Starts The End

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Ungkapan di atas, starts from the end, seingat saya keluar dari lisan Pak Habibie ketika merancang pabrik pesawat terbang.

Indonesia sebagai negara kepulauan dengan penduduk di atas 200 juta sangat memerlukan alat transportasi udara. Pak Habibie sangat yakin, putra-putra Indonesia mampu membuat pesawat terbang dan itu telah dibuktikan. Menurutnya, jika berhasil membuat pesawat terbang yang memerlukan high-tech, Indonesia akan dengan mudah membuat kapal laut, kereta api, mobil, dan sepeda motor. Mungkin logika itulah yang dimaksud dengan ungkapan starts from the end. Mulai dari proyek akhir yang paling sulit dan canggih. Pertanyaan yang muncul, mengapa industri pesawat terbang kreasi anak-anak bangsa yang kualitasnya diakui dunia tersendat-sendat perjalanannya?

Masalah utamanya pasti bukan karena kemiskinan sumber daya manusia (SDM), tetapi sudah masuk wilayah kebijakan politik pemerintah. Mungkin ini yang juga dihadapi Iran ketika mengembangkan nuklir yang membuat Israel berusaha dengan berbagai cara untuk menyetopnya dengan menggunakan tangan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. Lagi-lagi kebangkitan teknologi canggih sebuah bangsa tidak pernah lepas dari respons dan kepentingan politik serta bisnis negara-negara lain. Lalu,bagaimana dengan nasib mobil Kiat Esemka?

Saya bukan penggemar mobil, tidak juga pedagang mobil.Tapi cukup terkesan dan tertarik untuk ikut nimbrung memberi apresiasikarya anak-anakSMKyang berhasil merakit mobil Kiat Esemka di Solo. Ini bukan proyek pesawat terbang, bukan pula proyek mobil Timor produk Korea yang dirakit di Indonesia. Ini produk pelajar SMK, sekolah yang kurang diminati keluarga kelas menengah ke atas. Keberhasilan Kiat Esemka pasti menstimulasi SMK se- Indonesia dan membuat mereka percaya diri.Terdapat sekitar 9.400 SMK dengan guru 230.000 orang dan jumlah murid sekitar 4 juta.

Secara tidak langsung ini juga merupakan kritik pada dunia kampus dan pada pemerintah pusat menyangkut kebijakan industri automotif yang sangat memanjakan produk asing. Untunglah respons ITB dan ITS serta pemerintah cukup positif,mau mendukung kreasi anak-anak SMK. Sesungguhnya hal ini tidak mengejutkan mengingat akhir-akhir ini banyak pelajar Indonesia yang menjuarai olimpiade sains tingkat internasional. Kini masyarakat mulai jenuh dengan heboh demokrasi yang hanya menekankan kebebasan berserikat dan berekspresi.

Sekarang masyarakat menagih janji-janji demokrasi berupa pemerintahan yang bersih, pelayanan bagus, dan meningkatnya kesejahteraan rakyat. Dalam suasana batin yang diliputi kekecewaan terhadap situasi bangsa, kemunculan Kiat Esemka bagaikan gula-gula yang sedikit menghibur. Bahwa ada komunitas baru yang tumbuh di luar lingkaran politik, birokrasi, dan kehidupan glamor yang ternyata mampu berkreasi memproduksi mobil di tengah hegemoni produk asing yang mahal yang melekat dengan gaya hidup para politikus.

Mobil Kiat Esemka ini menarik diangkat bukan semata karena merupakan produk anak-anak SMK, tetapi juga sebagai test-case sikap pemerintah, pengusaha, dan mental masyarakat kita dalam mengapresiasi dan mendorong tumbuhnya kreasi anak-anak negeri dalam berbagai sektor. Coba saja amati di toko, pasar, dan lingkungan sekolah serta kerja, hampir semua peralatan dan sarananya didominasi produk asing. Oleh karenanya saya gembira mendengar beberapa kepala daerah yang mewajibkan karyawannya mengenakan sepatu produk lokal.

Kalau sikap politik ini meluas dan dikembangkan lagi tidak sebatas sepatu,pasti dampak positifnya sangat signifikan bagi ekonomi Indonesia dan membiasakan cinta produk-produk dalam negeri. Bukan berita asing, pelajar Indonesia yang memenangi olimpiade sains internasional selalu diincar dan ditawari beasiswa oleh perguruan tinggi asing seperti Singapura, Hong Kong, Jepang. Apakah kita akan membiarkan terjadinya brain drain? Prestasi anak-anak SMK yang telah berhasil memproduksi Kiat Esemka semoga dijadikan momentum untuk memberikan apresiasi dan membina industri dalam negeri sambil dilakukan perbaikan disana-sini.

Yang diperlukan adalah kesadaran dan dukungan masyarakat untuk bangga menggunakan produk dalam negeri. Namun tak kalah pentingnya adalah kebijakan politik pemerintah serta kalangan pengusaha besar yang memihak pada pemberdayaan rakyat kecil, bukannya mengeksploitasi mereka semata sebagai pangsa pasar dan sumber pendulangan suara dalam setiap pilkada atau pemilu.