Supriyadi: Perhatikan Makna Idul Adha

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Kampus I, UIN Online - Hari raya qurban atau Idul Adha memiliki banyak pesan. Sudah sepatutnya umat Muslim tetap memperhatikan pesan yang terkandung di dalamnya. Apalagi penyembelihan hewan qurban, memiliki sejarah penting dalam Islam yang dikisahkan di al-Qur’an agar Ibrahim AS menyembelih putranya Ismail AS sebagai salah satu bukti ketaatan kenabian Ibrahim AS.


“Bagaimana tidak menyedihkan, anak yang bertahun – tahun dinantikan ketika lahir diperintahkan agar disembelih. Tapi itu hanya ujian Ibrahim AS semata, tapi atas kekuasaan Allah SWT Ismail AS diganti dengan sembelihan seekor binatang qibas (domba),” kata dosen Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) Dr Supriyadi Ahmad dalam khotbah Idul Adha 1431 H di lapangan parkir Studen Center, Rabu (17/11).


Supriyadi menjelaskan, dalam makna Idul Adha ada empat pesan yang seharusnya seseorang diharapkan dapat melaksanakan dalam kehidupan sehari – hari. Pertama, kewajiban untuk patuh dan bersyukur kepada Allah SWT. Idul Adha merupakan momentum bersejarah, yang bermula dari mimpi Ibrahim AS yang tidak masuk akal agar menyembelih putranya Ismail AS.


“Mungkin semangat berkurban Ibrahim AS, kini menjadi kemustahilan. Karena yang tejadi sekarang, semangat individualisme mencari keuntungan untuk kepentingan pribadi atau kelompok,” ujarnya.


Kedua, semangat berkurban dalam kehidupan nyata. Peristiwa Ibrahim AS merupakan ‘skenario’ Allah SWT agar manusia dapat melakukan pengabdian total kepada tuhan-Nya dalam kehidupan. Sehingga pelaksanaan kurban, setidaknya menghilangkan sifat kikir (pelit) untuk membantu meringankan penderitaan orang lain. Pesan makna Idul Adha ketiga, memberantas sifat kebinatangan. Salah satu dosa terbesar yang menimbulkan krisis masyarakat yakni keimanan tanpa pengorbanan. Maka saat ini yang diperlukan menyembelih hasrat kebinatangan diganti dengan keberadaban.


“Andai Ibrahim AS menjadi pegawai pajak seperti Gayus Halomoan Tambunan, tentu Ibrahim AS tidak akan bersekongkol dengan wajib pajak hingga memiliki deposito lebih dari Rp 25 milyar, atau uang cash di rumahnya lebih dari Rp 60 milyar,” tukas Supriyadi yang juga Ketua Pusat Peningkatan dan Jaminan Mutu (PPJM) FSH.


Keempat, yang harus diperhatikan makna Idul Adha yaitu pesan haji, etos kerja, dan moral bangsa. Dalam ibadah haji terdapat ajaran untuk bekerja sungguh – sungguh dalam mencapai tujuan. Seperti tercermin dalam pelaksanaan thawaf dan sa’i.


Lebih dari itu, dalam ibadah haji juga memiliki pesan moral bahwa diterima atau tidaknya ibadah haji seseorang tergantung pada perilaku sosialnya sesudah kembali ditanah air. Ibadah haji juga akan sia – sia jika tidak disertai dengan niat baik.


“Kita bermohon semoga momentum Idul Adha ini, pribadi dan bangsa kita jauh lebih baik,” harapnya. []