Tasawuf Hari Ini

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Ibadah puasa merupakan salah satu aspek integral dari latihan jasmani dan rohani (riyadhah jasmaniyah wa ruhaniyah) dalam tasawuf. Melalui ibadah ini pengembara di jalan tasawuf (salik) dapat meningkatkan kualitas rohaninya-mencapai tingkatan (maqam) kerohanian lebih tinggi.

Indonesia mewarisi tradisi tasawuf yang begitu kaya sejak Islam pertama kali menyebar di kawasan ini. Bahkan, para penyiar Islam di tanah air adalah para guru sufi pengembara yang datang dari satu tempat ke tempat lain untuk memperkenalkan Islam inklusif dan akomodatif sehingga Islam lebih mudah diterima masyarakat lokal. Meningkatnya ortodoksi fiqih sejak abad 17 tidak menjadikan tasawuf tersingkir; sebaliknya aspek esoteris Islam ini kian menguat pula karena ia setia berada dalam kerangka Islam eksoteris.

Tasawuf tetap bertahan sampai hari ini. Dan pada saat yang sama, juga bertahan mispersepsi tentang tasawuf. Masih banyak kalangan yang menganggap tasawuf sebagai penyebab keterbelakangan Muslim karena menurut mereka tasawuf hanya menyebabkan pasivisme. Bahkan, tasawuf dalam pemahaman sementara kalangan Muslim hanya mengandung konsep, ajaran, dan praktek bid’ah yang membuat kaum Muslimin terjauh dari ‘Islam murni’.

Terlepas dari mispersepsi itu tasawuf tetap bertahan; ia tidak tersingkir dalam gelombang modernisasi dan globalisasi yang demikian kencang. Bahkan, sebaliknya tasawuf terus menemukan momentum. Pengamalan tasawuf  konvensional secara personal-individual dan kelompok atau melalui tarekat terus bertahan. Pada saat yang sama juga muncul bentuk-bentuk pengamalan baru yang menampilkan semacam ‘pseudo-Sufism’ karena tidak konvensional dan cenderung campur aduk dengan praktek yang sejatinya bukan berasal dari tradisi tasawuf mu’tabarah.

Terlepas dari gejala terakhir ini, tasawuf tetap dipandang banyak kalangan Muslim dan non-Muslim pengkaji tasawuf sebagai mengandung banyak ajaran dan praktek positif. Multaqa (‘pertemuan’) tasawuf internasional Sufisme yang diselenggarakan PB NU pada pertengahan Juli 2011 lalu misalnya berkesimpulan, tasawuf dapat memainkan peran penting dalam membangun jiwa dan karakter yang menjunjung tinggi kedamaian dan perdamaian sehingga mengurangi berbagai bentuk potensi dan aksi kekerasan yang kian mewarnai kehidupan keagamaan belakangan ini.

Tetapi, aspek tasawuf manakah yang paling relevan bagi terwujudnya kedamaian itu? Pertanyaan ini patut diajukan karena tasawuf juga tidak monolitik, tetapi juga mengandung kategori-kategori dan aspek-aspek ajaran yang rumit dan karena itu tidak mudah dipahami. Misalnya saja, banyak tokoh pemikir dan pengamal tasawuf sendiri membagi tasawuf menjadi dua: tasawuf falsafi dan tasawuf amali atau tasawuf akhlaqi. Jika tasawuf falsafi mengandung banyak konsep berbau filosofis teoritis dan spekulatif, tasawuf amali sebaliknya menekankan pentingnya peningkatan akhlak dan amal ibadah untuk mencapai tingkat kerohanian lebih tinggi sehingga para pengamalnya dapat lebih dekat dengan Allah SWT.

Kedua kategori tasawuf itu mendapatkan akarnya di Indonesia. Tetapi, dalam sejarahnya, jika tasawuf falsafi pernah menciptakan kontroversi, pada pihak lain tasawuf amali teraktualisasi dalam diam. Seperti terungkap dalam seminar ‘Melacak Jejak Tasawuf Filosofis di Indonesia’ yang diselenggarakan ISIP dan ICAS di kampus UI pada 6 Agustus 2011 lalu, tasawuf falsafi, semacam wahdat al-wujud, mengandung aspek pemikiran dan konsep sangat kompleks dan rumit. Sementara tasawuf amali lebih menuntut para pengamal tasawuf meningkatkan ibadah dan amal salehnya dan sekaligus menyempurnakan akhlaknya.

Karena kerumitannya itu, tasawuf falsafi agaknya tidak terlalu relevan bagi kaum sufi awam. Aspek tasawuf ini lebih relevan bagi pengamal tasawuf yang sudah mencapai tingkat ‘khas al-khawas’-orang ‘elit’ di antara elit tasawuf. Jika tasawuf dapat memainkan peran lebih besar dalam kehidupan Indonesia masa kini, maka itu lebih terkait dengan tasawuf akhlaqi. Relevansi itu terlihat kian jelas karena salah satu masalah pokok negara-bangsa Indonesia dewasa ini adalah kemerosotan akhlak pada berbagai tingkatan masyarakat.

Tasawuf akhlaqi mengajarkan peningkatan sikap dan perilaku positif, seperti sabar, tawakal, amanah, qanaah (cukup puas dengan apa yang dimiliki), dan banyak lagi. Banyak kerusakan akhlaq dalam masyarakat terjadi karena orang-orang tidak lagi mengamalkan nilai seperti itu; kian banyak orang tidak memiliki sikap sabar dan amanah; tidak pernah puas sehingga terus melakukan korupsi, misalnya. Jika, akhlaq bangsa ini bisa lebih baik, kaum Muslim sepatutnya meningkatkan pengamalan dan penerapan ajaran tasawuf amali dalam kehidupan sehari-hari secara konsisten dengan penuh istiqamah.

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tulisan dimuat pada Harian Republika, Kamis, 11 Agustus 2011.