansi konten dari sains tersebut.

Kemudian, integrasi dalam format relasi agama dengan sains dilanjutkan dalam penyusunan syllabus. Umpamanya kita ambil syllabus mata kuliah Ekologi Dasar. Syllabus tersebut disusun berdua antara dosen mata kuliah ekologi dasar dengan dosen Agama islam, untuk menentukan, pada pokok bahasan apa agama islam akan masuk. Umpamanya, kedua dosen Ekologi dasar dan Agama islam, menetapkan, bahwa relasi agama dengan Ekologi dasar akan dilakukan dalam empat pokok bahasan, yakni konsep dasar ekosistem, Ekologi populasi, perubahan ekosistem dan ekosistem buatan. Kedua orang dosen tersebut bertanggung jawab menyaipkan bahan ajar yang sudah terbangun relasi agama dengan sains, dan keduanya siap mendampingi para mahasiswa mengembangkan kajiannya. Dosen agama harus mempertimbangkan secara seksama, setiap menetapkan pokok bahasan, pastikan, bahwa al-Qur’an atau al-Sunah memberikan ajarannya, baik dalam ungkapan tersurat, tersirat (isyarat), atau analogis, dengan fokus kajian, bisa dikembangkan dengan analisis-analisis penafsiran al-Qur’an untuk melahirkan norma hukum atau etik, dan bisa dilaksanakan dalam realitas kehidupan profesi, sosial atau personal.

Integrasi agama dan sains memerlukan proses yang sinergis antara dosen sains dengan dosen ilmu keagamaan islam, dari sejak menetapkan mata kuliah untuk insersi kajian Islam, penyusunan syllabus, sampai pada proses perkuliahan dan penetapan penilaian kelulusan. Tidak mungkin insersi agama pada sains dilakukan oleh dosen sains, karena secara keilmuan mereka tidak dipersiapkan untuk itu. Oleh sebab itu, penyusunan kurikulum, syllabus dan pelaksanaan pembelajaran dilakukan bersama antara dosen sains dengan dosen agama. Wallahu alamu bi al-shwab

Bacaan:

Amin, Ruzita Mohd. dkk., The Effectiveness of an Integrated Curriculum; the Case of the International Islamic University Malaysia, paper was presented at the International Conference on Islamic Economic yang ke-8, di Qatar pada tahun 2011.

Hoachlander, Gary,Designing Multidisciplinary Integrated Curriculum Unit, Centre for College and Career, California, 2010

Lake, Kathy, Integrated Curriculum, School Improvement Research Series (SIRS), Northwest Regional Educational Laboratory, Office of Educational Research and Improvement, department of Education, USA, 2010.