Teddy Prasetya Yuliawan: Sinergikan Kebahagiaan dengan NLP

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Muhammad Nurdin

Aula Madya, UIN OnlineNeuro-Linguistic Programming (NLP) merupakan model komunikasi  interpersonal dan pendekatan alternatif terhadap psikoterapi yang didasarkan kepada pembelajaran subyektif mengenai bahasa, komunikasi, dan perubahan personal.

Hal itu dikatakan Trainer Praktisi NLP Teddy Prasetya Yuliawan dalam workshop bertema Life Happiness with NLP yang diadakan Forum Pengkajian Psikologi Islam (F2PI) Fakultas Psikologi UIN Jakarta di Aula Madya, Sabtu (24/4/2010). Training diikuti sekitar 100 peserta yang terdiri dari mahasiswa, guru, dan dosen.

Teddy mengatakan, NLP memiliki empat pilar utama di antaranya, hasil (outcome). Sebelum memulai suatu komunikasi, terlebih dahulu individu perlu mengenali hasil akhir yang diinginkan. Rapport merupakan inti dari komunikasi yang efektif. Salah satu cara untuk membangun rapport adalah dengan mengikuti (pacing) lawan bicara, contohnya dengan menyamakan bahasa tubuh,  laju nafas dan lainnya. Hal ini didasari karena setiap individu hanya menyukai individu yang serupa.

Akuitas sensorik adalah kemampuan menggunakan panca indra untuk mengamati individu lain secara cermat tanpa asumsi ataupun penilaian tertentu sebelumnya sehingga individu dapat memberikan respon dengan rapport yang maksimal. Guna mencapai hasil akhir yang diinginkan, individu membutuhkan fleksibilitas. Hal ini disebabkan karena terkadang metode komunikasi yang digunakan tidak bekerja sesuai yang diharapkan. Sehingga, untuk tetap mencapai hasil akhir yang diinginkan, individu perlu mengganti strategi komunikasinya. “Dengan memiliki fleksibilitas dalam berkomunikasi, kemungkinan mencapai hasil akhir semakin besar,” ujar Teddy.

Di samping itu, menurut Teddy, setiap gerakan tubuh seseorang mempengaruhi pikiran dan perasaannya. Kekuatan menusia dalam mengolah pikiran sama dengan kekuatan dalam mengolah kekuatan otot, semakin dilatih maka akan semakin kuat. Selain itu, kebahagiaan pikiran inilah yang kita cari dan dengan kebahagiaan pikiran inilah kualitas hidup dapat diraih.

“Ada tiga cara dalam meraih kebagiaan, antara lain meniru kebiasaan hidup orang-orang sukses, selalu berbicara yang baik-baik karena mempunyai efek pada diri sendiri dan orang lain, dan selalu mensinergikan serta melatih terus – menerus antara kekuatan pikiran dengan perasaan, ” tambahnya.

Inti NLP, menurut Teddy, bertujuan untuk membangun jiwa yang lebih damai, komunikatif, dan fleksibilitas, sehingga betul-betul bisa diterapkan dalam kehidapan sehari-hari. []

Teddy Prasetya Yuliawan: Sinergikan Kebahagiaan dengan NLP

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Muhammad Nurdin

Aula Madya, UIN OnlineNeuro-Linguistic Programming (NLP) merupakan model komunikasi  interpersonal dan pendekatan alternatif terhadap psikoterapi yang didasarkan kepada pembelajaran subyektif mengenai bahasa, komunikasi, dan perubahan personal.

Hal itu dikatakan Trainer Praktisi NLP Teddy Prasetya Yuliawan dalam workshop bertema Life Happiness with NLP yang diadakan Forum Pengkajian Psikologi Islam (F2PI) Fakultas Psikologi UIN Jakarta di Aula Madya, Sabtu (24/4/2010). Training diikuti sekitar 100 peserta yang terdiri dari mahasiswa, guru, dan dosen.

Teddy mengatakan, NLP memiliki empat pilar utama di antaranya, hasil (outcome). Sebelum memulai suatu komunikasi, terlebih dahulu individu perlu mengenali hasil akhir yang diinginkan. Rapport merupakan inti dari komunikasi yang efektif. Salah satu cara untuk membangun rapport adalah dengan mengikuti (pacing) lawan bicara, contohnya dengan menyamakan bahasa tubuh,  laju nafas dan lainnya. Hal ini didasari karena setiap individu hanya menyukai individu yang serupa.

Akuitas sensorik adalah kemampuan menggunakan panca indra untuk mengamati individu lain secara cermat tanpa asumsi ataupun penilaian tertentu sebelumnya sehingga individu dapat memberikan respon dengan rapport yang maksimal. Guna mencapai hasil akhir yang diinginkan, individu membutuhkan fleksibilitas. Hal ini disebabkan karena terkadang metode komunikasi yang digunakan tidak bekerja sesuai yang diharapkan. Sehingga, untuk tetap mencapai hasil akhir yang diinginkan, individu perlu mengganti strategi komunikasinya. “Dengan memiliki fleksibilitas dalam berkomunikasi, kemungkinan mencapai hasil akhir semakin besar,” ujar Teddy.

Di samping itu, menurut Teddy, setiap gerakan tubuh seseorang mempengaruhi pikiran dan perasaannya. Kekuatan menusia dalam mengolah pikiran sama dengan kekuatan dalam mengolah kekuatan otot, semakin dilatih maka akan semakin kuat. Selain itu, kebahagiaan pikiran inilah yang kita cari dan dengan kebahagiaan pikiran inilah kualitas hidup dapat diraih.

“Ada tiga cara dalam meraih kebagiaan, antara lain meniru kebiasaan hidup orang-orang sukses, selalu berbicara yang baik-baik karena mempunyai efek pada diri sendiri dan orang lain, dan selalu mensinergikan serta melatih terus – menerus antara kekuatan pikiran dengan perasaan, ” tambahnya.

Inti NLP, menurut Teddy, bertujuan untuk membangun jiwa yang lebih damai, komunikatif, dan fleksibilitas, sehingga betul-betul bisa diterapkan dalam kehidapan sehari-hari. []