“Sumarah,” Kisah Tragis Seorang TKW

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

“AKU manusia di bawah manusia, ubun-ubunhku di selangkangan mereka yang terhisap, yang terbuang. Hukum adalah cermin retak diri yang terkunci. Akan aku masukkan diriku dalam tungku kebebasan agar aku dapat mendongakkan kepala lalu mati. Jasadku tertanam di setiap kaki meja pengadilan. Tersenyum saat nama menghilang,”

Bait dialog tersebut adalah salah satu penggalan monolog kisah tragis seorang TKW yang dimainkan Yohana Gabe Threenov Siahaan pada Pertunjukan Teater Monolog “Sumarah” yang digelar Stage Corner Community (SCC) dan Teater Syahid di Gedung Aula Madya, pukul 19:30 WIB, Sabtu, (4/7).

“Sumarah” merupakan gambaran kehidupan tragis para TKW yang sempat menjadi issu hangat di media-media Indonesia saat ini.

Sumarah digambarkan sebagai sebagai seorang anak bangsa yang asal Jawa Tengah dengan latarbelakang keluarga miskin dan sejak kecil ia dituduh sebagai anak seorang Partai Komunis Indonesia (PKI).

Diskriminasi sosial dan keadaan ekonomi yang serba sulit semakin membuat keluarga Sumarah menderita dan sakit hati. Ibunya tidak tahu sampai kapan semua itu akan berakhir. Oleh sebab itu, ia diberi nama “Sumarah”, yang dalam bahasa Jawa berarti “menunggu sebuah jawaban,”.

Setelah lulus SMU ia memutuskan untuk menjadi TKW di negeri orang. Tetapi, nasibnya tak seperti yang ia impikan. Sama halnya dengan nasib para TKW Indonesia yang diberitakan media, di balik cadar dan jubah-jubah hitam majikannya, Sumarah pun dizhalimi. Gajinya tidak dibayar selama berbulan-bulan.

Ia disiksa secara fisik dan mental. Gajinya tidak dibayar selama berbulan-bulan, dituduh mencuri uang, korupsi, dan yang lebih tragis lagi, Sumarah diperkosa majikannya sendiri.

Sumarah merasa tidak dilindungi negaranya sendiri. Negara tidak memperdulikan dan memperjuangkan nasibnya. Negara Indonesia yang begitu luasnya ternyata bukanlah untuknya, bukan untuk Sumarah.

Di balik segala ketidakberdayaannya, Sumarah memendam rasa dendamnya. Lalu di puncak bara dendamnya, ia pun memilih untuk membunuh majikannya dengan menusukkan sebilah pisau tepat di jantungnya. Akhirnya, Sumarah pun harus menjalani hukuman mati.

Drama Monolog karya Tentrem Lestari yang disutradarai Dadang Badoet dari STSI Bandung Program Penyutradaraan ini merupakan kritik bagi bangsa Indonesia dalam memperjuangkan hak hidup para TKI yang berada di negeri asing. (Irma Wahyuni)

 

“Sumarah,” Kisah Tragis Seorang TKW

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

“AKU manusia di bawah manusia, ubun-ubunhku di selangkangan mereka yang terhisap, yang terbuang. Hukum adalah cermin retak diri yang terkunci. Akan aku masukkan diriku dalam tungku kebebasan agar aku dapat mendongakkan kepala lalu mati. Jasadku tertanam di setiap kaki meja pengadilan. Tersenyum saat nama menghilang,”

Bait dialog tersebut adalah salah satu penggalan monolog kisah tragis seorang TKW yang dimainkan Yohana Gabe Threenov Siahaan pada Pertunjukan Teater Monolog “Sumarah” yang digelar Stage Corner Community (SCC) dan Teater Syahid di Gedung Aula Madya, pukul 19:30 WIB, Sabtu, (4/7).

“Sumarah” merupakan gambaran kehidupan tragis para TKW yang sempat menjadi issu hangat di media-media Indonesia saat ini.

Sumarah digambarkan sebagai sebagai seorang anak bangsa yang asal Jawa Tengah dengan latarbelakang keluarga miskin dan sejak kecil ia dituduh sebagai anak seorang Partai Komunis Indonesia (PKI).

Diskriminasi sosial dan keadaan ekonomi yang serba sulit semakin membuat keluarga Sumarah menderita dan sakit hati. Ibunya tidak tahu sampai kapan semua itu akan berakhir. Oleh sebab itu, ia diberi nama “Sumarah”, yang dalam bahasa Jawa berarti “menunggu sebuah jawaban,”.

Setelah lulus SMU ia memutuskan untuk menjadi TKW di negeri orang. Tetapi, nasibnya tak seperti yang ia impikan. Sama halnya dengan nasib para TKW Indonesia yang diberitakan media, di balik cadar dan jubah-jubah hitam majikannya, Sumarah pun dizhalimi. Gajinya tidak dibayar selama berbulan-bulan.

Ia disiksa secara fisik dan mental. Gajinya tidak dibayar selama berbulan-bulan, dituduh mencuri uang, korupsi, dan yang lebih tragis lagi, Sumarah diperkosa majikannya sendiri.

Sumarah merasa tidak dilindungi negaranya sendiri. Negara tidak memperdulikan dan memperjuangkan nasibnya. Negara Indonesia yang begitu luasnya ternyata bukanlah untuknya, bukan untuk Sumarah.

Di balik segala ketidakberdayaannya, Sumarah memendam rasa dendamnya. Lalu di puncak bara dendamnya, ia pun memilih untuk membunuh majikannya dengan menusukkan sebilah pisau tepat di jantungnya. Akhirnya, Sumarah pun harus menjalani hukuman mati.

Drama Monolog karya Tentrem Lestari yang disutradarai Dadang Badoet dari STSI Bandung Program Penyutradaraan ini merupakan kritik bagi bangsa Indonesia dalam memperjuangkan hak hidup para TKI yang berada di negeri asing. (Irma Wahyuni)