Tangga-Tangga Kebahagiaan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Ada pendulum emosi dalam diri kita yang selalu bergerak di antara kutub suka dan duka, bahagia dan sengsara, cinta dan benci, yang menunjukkan adanya pasangan dialektis antara apa yang ingin selalu kita raih dan apa yang ingin kita hindari.

Orientasi kebutuhan manusia akan dipengaruhi oleh sifat dan watak dasarnya. Jauh sebelum para psikolog membangun teori sifat-sifat manusia, Nabi Muhammad pernah bersabda: Allah menciptakan jasad manusia dari empat unsur, yaitu: udara, air, tanah dan api (HR Baihaqy). Setelah itu Allah meniupkan roh-Nya ke dalam jasad manusia. Empat unsur itu menjadi daya dukung kehidupan jasadi, sehingga pemenuhannya juga bersifat jasadi.

Dari sini maka muncul konsep dan pengalaman kebahagiaan yang juga bersifat jasadi. Dengan demikian, jiwa nabati dan hewani yang melekat pada diri manusia selalu mengejar kebahagiaan yang bersifat jasadi atau lebih tepat disebut physical pleasure. Pada tataran ini orang akan selalu membayangkan dan mengejar kenikmatan fisik, sebagaimana menonjol pada kehidupan hewani, terutama makan,minum, seks, dan rasa aman.

Lewat puasa seseorang dilatih untuk mengendalikan orientasi physical pleasure agar tidak terlalu dominan. Pada tataran jiwa insani yang ikonnya adalah intelektualitas, seseorang akan menemukan kebahagiaan hidup bukan pada makan, minum dan seks, melainkan lebih abstrak, yaitu intellectual happiness. Jika kebahagiaan fisik durasinya relatif sebentar dan cepat terjadi antiklimaks, maka kebahagiaan intelektual lebih abadi.

Kita semua pasti mengalami dan menyimpan kenangan abadi, misalnya saja ketika lulus ujian atau memperoleh pengalaman intelektual lain yang akan menjadi bahan cerita sampai anak cucu.Bahkan ketika melihat anak atau cucu naik kelas, orang tuanya sangat bahagia, sebuah kebahagiaan yang tidak sebanding dengan kenikmatan makanminum.

Orang tua yang sudah lanjut usia, yang kebahagiaan fisiknya sudah sangat menurun, akan tetap bisa meraih kebahagiaan intelektual dengan kegiatan membaca buku, menulis, atau mengajar. Jadi, kebahagiaan yang diraih oleh jiwa insani memiliki potensi untuk berkembang terus, meski kapasitas jiwa nabati dan hewaninya sudah menurun. Karena itu banyak ilmuwan senior yang tetap sehat dan produktif berkarya karena aktivitas intelektualnya tidak pernah berhenti.

Saya yakin kebahagiaan orang tua terletak bukan pada seberapa banyak mewariskan harta, melainkan yang utama adalah seberapa sukses mendidik anak-anaknya menjadi penerus yang berilmu dan berintegritas. Jadi, di sini ada lagi dimensi kebahagiaan lain, yaitu moral happiness.Yaitu seseorang merasa bahagia justru ketika dirinya bisa memberi manfaat pada orang lain. Semakin banyak memberi dan menolong orang lain, semakin merasa bermakna dan bahagia seseorang.

Dengan demikian orang akan lebih bahagia dan bermakna justru ketika memberi, bukan menerima. Orang yang lahiriahnya kaya raya secara materi,tetapi masih juga korup dan hidup pelit, sesungguhnya orang itu miskin dan tidak bahagia jiwanya. Konsep moral happiness ini sangat berdekatan dengan konsep social happiness. Bahwa kebahagiaan moral itu diraih ketika seseorang berhasil membangun relasi sosial yang baik.

Sebuah penelitian sosial menunjukkan, salah satu pilar kebahagiaan hidup adalah jika seseorang memiliki teman atau komunitas yang baik,yang dimulai dari keluarga. Namun, hidup yang dibatasi hanya dalam jaringan keluarga juga tidak cukup sehingga seseorang senantiasa memerlukan relasi sosial dalam masyarakat. Di dalam masyarakat inilah sesungguhnya kita bisa mengaktualkan nilai-nilai agung yang menjadi sumber kebahagiaan hidup seperti menolong atau berbagi pada sesama teman, terutama mereka yang tengah dalam kesusahan.

Jadi sesungguhnya konsep dan pengalaman bahagia itu bermacam-macam, dan bisa juga dibuat hierarki.Yang paling dekat adalah kebahagiaan yang dihajatkan oleh kebutuhan jasadi, lalu berkembang naik dengan terpenuhinya kebutuhan insani, yaitu intellectual happiness, moral happiness, social happines dan ada lagi aesthetical happiness. Ialah rasa senang dan bahagia yang berkaitan dengan apresiasi dan aktivitas seni.

Semakin tinggi tingkat pendidikan dan kedewasaan jiwa seseorang tentunya sumber kebahagiaannya juga semakin tinggi dan abstrak, yang berkaitan dengan nilai-nilai seni dan moral. Dengan hierarki atau tangga-tangga kebahagiaan di atas kita bisa menilai di mana posisi kita,atau sudah seberapa jauh capaian kebahagiaan hidup kita. Namun di atas apa yang telah disebutkan di atas, masih ada satu lagi, yaitu spiritual happiness yang akan dibahas pada esai berikutnya.